Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Curiga


"Arka."


"Hmmh."


"Kamu cantik, sayang. Aku suka kamu pake baju ini."


"Hmmh."


"Aaakkh."


Arka menghujami relung istrinya dengan penuh cinta. Diantara balutan gaun panjang merah dengan belahan tinggi yang sengaja ia sibakkan.


Satu tangannya menyanggah perut besar Amanda, sedang tangan lainnya berpegang pada salah satu benda berharga yang menggantung didepan.


Arka mengunjungi bayinya yang ada didalam dari belakang. Dengan kepala Amanda kini menoleh dan mencium bibir suaminya.


"Ah, Arka."


"Hmmh."


"Kamu cantik, sayang."


"Ssshhh."


Arka terlihat geram dan makin mempercepat gerakannya. Hingga terdengar bunyi kecipak-kecipak, yang ditimbulkan oleh gesekan dua bagian milik mereka.


"Arka."


"Iya sayang, hmmh."


"Hmmh, ssshhh."


Arka makin mempercepat temponya. Hingga Amanda terlonjak-lonjak penuh kenikmatan.


"Aaaakh."


Arka menghentakan cintanya sedalam mungkin, seiring dengan dimuntahkannya semburan lahar nikmat di relung milik Amanda.


Keduanya terbelalak dan menengadah. Menikmati setiap denyutan yang terjadi diantara otot-otot, yang bekerja dibawah sana.


Arka masih bergerak di sisa-sisa kenikmatan yang ia rasakan. Ia masih maju mundur dan kadang membuat gerakan memutar-mutar. Seakan enggan menyisakan kenikmatan itu sedikit saja, ia ingin merengkuh semuanya.


"Man, kamu itu milik aku. Jangan pernah selingkuh dari aku. Aku akan sangat marah kalau sampai kamu lakukan itu ke aku."


Amanda diam, ia hanya mengangguk dan masih berusaha mengambil nafas.


"Kalau kamu masih nekad selingkuh, aku akan hamili kamu lagi tahun depan. Biar tiap tahun kamu hamil."


Kali ini Amanda tertawa.


"Kan kalau aku hamil terus, yang repot kamu. Emang kamu mau punya banyak anak?. Kamu sendiri loh yang susah ngidupin mereka, biaya ngidupin satu anak aja udah bisa ratusan juta."


"Nggak apa-apa, aku akan kerja keras buat ngidupin mereka. Daripada aku harus liat kamu dihamili cowok lain. Lagipula kalau kamu banyak anak, cowok lain juga males deketin kamu."


"Kenapa emangnya?"


"Ya anak kamu banyak, males lah orang nikahin kamu. Mesti ngasih makan anak kamu juga."


"Tapi kan anak kamu ya, tanggung jawab kamu. Walau aku sama orang lain, tetep tanggung jawab kamu."


"Tapi setidaknya, anak-anak tetap menuntut hak dari ibunya. Baik berupa materi maupun kasih sayang. Aku jamin itu cowok juga bakalan menyerah, kalau liat anak kamu banyak. Mana mereka pasti berisik, bandel, ada yang nakal, ada yang cengeng."


Lagi-lagi Amanda tertawa.


"Kamu nggak perlu khawatir, aku janji nggak akan selingkuh. Justru yang aku khawatirkan itu kamu."


"Kenapa?. Kan aku nggak selingkuh." ujar Arka.


"Kita nggak tau, satu atau dua tahun lagi. Atau lima, sepuluh tahun ke depan. Aku lebih tua jauh dari kamu. Akan ada masanya aku peyot duluan, jelek duluan, nggak produktif duluan dari kamu."


Amanda memandang ke arah tembok kamar, Arka semakin erat memeluknya.


"Kamu nggak usah khawatirkan soal itu. Aku bukan orang yang seperti kamu pikirkan. Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu. Aku nggak akan mengkhianati kamu."


"Janji?"


Amanda menoleh dan menatap Arka sambil tersenyum tipis.


"Aku janji, Man. Aku sayang banget sama kamu."


Amanda berbalik dan hendak memeluk Arka, begitupula sebaliknya. Namun sejenak mereka terdiam, menoleh kebawah lalu tertawa bersama. Pasalnya pelukan itu terhalang perut besar Amanda. Arka pun lalu mengelus perut istrinya itu dengan penuh kasih."


"Kamu ya, dek. Menghalangi papa aja."


Keduanya kembali tertawa.


"Udah gede banget ya, Ka. Padahal baru masuk enam bulan nih, dua hari lagi."


"Udah mulai berat ya?" tanya Arka.


"Lumayan."


"Nggak apa-apa, itu artinya dia sehat. Kamu kan hamilnya nggak sendirian, ada aku. Aku akan jagain kamu."


Amanda tersenyum, begitupula dengan Arka.


"Ya udah, habis ini kita mandi terus tidur. Masih ada beberapa jam lagi menuju pagi. Kamu harus kerja, aku harus ke kampus."


Amanda mengangguk.


***


Esok harinya di kantor, Intan masuk kepagian. Karena ia menginap di kosan temannya. Berhubung temannya itu harus masuk pagi dan pintu mesti dikunci, jadilah terpaksa Intan pun mesti berangkat pagi-pagi pula.


" Mbak Rani?" gumamnya kemudian.


"Serius lo liat mbak Rani keluar dari sana?" tanya Satya pada Intan ketika mereka akhirnya makan siang bersama.


"Orang jelas-jelas yang gue liat itu mbak Rani. Masa iya mata gue salah."


"Ya terus kenapa?" tanya Satya lagi.


"Gue curiga aja. Lo tau kan selama ini yang bisa masuk ke ruangan itu, ya bu Amanda sendiri. Mbak Pia aja yang udah kerja bertahun-tahun sama bu Amanda, belum pernah gue liat dia masuk seenaknya kalau bu Amanda belum dateng. Lagian juga ruangan itu dikunci sama bu Amanda."


"Positif thinking aja." ujar Deni.


"Kali aja bu Amanda udah calling mbak Rani, buat mengerjakan atau mengambil sesuatu disana. Secara kan bu Amanda akhir-akhir ini jarang masuk, semenjak hamil." lanjutnya lagi.


"Iya sih, bisa jadi. Tapi kayak janggal aja gitu. Soalnya pas gue dateng itu, mbak Rani mukanya kayak ketakutan ngeliat gue. Kayak ada sesuatu yang disembunyikan."


"Mbak Rani ngira lu setan kali. Kan lu setan gosip." ujar Satya diikuti tawa Deni. Sementara wajah Intan tampak sewot.


"Gue itu serius, Satya. Mbak Rani tuh sering mencurigakan akhir-akhir ini. Inget kan yang bu Amanda tiba-tiba sakit perut. Pas gue sama mbak Pia lagi sibuk ngurusin bu Amanda, mbak Rani tuh ada ngintip di pintu. Tapi dia diem aja. Pas gue liatin, dia malah pergi. Dia nggak nolongin bu Amanda sama sekali."


"Ya kali aja mbak Rani terima telpon atau ada kerjaan mendadak saat itu." ujar Deni.


"Lagipula kan udah ada lo, mbak Pia, gue, sama Satya." lanjutnya lagi.


"Kalian tuh kebiasaan, deh. Mentang-mentang mbak Rani good looking, dibela banget."


"Bukannya membela, tapi kecurigaan lo masih rancu. Lo curiga soal apa dulu, buktinya apa?. Nggak bisa sembarangan nuduh orang loh." ujar Satya.


"Bener, lagipula mbak Rani kayak perempuan baik-baik gitu penampilannya. Dan dia sahabat bu Amanda lagi. Udah ditolong sama bu Amanda, dikasih kerjaan, masa iya dia mau jahat."


Deni membuat Intan terdiam.


Seketika Rani melintas didepan matanya, namun agak jauh dari tempat dimana kini mereka makan.


Rani berjalan sambil terus menoleh kebelakang, seolah takut ada yang melihat. Meski telah di skakmat oleh kedua temannya, perasaan curiga di hati Intan malah kian tumbuh.


***


"Amanda, kamu udah makan?"


Arka bertanya di telpon.ketika jam makan siang telah tiba.


"Udah, Ka. Dari jam 11 tadi malah, laper banget soalnya. Ini aku lagi makan buah aja sih di mobil."


"Kamu ngajar hari ini?"


"Iya, anak-anak udah pada bawel. Mereka maunya sama aku, nggak mau dosen pengganti."


"Iyalah, dosen kayak kamu mah, aku juga semangat masuk."


"Masuk kemana, ke balik celana?" tanya Amanda.


"Man, mulai deh."


Amanda tertawa.


"Kamu masih di kampus, Ka?"


"Iya, masih ada satu kelas lagi. Terus aku sama Rio mau ketemu mbak Arni, ada casting buat FTV."


"Oh ya udah, nanti kabarin aku aja kalau kamu udah jalan sama Rio. Hati-hati kemana pun itu."


"Iya, kamu udah mau nyampe?"


"Ini udah sampe. Aku turun dulu ya, Ka."


"Ya udah, pelan-pelan dan hati-hati ya."


"Iya, dah Arka."


"Dah sayang."


Amanda menutup sambungan telpon, ia kini turun dan melangkah memasuki kampus. Ia berjalan perlahan ke arah ruang dosen.


"Mbak Amanda."


Amanda mendengar suara Nadine, ia menoleh seraya tersenyum. Namun senyumnya seketika menghilang, tatkala menatap siapa yang kini ada disisi Nadine.


"Mbak ini dosen baru, namanya pak Zio. Pak Zio, ini mbak Amanda. Dosen favorit anak komunikasi."


Amanda terdiam kaku, namun tidak dengan Nino. Laki-laki itu menatap Amanda dan mengulurkan tangan, seolah ia tidak mengenal Amanda sama sekali.


"Zionino Andhika. Orang terdekat saya memanggil saya dengan panggilan, Nino."


"Tapi aku manggilnya pak Zio." ujar Nadine sumringah.


Perlahan Amanda pun balas mengulurkan tangannya, ia tak mungkin bersikap ketus ataupun kasar pada Nino ditempat ini. Meskipun ia masih sakit hati lantaran peristiwa waktu itu. Ia tak ingin ada satupun mahasiswanya yang tahu, mengenai apapun yang terjadi antara dirinya dan juga Nino.


"Amanda." ujar Amanda kemudian.


"Eh jangan lama-lama, pak. Istri orang." ujar Nadine seraya menepis tangan keduanya sambil tertawa.


Nino yang merasa terganggu dengan kata-kata "Istri orang" tersebut, langsung menyudahi pertemuan itu.


"Permisi." ujarnya berlalu.


"Permisi ya, mbak. Hihihi."


Nadine kembali mengekor Nino. Sementara Amanda kini terdiam, dalam kebekuan yang mendalam.