Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Cuti


"Man, anak-anak udah di kasih ASI?" tanya Arka pada Amanda, ketika mereka telah kembali ke penthouse.


"Udah noh, lagi hoayaaa-hoayaaa dikamar." ujar Amanda seraya menyeduh dua gelas kopi.


"Ka, bawa sini aja, Ka. Anak-anak lo." ujar Rio. Ia masih bermain game mobile legends di handphonenya. Setelah tadi sempat bermain play station sejenak bersama Arka.


"Lo cuci tangan dulu tapi, sebelum pegang anak gua." ujar Arka seraya beranjak.


"Iya elah, gue udah cuci tangan. Udah sikat gigi, gue selalu bawa sikat gigi kemana-mana. Lagian gue juga nggak pernah kan cium anak lo sejak mereka lahir. Paling gue gendong doang."


Arka tertawa lalu berjalan ke arah kamar si kembar.


"Gue bukan emak-emak rumpi yang asal cium-cium anak orang, Ka. Mana abis makan cabe lagi dah tuh."


Kali ini Amanda yang tertawa.


"Ri, lo mau kopinya dingin apa panas?" tanya Amanda.


"Dingin aja, Man. Berasa kayak mau ngeronda gue, minum kopi panas."


Lagi-lagi Amanda tertawa.


"Ok." ujarnya lalu bergerak ke arah kulkas dan mengambil es batu. Tak lama Arka keluar dengan membawa si kembar.


"Ri, ambilin kasur lantai mereka deh di kamar." ujar Arka.


Rio pun bergegas menuju ke kamar si kembar dan mengambil kasur lantai, yang biasa digunakan Arka dan Amanda ketika tidur di kamar anak mereka.


"Hallo, hallo. Sini sama uncle Rio." Rio mengambil Azka dari tangan ayahnya, ketika kasur telah dibentangkan.


"Ungkal-angkel, ungkal-angkel. Gaya lu, kebarat-baratan. Mamang." ujar Arka kemudian. Amanda terbahak.


"Enak aja mamang, lo kata gue kang cilok."


"Eh, Ri. Kang Cilok itu pekerjaan mulia, ketimbang lo berdasi tapi korupsi duit negara. Lagian mamang kalau di Jawa barat itu sopan. Sama aja artinya paman."


"Ye, lo aja panggilannya papa. Mestinya ayah tau nggak. Sok kebarat-baratan juga lo, sama aja."


"Bukan gue, tante Firman noh. Yang nyuruh panggilan mama-papa."


"Ya udah kamu kalau mau diganti panggil ayah, tinggal ganti aja." ujar Amanda.


"Papapa."


Arka, Amanda dan Rio sontak menoleh ke arah si kembar.


"Papapa."


"Aaaaa, kalian manggil papa." Arka terkejut sekaligus terharu mendengar semua itu.


"Jangan seneng dulu, Karnadi. Bayi umur 6 bulan bisa nyebut papa itu. Karena mereka baru belajar menyebutkan aja, bukan berarti mereka tau artinya papa itu apa. Lo tuh belum ada artinya buat mereka."


"Ye itu kan 6 bulan, ini udah tujuh bulan. Berarti gue udah ada artinya sebulan buat mereka."


"Ya, maksa. Emang gitu sesuai yang gue baca di laman artikel tanya jawab dokter. Ya kan, Man?"


Rio meminta persetujuan Amanda, wanita itu hanya tertawa sambil memperhatikan mereka.


"Sirik aja, lo." gerutu Arka.


"Siapa yang sirik, emang bener koq. Lagian nih ya, lo baper mereka nyebut "Papa." Karena arti papa itu adalah bapak. Coba kalau papa itu artinya badak. Berarti yang disebut anak lo pertama kali, adalah badak."


Amanda menyemburkan air yang ia minum karena tak kuasa menahan tawa. Arka pun lalu mengeplak kepala sahabatnya itu sambil terbahak-bahak.


"Anjir lo emang ya. Biarin aja, yang penting papa ya dek?"


"Papapa."


"Lagi, lagi. Papa."


"Papapa."


Tak lama kemudian, Rio sudah terlihat diantara kedua bayi. Ia membaca sebuah buku untuk mereka.


"Pada jaman dahulu kala, hidup lah seorang pangeran tampan. Bertubuh atletis, sixpack karena rajin nge gym."


"Jaman dulu nggak ada gym." ujar Arka dan Amanda kompak.


"Ye sirik aja lo berdua." Rio sewot.


"Eheeee."


"Tuh mereka aja seneng, ehe-ehe. Sirik ya dek, ya. Mereka ya?"


Arka beranjak ke meja makan dan menyeruput kopinya.


"Pangeran tampan tersebut bernama Rio Salim."


"Mana ada." Amanda dan Arka kembali berujar di waktu yang bersamaan.


"Pangeran jaman dulu itu namanya George, Henry dan lain-lain. Mana ada nama Rio." ujar Arka.


"Ada aja, di Cina mungkin."


"Nggak ada mana ada, di Cina pangeran nya pangeran Han, Ming dan lain-lain. Pangeran Rio, halu tau nggak."


"Ye, sirik."


"Eheeee."


"Eheeee."


"Udah dek, nggak usah dengerin pasangan sirik itu." ujar Rio sengit.


"Eheeee."


"Iya ehe, ya."


"Eheeee."


Amanda dan Arka tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepala, sementara Rio melanjutkan cerita.


"Pangeran Rio, adalah pangeran yang sangat tampan rupawan, hartawan dan dermawan. Ia menyelamatkan hidup banyak orang disekitarnya, dari ancaman naga api bernama Arka."


Amanda dan Arka bersitatap dan saling tak kuasa menahan tawa.


Rio terus berdongeng pada si kembar dengan segenap kehaluan tingkat dewa nya. Amanda meninggalkan sejenak mereka lalu membersihkan kamar. Ia lalu lanjut membersihkan kamar si kecil dan juga ruangan-ruangan lainnya.


Mereka pun sempat makan bertiga, dengan memesan makanan via ojek online. Setelah membersihkan gigi, Rio dan Arka bermain play station sambil terus berinteraksi dengan si kembar. Usai bermain Rio kembali berdongeng, kali ini hanya untuk Azka. Sedang Afka di dongengkan oleh ayahnya, sementara bAmanda kembali berberes.


Tak lama ia melintas, semuanya sudah tertidur lelap. Arka, Rio dan si kembar tampak seperti sebuah keluarga yang sangat harmonis. Dengan penuh kegelian, Amanda mengambil foto mereka lalu mempostingnya di insta story.


Tak lama setelah berberes, Amanda juga tertidur. Mereka terbangun menjelang tengah malam. Saat Rio di telpon oleh ayahnya dan disuruh menjemput pria itu di Bandara. Kebetulan sang ayah, baru pulang dari luar kota. Rio pun berpamitan pulang pada Arka.


Si kembar terbangun karena popoknya sudah penuh, Arka pun menggantinya.


"Mama, kami bangun. ASI di kulkas udah habis mama." Arka membawa kedua bayinya ke kamar.


Amanda terbangun dari tidurnya lalu tersenyum.


"Sini sayang." ujar nya lalu meraih kedua bayi tersebut.


"Jangan gigit mama ya, tapi." ujarnya kemudian.


"Hoayaaa."


Amanda pun lalu memberi ASI pada kedua bayinya. Arka pergi mandi, kemudian membuat susu hangat dan juga susu ibu menyusui untuk istrinya.


"Sini yok, sama papa. Mama biarin mandi dulu." ujar Arka pada kedua anaknya, ketika mereka telah kenyang.


Ia pun bermain dengan sang anak, sementara sang istri pergi mandi. Karena sejak kepulangan mereka tadi, baik Arka maupun Amanda belum ada yang mandi.


Usai mandi, ia mencari kedua anak dan suaminya. Ternyata mereka telah berada di balkon. Arka tengah mengajak kedua anaknya berbicara, meski mereka tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Arka.


"Lagi pada ngapain?" tanya Amanda dengan suara yang renyah dan penuh tawa.


"Lagi ngobrol dong, mama. Ngobrol sama papa ya, heart to heart." ujar Arka seraya tersenyum melihat anaknya.


"Eheeee."


"Eheeee."


Amanda, itu susu di atas meja makan. Aku lupa bawa kesini tadi.


"Kamu buatin aku?"


"Iya, minum gih."


"Makasih ya sayang."


"Sama-sama."


Amanda lalu beranjak ke meja makan. Mengambil susu yang tadi dibuat oleh Arka, lalu kembali ke balkon.


"Coba mama mau tau, kalian ngobrolin apa aja?"


"Hoayaaa."


"Eheeee."


"Abis ini tidur, Ka. Kan kerja pagi." ujar Amanda seraya duduk disisi Arka.


"Aku ngambil cuti."


"Lah, koq sama?"


"Serius?" tanya Arka.


"Iya, aku ngambil seminggu."


"Sama dong." ujar Arka.


"Iya, aku pengen sama anak-anak. Ngajak mereka jalan, atau sekedar dirumah."


"Sama dong, tujuan aku juga itu." ujar Arka.


"Yeay, mama sama papa libur dek. Kita bisa bangun siang. Dan bisa main kerumah grandpa, kerumah nenek sama kakek."


"Eheeee."


Kedua bayi tampak antusias. Malam mulai beranjak naik, Arka dan Amanda terlibat interaksi yang menyenangkan dengan anak-anak mereka.