Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Sarapan (Bonus Chapter)


Pagi buta.


Matahari belum lagi naik ke permukaan, karena gelap pun masih setia menyelimuti waktu Indonesia bagian barat.


"Hmph."


Amanda terkejut, ketika merasakan ada sesuatu yang menendang wajahnya. Maka wanita itu pun kini membuka mata, tampak salah satu kaki anak kembarnya berada di muka.


Amanda membenarkan posisi tidur anaknya itu, lalu ia kembali terlelap. Namun beberapa saat kemudian hal yang sama terjadi lagi.


Jika tadi kaki Azka, entah mengapa kini kaki Afka yang berada di mukanya. Padahal Azka tidur tepat di sisi Arka. Amanda pun kembali membenarkan posisi tidur anaknya itu. Merasa ada pergerakan, Arka seketika terbangun dan bertanya pada sang istri.


"Kenapa, Man?" tanya Arka dengan mata yang masih terlihat berat.


"Nih, hoaya nih Ka. Kakinya ke muka aku mulu, orang masih ngantuk juga."


Amanda menggerutu, di tengah kantuknya yang masih teramat sangat. Ia tidur larut lantaran banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan. Sedang malam ini adalah malam dimana jatah Afka dan Azka tidur bersama mereka.


Ia dan Arka kini mewajibkan satu atau dua malam dalam seminggu, untuk tidur bersama anak mereka. Hal tersebut dimaksudkan agar kedekatan diantara mereka berempat terjalin dengan baik.


Namun sejak hal itu dicanangkan, si kembar malah membuat tidur orang tua mereka jadi tidak nyenyak. Ingin di hentikan tapi mereka sudah terlanjur hafal kapan jadwal mereka tidur bersama Arka dan juga Amanda. Mereka akan menangis jika tidak dipenuhi.


"Sini biar sama aku."


Arka memeluk kedua anaknya, ia dan Amanda kembali terlelap. Namun selang beberapa saat berlalu, tidur si kembar sudah kembali berantakan. Bahkan sempat Arka terbangun dan mendapati kedua anak kembarnya itu telah berada di ujung tempat tidur.


Arka yang kaget langsung bangun dan menggendong kedua anaknya tersebut. Hal yang paling aman adalah memindahkan mereka kembali ke kamar dan meletakkannya ke dalam box.


"Hhhh."


Arka menghela nafas usai memindahkan anak-anaknya. Ia bermaksud kembali ke kamar, sampai kemudian.


"Hoayaaa."


"Hoayaaa."


Kedua anaknya terbangun dan bersuara, Arka yang sejatinya siap molor kembali itu kini berbalik arah. Ia memeriksa popok mereka dan ternyata penuh.


"Hoahm."


Arka menguap, dengan masih sempoyongan ia pun mengganti popok kedua anak itu. Lalu tak lama setelahnya, ia memanaskan ASI yang ada di kulkas dan memberikannya pada mereka.


Ketika matahari mulai menanjak, Amanda tak mendapati suaminya di kamar. Maka wanita itupun bergerak ke kamar mandi untuk mencuci muka. Mungkin Arka sudah diluar bersama anak-anak, pikirnya. Amanda keluar dari kamar mandi dan mendapati Arka yang tertidur pulas di sofa.


"Ka, Ka."


Amanda membangunkan suaminya itu.


"Koq kamu tidur disini?" tanya nya heran.


"Hah?" Arka pun terbangun.


"Koq aku tidur disini ya, Man?" Arka balik bertanya.


"Lah, mana aku tau." ujar Amanda.


"Anak-anak mana?" tanya nya lagi.


"Mereka di kamar, tadi perasaan habis nganter mereka kesana. Aku balik lagi ke kamar." ujar Arka.


Kali ini Amanda tertawa.


"Saking ngantuknya kali kamu. Sampe mengira kalau kamu sebenarnya udah sampe kamar, padahal belum." ujar wanita itu.


Arka tersenyum, namun terlihat jelas ia tengah mengumpulkan nyawanya yang masih berceceran di alam tidur. Kemudian ia pun menghela nafas agak panjang.


"Capek banget aku, ngurus kerjaan." ujarnya kemudian.


"Aku juga sama, Ka. Kayaknya kita perlu liburan deh." Amanda memberi ide.


"Iya nih, terakhir sebulan yang lalu kita jalan bareng." tukas Arka.


"Ya udah deh, ntar kita bicarakan soal itu. Kamu mau minum kopi atau susu?" tanya Amanda kemudian.


"Mau kopi susu." jawab Arka.


"Ya udah, aku bikinin dulu ya."


"Pake creamer ya sayang."


"Ok, tunggu ya!"


"Nih Ka, minumnya." ujar Amanda seraya menyodorkan kopi tersebut.


"Makasih ya sayang, aku mau gosok gigi dulu."


"Mau dibikinin apa lagi?" tanya Amanda.


"Masih ada roti kan?" Arka balik bertanya.


"Masih, mau?"


"Mau." jawab Arka.


"Ya udah, aku bikinin ya." ujar Amanda.


"Pake peanut butter, sebelahnya Nutella ya sayang."


"Iya."


Amanda lalu membuatkan roti, sekalian ia membuat sarapan untuk si kecil. Takut-takut kalau nanti mereka mendadak bangun dan merasa lapar.


Usai menggosok gigi, Arka menghampiri Amanda yang tengah berdiri di meja makan. Ia lalu mencium kening wanita itu dengan lembut.


"Muka aku udah nggak berminyak kan, Ka?" tanya Amanda pada sang suami.


"Udah nggak, sayang. Wangi lagi pipi kamu." jawab Arka.


Amanda tertawa.


"Kan tadi udah cuci muka pake sabun." tukasnya kemudian.


Arka menarik kursi lalu duduk. Sementara Amanda menyerahkan dua tangkup roti isi yang tadi ia buat pada Arka.


"Waw, kayaknya enak. Makasih loh, Firman." seloroh Arka seraya mulai menggigit roti tersebut.


"Gimana rasanya?." tanya Amanda penasaran.


"Enak, enak banget." jawab Arka lalu lanjut makan.


Amanda turut menarik kursi dan duduk di muka suaminya itu. Pertama-tama ia meminum susu yang ia buat, lalu lanjut memakan roti isi. Mereka sarapan sambil berbincang, tetapi tidak sedikitpun menyinggung masalah pekerjaan.


Sebab mereka tak ingin merasa runyam di pagi hari. Setelah mereka selesai sarapan, si kembar terbangun. Mereka lalu dibawa ke meja makan, untuk menerima sarapan pagi.


"Hoayaaa."


Seperti biasa mereka mengungkapkan celotehan template khas mereka.


"Ini makanannya sayang." ucap Amanda seraya meletakkan makanan ke atas meja khusus mereka.


Tentu keduanya jadi lebih antusias lagi ketimbang tadi. Mereka mulai mengambil dan memasukkan makanan ke dalam mulut.


"Pinter ya anak mama." ujar Amanda seraya memperhatikan.


"Pa." jawab mereka secara serentak.


"Oh, anak papa Ka. Bukan anak mama." Seloroh Amanda seraya mengelus dada.


"Sakit hati mama nak." lanjutnya dengan nada bercanda. Sementara Arka kini tertawa-tawa menyaksikan semua itu.


"Dua-duanya anak papa ya." ucap Arka kemudian.


"Pa, pa, pa."


Arka terus tertawa sementara Amanda kini jadi keki setengah mati.


"Eh, waktu hamil kalian perut mama gede loh. Susah mama bawa kalian kemana-mana. Koq malah lebih sayang sama papa sih?" tanya nya kemudian.


"Eheee."


Kedua bayi itu malah tertawa-tawa.


"Hoayaaa." ujar mereka sekali lagi.


Amanda kemudian mencium pipi mereka dengan gemas, dan lagi-lagi keduanya sama-sama tertawa.


"Eheee."


Arka dan Amanda terus saja bercengkrama dengan kedua anak itu. Setelah acara makan selesai mereka pun di bersihkan dan diganti pakaiannya. Sebab meski telah diberi celemek di bagian leher, tetap makanan itu mengotori baju mereka.


Arka lalu mengajak si kembar menonton. Sedang Amanda membereskan dapur, seperti mencuci piring dan mengepel lantai di area sekitar sana. Setelah semuanya selesai ia pun bergabung dengan anak dan suamiya di depan televisi.