Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
New Princess


Arka dan Amanda akhirnya pulang ke penthouse, Rio ikut kesana untuk membantu pak Darwis membawakan barang-barang mereka ke atas. Arka dan Amanda sendiri masih terlihat gamang jika berjalan, mereka belum 100% kembali. Masih ada beberapa hari kedepan untuk mereka beristirahat dirumah.


"Hoaaaa."


Azka dan Afka bersuara menyambut kepulangan orang tuanya. Arka dan Amanda langsung menuju ke kamar anak mereka itu dan bercengkrama bersama mereka. Rasanya ada kekuatan baru yang kini mereka rasakan.


"Untung mereka ini nggak lupa sama kita ya, Ka. Biasanya bayi ditinggal bentar, udah lupa."


"Iya untungnya sih begitu. Kalau sampe mereka lupa, aku pecahin pala nya Doni."


Arka berujar dengan penuh emosi.


"Bareng ka, aku juga ikut mecahin palanya dia." ujar Amanda kemudian.


"Hokhoaaaaaa."


Azka dan Afka seperti mengamuk.


"Oh nggak sayang, mama sama papa bercanda."


Arka menggendong Azka dan Amanda menggendong Afka. Mereka kini saling bersitatap sambil tertawa.


"Nggak boleh ngomong sembarangan emak-bapaknya, diciduk sama mereka." ujar Arka kemudian. Amanda pun tertawa.


"Hoaaaaa."


"Hoaaaaa."


"Oh iya sayang, nggak. Mama dirumah sama kalian, papa juga. Iya kan, pa?"


"Iya, dirumah. Nggak kemana-mana."


"Hukhuuuuaaaa."


"Hoaaaaa."'


"Iya, ini digendong mama."


Tak lama kemudian Rio masuk.


"Bro, gue balik ya." ujar Rio.


"Lo mau balik?" tanya Arka.


"Iya, gue mau nemenin Liana periksa kandungan."


Arka dan Amanda saling menatap, ada perasaan iba yang kini menyelimuti hati mereka. Rio telah menceritakan banyak hal soal Liana, termasuk kehamilannya akibat pemerkosaan itu. Tak jelas apakah itu benar akibat peristiwa tersebut, atau sebelumnya Liana memang masih berhubungan intim dengan mantan pacarnya. Yang jelas Liana kini hamil.


"Ri, lo butuh uang berapa buat Liana?" tanya Amanda kemudian.


"Gue sih selalu kasih ke Liana, tapi Lo butuh berapa?" lanjutnya kemudian.


"Man, gue ikhlas koq sama dia. Orang gue sayang, gue cinta. Biar kata orang mau bilang apa juga, gue bukan cuma sekedar kasian, gue punya feeling sama dia. Jadi lo nggak usah pikirin biaya apapun, kan gue nyari duit bukan pengangguran." ujarnya setengah tertawa.


"Ya udah, tapi kalau lo butuh apa-apa, bilang ya. Nggak usah sungkan ngomong ke Arka atau ke gue langsung."


"Iya, beres. Gue jalan, yak."


"Ri, thank you ya. Lo udah ngurusin gue sama Amanda, dari awal kecelakaan sampe hari ini. Gue nggak tau harus berterima kasih dengan cara apa lagi sama lo."


"Ya dengan cara PS 5 lah, bro." ujar Rio dengan wajah tanpa dosa. Arka pun tertawa terbahak sementara istrinya menahan senyum.


"Ya udah ntar gue beliin." ujar Arka.


"Apaan sih lu, Ka. Gue bisa beli sendiri kali, atau gue minta sama bapak gue."


"Lah tadi lo bilang?"


"Ya abis elu, ngomong "Nggak tau lagi harus berterima kasih kayak apa." Kayak apaan aja lo sama gue. Emang gue tukang minta pamrih?"


"Ya saking gue berterima kasihnya, Bambang."


"Eh Ka, kalaupun harus ngejual ginjal gue demi elo dan keluarga kecil lo ini. Gue rela, gue sayang sama lo."


"Aku juga sayang kamu, ayank beb." Arka berujar seraya memeluk Rio dan Rio pun membalas. Amanda tertawa sambil memukul Arka.


"Aw." ujar Arka sambil terkekeh.


"Arka tuh homo tau, Man." ujar Rio kemudian. Arka makin tertawa.


"Itu mah elo, anjay. Lo berdua-duaan sama pak Jeremy pangku-pangkuan." ujar Arka memperpanjang candaannya.


"Kapan, bangsat?" Rio mulai sewot, namun tetap dengan tawanya yang tak tertahan.


"Ya udah gue balik, yak."


"Iya." jawab Arka.


"Skripsi jangan lupa." ujar Rio lagi.


"Iya Bambang, ati-ati lo." ujar Arka kemudian.


"Iya." Rio mencium para bayi.


"Gue balik ya, Man."


"Iya, ati-ati, Ri." ujar Amanda.


"Sip."


Rio pun lalu menghilang dibalik pintu.


"Ka, tadi ibu sama Rianti kemana?"


"Tidur dikamar belakang." ujar Arka.


"Kasian, pasti mereka kecapean banget ngurus Azka sama Afka."


"Ya udah nanti orderin mereka makanan ya, Ka. Ini aku mau nyusuin anak-anak dulu. Kasian udah seminggu pake botol terus."


"Ya udah, aku sekalian mau beresin barang-barang dulu." ujar Arka.


***


Rani masih mendekam dibalik jeruji besi tanpa tau apa yang harus ia perbuat. Kepalanya kini benar-benar sakit, pikirannya kalut, macam simpul benang yang kusut.


Ia tak memiliki kerabat dekat, yang mengetahui dimana dirinya kini. Ia juga tak bisa meminta tolong pada siapapun karena tak membawa handphone. Ditambah lagi, ia mulai merindukan kedua anaknya. Yakni Rasya dan juga Rania, yang kini berada dalam asuhan dan pengawasan Amanda.


"Bu Rani, ada yang mau bertemu dengan anda." Seorang petugas mengatakan hal tersebut pada Rani.


"Siapa, pak?" tanya Rani antusias.


"Katanya masih kerabat ibu."


Petugas itu membuka pintu penjara dan mengeluarkan Rani, rasanya seperti sesak nafas yang tiba-tiba lega. Rani berjalan mengikuti petugas tersebut ke sebuah ruangan, dan tampaklah sesosok lelaki tua yang kini duduk disebuah kursi.


"Amman?" Rani seperti mendapat secercah cahaya.


Amman menatapnya, namun tak banyak bicara. Rani lalu duduk dihadapan ayahnya itu dengan perasaan lega. Ya, minimal ada satu orang yang kini mengetahui keberadaannya. Mungkin Maureen yang memberitahukan hal ini.


Meskipun tempo hari Maureen seakan tak mengenalnya, namun Maureen melakukan hal tersebut karena tak ingin ikut ditangkap. Karena jika mereka berdua tertangkap, siapa yang akan memberitahukan hal ini pada Amman.


"Apa Maureen yang kasih tau?" tanya Rani.


"Iya." jawab Amman.


Rani tersenyum penuh haru, ia memang tak salah memilih Maureen sebagai teman.


"Tadinya saya pikir bisa menolong kamu. Tapi pihak kepolisian mengatakan, kalau kamu mengakui sebuah kesalahan lain."


"Maksudnya?" tanya Rani tak mengerti.


Kamu mungkin tidak salah dalam kecelakaan yang menimpa Arka dan juga Amanda. Tapi kamu mengakui soal keterlibatan kamu dengan Fadly. Tentang pemukulan dan penyerangan terhadap Amanda waktu itu, juga tentang percobaan kudeta yang Fadly lakukan.


"Ja, jadi maksudnya saya nggak bisa di bebaskan gitu?" suara Rani terdengar mulai panik.


"Ya, saya tidak bisa bantu."


"Tapi anda juga terlibat dalam pencurian data di kantor Amanda." ujar Rani dengan suara tertahan, ia takut petugas mendengar pembicaraan ini dan masuk. Rani tak ingin kesalahannya jadi bertambah.


"It's you, not me. Kamu lah yang mencurinya, Rani."


Amman seakan hendak cuci tangan.


"Ya nggak bisa gitu dong, anda juga terlibat karena anda menerima. Saya akan laporkan anda juga."


"Silahkan, saya sudah menjamin kehidupan keluarga Fadly selama dia dipenjara. Asal dia tidak menyebutkan nama saya. Seberapapun usaha kamu memenjarakan saya, ketika Fadly bilang saya tidak terlibat. Maka saya tidak terlibat. Polisi akan lebih percaya ucapan Fadly ketimbang kamu."


"Brengsek." Teriak Rani penuh emosi.


"Brengsek kamu, Amman."


Petugas yang mendengar semua itu masuk dan menahan Rani, kini perempuan itu memberontak.


"Kamu memang licik, munafik, bajingan kamu Amman. Arrgghhh."


Ia terus berteriak dan memberontak, hingga petugas mesti memasukkan dirinya kembali ke dalam sel tahanan.


Amman berlalu meninggalkan tempat itu. Sesaat setelah mereda, tiba-tiba Maureen muncul di depan jeruji besi.


"Maureen, Maureen tolongin gue. Amman nggak mau nolongin gue, please." Rani berkata dengan penuh harap.


"Sorry, Ran. Kalau papa gue bilang nggak bisa, ya nggak bisa." ujar Maureen kemudian.


"Pa, papa?"


Rani menangkap hal ganjil dalam nada bicara serta mimik wajah maureen.


"Ya, papa. Gue adalah anak dari wanita yang tidur dengan Amman, 22 tahun yang lalu."


Rani terbelalak tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Se, serius?" tanya nya kemudian.


"Nggak." ujar Maureen seraya menatap Rani.


"Tapi Amman percaya. Karena selama hidupnya, dia selalu meniduri banyak perempuan dan itu tanpa pengaman."


"Brengsek, bisa-bisa nya lo ya." Rani mulai geram.


"Gue ngelakuin semua ini, karena lo menyia-nyiakan kesempatan. Lo bodoh, Ran. Terlalu gengsi, padahal banyak keuntungan yang bisa didapat dengan lo mengaku sebagian anaknya Amman."


"Brengsek." Rani seakan hendak memukul Maureen, namun terhalang jeruji besi. Maureen pun tertawa.


"Ada untungnya juga ternyata deket sama lo. Sekarang gue adalah Maureen Louis, princess Maureen."


"Brengsek."


Maureen tersenyum lalu menjauh.


"Brengsek lo, dasar uler. Benalu, penipuuuu."


"Pak, kasih saya handphone pak. Saya harus kasih tau Amanda soal ini, pak. Paaaak."


Rani berteriak pada petugas sipir penjara.


"Pak tolong, pak. Perempuan itu tadi penipu."


"Buuuk."


Sebuah pukulan keras dari sesama napi perempuan diterima oleh Rani.


"Berisik lo, bangsat." ujar tahanan itu pada Rani. Rani pun kini terduduk dilantai sambil menangis.