Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
I am Your Father


"Intan."


Intan tak menggubris panggilan Ansel, ia terus berjalan cepat menjauhi pria bule itu.


"Intan, dengar dulu."


"Berisik." ujar Intan.


"Iya dengar dulu makanya."


"Nggak perlu."


"Kamu mau jalan sampai mana lagi, depan itu kuburan." ujar Ansel.


"Bodo amat."


"Jegik."


Langkah Intan terhenti, apa yang dikatakan Ansel benar adanya. Kuburan-kuburan itu hanya berjarak tiga meter saja dari tempat dimana ia berdiri kini. Suasana seram pun mulai terasa, apalagi terdengar bunyi seperti suara burung hantu.


Intan pun berbalik dan,


"Tuing."


Ia berlari secepat kilat meninggalkan tempat itu.


"Intan tunggu dulu...!"


"Nggak mau."


"Intaaaan."


"Nggak mauuuu, pengkhianat kamu."


"Aku nggak berkhianat."


Intan tak menggubris, malah kini ia berlari. Ansel pun turut berlari mengejar gadis itu.


"Buuuk."


Ansel menabrak seseorang, sementara Intan sudah melaju kencang.


"Da, daddy?"


Ansel tak percaya pada apa yang ia lihat, Ryan kini sudah berdiri tepat didepan matanya.


"Dari mana daddy tau, saya disini?"


Ansel masih melirik ke arah Intan yang perlahan kian menjauh.


"Mau menghindar sampai kapan?"


"Sampai daddy berhenti menjodohkan saya. Daddy orang latin, saya half Jerman. Di negara kita di barat sana tidak ada perjodohan."


"Ada, di setiap keluarga kaya dan keluarga kerajaan."


"Kita bukan keluarga kerajaan." ujar Ansel membela diri.


"Tapi kita keluarga kaya, right?"


"Ya tapi tidak harus ada perjodohan juga."


"Perjodohan itu menguntungkan."


"Itu menguntungkan daddy, bukan saya"


"Tapi ini akan menguntungkan gadis yang kamu kejar tadi."


"Maksud daddy?" Ansel mulai menangkap energi negatif dari ucapan ayahnya itu.


"Kamu tau apa yang akan terjadi pada gadis itu, kalau kamu membantah."


"Dad, jangan coba-coba mendekati atau melukai Intan. Daddy akan berhadapan dengan saya."


Ansel berlalu, ia kembali mengejar Intan yang sudah menghilang. Sementara kini Ryan terpaku ditempatnya.


***


"Bu, ibu dimana?"


Rianti menelpon ibu Arka, ia kini berada di sebuah barisan pertokoan. Ia janjian dengan tantenya itu untuk bertemu disana. Mereka ingin membeli bahan untuk membuat baju kondangan.


Ada keluarga ibu Arka yang akan hajatan dalam waktu dekat, mereka disuruh memakai pakaian yang seragam. Tetapi bahannya disuruh beli sendiri-sendiri. Sebuah hal yang sangat membagongkan, mengingat seharusnya bahan disiapkan oleh keluarga yang punya hajat.


"Ini ibu di dekat pertokoan, yang depannya merah-merah ini loh cat nya." ujar Ibu Arka.


"Ke dalam lagi bu, masih jauh itu mah."


"Ya sudah ibu ambil arah kiri apa kanan ini?"


"Kanan, bu."


Ibu Arka berbalik ke arah kanan, namun seketika langkahnya pun terhenti. Langit masih cerah, namun hatinya menjadi dingin dan beku. Tatkala menatap sesosok pria asing bertubuh kekar yang tengah berdiri dihadapannya.


"Ningsih?"


"Bu, ibu."


"Ningsih tunggu...!"


Ryan mencekal lengan wanita itu, tubuh ibu Arka gemetaran. Seketika rasa sakit yang sudah lama tenggelam itu seakan muncul lagi ke permukaan.


"Untuk apa kamu menemui saya lagi?"


Suara ibu Arka penuh dengan kemarahan yang tertahan.


"Ningsih, aku tau kamu membenci aku. Aku tidak akan memaksa kamu untuk memaafkan aku soal itu. Aku cuma mau tanya, dimana anak kita?"


"Anak kita?" Kali ini ibu Arka mendekat.


"Anak kita kamu bilang?. Setelah 23 tahun kamu baru menanyakan dia, selama ini kamu kemana?"


"Ningsih, aku benar-benar minta maaf. Aku tau aku salah, dimana dia?"


"Dia sudah mati, aku menggugurkannya 23 tahun yang lalu."


Ryan terpukul mendengar semua itu, hatinya kini menjadi begitu sedih. Bahkan ia belum pernah sesedih ini sebelumnya.


"Aku..."


"Pergi dari sini...!"


"Ningsih, aku."


"Kamu nggak tau kan bagaimana penderitaan saya setelah kamu pergi. Bagaimana saya diusir keluarga saya, berjalan tanpa tujuan. Tanpa uang sepeserpun yang saya bawa saat itu. Pergi kamu dari hadapan saya...!"


"Ningsih."


"Pergi...!"


Ryan pun terdiam, ia tak bisa lagi memaksa wanita itu. Tak lama setelahnya ia pun berbalik arah dan melangkah menjauhi tempat tersebut.


"Ibu."


Terdengar sebuah suara, Ryan yang sudah melangkah cukup jauh itu pun refleks menoleh.


"Arka, kamu ngapain disini?" Ibu Arka berujar pada puteranya dengan penuh keterkejutan.


"Abis beli contoh bahan, bu. Buat keperluan kantor, rencana mau bikin baju batik."


Jantung Ryan berdegup kencang, tanpa terasa air mata mengalir dari kedua sudut matanya. Ia yakin pada apa yang dikatakan hatinya, selama beberapa waktu belakangan ini. Bahwa Arka memanglah darah dagingnya.


"Ibu kenapa sendirian?" tanya Arka lagi.


Ibu Arka menoleh kesana-kemari, Ryan telah luput dari pandangannya.


"Janjian sama Rianti."


Ibu Arka membawa puteranya menjauh, sambil sesekali menoleh. Ia benar-benar sudah tidak menemukan Ryan lagi, itu artinya Ryan tidak melihat kehadiran Arka.


Tanpa ia sadari jika Ryan masih ada disana, pria itu bersembunyi disuatu tempat seraya terus memperhatikan puteranya.


Sore itu Arka mengajak si kembar bermain di sekitaran penthouse, ia pulang cepat karena para petinggi kantor mengadakan rapat dadakan. Ia memiliki waktu bermain lebih bersama si kembar. Tadinya si kembar dititipkan Amanda pada Anita, karena Amanda pun bekerja. Namun sekarang Anita sudah pulang.


"Main kemana dedek?" Arka berbicara pada kedua bayinya. Tampak mereka tengah menggerakkan kaki serta tangan, seolah kegirangan dibawa ketempat luar.


Arka berbalas pesan sesekali dengan istrinya, dan memfoto anak mereka beberapa kali. Untuk kemudian dikirimkan pada wanita itu.


"Hai."


Tiba-tiba Ryan muncul didekatnya.


"Ryan?" Arka masih mengenali pria itu.


"Ya, how are you?"


Ryan bertanya layaknya seorang teman lama.


"I'm fine and you?"


"I am good." ujar Arka lalu tersenyum.


"And you guys?. Hello."


Ryan berujar pada kedua cucunya, kedua cucunya itupun tampak begitu kegirangan. Air mata merebak di pelupuk mata Ryan, namun berusaha keras ia tahan. Ia tak menyangka jika dirinya pun telah memiliki cucu. Arka menikah bahkan di usia yang lebih muda dari dirinya. Ia memiliki Ansel di usia 27 tahun saat itu.


"So, what are you doing here?" tanya Arka.


"Saya bekerja disini, saya punya perusahaan yang sudah berdiri sejak lama di negara tempat saya tinggal sekarang. Dan baru memiliki cabang di negara ini beberapa tahun belakangan."


"Oh, ya?"


"Ya."


Keduanya lalu terlibat obrolan panjang. Arka menanyakan soal perusahaan Ryan lebih lanjut dan Ryan pun banyak bertanya pada puteranya itu tentang kehidupannya. Tetapi Ryan sendiri tak berani mengatakan jika ia adalah ayah dari Arka.


Ia tak tahu doktrin apa yang sudah ditanamkan ibu Arka, pada benak anak mereka itu selama ini. Ryan takut Arka akan membenci dirinya lalu menjauhinya. Sehingga Ryan mungkin saja tak bisa lagi, untuk berada didekat anak maupun cucu-cucunya itu.


Ia belum siap untuk mengatakan semua itu saat ini. Ia belum siap ditolak, belum siap dibenci oleh darah dagingnya sendiri.