Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Pengganggu


Hari demi hari berlalu, Arka dan Amanda sangat menikmati liburan mereka. Kadang mereka menonaktifkan handphone sampai dua hari, agar bisa tenang dari urusan kota Jakarta yang melelahkan.


Ya, apalagi kalau bukan urusan pekerjaan. Teman yang menanyakan soal sesuatu, ataupun alarm yang mengingatkan jadwal. Seperti jadwal deadline tugas kantor, ataupun skripsi bagi Arka.


Hari ini adalah minggu kedua dihari Jum'at. Setelah senin, selasa dan kamis Arka bolak-balik Bogor-Jakarta untuk ke kantor. Sedang Amanda sendiri santai untuk jadwal, karena ia merupakan bos di kantornya.


Arka yang masih karyawan terpaksa mengalah dengan berangkat pagi-pagi buta. Namun ia gembira, karena masih menikmati suasana liburan. Hari ini saja ia kembali berenang, tetapi sendirian. Karena Amanda tengah menyiapkan barbeque untuk nanti malam. Sementara Azka dan Afka sudah tidur.


Arka berenang kesana-kemari, ia menyelam hingga ke dasar kolam dan berenang dari ujung ke ujung. Ia melakukannya beberapa kali, hingga sampai di sesi terakhir. Ia keluar dari dalam air dan....


"Anjrit."


Arka kaget dan refleks memukul wajah serta kepala Rio, yang tiba-tiba muncul sejengkal didepan wajahnya. Rio pun tertawa karena sejak tadi ia sudah tengkurap di depan kolam, sambil menunggu kemunculan Arka.


"Lo ngapain disini, Bambang?. Bikin kaget aja." Jantung Arka masih dag, dig, dug, der. Sementara Rio makin terkekeh.


"Kangen kan lo, sama gue?" ujar Rio dengan kepercayaan diri tingkat dewa.


"Kangen pala lu, ganggu aja. Di mana-mana elo mulu, orang gue ada rencana mau menghantam bini gue ntar malem." ujar Arka seakan hendak menelan Rio.


"Oh, mau maju mundur yes, yes, yes, lo ya. Nggak bakalan lo gue biarin. Tidak akan kuserahkan pada kampret yang durhaka."


"Mangga sisa mulut kampret, tak berharga dan terhina."


Tiba-tiba Ansel dan Nino muncul, lalu bersama Rio mereka membuat trio qosidah. Dengan lagu yang sempat viral di tiktok berapa waktu lalu.


"Tidak akan kuserahkan, pada kampret yang durhaka."


"Bangsat." Arka tertawa, namun kesal.


"Ngapain lo semua ada disini, ah elah."


Arka lalu naik keatas.


"Tenang saja Rathore, demi dewa Tapasya menginap di villa sebelah. Tidak akan mengganggu."


"Apaan sih?" tanya Arka seraya mengambil minuman. Ia duduk di dekat Ansel dan Nino yang kini sun beating di kursi santai.


"Lo nggak pernah nonton Uttaran, Ka?" Rio balik bertanya.


"Kagak, apaan Uttaran?"


"Ansel aja tau."


"Ya mana gue tau, orang gue nggak pernah nonton." ujarnya seraya menyalakan sebatang rokok.


"Itu loh, Ka. Serial TV India, yang kalau lo nonton nih. Dari Azka sama Afka masih bayi, sampe mereka kuliah baru kelar." ujar Nino.


"Anjrit serial apaan tuh?" tanya Arka nyaris tersedak asap rokok menahan tawa.


"Beneran." ujar Nino seraya ikut tertawa. Rio pun demikian.


"Uttaran bagus tau."


Tiba-tiba Ansel membela serial tersebut, membuat Arka, Nino dan Rio saling menatap satu sama lain.


"Dia mah bule-bule tontonannya serem ya, sinetron, serial India." ujar Nino.


"Emang kenapa?. Sinetron bagus koq, gue nonton Ikatan Cinta." ujar Ansel dengan polosnya.


Lagi-lagi Arka, Nino dan Rio saling menatap.


"Iye, terserah lu." ujar Nino kemudian.


Tak lama setelah itu Amanda datang.


"Hallo, Romlah datang." ujar Amanda menirukan parody Barbie yang ada di tiktok.


"Dari mane, Romlah?" tanya Rio kemudian.


"Ini dari ngambil barbeque. Intan, Nadine sama Liana mana?. Koq nggak kalian ajak?"


"Intan mana, Tan?" ujar Ansel kesal namun penuh tawa.


"Dia aja kamu tugaskan keluar kota, dari tempo hari." lanjutnya lagi


"Lah iya, ya." Amanda baru ingat.


"Dah, gimana sih." ujar Arka.


"Bukan bos yang baik ini, masa lupa." lanjutnya kemudian, Amanda terkekeh.


"Bini lo, Ka." ujar Ansel seraya menggeleng-gelengkan kepala.


"Bikin iparnya kesepian mulu." lanjutnya lagi.


"Ya udah deh, ntar gue tanya Intan udah selesai apa belum. Ntar gue pesenin tiket pulang."


"Besok, dia nyusul katanya." jawab Nino.


"Lagi nemenin nyokapnya hari ini." lanjutnya lagi.


"Liana?"


"Biasa, dia lagi mual-mual mulu. Nggak mau jalan dia." ujar Rio.


"Sabar, bro." ujar Arka sambil menepuk bahu Rio, tapi lebih mirip penganiayaan.


"Sakit, bangsat." ujar Rio sewot, Arka pun tertawa.


Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan pesta barbeque di halaman dekat kolam renang. Udara cukup dingin menusuk tulang, namun Rio menjelma menjadi laba-laba air. Ia berenang kesana-kemari bersama Ansel.


"Tuh anak dua, kagak masuk angin apa ya." tanya Nino seraya memperhatikan sekilas ke arah Ansel dan juga Rio.


"Tau tuh, sebenarnya siluman buaya tau mereka." seloroh Arka kemudian.


Arka dan Nino tertawa.


"Langit bumi bersaksi, derita kujalani. Langit bumi bersaksi."


Arka dan Nino kompak menyanyikan lagu misteri ikan terbang, saat melihat Ansel dan Rio yang berenang tanpa henti.


"Woi, kagak dingin apa lo pada?" tanya Arka.


"Anget, Ka. Kena kencing gue sendiri." ujar Rio.


"Rio, bangsat ya. Gue masih mau berenang besok." ujar Amanda.


"Alah, Firman. Kayak lo nggak pipis aja di kolam."


Amanda tertawa.


"Kagak, ya. Gue pipis di kamar mandi."


"Arka, Azka, Afka?. Lo nggak tau kan kelakuan mereka." ujar Rio lagi.


Amanda pun kian tertawa, sambil mengambil daging dan ikan yang selesai dipanggang. Ia menambahkan itu semua ke hadapan Arka dan juga Nino, yang tengah mengambil nasi.


"Indonesia sekali ya bapak-bapak, makan steak pake nasi."


"Nggak kenyang, Firman." ujar Arka kemudian.


"Gue nggak bisa loh, nggak makan nasi." ujar Nino.


"Sama sih, gue juga." ujar Arka.


"Kamu dulu tinggal diluar negri gimana?" tanya Amanda pada Nino.


"Ya masak nasi, beli beras sama rice cooker. Mana mahal lagi."


"Oh ya?"


"Ya kan berasnya import, di Eropa nggak ada sawah." ujar Nino kemudian.


"Iya sih."


"Jadi itu Ansel sama daddy, ikutan makan nasi?"


"Ikut, kan mereka juga pernah di Indonesia. Jadi udah nggak kaget."


"Oh iya, ya. Lupa gue." ujar Arka.


Mereka pun mulai makan.


"Man, makan Man. Mumpung anak-anak belum bangun loh." ujar Arka.


"Iya, ntar mereka bangun mau ASI. Kamu nya repot, udah nggak mood biasanya mau makan."


"Iya, bener banget." ujar Amanda.


"Kadang udah ngurusin mereka, jadi nggak ***** makan lagi." lanjutnya kemudian."


"Biarin aja tuh dua berang-berang itu belakangan." ujar Nino lagi.


"Udah jadi putra duyung tuh, mereka. Timpal Arka. Amanda pun mengambil piring, lalu makan.


Malam itu, mereka berbincang dan bernyanyi bersama. Asap rokok dan Vape mengebul dimana-mana. Ketika Azka dan Afka bangun semua kompak menjadi manusia paling suci dan bersih, dengan mematikan semua rokok dan berhenti ngevape.


Mereka menggendong si kembar secara bergantian, mengajak keduanya berkeliling serta bermain bersama. Kadang mereka malah terlihat seperti orang gila, karena berbicara dengan bahasa aneh kepada para bayi itu.


Esok harinya sesuai janji, Nadine menyusul. Yang lebih mengejutkan ternyata ia berhasil membujuk Liana, hingga Rio tak terlalu Ambyar. Intan tiba pada sore harinya. Dari bandara, ia langsung menuju kesana. Malam berikutnya pun, menjadi malam minggu yang ramai dan penuh keseruan.


Tanpa mereka sadari di Jakarta, sebuah peristiwa besar dan heboh telah terjadi.