
"Hallo, Man."
Arka menelpon Amanda, bermaksud mengutarakan keinginannya untuk segera pulang dari rumah sakit.
"Iya Ka, kenapa?" jawab Amanda di seberang.
"Kenapa tadi nggak bisa dihubungin?" tanya Arka.
"Lagi di panggilan telpon lain. Itu si Anita bilang, Nuri sama Siti yang dulu kerja di penthouse, yang aku pindahin ke rumah. Pada berantem dengan salah satu yang kerja dirumah."
"Berantem?. Berantem soal apa?" tanya Arka.
"Biasalah, senior-junior."
"Ya ampun, tapi udah beres?"
"Udah, udah kelar koq masalahnya. Kamu kenapa, Ka?. Ada masalah?. Udah makan belum kamu?" Amanda melontarkan pertanyaan yang beruntun.
"Udah tadi. Mmm, Man. Boleh nggak aku pulang hari ini?" ujar Arka perlahan.
"Loh, kan masih sakit. Kenapa sih?. Udah nggak betah ya, kamu?"
"Mmm, iya sih. Salah satunya itu, lagian juga aku udah ngerasa baik-baik aja koq. Boleh ya, Man?"
"Hhhh." Amanda menghela nafas, lalu berfikir.
"Gimana ya, Ka?. Aku tuh khawatir banget, takut kalau kamu kenapa-kenapa lagi."
"Man, percaya deh sama aku. Aku baik-baik aja sekarang. Ya, boleh ya?"
"Ok, tapi jangan kerja dulu. Jangan terima tawaran syuting ini itu dulu."
"Ok deh, nggak. Boleh ya tapi?"
"Ok, ntar aku urus semuanya."
"Udah nggak apa-apa, Man. Ntar aku suruh Rio aja."
"Udah ada Rio disitu?"
"Ada."
"Oh, ya udah."
"Kamu udah makan dan minum vitamin, Man?"
"Belum, bentar lagi."
"Jangan lupa."
"Iya."
"Ya udah, aku urus semuanya dulu ya." ujar Arka.
"Ok deh, nanti kabarin aku."
"Iya."
Arka menyudahi telponnya.
"Boleh kan sama bini lo?" tanya Rio kemudian.
Arka mengangguk, detik berikutnya mereka segera bergerak. Melakukan proses administrasi dan sebagainya.
Sebenarnya dokter juga sudah mengatakan, jika Arka boleh pulang dan bisa melakukan rawat jalan. Hanya saja Amanda yang masih ingin dia berada disana.
Tapi hari ini Amanda menyetujui keinginan Arka, untuk beristirahat saja dirumah. Jujur Amanda masih agak sedikit khawatir, tetapi ia juga kasihan pada Arka jika harus berada dirumah sakit terus-menerus. Pastilah pemuda itu merasa bosan.
Saat semuanya telah selesai di urus, Arka dan Rio pun berpamitan pulang pada dokter dan suster yang telah merawatnya. Mereka berjalan diantar ke lobi depan. Saat tengah melintasi sebuah lorong tanpa sengaja Arka menoleh ke sebuah kamar, yang kebetulan gorden kacanya tengah terbuka.
Ia terkejut melihat Nino ada disana dan begitupun sebaliknya. Nino yang dalam beberapa hari ini percaya diri jika Amanda datang hanya untuk melihat keadaannya, kini mendadak hatinya menjadi patah. Sementara Arka menduga-duga, apakah Amanda mengetahui keadaan Nino atau tidak.
Rio mengantar Arka ke penthouse terlebih dahulu, kemudian mereka mengambil mobil dan tancap gas menuju rumah orang tua Arka.
"Koq lo masih parkir disini, sih?" tanya Rio ketika mereka telah sampai, dan Arka tetap memarkir mobilnya ditempat yang biasa.
"Bawa aja ke depan rumah lo, emak lo udah tau ini." lanjutnya lagi.
"Ntar ngundang reaksi tetangga, Ri. Tau sendiri warga disini kayak apa." ujar Arka kemudian.
"Iya sih, ya udalah terserah lo aja." tukas Rio.
Arka pun memarkir mobilnya ditempat tersebut.
"Ayo, keluar." ujar Rio yang melihat Arka terdiam didalam mobil. Padahal mesin kendaraan tersebut sudah dimatikan.
"Udah aja santai, aja." lanjut pemuda itu lagi.
Arka pun lalu membuka pintu mobil, jujur ia agak ragu untuk melakukan hal ini. Karena sekali pun.ia belum pernah membuat kedua orang tuanya marah besar.
Ini kali pertama ia membuat sebuah kekacauan, yang menyebabkan ibunya menjadi murka. Namun seperti kata Rio, tak ada pilihan lain kecuali jujur dan mengatakan semua dengan apa adanya.
"Tuh, tuh, tuh, kan. Apa saya bilang."
Bu Mawar si ratu gosip kampung tengah mengintip pergerakan Arka dan Rio, yang kini perlahan menjauh dari mobil. Ia mengintip bersama ibu-ibu penikmat gosip.
"Iya ya, bu Mawar. Koq bisa pake mobil secakep itu, duit dari mana kalau bukan simpanan." Salah satu pemuja berhala bu Mawar, buka suara.
"Iya makanya, jadi aktor aja baru- baru ini dapat peran bagus. Masa udah bisa beli mobil semewah itu. Saya udah cek jeng, di eta teh Google. Itu mobil harganya mahal banget, mana mungkin honor si Arka cukup. Rumah emaknya aja nggak di bener-benerin sama dia."
"Hmmm, percaya sih kita sekarang." ujar yang lainnya lagi.
Arka melangkah perlahan, kini ia dan Rio telah berada tepat beberapa meter di depan rumah. Tampak ibunya telah berdiri disana, seakan sudah memiliki firasat jika puteranya tersebut akan pulang.
"Bu."
"Plaaaak."
"Bu."
"Plaaaak." Lagi-lagi tamparan itu mendarat.
Rio memalingkan wajahnya ke arah lain, karena tak tega melihat Arka.
"Ibu nggak pernah ngajarin kamu jual diri ya Arka."
Pelan suara ibunya terdengar, namun syarat akan kemarahan dan juga kekecewaan.
"Bu."
"Ibu sudah cukup sakit hati, dengan tau bahwa kamu menghamili perempuan. Dan hari ini ibu baru tau satu fakta lagi, bahwa kamu memberi ibu dan bapakmu uang haram."
"Itu bukan uang haram, bu. Arka nggak berzina dengan dia, Arka menikah sama Amanda."
Petir seolah menyambar.
"Menikah kamu bilang?"
"Iya bu, Arka dan Amanda itu menikah. Semua Arka lakukan demi ibu dan papa. Arka udah nggak punya jalan lain lagi saat itu. Uang yang mau Arka pakai buat bayar kuliah, semua Arka bayarkan pokok hutang ibu di salah satu rentenir yang nagih Arka hari itu. Arka di cuti paksakan dari kampus, nggak lama pihak rumah sakit telpon dan bilang kalau papa butuh dioperasi segera. Coba ibu pikir gimana kalutnya Arka saat itu, sampai Arka memutuskan menikah kontrak sama Amanda. Dia kasih Arka uang, Arka kasih dia anak. Lalu kami akan bercerai ketika anak itu lahir."
"Plaaak."
"Plaaak."
"Seenaknya saja kamu mempermainkan pernikahan, kurang ajar kamu Arkaaa."
Ibunya terus berteriak dan memukuli Arka secara membabi buta, membuat Rio terpaksa memisahkan. Ayah Arka yang baru saja pulang pun seketika berlari dan ikut memisahkan mereka.
"Bu, udah bu."
Rio menarik paksa ibu Arka, namun wanita itu memberontak. Sementara Arka dibentengi oleh ayahnya.
"Semudah itu kamu mempermainkan pernikahan. Kamu pikir kawin-cerai itu segampang kamu membeli dan mengembalikan barang. Setan apa yang sudah merasuki pikiran kamu Arkaaa?"
"Buuu."
"Plaaak, plaaak, plaaak."
Pukulan dan tamparan terus di layangkan ibunya. Karena Arka dilindungi ayah tirinya, pukulan tersebut pun acap kali mengenai ayah tiri Arka.
Air mata Arka mengalir, bukan karena ia cengeng. Namun ia teringat saat kecil dulu, pernah dianiaya ibunya sampai begitu parah. Lantaran sang ibu melihat Arka sangat mirip dengan ayah kandungnya.
Hati Arka seketika hancur, apakah kesalahannya kali ini begitu fatal. Hingga membuat ibunya sedemikian murka dan membenci dirinya. Ibunya terus berteriak, Rio menarik paksa wanita itu kedalam. Sementara kini sang ayah tiri memeluk Arka.
"Maafin Arka, pa." Arka terisak dalam kesedihannya.
"Papa yang minta maaf, nak. Kalau bukan karena papa sakit, kita nggak akan banyak hutang dan kamu nggak akan seperti ini."
Arka terus memeluk ayahnya.
Sementara didalam, Rio tampak menenangkan ibu Arka.
"Maafin dia, bu. Arka melakukan semua ini demi kalian."
Ibu Arka tak menjawab, hanya duduk diam dengan tatapan yang jauh entah kemana. Air matanya mengalir deras, ia tak menyangka anaknya akan melakukan hal seperti ini.
"Arka menikahi Amanda memang karena uang. Dia juga menghamili Amanda karena uang, tapi itu dulu."
Kali ini ibu Arka menatap Rio.
"Sekarang mereka saling mencintai, mereka nggak berniat lagi untuk berpisah. Arka nggak mau anaknya jadi kayak dia, ditinggalin sama bapak kandung sendiri. Arka juga udah nggak mengandalkan uang Amanda. Selain daripada hutang dan biaya berobat papa, Arka cari uang sendiri. Yang Arka sering kirim ke ibu itu hasil kerja kerasnya dia. Dia menolak uang Amanda karena dia..."
"Panggil Arka kesini, ibu mau bicara."
Suara ibu Arka tak lagi meninggi. Ia berbicara layaknya seorang ibu yang memerintah anaknya untuk melakukan sesuatu hal. Rio pun mengangguk, ia berjalan ke arah teras dan menatap Arka. Tak lama ia memberi kode pada temannya itu untuk masuk.
Arka menatap ayahnya, laki-laki itu mengangguk. Perlahan Arka pun masuk, ia menemukan ibunya itu dikamar dan langsung bersimpuh dihadapannya.
"Maafin Arka, bu." ujar Arka seraya terbenam di kedua tangan serta lutut ibunya, yang tengah duduk di atas tempat tidur.
Air mata pemuda itu mengalir, begitu juga dengan sang ibu. Perlahan ibunya pun mengangkat tangan dan membelai kepala anak itu.
"Ibu sayang sama kamu, Arka."
"Maafin Arka, bu."
Ibunya pun membawa Arka ke dalam pelukan. Arka kemudian menangis sesenggukan.
"Maafin ibu juga, nak. Maafin ibu."
Mereka berdua tenggelam dalam tangis. Lalu ibunya menghapus air mata di wajah Arka.
"Pulanglah ke rumah istrimu, bawa dia kesini."
Arka terdiam memperhatikan ibunya.
"Tapi bu."
Ia bahkan belum memberitahukan Amanda soal ini.
"Dia menantu ibu dan papa. Anak yang sedang dikandungnya itu, cucu kami. Bawa dia kesini nak."
Arka kini dilanda kebingungan, pasalnya Amanda adalah seorang perempuan kaya-raya. Apakah ia mau menginjakkan kakinya dirumah yang sederhana seperti ini. Apakah ia mampu menghormati kedua orang tuanya yang berasal dari kalangan biasa saja. Bagaimana cara menjelaskannya pada Amanda.
***
"Hhhh."
Arka menghela nafas, ini sudah dua jam berlalu. Pasca kepulangannya dari rumah orang tuanya. Ia masih bingung dengan permintaan terakhir sang ibu.