
"Arka terbangun di pagi hari. Ketika ia merasakan ada sesuatu yang berat menimpa dadanya.
"Anjrit." Arka menjauhkan kaki Ansel.
"Pantes aja semalem gue mimpi di reprepin sama genderuwo bulu pirang. Ini ternyata biangnya, genderuwo import." lanjutnya lagi.
Arka mencoba bangun namun,
"Aaakh, aw."
Ia merasakan kesemutan di kaki kanannya, akibat ditimpa tangan kekar Nino semalaman. Mereka tidur amat sangat berantakan.
"Nin, tangan lo dong Nin. Ini kesemutan gue, mana sakit, geli juga." Arka menggerutu, sementara Nino masing terlelap.
"Nin, Arka mencoba mengguncang tubuh saudaranya itu.
"Ha, apaan sih?" Nino yang masih mengantuk itu bergerak, namun ia malah makin menekan kaki Arka.
"Akh, anjir. Nino, gue kesemutan."
"Hah?" Nino kali ini benar-benar terbangun.
"Apaan?" tanya Nino lagi.
"Gue kesemutan, Bambang. Tangan lo lariin." ujar Arka.
"Oh, bilang dong." Nino memukul kaki Arka.
"Anjir, aarrgghh. Bangsat."
"Buuuk."
Arka memukul kepala Nino dengan bantal. Nino tertawa-tawa lalu pindah ke arah lain dan kembali tidur.
Arka beranjak keluar kamar Ia menuruni tangga, sambil menahan kesemutan di kakinya yang belum hilang. Ia lalu duduk sejenak di ujung tangga sambil meluruskan kaki, tiba-tiba Ryan melintas dengan terburu-buru.
"Buuuk."
"Aw, daddyyyyy." Arka berteriak pada sang ayah, ketika Ryan tanpa sengaja menendang kakinya.
"Ya maaf, daddy nggak sengaja." ujar Ryan membela diri.
"Orang lagi kesemutan juga, main tabrak aja." Arka berteriak layaknya anak SD yang tidak diberi uang jajan. Ryan terkekeh dan berlalu begitu saja, tak lama kemudian terdengar kembali derap langkah.
"Awas...!" ujar Arka menghalau, namun ternyata yang lewat bukanlah Ryan.
"Pamela." Arka berujar kepada wanita itu. Sementara Pamela berlalu sambil tersenyum, pandangan mata Arka terus mengikuti Pamela. Hingga ketika ia berbalik,
"Jegik."
Wajah Amanda sudah berada tepat didepan matanya, bahkan kini mereka hanya dipisahkan jarak beberapa centimeter saja.
"Baru menjelang dua tahun ya, Ka. Masa udah mau cerai?"
"Kamu apaan sih, Man?. Pagi-pagi ngomongnya gitu."
"Lagian kamu jelalatan banget sama si Pamela, mentang-mentang gede. Inget ya Ka, perselingkuhan itu bukan hanya karena ada kesempatan, tapi juga niat pelakunya. Waspadalah, waspadalah." ujar Amanda seraya menirukan jargon sebuah acara berita, yang sempat populer beberapa tahun lalu.
Arka pun terkekeh.
"Man, aku tuh ngeliat doang. Kayak kamu ngeliat Cha Eun Woo kalau di drakor. Masa kamu sebegitu nggak percaya nya sama aku, setelah hampir dua tahun kita berumah tangga. Inget kan, Cintara yang jelas-jelas ngejar aja, aku diemin."
"Ya kali aja Cintara emang bukan tipe kamu, tapi tipe kamu yang modelan kayak Pamela."
Arka kembali tertawa, lalu menatap Amanda.
"Tipe aku itu tante-tante penuh gairah, yang nggak gampang keluar kalau lagi begituan sama aku."
"Ih kamu mah, mesum dasar."
Amanda memukul Arka dan Arka tetap setia mengeluarkan tawanya yang khas.
"Yang suka marah-marah, yang suka mukul tangan aku sampe penyok ke dalem."
Amanda menahan tawa.
"Yang pinter masak, pekerja keras, suka bikin keras."
"Iiiiih." Amanda kembali memukul suaminya itu.
"Daddy, anaknya nih."
"Kenapa?" teriak Ryan dari suatu arah.
"Mesum." ujar Amanda sewot.
Arka dan Ryan kompak tertawa, Amanda lalu beranjak.
"Mau kemana, kamu?" tanya Arka.
Lagi dan lagi Arka tertawa.
"Kopi paginya mana?" tanya nya kemudian.
"Udah di meja." ujar Amanda seraya menjauh dan menghilang di balik pintu.
Arka lalu beranjak ke meja makan, rasa kesemutan di kakinya perlahan hilang. Ia meraih segelas kopi untuk mengawali harinya dan membawa kopi tersebut menuju ke halaman depan.
Ia melangkah santai ke arah Amanda, yang kini tengah bersama si kembar. Tak ada yang istimewa, semua terlihat normal saja. Sampai kemudian ia menemukan sebuah pemandangan yang tak biasa.
"Man, me, mereka?" ucapan Arka terhenti. Ia amat sangat terkejut, ketika melihat Azka dan Afka yang disuapi oleh Amanda.
"Mereka makan?" tanya nya tak percaya. Amanda tersenyum.
"Kan udah 7 bulan, Ka. Harusnya dari bulan kemarin udah dikenalkan makanan tambahan. Tapi ya, karena aku rasa belum terlalu perlu. Jadi aku tunda sampai bulan ke tujuh ini."
Arka menatap kedua anaknya lalu mencium mereka satu persatu.
"Cepet banget sih kalian gede." ujarnya dengan nada sedikit terisak. Ia kini berada dalam kondisi yang cukup emosional.
"Udah jangan nangis." ujar Amanda seraya membelai kepala suaminya itu.
"Inget nggak, Man. Dulu mereka kecil banget di perut kamu, ada kali segede ini perut kamu." Arka menangkupkan jari jemarinya.
"Iya waktu baru sebulan dua bulan hamil, sekarang udah segede ini ya." ujar Amanda seraya menyodorkan sendok ke arah Azka. Arka meraih mangkuk dan sendok tersebut dari tangan Amanda.
"Ini apa, Man?" tanya nya kemudian.
"Pumpkin." ujar Amanda.
"Emang mereka mau?" tanya Arka lagi.
"Liat aja noh." ujar Amanda seraya menunjuk pipi Afka yang sedikit belepotan.
"Sini papa suapin, ya." Arka menyuapi Azka.
Tanpa melengos ke kanan dan ke kiri, anak itu langsung menerima suapan. Arka yang masih berada didalam keadaan emosional itu pun, kembali meneteskan air mata. Dan lagi-lagi Amanda harus membelai kepala suaminya itu, agar ia sedikit tenang.
"Kenapa si Arka?" tanya Ryan yang kebetulan keluar dari pintu rumah.
"Biasa, dad. Bapak-bapak mello, liat anaknya baru bisa makan." ujar Amanda.
"Ah berlebihan kamu, Arka. Daddy dulu nggak begitu, waktu Ansel pertama makan."
"Gimana mau terharu, orang Ansel pertama makan langsung makan batu bata."
Nino yang baru turun nyeletuk, membuat semua yang ada ditempat itu tertawa. Ryan sempat memukul bahu anaknya itu seraya ikut terbahak.
"Apaan sih, gosipin gue ya." tiba-tiba Ansel muncul.
"Dih, pede banget lu." ujar Nino seraya mereguk kopinya.
"Mana Nin, kopi?" tanya Ansel.
"Itu di meja makan. Ambil sana, sendiri." ujar Ryan.
"Intan, ambilin kopi." Ansel berterima pada Intan, yang kebetulan tengah seliweran didalam.
"Patriarki, ambil aja sendiri." teriak Intan. Ryan tertawa demi mendengar semua itu.
"Orang minta tolong di bilang patriarki." Ansel menggerutu sambil melangkah ke dalam. Sementara kini Arka menyelesaikan suapan terakhirnya untuk si kembar.
"Dikit lagi, nak. Aaa'k."
"Yeay, kalian hebat." ujarnya kemudian.
Setelah itu mereka pun sarapan pagi bersama di meja luar. Intan dan Nadine membawa semua sarapan yang ada di meja makan, kesana. Pamela, Rio dan Rianti pun ikut bergabung. Dan disaat mereka tengah berbincang sambil tertawa-tawa, tiba-tiba terdengar suara bel yang ditekan.
"Ada yang datang tuh." ujar Nino.
"Biar saya yang buka." ujar Pamela kemudian.
Mereka lanjut berbincang, sedang kini Pamela membuka pintu pagar. Tak lama Pamela kembali dan berujar.
"Pak, ada perempuan mau ketemu bapak. Katanya sudah buat janji."
Ryan mengerutkan kening, karena merasa tak membuat janji pada siapapun sebelumnya.
"Siapa?" tanya Ryan Heran. Pamela menoleh ke arah pintu pagar, begitupula dengan yang lainnya. Seorang wanita masuk dan berdiri di dekat pintu pagar tersebut.
"Ningsih?" ujar Ryan tak percaya
"I, ibu?" Arka pun turut berujar tanpa sadar.
Lalu, waktu pun terhenti seketika.