
Amanda telah tiba terlebih dahulu di rumah Arka, sedang Nino kini mengantar Nadine. Tak lama, Arka pun tiba didepan rumah.
"Bro, lo bawa mobil ini yak." ujar Arka pada Rio, tepat sesaat setelah mobil berhenti didepan rumah.
"Ya udah, gue yang bawa." ujar Rio kemudian.
"Hati-hati."
"Paling diburu gue, disangka elu." seloroh Rio seraya tertawa.
"Udeh, sekali-sekali nolong gue."
"Yaelah kapan sih, gue nggak pernah nolongin lo."
"Iya, tunggu gue di Shooting Range." ujar Arka seraya tertawa.
"Iya kalau mengecil disitu." ujar Rio.
"Kayaknya bakalan mengecil di Miramar deh." ujar Arka kemudian.
"Beda peta, anjay."
Arka tertawa.
"Gue jalan ya, bapak walikota Pochinki."
"Hati-hati gubernur Yasnaya Pollyana."
Rio tertawa, Arka keluar dari dalam mobil dan mobil itu pun kini melaju. Arka masuk kedalam rumah dan disambut Amanda, keduanya kini saling berpelukan.
Amanda tau, seberapapun kuatnya sang suami. Betapa pun tegar nya ia menghadapi semua ini, ia tetaplah seorang anak muda. Yang mungkin saja dalam hatinya perlahan terusik bahkan hancur. Menyaksikan karier yang susah payah ia bangun, mendadak terancam seperti ini.
"Maafin aku ya, Arka." ujar Amanda seraya mengusap bahu suaminya itu.
"Nggak usah minta maaf, sayang. Kamu nggak salah apa-apa, aku emang cuek selama ini. Aku keluar sama kamu dan anak-anak juga kadang santai aja. Nggak ada pake masker, nggak apa. Kadang aku tuh lupa, kalau aku pekerja entertainment."
"Ya tapi, tetep aja aku ngerasa nggak enak. Gara-gara keinginan aku yang mau punya anak, aku sampe menghancurkan hidup kamu."
"Jangan lebayatun, kamu." ujar Arka sambil tertawa.
"Lebayani." ujar Amanda seraya tersenyum, namun hatinya sangat cemas dan rasa bersalah itu masih tetap ada. Dirinya lah yang membuat Arka terjebak dalam pernikahan ini.
"Udah, yang penting tenang dulu. Nggak usah dipikirin semua." ujar Arka lagi.
Pemuda itu kian erat memeluk istrinya.
"Aku sayang kamu, Ka." ujar Amanda.
"Aku juga, aku selalu sayang sama kamu Amanda."
***
"Ada apa diluar sana?" tanya Ryan pada Nino dan juga Ansel yang baru tiba.
"Arka, dad." ujar Nino kemudian.
"Arka kenapa?" tanya Ryan lagi.
"Ada yang gosipin dia." timpal Ansel.
"Gosip?. Soal apa?" Lagi-lagi Ryan bertanya.
"Soal dia yang jadi berondong bayarannya Amanda." jawab Nino.
"Berondong bayaran?. What is the berondong?" Ryan agak bingung dengan kosa kata tersebut.
"Berondong is a popcorn." ujar Ansel menjelaskan.
"Popcorn?"
"Ya. Berondong jagung, popcorn." ujarnya lagi.
"Arka is a popcorn?" Lagi-lagi Ryan mengerutkan dahi, Nino ingin rasanya mengirim Ansel ke planet mars.
"Dad, itu cuma sebuah istilah. Karena Arka usianya more younger than Amanda. Disebut popcorn, karena biasanya laki-laki yang lebih muda itu identik dengan sweet, cute dan lain sebagainya."
"Oh I see, lalu kenapa disebut bayaran?" tanya Ryan lagi.
"Dia emang dibayar, dad. Daddy nggak tau ceritanya?" Ansel menimpali.
"Dibayar untuk apa?"
Nino dan Ansel saling menatap, agaknya Arka memang belum menceritakan apapun mengenai kehidupannya pada Ryan.
"Arka, awal menikah dengan Amanda itu. Dia dibayar oleh Amanda." Nino berujar seraya menatap Ryan.
"What?. Ke, kenapa?. Kenapa seperti itu?"
Ryan tercengang namun kemudian terdiam dengan sendirinya, bibir pria tua itu tampak setengah menganga. Akibat pikiran yang kini bergejolak di dalam benaknya.
"Maksud kamu, Arka semacam gigolo?" Ryan mengatakan hal tersebut dengan penuh emosional, ia berharap dugaannya salah.
"Aaa..."
Nino dan Ansel kini saling menatap satu sama lain, lalu kembali menatap Ryan.
"I, iya. Tapi..."
Ansel berujar seraya menatap sejenak ke arah Nino, lalu kembali berujar pada Ryan.
"Tapi, dia..."
"Kenapa Arka melakukan itu, dia kan punya pekerjaan. Kenapa dia merendahkan sendiri harga dirinya, sebagai laki-laki."
"Dad, Arka punya alasan kuat untuk itu." Nino membela Arka.
"Alasan apa?"
"Dia struggle sama hidupnya, daddy nggak tau kan?"
"Semua orang juga struggle, Nino. Tapi mereka memilih untuk tidak menyerah dan punya harga diri."
"Itu bukan alasan untuk tidak berjuang, orang tua daddy juga dulu bukan orang kaya."
"Dad, dia berjuang bahkan sejak usia belasan tahun. Dia sudah kerja dan masuk dunia entertaint itu, bahkan saat dia masih sekolah. Dia bukan nggak berusaha lebih, saat itu memang dia sedang berada dalam keadaan yang benar-benar genting." Nino berkata dengan nada kesal pada ayahnya. Ia tidak suka cara Ryan memojokkan Arka.
"Iya, dad. Saat itu ayah tiri Arka sedang sakit parah dan hampir meninggal. Sedang mereka terlilit hutang dengan rentenir." Ansel menimpali ucapan Nino.
"Dia harus membayar kuliah, membayar hutang keluarganya dan membiayai pengobatan ayah tirinya. Dan itu semua karena daddy, daddy nggak pernah kasih tanggung jawab apapun kepada Arka." Lagi-lagi Nino berujar.
"It's because of me?" tanya Ryan.
"Yes." Nino dan Ansel menjawab secara bersama dengan penuh keyakinan, mereka tampak sangat marah sekali pada Ryan.
"Itulah kenapa Arka memilih jalan pintas, kebetulan saat itu Amanda tengah mencari seseorang. Yang bisa memberikan dia anak, tanpa harus menikah secara resmi."
Ryan menatap Nino.
"Perjanjiannya, Arka memberikan Amanda anak dan semua permasalahan hidup Arka selesai."
"And then?"
"Mereka divorce."
Ryan terpukul mendengar semua itu.
"No, daddy tidak mau mereka divorce." ujar Ryan penuh ketakutan.
"Kasihan anak-anak mereka nanti." ujarnya lagi.
"Itu dulu, sekarang mereka sudah menikah resmi." ujar Ansel.
Ryan sedikit bernafas lega.
"Dan sekarang kenapa dia masih di gosipkan?" tanyanya kemudian.
"Karena Arka masih merahasiakan pernikahannya. Dia masih terikat kontrak dengan manajemen dan beberapa klien, yang taunya dia single." jawab Nino.
"Siapa yang membuat gosip ini?" Lagi dan lagi Ryan bertanya.
"We don't know." ujar Nino kemudian.
Ryan terdiam, ia kini jadi turut terpikir pada anaknya yang satu itu.
***
Sementara dirumah.
Amanda memeluk Arka, sebanyak yang ia mau. Arka pun kini tampak lebih tenang dan detak jantungnya perlahan stabil. Setelah tadi sempat tegang, karena harus melihat kerumunan orang yang tengah mencarinya.
"Kamu makan ya, Ka." ujar Amanda sambil masih terus memeluk suaminya itu.
"Makan apaan. Kita kan nggak punya apa-apa disini, Firman." ujarnya lalu tersenyum, namun tetap memeluk istrinya itu.
"Aku udah order tadi, Bambang." jawab Amanda.
Arka pun tertawa kecil.
"Kalau aku namanya Bambang, emang kamu masih mau sama aku?" tanya Arka.
"Mau kamu namanya Bambang kek, Pamungkas kek, Soesatyo, Trihatmojo, Hartono. Yang penting orangnya kamu."
"Kalau orangnya bukan aku?" tanya Arka lagi.
"Aku nggak yakin bisa." jawab Amanda.
"Kenapa emangnya?"
"Karena aku, udah nggak bisa mencintai orang lain lagi."
Arka melepaskan sedikit pelukannya lalu menatap wajah istrinya itu.
"Siapa yang ngajarin kamu ngegombal kayak gini?" tanya Arka pada Amanda seraya tersenyum.
"Itu dari hati loh, nggak ada yang ngajarin." ujar Amanda kemudian.
"Kamu sayang banget ya, sama aku?" tanya Arka seraya masih menatap istrinya itu.
"Iya, banget." jawab Amanda dengan pandangan mata yang tak terlepas.
"Kalau sayang sama aku, kamu mau dong hamil lagi?"
Arka menyentuh dan mengusap bagian paling sensitif istirnya di bawah sana. Amanda terkejut, namun tampak mendesah dan menikmati semua itu.
"Ssh, iyaaah, mau." ujar nya sambil menikmati sentuhan Arka yang naik-turun.
"Mau berapa anak lagi?" tanya Arka.
"Ssh, terserah kamu. Tapi, didepan pintu, ada driver ojol yang nganterin burger."
"Oh."
Seketika Arka tertawa dan menyudahi aktivitas mesumnya.
"Darimana kamu tau?" tanya Arka.
"Tuh handphone aku ada notifikasi pesan masuk." ujar Amanda seraya memperhatikan sebuah pesan yang tertera di handphonenya.
"Bu, saya udah depan pintu."
Begitulah bunyi pesan tersebut. Arka tertawa, karena hasratnya kini tertahan. Sementara Amanda menuju ke pintu dan mengambil orderannya.
Amanda lalu menemani Arka makan, setelah itu ia melayani suaminya dalam segala hal. Termasuk urusan ranjang. Setelah semuanya selesai, ia dan Arka mandi bersama lalu membiarkan suaminya itu tertidur.
Ia sejatinya sangat lelah dan mengantuk, ingin rasanya ia tidur pula untuk sejenak. Namun ia ingat, jika Arka masih memiliki skripsi yang harus dikerjakan. Ia tau tema apa yang telah diambil oleh Arka, mereka juga kerap membicarakannya berdua.
Amanda juga sudah membaca keseluruhan bab yang telah ditulis oleh Arka sebelumnya. Maka kini ia pun membantu menambahi isi dari skripsi tersebut. Ia tak peduli perbuatan apa ini namanya, yang jelas ia hanya ingin membantu. Meringankan hal-hal yang disinyalir akan membuat runyam pikiran suaminya itu.
Jika saat ini tak ada satupun hal, yang bisa membuat Arka menjadi tenang. Maka ia lah, yang akan menjadi obat penenang bagi suaminya tersebut.