
"Kamu mau makan apa lagi?" tanya Arka pada Amanda. Mereka saat ini masih berada di kota tua. Amanda yang kini resah memikirkan Nino itu pun menggeleng.
"Kamu nggak selera makan?" tanya Arka lagi.
Arka mengetahui jika kini Amanda pastilah tengah kepikiran pada Nino. Karena sudah pasti ia merasa tak enak hati pada cinta pertamanya itu. Lantaran Arka yang tiba-tiba muncul ditengah kebersamaan mereka.
Jujur, Arka kasihan pada Amanda. Terlebih pada bayi yang kini berada dalam kandungannya. Sebab jika Amanda tak memiliki nafsu makan yang baik, sudah tentu itu akan merugikan bayi yang ada didalam.
Namun Arka juga tak bisa membiarkan Amanda makin tenggelam, dalam perasaannya terhadap Nino. Sebab Amanda adalah istrinya yang sah di mata agama. Meskipun tidak sah secara hukum.
Amanda harus mengerti, jika saat ini ia adalah seorang istri. Meskipun hanya istri di atas perjanjian. Tetapi ia juga memiliki tanggung jawab dan harus mengikuti peraturan pernikahan sebagaimana mestinya. Ia harus menjaga kehormatan dan harga diri suaminya.
"Ya udah, kamu mau kemana dan ngapain sekarang?. Aku turutin." ujar Arka kemudian.
"Mmm, kita pulang aja yuk!" ajak Amanda. Ia sudah kehilangan mood baiknya saat ini.
"Ya udah, ayok."
Arka menggamit lengan Amanda dan mengajaknya berjalan menuju mobil. Disepanjang perjalanan pulang, Amanda lebih banyak diam. Arka mengetahui apa yang menjadi penyebab.
Namun ia tetap berpura-pura tidak tahu dan berakting, seakan dirinya adalah suami paling polos sedunia. Yang tidak curiga sedikit pun pada apa yang tengah dipikirkan oleh istrinya.
Ia hanya terus fokus mengemudikan mobil, dengan tangan kiri yang tak henti mengelus perut wanita itu. Amanda jadi makin merasa bersalah, ketika melihat sikap Arka yang begitu manis. Tadinya rasa bersalah itu hanya untuk Nino, namun kini bertambah menjadi untuk Arka.
Ia merasa bersalah dan sudah menganggap dirinya kejam terhadap Arka. Arka pemuda itu begitu baik, namun ia khianati dengan pergi bersama Nino dibelakang.
Tapi mau bagaimana lagi, Arka hanyalah suami kontrak di atas kertas. Setelah bayi mereka lahir dan semua pembayaran usai, maka Arka akan pergi meninggalkannya.
"Hari ini kamu mual nggak?" tanya Arka sambil terus fokus ke jalan, namun masih mengelus perut buncit sang istri.
"Hmmm nggak sih, biasa aja." jawab Amanda.
Arka menoleh dan tersenyum. Amanda pun mau tidak mau harus membalas, meskipun ia sedang tidak dalam mood yang baik untuk melakukan hal tersebut.
"Lusa, ada jadwal ke dokter kan?" tanya Arka lagi.
"Iya, jam 4 sore." jawab Amanda.
"Nanti aku temenin." ujar Arka. Amanda pun hanya mengangguk.
Ketika sampai dirumah, Arka benar-benar menunjukkan sikap yang biasa-biasa saja. Seolah memang ia tidak pernah tahu-menahu, perihal pertemuan istrinya itu dengan pria lain.
"Kamu mau mandi sekarang?" tanya Arka pada Amanda.
Amanda pun mengangguk, ia sudah sangat ingin mengusir segala kepenatan yang kini bersarang di kepalanya.
Maka Arka pun melangkah mendekati Amanda, yang baru saja meletakkan tasnya di lemari. Arka membantu Amanda melepaskan blazer yang melapisi tubuhnya.
Membuka kancing belakang dress hamilnya, lalu menanggalkan helaian benang tersebut dan membiarkannya jatuh ke lantai. Tak lama kemudian, ia pun lalu berjalan menuju kamar mandi.
Amanda membiarkan tubuhnya diterpa air yang keluar dari shower. Pikirannya kini tertuju pada dua arah, yakni pada Nino dan juga Arka. Dua-duanya membuat Amanda jadi merasa begitu bersalah.
Ia teringat bagaimana cara Nino memandangnya. Memintanya dengan sungguh-sungguh untuk menikah dan menjadi istrinya. Tapi ia juga teringat bagaimana manisnya perlakuan Arka, dan bagaimana tulusnya ia selama ini. Meski hanya sebagai suami siri.
"Aaaakh."
Amanda memegang kepalanya, ia benar-benar pusing kali ini. Ia pun lalu menyudahi mandinya, karena ternyata itu tak berpengaruh banyak. Ia masih kepikiran soal kejadian tadi.
"Man."
Arka menghampiri Amanda ketika wanita itu selesai berpakaian.
"Iya kenapa, Ka?" tanya Amanda kemudian.
"Kamu makan dulu ya, aku udah masakin kamu sesuatu."
"Tapi aku lagi nggak pengen makan, Ka. Tadi kan udah makan kerak telor.
"Loh kenapa?" tanya Arka dengan wajah yang penuh kecemasan.
"Itu kerak telor doang loh. Biasanya kamu masih laper dan pengen makan terus." lanjutnya lagi.
Arka benar-benar khawatir kali ini dan bukan berpura-pura. Ia benar-benar takut jika semua hal yang telah ia perbuat untuk memisahkan Amanda dan Nino tadi, akhirnya membuat Amanda benar-benar berada dalam mood yang tidak baik.
Ia lebih rela membiarkan istrinya itu bersama Nino dan ia sakit hati. Ketimbang ia harus membiarkan bayi serta ibu dari bayinya itu tidak makan.
"Aku nggak apa-apa, cuma lagi nggak selera makan aja. Nggak tau kenapa." jawab Amanda.
Arka menghela nafas. Namun ia lalu tersenyum, membuat Amanda menjadi heran sekaligus bingung.
"Kamu sayang kan sama dia?"
"Kalau kamu sayang sama dia, kamu harus berjuang. Kamu harus paksain makan sedikit demi sedikit, karena dia cuma bisa makan dari kamu. Dia nggak bisa dapet nutrisi kecuali dari kamu."
Amanda terdiam, ia mulai menyadari betapa egois dirinya saat ini. Hanya demi memikirkan perasaan Nino, ia sampai kehilangan selera makan dan justru malah merugikan bayinya sendiri.
"Ya udah, aku makan." ujar Amanda.
Arka pun tersenyum.
"Ayok, aku temenin." tukas Arka.
Pemuda itu membawa Amanda ke meja makan. Amanda terkejut melihat ada steak di atas sana. Lengkap dengan mashed potato dan juga sayuran. Disebelah makanan tersebut terdapat segelas susu untuk ibu hamil.
"Ini kamu beli?" tanya Amanda pada Arka.
"Aku bikin sendiri dong, tadi waktu kamu mandi."
Arka menggeser sebuah kursi sehingga Amanda bisa duduk. Kemudian Arka pun duduk disebelahnya.
Aroma dari steak tersebut membuat perut Amanda seketika berbunyi. Tidak dapat dipungkiri bau khas daging yang dibumbui dengan butter dan juga rosemary itu, membangkitkan kembali selera makannya yang sempat hilang.
"Beneran ini kamu masak sendiri, Ka?" tanya Amanda masih tak percaya. Ia lalu memotong dan mencoba steak tersebut.
"Hmmm."
Amanda mulai makan.
"Enak banget, Ka." ujarnya kemudian.
Arka hanya tersenyum memperhatikan sambil mengelus kepala Amanda.
"Makan yang banyak." ucap Arka.
Amanda pun mengangguk, lalu memakannya lagi dan lagi.
"Kamu nggak makan?" tanya Amanda pada Arka.
"Aku mah gampang, nanti juga bisa. Yang penting kamu dulu. Kalau kamu belum makan, aku kepikiran."
Kali ini Amanda menatap Arka. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya berterima kasih pada pemuda itu. Rasanya uang berapa pun tak akan pernah cukup untuk membayar semua ketulusan yang diberikan oleh Arka.
Meskipun hubungan ini memiliki simbiosis yang saling menguntungkan. Tetap saja apa yang dilakukan Arka memanglah tulus. Terlepas dari berapa jumlah uang yang dikeluarkan Amanda untuk membayar pemuda itu.
Ia telah mewujudkan keinginan Amanda untuk memiliki anak. Ia juga bahkan telah mengubah sedikit pandangan negatif Amanda tentang laki-laki selama ini. Bahwa laki-laki baik itu memang masih ada, bahkan selain dari Nino.
"Man."
"Ya."
"Mulai besok kamu nggak perlu kasih aku uang lagi."
"Loh, kenapa?" tanya Amanda heran.
"Kurang banyak, ya?" lanjutnya kemudian.
"Nggak koq, bukan soal itu." jawab Arka.
"Terus?"
Arka menghela nafas dan membuang pandangan.
"Aku setuju menikahi kamu waktu itu, karena aku mikirin hutang ibuku dan juga keselamatan nyawa papaku. Aku waktu itu butuh uang banyak dan satu-satunya jalan untuk mendapatkan uang yang cepat ya, dengan cara menerima kamu. Tapi sekarang semua udah selesai. Ibuku sudah terbebas dari hutang, dan papaku sudah sembuh. Kalau untuk aku pribadi, aku bisa cari uang sendiri."
"Tapi kan itu udah bagian dari perjanjian, Arka. Perjanjian yang udah kita sepakati bersama. Bahwa aku akan membayar sejumlah uang yang kamu minta, diluar biaya untuk bayar hutang ibu dan biaya berobat papa kamu."
"Aku udah nggak menginginkannya lagi, Man."
"Kenapa emangnya?"
"Kamu bayar aku, karena aku kasih kamu anak. Itu sama aja aku menjual anakku sendiri."
Amanda terhenyak menatap Arka. Ia tertegun cukup lama, karena bahkan ia pun tak kepikiran sampai kesana.
"Ayah macam apa, yang tega memanfaatkan anaknya sendiri demi kepentingan pribadi. Aku nggak mau jadi seperti itu, Man."
Amanda makin diam, ada luapan emosional dalam nada suara Arka saat ia mengatakan hal tersebut. Dan entah mengapa tiba-tiba saja Amanda berdiri lalu memeluk pemuda itu. Arka pun balas memeluk Amanda dengan erat.
Amanda mengusap kepala suami sirinya itu dan mencoba menenangkannya. Ini semua pasti lah menjadi gejolak yang sangat besar di hati Arka. Betapa tidak, ia masih sangat muda. Dan harus menjadi calon ayah dari seorang anak, yang kini perlahan tumbuh di rahim istrinya.
Secara mental ini pasti berat untuk Arka. mengingat ia adalah pemuda baik hati yang sangat sulit untuk jahat pada orang lain. Ia tak cukup mampu untuk memanfaatkan situasi. Apalagi memanfaatkan istri dan anak kandungnya sendiri.