
Pagi Amanda dipenuhi dengan senyuman, setelah seharian penuh bercinta dengan Arka hingga beberapa kali.
Kini pandangannya hampir berubah total, bahwasanya pernikahan itu tak seburuk yang ia kira selama ini. Jika menikahi orang yang tepat, maka akan ada banyak kebahagiaan didalamnya.
Jujur saat ini, ia bahagia. Namun dirinya tak ingin terlalu dalam tenggelam dalam euforia. Mengingat pernikahan mereka baru seumur jagung.
"Kalau masih dibawah setahun mah. Belum keliatan boroknya, Man." Rani berujar di dalam grup WhatsApp yang berisi ia, Amanda dan juga Nindya.
"Udalah, Man. Nikmatin aja." ujar Nindya mendukung Amanda. Entah mengapa ia agak risih dengan sikap Rani akhir-akhir ini.
"Lo jangan matahin kebahagiaan orang, Ran." ujar Nindya kemudian. Ia mengetik kata-kata tersebut sambil menahan dongkol dihatinya.
"Gue bicara fakta, Nind. Semua orang menikah di tahun pertama itu, ya manis. Ntar lo liat di tahun-tahun berikutnya."
Amanda sejatinya agak terganggu dengan ucapan Rani tersebut, namun ia menepis semua itu dengan mengatakan,
"Gue pokoknya, cuma mau nikmatin segala kesenangan ini dulu. Sisanya nanti, urusan belakang." ujar Amanda.
Benar apa yang ia katakan di dalam grup chat tersebut. Bahwasannya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Selama masih bisa dinikmati, ya dinikmati saja. Tak usah terlalu memikirkan bagaimana endingnya nanti.
***
"Man, kamu udah siap?" tanya Arka seraya mendekat. Arka memeluk Amanda dari belakang, sebuah kebiasaan favorit terbarunya.
"Ka, ntar kamu mulai lagi nih." Amanda mewanti-wanti.
"Aku udah mau berangkat, loh." ujarnya lagi. Arka tertawa.
"Aku nggak ada niatan kesana, Man. Kamu aja yang mesum pikirannya." tukas Arka kemudian.
"Ya tapi sentuhan kamu tuh, bikin pengen tau nggak." protes Amanda.
"Makanya kamu, tiap aku peluk gini. Ya kamu mikirin hal lain, jangan mikir kearah sana mulu. Kalau mikir kearah sana terus ya, basah."
"Nggak bisa, soalnya kebayang-bayang."
"Dek, mama dek." Arka berbicara pada bayinya.
"Mama nakal, tuh." lanjutnya lagi.
"Enak aja, kamu tuh. Masih bocil udah gatel." ujar Amanda tak mau kalah.
"Abisnya, tante enak sih." ujar Arka lagi. Amanda memukul lengan suaminya itu.
"Kamu mah, suka banget mukul disini. Di bagian ini mulu lagi." gerutu Arka.
"Ntar mbelesek ke dalem loh tulangnya. Mau kamu punya suami bertangan kempot?"
Arka membuat Amanda tertawa geli.
"Udah ah, ayok berangkat. Ntar malah buka celana lagi." Seloroh Amanda.
Lagi-lagi Arka tertawa.
Amanda lalu mengambil tas, sedang Arka mengambil kunci mobil. Pada menit berikutnya, mereka pun bergerak meninggalkan tempat itu.
Hari itu team investigasi dari perusahan Amanda, akhirnya menemukan biang dari masalah yang ditimbulkan akhir-akhir ini. Semua adalah ulah Aryo Susanto, wakil dari kepala divisi pengadaan barang itu sendiri.
Ia telah menukar bahan baku dengan harga yang lebih murah, dan menjual bahan baku bagus yang biasa digunakan perusahaan kepada perusahaan lain. Dengan harga lebih tinggi tentunya.
Tak ada yang salah dari supplier, karena mereka mengirimkan barang sesuai yang diminta. Dan selama bekerja sama, pihak supplier tak pernah sekalipun culas terhadap perusahaan Amanda.
"Saya nggak nyangka, bapak melakukan ini terhadap perusahaan kita." Amanda berkata dengan nada rendah, namun syarat dengan kekecewaan.
"Hampir 7 tahun, pak. Kita bekerja bersama-sama membangun perusahan ini. Nggak pernah terpikirkan sedikit saja di benak saya, bahwa saya akan dikhianati oleh orang yang saya percayai."
Aryo Susanto hanya menunduk dan tak berkata sepatah kata pun. Tampaknya ia tahu jika kesalahannya sudah tidak dapat dimaafkan lagi.
Dengan berat hati, Amanda lalu membuat surat keputusan. Bahwa Aryo memang harus dikeluarkan. Karena telah dengan sengaja menyebabkan kerugian besar terhadap perusahaan.
Amanda diam saja, saat Aryo akhirnya dikawal oleh perwakilan team investigasi untuk keluar dari ruangannya.
Ia mengambil sebotol wine dan sebuah gelas. Namun kemudian tendangan di perutnya membuat ia sadar, jika saat ini dirinya tengah mengandung.
Amanda tak jadi meminum minuman beralkohol tersebut. Ia hanya membenamkan wajah pada kedua tangannya sambil menarik nafas. Mencoba menetralkan seluruh perasan yang kini berkecamuk dibenaknya.
"Kasian gue sama pak Aryo." ujar Intan ketika jam istirahat telah tiba dan ia makan di kantin seperti biasa. Bersama Satya, Deni dan juga Nur, anak dari divisi IT.
"Kasian bu Amanda juga." ujarnya kemudian.
"Gue sih nggak kasihan sama pak Aryo." celetuk Deni.
"Yoi, dia jahat anjay." timpal Satya, lalu menyedot es teh manis yang ada dihadapannya.
"Bisa-bisanya dia mikirin keuntungan sendiri." lanjut Satya Lagi.
"Maksud lo?" tanya Nur penasaran.
"Bisa aja kan, pak Aryo itu jadi kambing hitam. Ada dalang yang lebih besar dari semua ini."
Tiba-tiba Rani melintas, Intan melirik ke arah Rani. Tatapan matanya kini diikuti Satya, Deni dan juga Nur.
"Maksud lo, pelakunya orang lain gitu?" tanya Satya kemudian.
"Bisa jadi." jawab Intan.
"Mungkin aja pak Aryo hanya korban atau sengaja dijebak gitu. Oleh seseorang yang mengiming-imingi dia dengan sesuatu." lanjutnya kemudian.
"Hmm, gue tau nih arahnya kemana." ujar Deni seraya menatap Intan
"Pasti lo mau menuduh mbak Rani lagi kan?" tukasnya lagi.
"Gue nggak menuduh mbak Rani." Intan membela diri.
"Tapi arahnya kesana, kan?" kali ini Satya menimpali.
"Intinya, gue nggak 100% percaya kalau pak Aryo pelakunya. Dia itu bergabung dengan bu Amanda dari sebelum perusahaan sebesar ini. Dia dan pak Roby, kepala divisi pengadaan barang, sama-sama berjuang dengan bu Amanda dalam membesarkan perusahaan ini." ujar Intan.
"Nggak mungkin banget pak Aryo menghancurkan, apa yang sudah susah payah dia bangun." lanjut gadis itu lagi.
"Iya, sih." Deni dan Satya agaknya mulai berfikir.
"Tapi masa iya, mbak Rani pelakunya." ujar Deni kemudian.
"Ya siapa tau aja, orang dia masuk juga jalur orang dalem koq. Bu Amanda yang masukin. Mana kita tau isi hati seseorang, niatnya apa, maksudnya apa."
"Ya tapi kan dia udah ditolong bu Amanda, masa iya jahat sama temen sendiri."
"Sat, jaman sekarang berapa orang sih yang bisa jadi temen di dalam hidup kita?. Lo aja deh, itung temen lo yang bener-bener temen. Ada berapa?"
Satya diam, jaman sekarang memang susah mencari teman sejati. Yang ada hanyalah teman yang memanfaatkan kita, dikala kita senang. Dan meninggalkan kita, disaat kita butuh bantuan.
"Iya juga sih, tapi ah masa iya. Mbak Rani gitu loh, keliatan baik-baik begitu. Cakep pula, walaupun janda. Rasanya nggak mungkin aja."
"Gue juga tadinya nggak mau percaya. Tapi ya, ngeliat tingkah laku dia akhir-akhir ini. Gue jadi curiga."
"Ya semoga aja emang ulah pak Aryo sendiri dan nggak ada sangkut pautnya sama mbak Rani." ujar Deni lagi.
***
Dirumah sakit.
Liana menangis di hadapan psikiater yang menangani kondisi kejiwaannya, pasca kasus pemerkosaan yang ia alami beberapa waktu lalu. Psikiater tersebut membiarkan wanita itu menumpahkan segala beban yang ada didalam hatinya. Agar ia sedikit lega dan bisa berfikir jernih, untuk kepentingan hidup selanjutnya.
Karena apapun masalahnya, kita harus tetap bergerak. Bunuh diri tak akan menyelesaikan masalah. Satu-satunya cara adalah, kita harus menerima musibah itu sendiri meski sulit dan berat hati. Kemudian mengambil langkah-langkah hukum jika memang diperlukan.
"Sudah, nak. Nggak usah terlalu dipikirkan lagi."
Ibu Arka mencoba menenangkan hati Liana, ketika sesi telah usai. Hari itu ia sengaja mengunjungi Liana, karena terus kepikiran pada keadaan dan nasib gadis itu. Ia takut jika Liana akan bunuh diri lagi, mengingat beban serta trauma yang ia alami sangatlah berat. Sampai hari ini saja, ia belum meninggalkan rumah sakit. Karena masih harus mendapat perawatan yang intensif.
"Nanti kalau kamu sudah sembuh, tinggal sama ibu ya. Jangan lagi di kost an kalau kamu takut."
Liana hanya mengangguk, ibu Arka pun lalu memeluknya dengan erat. Sementara di lain pihak. Rianti yang makin getol mencari kebenaran soal gosip yang menimpa Arka, kini dihadapkan pada sebuah fakta baru.
Bahwa beberapa anak di kampus Arka mengatakan, jika Arka saat ini memiliki kekasih yang tengah hamil.
"Emang bener?" tanya Rianti tak percaya. Ia kini masih berhadapan dengan mahasiswi yang memberinya informasi tersebut.
"Ya denger gosipnya sih, gitu. Tapi, lo coba cari tau sendiri deh. Tanya Maureen kek atau temennya Maureen. Atau si Rio sama Doni noh, yang akrab sama abang lo."
"Gue pengen nanya banget sama mas Rio, tapi takut dia malah ngadu ke mas Arka. Kan gue diem-diem nyari tau soal ini. Gue takut kalau nanya ke temennya, terus temennya ngadu, mas Arka nanti malah marah sama gue." ujar Rianti panjang lebar.
"Coba aja ke Maureen atau temennya Maureen. si Chanti sama Widya."
"Boleh tau nggak orangnya yang mana?"
"Hmm, jam segini belum dateng kayaknya."
"Nama lo siapa sih?" tanya Rianti.
"Gue Sisca."
"Gue Rianti, boleh minta nomor lo nggak?" tanya Rianti pada Sisca. Sisca pun lalu memberikan nomornya.
"Gue minta tolong ya, kalo misalkan temen Maureen dateng, fotoin dan kirim ke gue. Biar gue datengin mereka sendiri. Soalnya kalau Maureen, gue pernah berantem sama dia. Waktu dia masih pacaran sama mas Arka. Gue males nanya ke dia."
"Oh ya udah, deh. Ntar gue WA in ke elo." ujar Sisca.
"Thank you ya, Sis." ujar Rianti kemudian.