
"Semalem itu, suara apa ya Man?" tanya Arka pada Amanda di pagi buta.
"Paling burung malam, Ka." Amanda menjawab seraya menatap mata sang suami.
"Iya juga sih."
Arka sepakat, karena banyak sekali suara hewan malam yang kadang menyerupai orang tertawa.
"Aku sih nggak takut, yang aku takutin tuh anak-anak. Kalau emang yang kita denger itu suara kunti." ujar Amanda lagi. Ia dan Arka kali ini sama-sama tertawa.
"Aku juga nggak takut. Tapi ngeliat Ansel dan Nino pada takut, jadi ikutan kebawa suasana. Kadang kan ketakutan itu terbentuk karena lingkungan yang mendukung." ujar Arka.
"Iya sih, bener." Amanda menyetujui hal tersebut.
"Masih ngomongin soal semalam?"
Ryan muncul lalu duduk di salah satu kursi meja makan. Tempat dimana kini Arka dan Amanda tengah sarapan.
"Lucu aja, dad. Inget semalam." ujar Amanda.
Ryan tertawa, lalu menuang minuman hangat ke dalam gelas. Amanda sudah membuat teh, kopi dan susu pada tiga teko berbeda. Berikut sarapan berupa roti dan juga beberapa jenis selai.
"Daddy nggak takut. Cuma anak dua itu kalau takut, memang suka memaksa orang lain untuk menemani mereka." ujar Ryan.
Arka dan Amanda tertawa.
"Mereka berdua emang gitu dari dulu?" tanya Arka.
Ryan mengambil roti dan mengoleskan selai pada roti tersebut.
"Dulu Ansel sama Nino itu paling jahil kalau menakuti orang lain. Apalagi soal hantu-hantuan, mereka totalitas untuk itu. Mereka suka bercerita dan mengada-ada soal hantu ke teman-teman sekolah mereka."
"Oh ya?" tanya Arka tak percaya.
Ryan mereguk minumannya.
"Iya, sampai mereka punya klub ghost Hunter di SMA dan universitas mereka dulu."
"Mereka ngapain, dad?" tanya Amanda.
"Ya, membuat video pencarian hantu-hantu. Dirumah kosong, gedung tertinggal, atau di lokasi yang di disinyalir banyak entitas seperti itu." jawab Ryan.
"Terus, koq sekarang penakut?" tanya Arka.
Ryan tertawa.
"Gara-gara dulu keseringan pergi dari rumah demi memburu hantu, daddy khawatir nilai akademis mereka bisa hancur karena tidak fokus di pelajaran."
Arka dan Amanda menatap Ryan.
"Suatu ketika mereka dan teman-teman kuliah mereka hunting di sebuah lokasi. Daddy kerjain aja mereka." ujar Ryan sambil tertawa.
"Daddy suruh sekretaris daddy buat jadi kuntilanak dan menakut-nakuti mereka. Akhirnya sejak saat itu, mereka nggak pernah lagi hunting cari hantu dan fokus kuliah." lanjutnya kemudian.
Arka dan Amanda terkekeh-kekeh.
"Kalau dipikir pakai logika, mana ada kuntilanak di Eropa. Daddy itu random, cari-cari hantu seram dari seluruh dunia. Ketemu lah kuntilanak di internet. Daddy suruh karyawan yang pintar makeup, untuk makeup itu sekretaris daddy."
"Oh, jadi daddy biang keroknya."
Nino muncul sambil menggendong Azka, diikuti oleh Ansel yang menggendong Afka. Ryan hanya tertawa, tak mengapa jika kali ini rahasianya di ketahui oleh kedua anak itu. Toh sudah tidak ada lagi mata kuliah yang harus mereka fokuskan.
"Nyesel gue bertahun-tahun takut." ujar Nino lagi. Ia kini duduk di sisi Ryan.
"Jahat nih daddy, gue sampe gangguan mental bertahun-tahun." Ansel ikut menggerutu.
Sementara Ryan terus tertawa. Mereka pun lanjut sarapan dan berbincang bersama.
***
Fritz berhasil ditangkap pihak kepolisian negara, tempat dimana kini ia tengah bersembunyi. Pemerintah tengah berupaya memulangkan pria tua itu, agar segera bisa di proses berdasarkan hukum di negara ini.
Tentu saja berita tersebut menjadi berita yang menggembirakan, di telinga hampir semua orang yang mengenal Maureen. Sebab satu predator tak ingat usia, akan segera menemui ganjaran atas perbuatannya. Itu artinya ada banyak perempuan lain yang terselamatkan.
Karena tidak menutup kemungkinan, Fritz bisa melakukan hal tersebut pada banyak gadis lain. Jika ia terus dibiarkan berkeliaran.
"Ka, kamu liat berita nggak?" tanya Amanda pada suaminya. Mereka kini telah kembali ke penthouse, karena besok sudah harus mulai bekerja lagi.
"Iya, aku seneng Man. Akhirnya penjahat itu tertangkap. Semoga Fritz-Fritz lainnya bisa segera tercium kejahatannya dan ditangkap juga. Bahaya orang-orang kayak gitu."
"Iya, pokoknya kita udah mulai harus hati-hati dari sekarang. Karena pelecehan dan kejahatan itu, nggak cuma bisa menimpa anak perempuan aja. Anak laki-laki juga bisa kena. Jaman sekarang itu udah banyak orang aneh, suka anak kecil, suka sesama jenis, suka nenek-nenek, macem-macem." ujar Arka.
"Iya makanya, amit-amit. Minta di jauh-jauhkan keluarga kita, dari orang kayak gitu." ujar Amanda. Arka lalu merangkul istrinya itu.
Kabar tertangkapnya Fritz tersebut juga sampai ke telinga Maureen dan Jordan. Penuh rasa syukur dan haru, mereka saling berpelukan satu sama lain.
"Akhirnya, dia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum." ujar Jordan. Maureen mengangguk dalam pelukan pria itu.
"Oh ya, aku udah bilang sama papaku. Dia setuju aku menikah sama kamu. Dan dia berharap secepatnya."
Jordan mengeluarkan pertanyaan yang membuat Maureen menangis haru. Detik berikutnya pelukan mereka pun menjadi kian erat.
***
"Amanda, mulai sekarang kamu adalah istri sah aku. Aku nggak akan membiarkan kamu berada jauh lagi dari aku. Aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Arka."
"Cut !"
Sutradara mengakhiri adegan tersebut, semua yang ada di lokasi syuting kini bertepuk tangan. Itu adalah adegan terakhir dari film, "Berondong Bayaran, CEO Cantik." bagian pertama.
Sebuah film yang diadaptasi dari novel karya Arka dan juga Amanda, yang belakangan viral di jagat maya. Arka di daulat menjadi pemeran utama. Setelah sekian lama, ia selalu dapat peran pembantu utama dalam setiap film.
Peran Amanda sendiri, dimainkan oleh aktris yang sudah lumayan terkenal di dunia entertainment. Sementara Amanda yang asli bertindak sebagai produser, ia enggan untuk berakting. Karena memang hal tersebut bukan dunianya.
Rio tetap berperan sebagai Rio dalam film tersebut. Sedang karakter lain dimainkan oleh sejumlah artis yang sudah tidak asing lagi, baik di layar kaca maupun layar lebar.
"Huh, selesai juga hari ini." ujar Arka seraya mendekati Amanda, yang kini juga tengah berada di lokasi syuting.
"Nih, minum dulu!"
Amanda menyerahkan sebotol air mineral kepada sang suami. Arka pun lalu menenggak minuman itu hingga setengah.
"Oh ya, Ka. Kata Nindya, kalau kamu mau lanjut S2. Ke Australia aja, di kampus tempat suaminya Nindya jadi pengajar."
"Iya, Man. Ntar lah, aku tuh berat di kalian. Nggak kuat kalau harus kangen-kangenan."
Amanda tersenyum.
"Aku nggak maksa, Ka. Kapan kamu siap aja." ujarnya kemudian.
Arka kembali mereguk minumannya, kali ini sampai habis.
"Pulang yuk, kangen sama hoaya." ujar Arka pada istrinya.
"Ayok, aku juga mau main sama mereka." timpal Amanda.
"Sekarang berasa banget kan, kalau pisah sama mereka. Bentar aja, udah pengen pulang rasanya. Apalagi harus pisah jauh, mana kuat aku."
"Iya sih, Ka. Dulu kayaknya biasa aja kalau ninggalin mereka kemana-mana. Makin kesini tingkah mereka jadi bikin makin kangen." ujar Amanda.
"Iya, sekarang kan udah berkelakuan. Hoayaaa-hoayaaa kesana-sini. Segala mau di pegang, diambil, dimainin, di berantakin. Tapi itu justru yang bikin kangen dan ketawa-tawa kalau inget."
"Bener banget, kadang ada sebelnya kalau mereka nakal. Tapi pas mau dimarahin, malah merayap kenceng sambil ketawa-ketawa. Akunya jadi ikut ketawa."
"Makanya."
Pasangan suami istri itu pun beranjak. Usai pamit ke beberapa orang yang ada di sekitar, mereka lalu menuju laman parkir dan masuk ke mobil.
"Oh ya, ntar dirumah mau makan apa Ka?" tanya Amanda pada suaminya.
"Apa aja boleh, mau goreng telor doang juga nggak apa-apa. Aku lagi menghindari daging sekarang."
"Kolesterol naik ya?" tanya Amanda.
Arka diam sejenak, lalu tertawa.
"Koq tau?" tanya nya kemudian.
"Iya dong, kan aku pemilik hati kamu." ujar Amanda.
Arka menarik nafas, antara ingin tertawa namun wajahnya bersemu merah. Ia jago dalam menggombal, namun lemah ketika menerima gombalan.
"Sa ae, kulit nangka." ujarnya kemudian. Keduanya pun kembali tertawa-tawa. Tak lama setelah Arka menghidupkan mesin mobil, mereka pun tancap gas meninggalkan tempat itu.