
I don't want you to hold my hand
I just need you to understand
It's all up in my head, I''m making no sence
But I'm trying to figure it out
Cause it's something I never said
I'm so scared, I can't run I can't hide anymore
I'm falling so deeply
I love you completely
And I can't find what I know is beyond my control
Surrender so easy, I love you completely
I love you completely
Air mata Amanda menetes ketika lagu itu mulai dinyanyikan oleh Arka. Tak tahu apakah ini pengaruh hormon kehamilan atau bukan, tapi yang jelas hatinya begitu tersentuh.
Lagu bertajuk, "Completely" yang belakangan dipopulerkan oleh Shane Filan tersebut seperti benar-benar merefleksikan perasaan Arka saat ini. Bahwa ia tengah menyerah pada cinta yang begitu dalam.
Amanda bisa merasakannya, bahwa Arka tak sekedar bernyanyi. Ada rasa menyentuh di dalam tiap lirik, yang ia nyanyikan tersebut.
Baby I've already said too much
Baby I haven't said enough
I'm just been on this
My heart's in chaos
And I'm trying to get the words out
Cause I've never felt like this
"I love you, Amanda."
Amanda terkejut sekaligus haru, ketika lagu tersebut usai dinyanyikan oleh Arka. Dan suaminya itu malah mengundang perhatian seluruh pengunjung kafe, dengan mengatakan hal tersebut.
Ia berkata sambil melihat ke arah Amanda, sontak para pengunjung kafe pun menoleh sambil bertepuk tangan pada wanita itu. Beberapa diantaranya bersorak sorai, hingga membuat pipi Amanda bersemu merah.
Arka lalu menghampiri dan memeluk serta mencium wanita itu, dihadapan orang banyak. Para pengunjung bersorak sekali lagi seraya bertepuk tangan. Amanda lalu memperkenalkan Arka pada Keisha dan mengajaknya untuk duduk bersama.
"Aku nggak tau kalau kamu nyanyi disitu."
ujar Amanda, ketika mereka sudah berada dalam perjalanan pulang.
"Aku malu buat cerita, Man. Kamu kan tau kerjaan aku di dunia entertainment, nggak terkenal-terkenal banget. Job juga baru ada banyak beberapa waktu belakangan ini doang, terus aku nyanyi ditempat itu. Kerjaan aku tuh belum jelas."
"Ya, kenapa mesti malu. Yang penting kan kerja, bukan minta sama orang tua. Bukan jual narkoba atau jadi kriminal."
Arka tersenyum lalu membelai kepala Amanda.
"Tadi koq kamu bisa ada disana?" tanya Arka.
"Ya mereka itu ngajakin. Karena si Keisha yang tadi itu, dia baru pulang dari traveling. Udah lama nggak pulang, dia mau ketemu aku dan yang lainnya."
"Ow, traveling ke luar negri?"
"Iya, dari Eropa. Kamu pernah ke Eropa?"
Arka menggeleng.
"Belum, Man." jawabnya kemudian.
"Tapi keluar negri, udah?"
Arka mengangguk.
"Ya wilayah Asia lah, itu pun buat keperluan syuting."
"Kapan, kapan kita traveling yuk." ajak Amanda kemudian.
"Boleh, tunggu para bocil berojol dulu ya. Ntar kamu berojol diperjalanan lagi."
"Amanda tertawa."
"Iya." jawab Amanda.
"By the way, suara kamu bagus." ujar Amanda lagi. Arka pun kembali tersenyum.
"Kenapa kamu nggak pernah nyanyi didepan aku." ujar Amanda lagi.
"Takut kamunya sakit kuping." jawab Arka.
Amanda lalu menempelkan kepalanya di bahu Arka.
"Ka."
"Hmm?"
"Aku cinta sama kamu."
Arka menghentikan mobilnya, ia kini menatap dalam ke mata Amanda.
"Boleh aku denger sekali lagi?"
Arka lalu mengecup bibir istrinya itu dan tak membiarkan ia bicara lagi.
***
"Pak Zio, dimana?"
Nadine mengirimkan sebuah pesan singkat pada Nino. Ketika laki-laki itu sama sekali tak mengangkat telponnya selama seharian penuh. Entah mengapa hati Nadine menjadi begitu khawatir, seolah telah terjadi sesuatu pada dosen kesayangannya itu.
"Pak, jawab...!"
Nadine mengirim pesan singkat sekali lagi. Namun sampai beberapa waktu berlalu pun, Nino tak memberi jawaban.
"Duh, kemana sih dia." gumam Nadine penuh kekhawatiran.
"Nggak tau apa kalau gue cemas, gue tuh sayang sama dia." lanjutnya lagi.
***
Waktu berlalu.
Rianti akhirnya bisa menemui Chanti dan juga Widya. Setelah Sisca mengirimkan foto kedua teman Maureen itu padanya. Chanti dan Widya tampak sedang makan lontong sayur di pinggir halaman parkir kampus, ketika Rianti akhirnya mendekat dan menyapa mereka.
"Mbak Chanti sama mbak Widya ya?" tanya Rianti.
Chanti dan Widya saling bersitatap, lalu kembali menatap Rianti.
"Mmm, siapa ya?. Anak fakultas mana?" tanya Chanti kemudian.
"Eee." Rianti lalu mengambil bangku dan duduk didekat mereka.
"Pak saya satu." ujar Rianti pada penjual lontong sayur tersebut.
"Gue Rianti, sepupunya mas Arka."
"Oh, sepupu Arka. Lo kuliah disini juga?" tanya Widya.
"Nggak mbak, gue kesini mau nanyain soal mas Arka."
Chanti dan Widya kembali saling tatap, perasaan horor mulai menghinggapi keduanya.
"Mbak tau soal mas Arka, yang menghamili seorang perempuan bernama Amanda?"
Chanti dan Widya lagi dan lagi saling bersitatap. Mereka tidak tahu kalau sarapan pagi mereka, akan dibalut oleh nuansa jantungan seperti ini.
"Aduh, jangan tanya kita deh." ujar Chanti dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Takut salah ngomong." lanjutnya lagi.
"Iya, mbak Rianti. Kita takut salah." timpal Widya tak kalah khawatirnya.
"Tolongin gue mbak, ini menyangkut ibunya mas Arka juga. Dia tiap hari denger gosip miring soal anaknya. Di sekitar rumah, mas Arka tuh mulai digosipin. Makanya saya pengen cari tau, tolonglah mbak."
"Tapi, lo tau Amanda nya?. tanya Chanti.
"Maksud gue, lo tau dia itu siapa?" lanjutnya lagi.
"Tau sih, udah liat di google." ujar Rianti.
Chanti menghela nafas seraya menggaruk kepalanya.
"Duh gimana ya?" Chanti bertanya pada Widya, sedang Widya tak mampu memberikan saran apa-apa.
"Mmm, soal Amanda. Iya, bener. Soal dia lagi hamil, iya bener juga. Terus soal anak itu anaknya Arka, bener juga."
Rianti terlihat syok.
"Cuma itu yang kita tau, iya kan Wid?"
"Iya, sisanya lo cari tau sendiri aja. Maureen tuh yang tau banyak."
"Nggak usah mbak, ini aja udah cukup koq. Makasih." Suara Rianti penuh gemetar.
"Lagian gue nggak akur sama Maureen, pernah berantem hebat waktu dia masih jadi pacar mas Arka."
"Ini pak, uangnya." ujar Rianti.
"Nggak jadi dimakan, neng?" tanya si penjual lontong sayur.
"Ambil aja mbak Chanti atau mbak Widya, gue buru-buru."
"Oh, ok." ujar Chanti dengan ekspresi sedikit bengong.
Rianti pun berlalu.
"Rianti."
Chanti menghentikan langkah gadis itu.
"Iya mbak." jawab Rianti.
"Kalau menurut gue, biarin aja Arka sama Amanda. Jangan pisahin mereka, Amanda itu perempuan yang baik dan keliatan sayang sama Arka."
"Iya, ketimbang abang lo sama Maureen. Maureen itu udah tidur sama cowok mana aja, dan abang lo selalu mau nerima dia." timpal Widya.
"Abang lo diperlakukan kayak keranjang sampah sama dia."
Rianti mengangguk, lalu ia pun pergi meninggalkan tempat itu.