Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Kesepakatan


"Arkaaa."


Cintara berlarian lalu memeluk Arka. Sejak Arka kecelakaan, gadis itu ditugaskan ayahnya untuk keluar kota. Ia hanya sempat mendengar kabar tentang Arka melalui ayahnya, namun ia tidak mengetahui jika Arka kecelakaan bersama Amanda.


"Apa kabar, Ka?" ujar Cintara lagi. Ia sepertinya sangat bahagia bisa bertemu dengan Arka.


Arka yang terkejut dengan sikap perempuan itu pun, hanya mencoba tersenyum kecil dan menjawab layaknya seorang teman.


"Baik, koq Cin." ujarnya kemudian.


"Aku khawatir banget, Ka. Aku minta pulang waktu denger kamu kecelakaan, tapi papa nggak ngasih. Karena aku banyak kerjaan di luar kota, ngurus cabang perusahaan kita yang ada disana."


"Aku udah nggak apa-apa, koq." ujar Arka lagi.


"Serius, Ka?"


Arka mengangguk.


"Kita makan siang bareng yuk, nanti?" Tiba-tiba Cintara mengeluarkan pernyataan yang membuat Arka sedikit terdiam.


"Mmm."


"Temani saja, Ka. Cintara kan baru pulang. Saat kamu kecelakaan waktu itu, dia sempat mogok makan, karena tidak saya izinkan pulang untuk jenguk kamu. Dia sakit loh waktu itu disana, mikirin kamu."


Bos Arka yang tiada lain adalah ayah Cintara kini muncul dihadapan keduanya, dan mengatakan semua itu. Para karyawan yang ada didekat Arka kini, melihat kearah pemuda itu. Seakan terdesak, Arka pun tak punya pilihan lain.


"Ok." ujarnya kemudian.


"Yeay." Cintara tampak begitu gembira.


"Ya udah, aku balik kerja dulu ya." ujar Cintara.


Arka mengangguk, lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Siang itu Cintara menagih janjinya pada Arka, Arka sendiri tak masalah jika hanya makan saja. Toh mereka pun pergi ke restoran yang ada di seberang kantor.


Arka bersikap sewajarnya, namun Cintara tampak begitu antusias. Akhirnya setelah sekian lama, kini ia bisa makan berdua dengan pria pujaan hatinya tersebut. Syukur-syukur setelah ini, Arka malah mengajaknya dinner. Alangkah senangnya ia bila hal itu terjadi, ia sudah memimpikan Arka bahkan sejak pemuda itu masuk kesini.


"Ka, kamu mau makan apa?" Cintara bertanya terlebih dahulu pada Arka. Arka pun melihat menu dan memilih satu makanan disana.


"Aku ini aja." ujar Arka kemudian.


"Minumnya?" tanya Cintara lagi.


"Es jeruk."


"Ok."


Tak lama Cintara pun memesan makanan untuk dirinya dan juga Arka, setelah sebelumnya ia menentukan pilihan untuk dirinya sendiri.


"Kamu tempo hari aku lihat lagi di Bandung, Ka. Sama artis Rio Salim itu, aku liat di insta story kamu." Cintara berujar ketika makanan telah sampai di meja.


"Iya, lagi jalan sama Rio."


"Kenapa kamu nggak ngabarin aku, kan aku bisa nyusul kesana. Aku udah balik dari pas hari kamu ambil cuti itu."


Arka tersenyum tipis, seperti jangan tidak saja agar wanita itu tak merasa diabaikan.


"Aku kalau udah jalan sama Rio itu, nggak bisa diganggu siapapun." ujar Arka seraya masih melahap makanannya.


"Oh ya, siapapun gitu?. Sekalipun pacar kamu."


Arka mengangguk.


"Yah, terus kalau yang jadi pacar kamu kangen, gimana dong?"


"Kan ada hari lain."


"Duh kalau aku nggak bisa di cuekin orangnya, pasti aku ngambek."


"Kalau aku, mau ngambek atau apa, aku nggak peduli. Karena aku nggak pernah menghalangi pasangan aku untuk punya waktunya sendiri dan begitupun dengan aku. Aku juga nggak mau dihalang-halangi."


"Tergantung pasangannya siapa, kalau ngeribetin mah, udah jelas aku milih temen."


"Kamu nggak boleh gitu, Ka. Pasangan itu orang terdekat kita loh, kita harus selalu mendahulukan pasangan kita."


"Kalau aku sih tetap yang tadi, kalau pasangan aku ribet ya aku tinggalin. Susah amat." Arka berujar sambil tertawa.


Sementara Cintara kini merasa sakit hati, seolah-olah dirinya adalah pasangan Arka dan Arka lebih memilih Rio ketimbang dirinya.


Makan siang itupun menjadi makan siang paling tidak nyaman yang pernah dirasakan oleh Cintara. Sementara Arka santai saja, karena ia tidak memiliki perasaan apapun terhadap wanita itu.


***


Rani benar-benar menyesal soal tempo hari. Pasalnya ia tak sempat mengatakan pada Amanda, tentang apa yang telah diperbuat oleh Maureen. Mengenai gadis ular itu yang mengaku sebagai anak dari ayah mereka.


Rani tak bisa menghubungi Amanda, sebab ia pun tak diizinkan menggunakan handphone didalam sel tahanan. Sementara itu di kediaman Amman dan Rachel, Maureen yang baru pulang tiba-tiba meminta sesuatu pada Amman.


"Pa, mau mobil sport yang seri terbaru. Buat ngampus, boleh ya." pintanya dengan suara manja. Amman mengambil handphone dan memperlihatkan katalog mobil sport pada laman website sebuah showroom.


"Ini beneran?" tanya Maureen antusias.


Amman pun mengangguk sambil tersenyum.


"Buset, goblok juga nih kakek-kakek." ujarnya dalam hati, dengan penuh kelicikan ia pun memilih mobil mana yang inginkan.


Selesai menjatuhkan pilihan, Amman kemudian menghubungi pihak showroom dan memesan mobil tersebut.


"Mobilnya sampai sini besok pagi, jadi bisa kamu pakai ke kampus."


"Yeay, asiiiik. Makasih ya, pa."


Maureen memeluk Amman, pria tua itu pun membalas pelukan anak palsunya itu.


"Aku ke kamar dulu." ujar Maureen kemudian.


"Ok, istirahat yang tenang sambil nunggu mobil datang."


Maureen yang terlanjur dilanda badai bahagia itupun berlarian ke lantai atas, menuju kamar princessnya yang megah. Sesampainya disana ia berteriak-teriak kegirangan, sambil meloncat-loncat diatas tempat tidur. Tak disangkanya begitu mudah mengelabuhi orang tua seperti Amman.


"Dasar tua-tua tolol." ujarnya lalu menjatuhkan diri ke atas tempat tidur sambil masih tersenyum-senyum.


"Iiiiiih, punya mobil sport. Nggak perlu lagi pake mobil kreditan murah itu. Iiiiiiiih, ulala, ulala."


Maureen makin mirip cacing kepanasan.


Sementara diluar, Rachel mendekati suaminya yang masih duduk diatas sofa.


"Nggak terlalu mahal, untuk seorang anak palsu seperti dia?" tanya Rachel kemudian.


"Itu gratis dari Fritz."


Amman menatap Rachel dan tersenyum penuh maksud, Rachel pun akhirnya ikut tersenyum.


"Jadi, kita sudah menjalin komunikasi yang baik dengan Fritz?" tanya Rachel kemudian.


"Ya, dan itu berkat anak itu. Berkat tubuhnya yang sexy." ujar Amman kemudian.


Amman tersenyum mengingat kejadian kemarin, saat ia sengaja membelikan Maureen gaun-gaun mahal yang elegan dan sexy. Ketika Maureen tengah kegirangan dan mencoba baju-baju tersebut satu persatu, Amman mengintai dari balik pintu kamar anak palsunya itu. Ia mengambil gambar Maureen dengan menggunakan kamera handphone, termasuk pada saat Maureen melepas baju.


Ia lalu mengirimkan foto-foto Maureen kepada Fritz. Awalnya Fritz tak begitu menggubris, namun setelah memperhatikan lebih lanjut, ia pun tertarik pada Maureen.


Ia kemudian menelpon Amman dan bernegosiasi dengan saingan bisnisnya itu. Tentu saja hal tersebut disambut baik oleh Amman, ia bahkan mengatakan jika Maureen sudah sangat ingin bertemu dengan Fritz.


Fritz yang tua bangka itu sendiri bagai mendapat durian runtuh, ia memang senang pada gadis-gadis muda seperti Maureen. Ia selalu berfantasi menjadi sugar daddy yang memiliki banyak koleksi sugar baby.


Kesepakatan kedua setan itu pun terjalin, tanpa Maureen tau sesungguhnya apa yang telah terjadi. Karena ia masih menganggap jika dirinya berhasil mengelabuhi Amman.