Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Baby Shower


"Nama bayi kembar yang ada unsur kimia."


Arka membaca pesan singkat dari Rio disisi Amanda. Amanda kemudian mendekatkan kepalanya untuk melihat.


Saat ini mereka tengah meminta saran nama anak pada orang sekitar, terutama teman dekat. Bukan karena mereka tak punya stok nama, tetapi lebih ke pertimbangan dan perbandingan saja. Siapa tau teman mereka memiliki ide yang lebih unik.


"Argon-Arsenic."


"Astatin-Chlorine."


Amanda dan Arka sama-sama membaca dan tersenyum.


"Argon itu gas kan ya, Ka?" tanya Amanda.


"Iya emang ngaco itu si Rio. Ngebet pengen jadi sarjana Kimia, malah nyasar ke fakultas ilmu komunikasi. Makanya gitu tuh."


Amanda tertawa kecil.


"Arsenic lah." ujar Amanda lagi.


"Racun kan itu?" tanyanya kemudian.


"Iya, racun arsenik. Kalau Astatine itu, unsur kimia radioaktif yang biasanya digunakan untuk terapi kanker."


"Kalau Chlorine itu zat pembersih kan?. Yang biasanya terdapat dalam desinfektan?" tanya Amanda lagi.


"Iya, tapi Chlorine itu awalnya nama orang. Terus dinamakan ke zat itu." jawab Arka.


"Oh ya?"


"Iya, nama sepupunya si penemu Iodine kalau nggak salah."


"Oh, baru tau aku." ujar Amanda seraya manggut-manggut.


"Nih ada lagi nih, dia ngirim."


Arka menunjukkan lagi chat dari Rio.


"Kalium-Kalsium."


"Selenium-Silicon."


"Boraks-Spritus."


Amanda dan Arka membacanya seraya tertawa. Tak lama kemudian handphone Amanda pun bergetar, ternyata pesan dari Dito.


"Nama anak yang ada unsur pasar."


Amanda membaca pesan tersebut, kali ini gantian Arka yang mendekatkan kepalanya ke arah Amanda.


"Siti Pasar Pagi, Siti Pasar Malam."


"Bayam Setia Wati, Kangkung Permata Sari."


Lagi-lagi Arka dan Amanda tertawa.


"Cabeanto Bawang Putra, Kucai Kemirianto."


Amanda berusaha mengunci bibirnya namun gagal.


"Nama anak unsur listrik." Amanda membaca pesan dari Fahri.


"Tesla Arka Adrian, Edison Arka Adrian."


"Nah ini bagus nih." ujar Arka.


Mereka lanjut membaca.


"Statisio Voltase , Dinamisio Ampere."


"Good." ujar Amanda.


"Siti Konslet Sari"


"Dian Stop Kontak."


"Seperti mati lampu ya sayang."


Kali ini mereka benar-benar terkekeh.


"Udah ah, apaan ngaco semuanya." ujar Arka masih terus tertawa, Amanda kini menyandarkan kepala di bahu Arka. Arka lalu memberinya segelas susu hamil, yang sudah ia dibuat beberapa saat yang lalu.


"Minum dulu, udah nggak panas." ujar Arka kemudian.


"Makasih, Ka." ujar Amanda menerima susu tersebut.


"Sama-sama jawab Arka."


Amanda lalu meminumnya hingga setengah.


"Ka."


"Hmm?"


"Cita-cita kamu apa sih?" tanya Amanda.


"Menikah sama kamu."


Amanda tertawa ngakak.


"Loh, kenapa?" tanya Arka heran seraya menahan tawa.


"Nggak pantes kamu jadi Dilan, kamu mah Dahlan." ujar Amanda kemudian.


Arka kini benar-benar tertawa.


"Aku juga nggak mau jadi Dilan."


"Kenapa?. Dilan ganteng, jagoan, bikin baper." ujar Amanda.


"Tapi dia ngomong doang. Aku dong melakukan, jadi lagi."


"Dilan mah kagak mesum kayak kamu."


"Hahaha." Lagi-lagi Arka tertawa.


"Ya udah, abisin gih susunya." ujar Arka.


Amanda pun lalu mereguk susu tersebut sampai habis.


"Pengen dipeluk, Ka." rengek Amanda Manja.


"Ya udah, sini."


Arka lalu memeluk istrinya itu.


"Ka, jangan tinggalin aku ya." Amanda semakin manja.


"Nggak sayang, aku disini. Mau pergi ninggalin kamu kemana coba?"


"Pokoknya kemana kamu pergi, aku ikut ya."


"Mau ikut berak juga?"


"Iya-iya, nggak-nggak. Sayang, sayang."


Arka mencium kening istrinya.


"Eh aku belum dongengin mereka loh." Arka berkata seraya mengelus perut Amanda.


"Ntar aja, dongengin mamanya dulu. Masa mereka mulu, mama cemburu nih." ujar Amanda.


"Ya udah, papa dongengin mama dulu ya. Pada suatu hari hiduplah seorang tante-tante."


"Arka ih."


Arka tertawa lalu mencium bibir istrinya itu, seketika Amanda menjadi diam dan tenang.


Arka paling tau cara menenangkan Amanda.


"Aku sayang kamu, Amanda Marcelia." ujarnya Kemudian.


Amanda pun lalu tersenyum penuh haru.


"Aku juga." jawabnya kemudian.


***


Dirumah ibu Arka.


"Bu."


Rianti menghampiri ibu Arka, yang tengah sibuk membereskan pakaian di lemari.


"Iya, Ti?" jawab Ibunya kemudian.


"Kita jadi mau ngadain 7 bulanan mbak Amanda?"


"Jadi, tapi nggak disini."


"Loh kenapa bu?"


"Nanti dirumah keluarga ibu aja. Kita undang tetangga-tetangga disini, yang baik sama kita. Tapi kita nggak mengadakan disini, biasalah tau sendiri kan geng nya bu Mawar."


"Iya sih, bu. Itu mah penyakit." ujar Rianti seraya tersenyum.


Kalau dirumah keluarga ibu kan, orang-orang sana nggak terlalu kepo sama kehidupan orang lain. Jadi lebih enak. Tapi nunggu koordinasi dari mas mu dulu, kapan mas sama mbak mu bisanya."


"Lusa, ibu nggak ikut acara baby showernya mbak Amanda?"


"Ibu mau nemenin papa mu ke dokter, jadwalnya nggak bisa di ubah. Ibu sudah bilang sama mas dan mbak mu, mereka bisa ngerti koq. Rianti aja ya, yang pergi mewakilkan ibu sama papa."


"Iya bu." jawab Rianti kemudian.


Ibunya pun lalu melanjutkan pekerjaan.


***


Baby Shower Day.


Dua hari kemudian, acara yang ditunggu-tunggu itupun akhirnya datang. Setelah kemarin, pihak event organizer selesai mendekorasi tempat yang menjadi lokasi dari acara tersebut.


Bersyukur tak ada hujan hari itu, karena acara diadakan di outdoor. Meskipun ada tenda-tenda kecil nan aesthethic yang dipasang. Namun tetap saja seandainya hujan turun, semuanya akan jadi berantakan. Karena tidak sesuai dengan ekspektasi.


Beruntung, air langit tersebut sedang enggan jatuh ke bumi. Hingga lokasi acara itupun terlihat sangat indah.


***


Di penthouse.


Amanda tengah mematut diri didepan kaca, ia baru saja selesai berdandan. Ia mengenakan dress yang dibelikan Arka kemarin, serta memakai riasan yang minimalis.


"Ka, aku baru liat merknya loh. Kamu beli dressnya yang mahal. Apa nggak sayang uang kamu?"


"Man, udalah. Kan nggak tiap hari juga kita belanja. Apa salahnya aku kasih kamu barang yang bagus, dengan uang hasil kerja keras aku. Kalau aku banyak uang juga, aku beliin semua yang kamu butuh."


Arka membelai rambut Amanda lalu mencium pipinya.


"Makasih ya, Ka." ujar Amanda kemudian.


"Iya sayang." Arka kembali mencium pipi Amanda.


"Kamu cium aku mulu, ntar ada yang tegang loh." goda Amanda.


"Udah dari tadi." ujar Arka.


Amanda pun seketika sumringah.


"Ayok, bentar yok." ajaknya dengan senyum penuh menggoda.


"Man, aku sama kamu udah rapi ya." ujar Arka setengah sewot.


"Dasar mesum kamu." lanjutnya lagi.


"Hehehe." Amanda nyengir.


"Ya udah, kita berangkat yuk. Undangan udah pada dateng tuh kayaknya." ujar Arka lagi.


Amanda mengangguk. Tak lama kemudian, ia dan suaminya pergi meninggalkan tempat itu. Langit masih cerah, bunga-bunga yang dipajang di lokasi acara tampak segar dan mengagumkan.


Amanda dan Arka tiba disana, tepat pada saat undangan telah datang. Amanda mengundang beberapa mahasiswa dan mahasiswinya, serta karyawan satu lantainya di kantor. Acara ini bersifat semi private, karena yang hadir tidak terlalu banyak.


Pembawa acaranya adalah Fahri dan juga Dito. Usai berbasa-basi sejenak, acara tersebut pun dimulai.


Arka diminta untuk menyampaikan sambutan dan juga harapan-harapan terhadap anak mereka kelak, begitu juga dengan Amanda. Dan setelah semua prosesi selesai, kini tibalah saatnya untuk mengetahui jenis kelamin si jabang bayi.


Amanda dan Arka sangat gugup, begitupula dengan yang lainnya. Mereka pun tak kalah gugup demi mengetahui jenis kelamin dari bayi yang dikandung Amanda.


Dua buah kotak besar diletakkan dihadapan mereka. Didalam kotak tersebut.sudah ada balon-balon helium dengan warna yang telah ditentukan.


Jika biru berarti anak yang dikandung adalah laki-laki, jika merah muda berarti perempuan. Jika sepasang maka akan keluar dua warna. Amanda dan Arka saling berpegangan tangan.


"Ready?" tanya Dito kemudian.


Amanda dan Arka pun mengangguk. Para hadirin sudah menyiapkan handphone untuk mengabadikan momen.


"Sama-sama buka, ya. Satu, dua, tiga."


"Waaaaaaaa."


Hadirin berteriak dan bertepuk tangan dengan sangat heboh. Amanda dan Arka pun turut berteriak dan saling memeluk satu sama lain. Balon yang keluar di kedua kotak adalah balon berwarna biru.


Arka mencium kening istrinya, sementara Amanda kini memeluk sang suami dengan senyum kebahagiaan.


"Sekarang aku punya dua orang, yang bisa aku tugaskan buat jaga mamanya. Biar mamanya nggak nakal." ujar Arka.


Amanda kian tersenyum, lalu mereka pun kembali berpelukan.


"Selamat ya, bu Amanda sama Arka." ujar para karyawan dan mahasiswa serta mahasiswi Amanda.


"Selamat bergadang sampe pagi, bro. Kalau udah lahir." ujar Rio sambil merekam keduanya di handphone.


Arka dan Amanda lagi-lagi tertawa. Acara kemudian dilanjutkan dengan berdoa, makan bersama, dan juga berbincang satu sama lain.