Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Kerumah Ibu


Usai puas jalan-jalan bersama Rio, Arka dan Amanda mengunjungi orang tua Arka. Rencananya mereka akan menginap malam ini. Rio pun sudah berjanji akan datang malam nanti untuk mabar bersama Arka.


Arka dan Amanda tak berkoordinasi terlebih dahulu dengan orang tua tersebut. Ketika sampai, ayah tiri dan ibu Arka yang tengah duduk di teras justru terkejut. Dengan kehadiran anak, menantu, serta cucu mereka itu. Arka, Amanda dan si kembar pun disambut dengan penuh kegembiraan.


"Koq pada nggak bilang sih mau kesini, kan ibu bisa masak." ujar ibu Arka seraya menghampiri mereka ke mobil.


"Nih bu, liat bu." Arka menyerahkan Azka pada ibunya, sementara Amanda menyerahkan Afka pada ayah mertuanya.


"Aduh, cucu kita pa." ujar ibu Arka antusias. Ayah Arka tampak begitu senang dan haru menggendong cucunya. Tak lama Rianti pun datang, gadis itu baru kembali dari kampus.


"Azkaaa."


"Afkaaa." teriak Rianti kegirangan.


Para bayi kini tampak kebingungan. Arka dan Amanda mengeluarkan barang bawaan untuk orang tua mereka dan juga perlengkapan si kembar berikut strollernya. Tak lama kemudian, mereka sudah beralih kedalam rumah.


"Cobalah ngomong dulu kalau mau kesini, kan ibu bisa siapin makanan untuk kalian. Kalau gini kan, ibu nggak enak." ujar ibu Arka pada puteranya, seraya masih menggendong salah satu bayi. Sementara bayi lain sedang diajak ayah tirinya serta Rianti bercanda.


"Udah bu, nggak apa-apa. Kita udah beli, itu Amanda lagi siapin dibelakang." ujar Arka.


Amanda saat ini tengah sibuk memindahkan kue-kue ke dalam piring, tadi mereka membelinya sebelum kesini. Tak lupa mereka membeli 1kg rendang, dan sayur-sayuran masak untuk mereka makan secara bersama-sama.


Malam itu Rio menepati janjinya untuk datang, mereka lalu makan malam bersama dan berbincang. Ibu dan ayah Arka lebih banyak menghabiskan waktu bersama cucu mereka. Sedang Arka mengobrol dengan Rio, Rianti sendiri tak bisa jauh-jauh dari keponakannya. Ia berada diantara ibu dan ayah tiri Arka.


Sedang Amanda, menjadi kebo. Dia sudah tidur sejak dapur terlah beres dan piring sudah dicuci. Wanita itu agaknya benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk lama-lama memeluk guling. Sedang ASI untuk para bayi telah ia siapkan didalam kulkas.


Arka dan orang tuanya pun tak begitu memikirkan hal tersebut. Para bayi juga tak ada yang rewel malam itu. Mereka hanya bingung melihat tempat baru dan dikelilingi banyak orang.


Afka selalu melihat ke arah luar, sepertinya bayi itu jarang melihat pepohonan. Sementara disana masih banyak pepohonan dan juga bunga-bungaan. Ayah Arka pun beranjak untuk membawa cucunya itu, mereka kini berjalan-jalan didepan.


Hari sudah menjelang tengah malam, Azka sendiri sudah tertidur, ibu Arka kini mencari suaminya.


"Pa."


"Iya, bu."


"Aduh jangan jauh-jauh, pa." Ibu Arka menghampiri suaminya yang sudah jauh didepan.


"Nggak baik buat bayi, banyak demit."


Seketika bu Mawar and the gang yang tengah bersembunyi di balik pagar tanaman pun terhenyak.


"Ibu mah ada-ada aja, mana ada demit." ujar ayah Arka kemudian.


Sementara Afka yang doyan tidur tersebut, tumben-tumbenan tidak terlelap malam itu. Ia masih sibuk mengamati sekitar, mendengarkan suara burung dan jangkrik yang bersahut-sahutan. Tubuhnya telah diolesi terlebih dahulu dengan anti nyamuk bayi dan ia pun mengenakan jumpsuit.


"Udah ah, pa. Ayo masuk, demit itu suka bersembunyi di pohon loh." ujar ibu Arka lagi.


Bu Mawar dan yang lainnya kembali terhenyak.


"Elu demitnya." bisik bu Mawar pada Dini.


"Enak aja, elu." Dini tak mau kalah.


Sementara ayah Arka hanya tertawa lalu menuruti keinginan istrinya.


"Udah ya, mainnya. Sekarang cucu oppa tidur dulu, ok?"


"Hooooaaaa."


Afka bersuara.


"Tidur ya, udah malem."


"Hooooaaaa."


Ayah Arka tertawa lalu mencium bayi itu.


"Bu Mawar."


Sebuah suara menggema kembali terdengar.


"Siapa yang nakutin, bu. Saya kan menyapa ibu."


"Menyapa-menyapa, udah tau suara kamu itu setan able."


"Setan able?"


"Iya, mirip pengisi suara di film-film horor." timpal salah seorang anggota geng bu Mawar.


Bu Mawar dan gengnya kini menatap Sardi. Namun tak lama kemudian.


"Jeng, jeng mawar liat kan?" tanya Dini dengan suara gemetaran.


"I, iya. Yang lain liat kan?" tanya Bu Mawar tak kalah gemetaran.


"Iyaaaa."


"Demiiiiiit."


Bu Mawar dan anggota gengnya kocar-kacir, hal itu bertepatan dengan ibu Arka yang hendak menutup pintu. Ibu Arka yang bingung melihat hal tersebut pun, langsung menutup pintu dengan segera.


Sementara Sardi masih terpaku ditempatnya. Ia heran mengapa bu Mawar dan anggota gengnya berteriak. Tak lama kemudian seorang pria berbaju putih panjang, datang menghampiri Sardi sambil melayang-layang. Pria itu ternyata menggunakan sebuah skuter. Karena lampu jalanan yang minim, skuter tersebut agak sedikit tak terlihat.


"Eh pak haji Danang, dari mana pak haji." ujar Sardi seraya tersenyum.


"Itu dari tadarusan. Jaga sendirian, Sardi?"


"Ini lagi nunggu mang Jamal, sama mang Udin."


"Oh ya sudah, kalau mau kopi nanti kerumah saja. Banyak bapak-bapak nobar sinetron nanti malem."


"Oh iya, pak haji. Terima kasih."


"Saya pulang, ya."


"Iya pak haji."


Pak haji Danang pun kembali melayang-layang dengan skuternya. Persis kuntilanak yang tengah terbang rendah, jika dilihat dari belakang.


Malam itu ayah tiri Arka ikut giliran ronda di pos belakang, bersama bapak-bapak lain tetangganya. Sedangkan Sardi dan kelompoknya berjaga di pos depan. Mereka bergantian keliling untuk memeriksa keamanan kampung.


Arka dan Rio masih setia mabar game online. Para bayi ditempatkan di kamar Rianti, sedang Rianti sendiri tidur dikamar ibu Arka. Sementara Amanda, menguasai kasur sendirian.


Usai mabar Arka dan Rio merokok di teras rumah, sambil berbincang tentu saja. Sebelum itu mereka telah membuat dua gelas kopi serta mengambil kue-kue, yang masih tersisa di meja makan.


"Bro, menurut lo. Gue harus nanya nggak sih soal bokap gue?" Arka bertanya pada Rio.


Beberapa waktu belakangan ini entah mengapa, ia ingin mengetahui lebih banyak tentang ayah kandungnya. Ia ingin tahu siapa sebenarnya pria itu, bagaimana ia, seperti apa wujudnya.


Karena selama ini pun, ibu Arka tak pernah menjelaskan secara rinci siapa ayah kandung Arka. Arka hanya mengetahui cerita secara garis besarnya saja, tanpa tahu banyak hal-hal kecil mengenai ayah biologisnya tersebut.


"Menurut gue, lo emang harus nanya bro. Itu hak lo sebagai anak, biar tau bapak lo siapa. Itu penting loh, walaupun lo cowok ya. Penting untuk tau apakah lo punya saudara atau nggak, dimana mereka. Supaya nggak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."


"Contohnya?"


"Bisa aja lo misalkan amit-amit pisah sama Amanda, lo jalan ke negara lain. Ketemu cewek, lo suka sama dia, tau-tau saudara lo sendiri. Atau lo berantem sama orang, gebuk-gebukan. Tau-tau anak bapak lo juga. Penting, bro. Sebaiknya emang harus lo tanyain ke nyokap lo."


"Kalau nyokap gue marah, gimana?"


"Ya tinggal lo, tinggalin aja. Emang lo bocah, pas dimarahin diem disitu aja. Karena lo nggak punya tempat lari. Lagian ya, kalau nyokap lo emang ngerti soal hak anak. Dia pasti mau koq ngomong sama lo. Coba aja dulu, lo tanya baik-baik."


"Ya udah deh, besok gue tanyain." ujar Arka kemudian.


"Lo mau makan lagi nggak?" tanya Arka beberapa detik kemudian.


"Ntar abisin kopi sama sebat dulu." ujar Rio.


Mereka pun kembali menghisap batang rokok dan menghembuskan asapnya ke udara.