
"Ka."
Rio datang menghampiri Arka, ketika proses syuting penambahan adegan telah rampung. Sejak semalam mereka berkutat dan berjibaku didepan kamera, untuk menyelesaikan apa yang diminta oleh sutradara.
"Kenapa, bro?" tanya Arka seraya meletakkan ipad-nya ke atas meja, yang ada disisi tempat duduk. Mereka tengah beristirahat sejenak, sebelum memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Kafe temen gue, yang waktu itu kita kesana. Dia lagi cari penyanyi." ujar Rio.
"Terus?" tanya Arka lagi.
"Lo kan pinter nyanyi nih, mau nggak lo kerja sama dia?"
"Kafe yang pas kita ketemu produser PH Multiproduction itu kan?" Arka kembali bertanya.
"Iya." jawab Rio
"Lumayan loh, dibayar per performance, gede lagi. Gue kalau suara bagus, mau gue. Sayangnya lo tau sendiri, suara gue kayak tikus got kejepit pintu."
Beberapa orang selain Arka yang ada disitu tertawa mendengar celoteh Rio.
"Lu bersin aja fals, Ri." celetuk salah satu dari mereka.
"Bangsat." Rio mengumpat namun tertawa.
"Mau nggak lo, bro?" tanya Rio.
"Boleh." ujar Arka kemudian.
"Lo nggak malu, Ka?. Lo kan aktor, lagi naik daun dan digandrungi cewek-cewek." tanya salah seorang yang duduk di dekat Arka.
"Ngapain malu sih?. Toh nyanyi nya juga pake baju, nggak telanjang. Dibayar lagi." seloroh Arka membuat semua yang ada disitu kembali tertawa.
"Gue setuju sama lo, Ka." celetuk Bianca.
"Gue juga kerjaan receh pun masih gue ambil, yang penting halal dan duit. Kita tuh kalau mau maju jangan gengsi. Apalagi lu pada cowok, harga diri cowok itu ya cari duit. Kalau rebahan doang mah, jin perempuan juga kagak mau sama lo. Apalagi perempuannya manusia."
Lagi dan lagi mereka semua tertawa.
"Jujur gue salut Ka, sama lo. Gue mau kalau lo mau jadi suami gue."
Bianca mengeluarkan pernyataan yang membuat semua orang bersorak.
"Pepet teros." teriak mereka. Sementara Arka hanya tertawa kecil.
Maureen terbangun dari tidurnya, sudah beberapa hari berlalu dan ia tetap berlanjut dengan laki-laki yang ia temui di bar tempo lalu. Ia sudah mengetahui jika pria itu bernama Nino.
Memang tak ada kata jadian atau apapun antara dirinya dan Nino. Nino yang sudah biasa tinggal di luar negri tersebut, membiarkan saja semua berjalan tanpa status. Toh, Maureen juga selalu mau datang ketika Nino membutuhkannya.
Nino pun tak masalah jika harus mengeluarkan uang, saat Maureen meminta sebagai kompensasi. Wanita itu setidaknya mau menjadi pelampiasan bagi kepenatan yang melandanya. Meskipun Maureen sendiri dengan penuh percaya diri menganggap, jika Nino menyukai dan mencintai dirinya.
Disisi lain, Amanda yang mulai kembali bekerja kini merasa bingung. Karena sudah beberapa hari belakangan, Nino tak dapat dihubungi. Bahkan nomornya selalu tidak aktif.
Amanda tidak tahu jika Nino telah membanting handphonenya, dan kini ia menggunakan handphone serta nomor yang baru. Saking kecewanya ia pada Amanda. Meski jauh di lubuk hatinya ia sangat merindukan wanita itu.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area."
"Hhhh."
Amanda menghela nafas dalam-dalam. Ia benar-benar ingin tahu apa yang telah terjadi pada Nino.
Sementara di kediaman Nino. Maureen menelpon Chanti dan Widya, meski sesungguhnya kedua temannya Itu tak begitu ingin berbicara dengannya. Namun mereka kini berpura-pura excited ketika menerima panggilan dari Maureen tersebut.
"Iya, Reen." ujar Chanti dengan penuh kepalsuan. Ia mengaktifkan mode load speaker handphonenya, sehingga Widya bisa mendengar.
"Tebak gue dimana?" tanya Maureen.
"Di apartment Nino kan?" ujar Chanti dengan rasa malas dan gerah yang tertahan.
"Ih, koq tau sih?"
Maureen terdengar bersemangat, bahkan lebay.
"Ya, kan lo dari kemaren-kemaren juga ngasih tau soal itu." ujar Chanti lagi.
" Iya sih, abisnya gue seneng banget. Apartemennya bagus dan mewah, Jadi pengen cerita mulu. Tempo hari kan gue nggak terlalu ngeksplore, ternyata di lantai atas itu ada kolam renangnya. Sumpah aesthetic parah."
Chanti dan Widya memutar mata ambil melebarkan bibir.
"Norak." ujar widya dengan tanpa suara. Ia dan Chanti sudah sangat gerah dengan percakapan ini.
"Kebayang nggak sih, gue dilamar sama dia disini. Duh romantis banget." ujar Maureen lagi.
"Mimpi."
Bisik Widya ditelinga Chanti, Chanti pun menahan tawa.
"Ratu halu." Chanti balas berbisik pada Widya.
"Emang dia ada rencana mau ngelamar lo?" tanya Widya.
"Maybe, orang dia berani banget nembak di dalem."
Maureen dengan penuh percaya diri menceritakan aktivitas ranjangnya bersama Nino.
"Hah, seriusan lo?" tanya Chanti seraya bersitatap dengan Widya.
"Iya, berarti dia udah siap dong dengan resiko kalau gue tekdung. Berarti dia nggak masalah kalau harus nikahin gue."
"Pede banget, anjir." ujar Chanti dengan mulut komat kamit tanpa suara. Widya memutar matanya sambil mengeluarkan lidah tanda jijik.
"Permisi pak, ada yang nyari bapak."
"Eh, bentar deh. Ntar gue telpon lagi."
Maureen menutup telpon karena mendengar suara orang datang dari lantai bawah apartemen. Chanti dan Widya akhirnya bisa bernafas lega.
"Thanks god." ujar mereka kemudian.
Maureen juga mendengar suara seorang wanita, Ia pun lalu turun untuk mencari tau.
"Kamu kemana aja Nino, aku khawatir."
Suara Amanda terdengar sampai ke tangga. Maureen yang melihat itu pun langsung menutup mulutnya.
"Amanda?" ujarnya tak percaya.
Ia benar-benar syok dan kaget. Bagaimana bisa pria yang ia temui di bar tersebut mengenal Amanda.
"Man, please. Sebaliknya kamu pulang!" Nino seakan mengusir Amanda.
"Kamu kenapa sih, salah aku apa?. Kamu nggak ada omongan apa-apa, tau-tau menghilang. Sekarang seenaknya kamu usir aku."
Nino diam, ia memalingkan pandangannya untuk menatap ke arah lain.
"Kamu bilang kamu nggak marah soal dinner yang batal itu. Kamu telpon aku dan bilang nggak apa-apa, tapi ternyata kamu marah dan menghilang. Kamu tau kenapa aku nggak jadi dateng waktu itu, karena saat itu kehamilan aku sedikit bermasalah. Dan kamu malah marah nggak jelas kayak gini. Egois tau nggak kamu, Nin."
"Egois?"
Kali ini suara Nino meninggi, sementara Maureen masih terpaku di tangga.
"Egois kamu bilang?"
"Iya, kamu egois?"
"Egois mana dengan saat aku nelpon, video call, lalu kamu angkat dan kamu arahkan ketempat dimana kamu lagi bercinta dengan suami kamu itu."
Amanda terkejut mendengar pernyataan tersebut. Karena ia memang tidak mengetahui sama sekali, soal apa yang sesungguhnya telah terjadi.
"Aku video call kamu Amanda, dan itu balasan kamu. Kamu tunjukkan semua kemesraan kamu sama Arka. Munafik tau nggak kamu, munafik. Kamu bilang nggak cinta sama dia, tapi kamu terima hujaman dia, malah kamu yang mohon supaya dia membasahi rahim kamu. Pelacur kamu tau nggak?"
"Plaaak."
Sebuah tamparan mendarat di wajah Nino, membuat laki-laki itu seketika terdiam.
"Siapa yang dulu meninggalkan aku secara tiba-tiba?"
Amanda menatap tajam ke arah Nino, emosinya kini sudah tidak bisa terkontrol lagi.
"Tanpa kabar, hilang selama belasan tahun."
Nino kian membeku ditempatnya.
"Apa kamu tau, belasan tahun aku mencari kamu dengan segala cara."
Suara Amanda kini terisak.
"Kalau pun sekarang aku bersama orang lain, itu bukan sepenuhnya salah aku. Kamu yang nggak pasti, kamu yang nggak tau ada dimana selama ini. Dan satu hal lagi, aku bukan pelacur. Aku menikah dengan Arka, dia suami aku. Dia suami aku, Nino. Aku nggak pernah dengan sengaja mengangkat telpon kamu saat aku lagi bercinta sama dia. Aku nggak tau apa handphone itu jatuh atau apa, mungkin tombolnya menyentuh apa. Aku bukan pelacur, aku istri dari Keenan Arka Adrian."
"Aku cinta sama kamu Amanda."
"Aku juga cinta sama kamu, Nino. Tapi nggak gini caranya. Aku tau kamu terluka, tapi ini bukan mau aku. Dan sekarang aku tau, artinya aku dimata kamu. Aku nggak lebih dari seorang pelacur. Bertahun-tahun aku menunggu kamu, cuma untuk dikatakan pelacur."
"Amanda berlalu meninggalkan tempat itu."
"Amanda"
"Amanda."
"Braaak."
Amanda membanting pintu apartemen Nino. Ia sudah tak peduli meskipun Nino akhirnya mengejar dan meminta maaf. Ia sama sekali sudah beku, tak mencair sedikitpun.
Meski Nino berurai air mata meminta maaf dan memohon. Kata-kata "Pelacur" itu kini seolah menjadi racun yang menggerogoti kepeduliannya.
***
"Arrrggghh. Kenapa sih, hidup gue itu selalu diliputi dan diganggu sama si tante-tante tua itu."
Maureen ngoceh sambil mondar-mandir di kosan Chanti serta widya. Nino memintanya pulang, karena laki-laki itu ingin sendirian pasca pertengkarannya dengan Amanda.
"Jadi Nino itu ada hubungan sama Amanda?" tanya Widya pada Maureen
"Emang brengsek tuh cewek." Maureen berapi-api.
"Gue harus buat perhitungan sama dia."
"Lo mau ngapain emangnya?" tanya Chanti.
"Gue akan bilang sama emaknya Arka soal ini."
"Ma, maksud lo?. Lo mau ngasih tau keluarganya Arka, kalau Arka udah married?"
"Ya, gue yakin ibunya Arka pasti syok dan serangan jantung."
Maureen tersenyum atas rencananya sendiri.
"Dengan demikian, Arka akan ninggalin Amanda. Karena sudah pasti ibunya nggak akan setuju. Ibunya Arka itu dulu pernah bilang sama Arka didepan gue, waktu gue masih pacaran sama dia. Bahwa dia nggak mau Arka nikah muda. Dan gue tetap akan merebut Nino dari Amanda. Gue akan pura-pura hamil, biar sekalian si tante tua itu kehilangan Arka dan juga Nino. Tante-tante maruk dan sok cantik itu, harus dikasih pelajaran."
Maureen tersenyum menyeringai, sementara Chanti dan Widya hanya bisa saling menatap satu sama lain.