Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Sebuah Kenyataan


Rianti mondar-mandir di dalam kamar, dengan wajah yang begitu resah. Sesekali ia mengintip keluar, ketempat dimana ibu Arka tengah berbicara pada Liana.


"Nak Liana, Arka itu kan sibuk. Jadi wajar kalau dia jarang pulang, nanti juga dia pasti kesini."


"Iya bu, saya cuma pengen tau kabar Arka." jawab Liana.


"Emangnya Arka nggak menghubungi kamu?"


Liana diam.


Beberapa saat yang lalu ia menanyakan pada ibu Arka, mengapa Arka sangat jarang sekali pulang. Liana sendiri memiliki kontak Arka dan telah mengirim pesan banyak pada pemuda itu. Namun Arka tak menjawab, lantaran pesan Liana sudah tertimpa pesan-pesan lain dari manajemen keartisannya.


Ada sekitar 1000 chat di laman pesan WhatsApp milik Arka. Hanya nama Amanda, Rio, serta ibunya saja yang ia bedakan notifikasinya. Sehingga ketika mereka menghubungi, Arka bisa langsung menjawab.


"Saya udah nggak kontakan sama dia seminggu lebih bu." ujar Liana lagi.


Ia tau pastilah kini Arka tengah sibuk dengan istrinya, Amanda. Namun bercerita seperti ini membuat hati Liana yang dilanda kerinduan pada Arka, menjadi sedikit terhibur.


"Sabar aja, Arka itu setia koq anaknya." ujar ibunya lalu tersenyum. Liana pun balas tersenyum, seakan mengaminkan doa dari ibu Arka.


Gadis itu telah terlalu jauh, masuk kedalam harapan ini. Dan apa salahnya benar-benar berharap, pikirnya. Setelah Arka bercerai nanti, ia bisa mendapatkan pemuda tampan itu dengan mudah.


"Duh, ngomong sekarang nggak ya sama ibu."


Rianti makin mondar-mandir didalam kamar. Ia sudah sangat ingin mengatakan semua yang ia ketahui tentang kakak sepupunya itu


"Arka itu suka nya apa aja, bu?" tanya Liana pada ibu Arka.


Entah mengapa tiba-tiba saja, ia ingin mengorek keterangan lebih lanjut mengenai pemuda itu.


"Apanya nih?. Makanan atau apa?" tanya ibu Arka seraya menatap Liana.


"Apa aja, makanan juga boleh."


"Arka itu makanan favorit nya sambal goreng teri pedas manis, sama sayur asem."


"Oh ya, koq sama dengan saya ya bu?" ujar Liana tak percaya. Pasalnya, ia juga menyukai kuliner tersebut.


"Ya mudah-mudahan kalian Jodoh." ujar Ibu Arka seraya tersenyum


"Aamiin, bu." jawab Liana seraya tersenyum tipis. Sungguh ini adalah doa yang menyentak jiwanya secara tiba-tiba.


"Kamu cinta kan sama Arka?"


Liana terdiam, sepertinya memang ia telah menyukai pemuda itu sejak lama. Sejak pertemuan pertamanya, saat menjalankan tugas dari Amanda.


"Iya, bu." jawabnya kemudian.


"Arka itu orangnya nggak rumit, dia penyayang dan nggak tegaan. Maureen saja dulu yang sering mengkhianati dia berkali-kali, nyakitin dia. Padahal Arka itu anak yang baik."


"Maureen itu, siapa bu?" tanya Liana lagi.


Ia memang tak pernah mengetahui perihal masa lalu Arka, karena sejatinya.ia tidak terlalu mengenal pemuda itu.


"Kamu nggak tau Maureen?" tanya Ibu Arka, Liana menggeleng.


"Biasanya Maureen itu suka ngelabrak, kalau Arka punya pacar baru. Jadi pacar baru Arka nggak betah."


"Maureen itu mantan pacarnya Arka, bu?" tanya Liana lagi.


"Iya, Maureen itu mantan pacarnya Arka. Sekampus sama dia tapi beda jurusan. Dulu mereka pacaran dari masih SMP. Arka itu pemalu sama cewek, Maureen yang mendekati Arka duluan. Waktu masih SMP sih baik-baik aja. Tapi begitu masuk SMA, Maureen mulai selingkuh sana sini. Ibu sih nggak ikut campur, tapi Arka sendiri sering cerita ke ibu."


"Tapi kenapa Arka bertahan bu, kalau diselingkuhi?"


"Ya itu tadi, Arka itu anaknya terlalu baik. Sehingga dia sering dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk Maureen. Sudah selingkuh sana-sini, pas sakit hati baliknya ke Arka juga. Nanti selingkuh lagi, sakit hati lagi, balik juga lagi ke Arka. Kadang ibu sampai gregetan sama Arka. Dia itu pinter, baik, ganteng, kenapa nggak cari yang lain."


Liana tersenyum.


"Tapi sekarang udah ada kamu, ibu senang Arka dengan kamu. Dan tumben aja kamu nggak dilabrak sama si Maureen."


"Mungkin Maureen nggak tau saya, bu." ujar Liana.


"Ya mungkin, tapi setahu ibu. Maureen itu, kuping sama matanya ada selusin. Jadi dia tau siapa aja yang dekat dengan Arka."


Liana kembali terdiam. Mungkin saja Maureen tau, tapi bukan soal dirinya melainkan Amanda. Karena sejatinya yang memiliki hubungan itu adalah Amanda dan juga Arka.


"Tapi bu, soal kasus yang menimpa saya. Apa ibu nggak apa-apa?" Liana mengalihkan arah pembicaraan.


Ibu Arka tersenyum dengan tulus.


"Itu kan musibah, siapa yang berani menolak kalau sudah ditakdirkan begitu. Lagipula Arka bukan laki-laki kejam, yang akan menjadikan musibah orang sebagai penghalang langkahnya. Dia nggak seperti itu."


Liana sedikit tertunduk, ia ingat betapa bodohnya dirinya dihari itu. Ia masih mau saja saat mantan pacarnya yang kasar mengajaknya bertemu. Dengan alasan ingin meminta maaf dan bertemu untuk terakhir kali. Andai saja ia tidak terbuai tipu muslihat kotor itu, pikirnya.


"Liana."


"Liana."


"Kamu mikirin apa?" tanya ibu Arka heran. Sebab Liana tadi sempat terlihat bengong.


"Nggak bu, nggak ada koq." jawab Liana..


"Udah, nggak usah dipikirin soal apa yang menimpa kamu. Ibu, bapak, Arka pasti terima kamu apa adanya. Sekarang lebih baik kamu siapkan mental untuk segera melaporkan para pelaku itu, biar mereka dipenjara."


Liana menunduk, jujur ia sangat sakit hati dan dendam soal apa yang menimpa dirinya. Namun ia juga tak bisa begitu saja melaporkan para pelaku, ia takut dihujat dan malu.


Karena di negeri ini korban pemerkosaan akan selalu disalahkan. Jarang ada yang mau menyalahkan pelaku dan cenderung mendukung para pelaku. Liana belum siap malu untuk itu, apalagi jika beritanya sampai ke telinga orang tuanya. Mereka akan turut dihujat.


"Maaf bu, saya permisi. Saya mau tidur dulu."


ujar Liana kemudian.


"Ya sudah, kamu tidur gih!. Rianti aja udah tidur dari tadi." ujar ibu Arka.


Liana pun pergi ke kamar tidurnya. Sementara kini Rianti menarik nafas di balik pintu kamar.


"Bu, Rianti mau jujur." ujarnya mempraktekkan bagaimana caranya berbicara pada ibu Arka.


"Mas Arka, menghamili..."


Ia menghentikan ucapannya tersebut.


"Mas Arka sekarang sama tante."


"Huh." Rianti menghela nafas.


Ia tak punya keberanian untuk itu, ia takut ibu Arka akan menjadi syok. Namun sampai kapan Arka akan merahasiakan semua ini.


"Jujur, nggak, jujur, nggak."


Lagi-lagi Rianti menarik nafas dalam-dalam. Dan akhirnya, dengan langkah pasti ia pun melangkah.


"Bu."


"Kenapa, Ti."


"Tok, tok, tok." Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu.


Ibu Arka beranjak ke depan, sebelum sempat Rianti berbicara padanya. Ternyata Rio yang datang, ia menanyakan perihal Liana.


Ia juga mengutarakan niatnya untuk mengajak Liana melapor ke kantor polisi pada esok hari. Tak lama ayah Arka pulang dari bekerja, ia mendengar maksud kedatangan Rio. Malam itu mereka berembuk dan membangunkan Liana.


Setelah melewati percakapan yang panjang, akhirnya Liana pun menyetujui. Ia mau melaporkan para pelaku ke kantor polisi.


Esok harinya, mereka pergi ke kantor polisi dengan ditemani oleh Rio. Ada sekitar 2 jam, Liana ditanyai seputar kejadian yang menimpanya. Bagaimana kronologinya, berapa jumlah pelakunya.


***


"Bu."


Rianti yang sudah tidak tahan sejak semalam itu, akhirnya memberanikan diri berbicara pada ibu Arka. Ketika laporan selesai dan mereka pulang ke rumah. Liana sendiri sedang pergi ke psikiater dengan diantar oleh Rio.


"Ada apa, Ti. Muka mu tuh tegang, kayak mau ngaku kalau hamil diluar nikah."


"Ini emang soal kehamilan, bu?" ujar Rianti.


Ibu Arka mengernyitkan dahi.


"Kamu hamil?" tanya ibunya Arka dengan wajah panik sekaligus marah.


"Bukan Rianti bu, tapi Amanda. Pacar lainnya mas Arka."


"Apa?" Ibunya terperangah. Antara kaget, tak percaya, sekaligus marah.


"Tau dari mana kamu?. Kamu sendiri kan yang bilang nggak usah dengerin bu Mawar, kenapa sekarang kamu malah percaya?"


"Ini bukan soal bu Mawar, bu. Tapi Rianti cari tau sendiri."


Kali ini ibu Arka terdiam dan tubuhnya mulai gemetar.


"Perempuan yang waktu itu ngasih dompet ibu, yang jatuh. Dia Amanda bu. Yang ibu liat di supermarket waktu itu, Amanda dan mas Arka."


Ibu Arka makin terdiam, ia syok setengah mati mendengar hal tersebut.


"Nggak mungkin, Ti. Mas Arka mu nggak gitu, nggak mungkiiiin." teriaknya kemudian.


"Rianti juga tadinya nggak mau percaya, bu. Tapi banyak anak kampus mas Arka yang udah tau."


Ibu Arka gemetar mencari pegangan, ia lalu terduduk lemas pada sebuah kursi.


"Nanti kalau Rio mengantar Liana, suruh menghadap ibu." ujarnya masih dengan nada gemetar, sekaligus terguncang.