Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Premiere


Arka menerima buah gandaria yang dikirim oleh ibunya, ada sekitar setengah kilogram. Amanda senangnya bukan main. Karena ia memang sedang ingin memakan buah langka tersebut.


Ia pun segera mencuci buah itu dan membelahnya menjadi dua bagian. Lalu ia pun membuat sambal rujak dengan rasa yang tidak terlalu pedas. Seusai makan malam, ia menyusul Arka yang tengah duduk di depan televisi.


"Hmmm." ujarnya mencium aroma rujak tersebut di depan wajah Arka. Pemuda itu hanya menganga dan membayangkan betapa asamnya buah tersebut.


"Hmmm, enak banget." Amanda mulai melahap rujak buatannya itu.


"Enak banget, Ka. Sumpah, kamu harus cobain ini."


Amanda menyodorkan rujak tersebut, sementara Arka menghindarkan kepalanya.


"Nggak mau." ujar Arka.


"Aaak."


Amanda memaksa, hingga akhirnya rujak itu pun mau tidak mau masuk ke mulut sang suami.


"Enak kan?" tanya Amanda Kemudian.


"Ahaa."


Arka mencoba menahan rasa asam dari buah tersebut. Ia hanya berusaha agar istrinya itu tak ngambek dan ngoceh, jika saja ia berani membuang rujak tersebut dari mulutnya.


"Ayah kamu gimana sekarang?" tanya Amanda sambil masih terus mengunyah.


"Baik, udah mulai sehat."


Arka meminum air putih yang ada di atas meja, untuk menetralkan rasa asam yang begitu menyengat di mulutnya.


"Nih, lagi nih!"


"Man, aku punya maag." Arka menolak dengan tangannya.


"Koq aku nggak tau?" tanya Amanda kaget.


"Ini aku kasih tau." ujar Arka.


"Kamu jangan banyak-banyak makannya, ntar sakit perut." lanjutnya lagi.


"Abis enak, gimana dong?"


Arka memberikan lirikan ekor mata, sementara yang dilirik santai saja dan terus menikmati rujak. Ia bahkan kini menempelkan kepalanya di bahu Arka, sambil menonton televisi.


"Man."


"Hmm?"


"Besok, filmku mulai tayang. Kita semua dateng buat premiere."


"Jam berapa?" tanya Amanda.


"Aku perginya dari siang."


"Sama siapa?"


"Aku sendiri."


"Kamu nggak mau ngajak aku?" tanya Amanda lagi.


"Mau aja, tapi resikonya kita bakal ketahuan. Karena udah pasti besok itu banyak awak media, admin akun lambe-lambean dan lain-lain. Kalau kamu mau ketahuan orang tuaku, ya ayo."


Amanda tampak berfikir.


"Kamu jadi aktor udah berapa lama sih?" tanya nya kemudian.


"Sekitar 4 tahun. Tapi dulu perannya masih kecil-kecil dan nggak penting banget." jawab Arka.


"Tapi ikut premiere juga dulu?"


"Semua cast pasti ikut. Mau penting nggak penting perannya di film itu, tetap ikut biasnya."


"Pernah ngajak Maureen?"


Amanda melontarkan pertanyaan yang membuat Arka menoleh. Namun perempuan itu tetap fokus ke televisi.


"Pernah nggak?" tanya wanita itu lagi.


"Ya pernah lah." jawab Arka.


"Besok, ngajak dia lagi?"


"Ya nggak dong, Man. Ngapain ngajak dia?"


"Tapi, aku nggak tau kalau dia pergi sama Robert."


Amanda mengangkat kepalanya dan menatap Arka.


"Robert?" tanya wanita itu seraya mengerutkan dahi.


"Ya, Robert Aidan. Tau kan?"


Amanda mengangguk. Ia mengenal Robert sebagai bintang muda yang kini tengah banyak digandrungi. Ia juga sering menonton film yang dibintangi oleh pemuda itu.


"Maureen ada hubungan sama dia. Ya walaupun Maureen bilang waktu itu mereka udah putus. Kemungkinan besar, bisa balik lagi dan mungkin besok mereka pergi bareng. Jadi kalau kemudian di akun gosip ada foto aku rame-rame sama cast, terus ada Maureen, kamu nggak usah ngamuk. Udah pasti bukan aku yang ngajak dia."


"Oh iya." ujar Amanda seraya mengganti channel televisi.


Raut wajahnya terlihat biasa saja, Ia sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan buas. Arka agak sedikit terheran dengan tingkah istrinya malam itu. Biasanya ketika membahas Maureen, ia akan langsung berapi-api.


Arka pun menyudahi topik pembahasan, karena takut akan menimbulkan huru-hara dan membangkitkan singa dalam diri Amanda.


Esok harinya Amanda berangkat seperti biasa menuju kantor. Bahkan disaat Arka belum bangun, ia sudah tak ada lagi di penthouse. Supir mengatakan jika jadwal Amanda hari ini sangat padat, makanya ia berangkat pagi-pagi sekali.


Arka pergi pada waktu yang telah ditetapkan oleh production house. Ia mengenakan setelan suite yang ia pesan dari seorang desainer ternama. Ia juga pergi dengan menggunakan salah satu mobil sport milik Amanda.


Sesampainya di lokasi, ia pun langsung menjadi pusat perhatian. Padahal pemeran utama di film Itu adalah Robert, bukan dirinya. Namun karena ia tiba dengan mobil sport limited edition tersebut, semua mata jadi tertuju padanya.


"Bro." Rio menyapa Arka sambil menepuk bahunya.


"Baru lagi?" tanya Rio sambil melirik mobil Arka, yang terparkir didepan jalan masuk.


"Biasa, punya bini gue." bisik Arka pelan.


"Biasanya bukan yang ini kan?" tanya Rio lagi.


"Nggak tau, tadi dia ninggalin yang ini. Pas gue telpon, katanya pake aja. Ya udah gue pake."


"Gila ya si Amanda, duitnya banyak banget." ujar Rio.


"Oh ya, Doni mana?" tanya Arka.


"Noh."


Rio menunjuk ke suatu arah, tempat dimana Doni sedang jumpa fans. Padahal ia tidak terlibat dalam film ini. Hanya saja Doni adalah pemeran pada project berikutnya, yang akan segera launching beberapa hari ke depan. Production house yang mengontrak mereka pun sama. Maka dari itu Doni juga turut hadir hari ini.


"Lagunya jumpa fans. Woi bukan acara lo, woi." ujar Arka sambil tertawa.


Doni nyengir dari kejauhan. Tiba-tiba Robert melintas dan ada Maureen yang tengah menggandeng tangannya. Maureen sempat melihat sekilas ke arah Arka dan juga Rio. Namun kemudian, ia melengos begitu saja mengikuti langkah Robert.


"Mantan lu, Ka, Ka. Lagunya dah kayak selebritis, pansos terus sama si Robert."


Rio tampaknya sangat kesal melihat Maureen. Namun Arka hanya diam saja, pura-pura tak peduli. Padahal hatinya sakit ketika melihat hal tersebut.


"Awas lo ya, sampe lo jadi tong sampah lagi. Dia ribut sama cowoknya, lo tampung lagi. Ntar lo di tinggal lagi. Jangan mau dapet bekas orang, Ka. Perempuan murahan kayak dia, liat cowok lebih dikit, pindah."


"Udah, Ri. Ngapain bahas dia sih. Kita kesini buat nonton loh, sama ketemu fans."


"Arka."


"Rio."


"Arkaaa."


"Riooo."


Para hadirin mulai riuh dan meminta foto bersama mereka. Sekitar 2 jam lebih, film tersebut diputar. Usai acara jumpa fans dan sesi tanya jawab serta foto-foto, para cast di bawa ke sebuah hall yang tak jauh dari tempat penayangan perdana film tadi.


Di dalam hall tersebut, diadakan sebuah pesta perayaan. Dimana hadir disana para petinggi-petinggi production house. Termasuk produser dan juga para investor. Arka tampak berbincang-bincang dengan para cast.


"Hai semua."


Tiba-tiba sang pemilik production house berdiri di atas podium.


"Hari ini saya ingin memperkenalkan investor baru di production house kita, sekaligus yang akan memproduseri beberapa proyek kita kedepannya. Miss Amanda Marcelia Louise."


Arka terkejut mendengar nama itu disebutkan. Apalagi ketika si pemilik nama itu benar-benar maju ke depan, dan berdiri disisi direktur production house sambil tersenyum.


"Ka, bini lu Ka."


Rio berseloroh disela tepuk tangan pengunjung hall. Sementara Arka masih terdiam bengong menatap istrinya itu.


Amanda kemudian membaur dengan para petinggi lainnya. Ia melirik sekilas kearah Arka, namun bersikap seolah tak mengenal pemuda itu.


Di lain pihak Doni terus memperhatikan Amanda. Sambil melihat dan mencocokkan sebuah foto yang pernah ia screenshoot dari aplikasi dating.