Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Pacaran Bagian 1


Hujan turun dengan derasnya, Amanda berdiri di lobi depan kampus sambil menunggu kedatangan pak Darwis. Minggu ini dia mengajar sebanyak dua kali. Sudah beberapa menit berlalu, namun pak Darwis belum juga datang.


Ia mencoba menghubungi nomor supirnya itu berkali-kali, namun pak Darwis sendiri tidak mengangkat telpon. Entah karena memang tidak mendengar adanya panggilan ataupun memang tengah fokus mengemudi karena hujan begitu deras.


"Hhhhh."


Amanda menarik nafas resah, jujur ia sudah sangat ingin rebahan di mobil rasanya. Berdiri ditempat ini membuatnya pegal. Ingin kembali ke dalam, kursi ruang tunggu lobi pun sudah penuh diduduki oleh para mahasiswa.


Tiba-tiba Amanda terdiam, tatkala ada seseorang yang memayungi dirinya. Ia pun menoleh, dan ternyata itu Arka.


"Arka?"


Amanda tak percaya dengan apa yang ia lihat. Arka juga tak memberi kabar sebelumnya, jika ia akan menjemput istrinya itu. Arka hanya diam, namun tatapan matanya terpancar hangat.


Amanda masih menatap suaminya itu, namun perlahan ia pun melangkah. Arka menggandeng tangan istrinya tanpa bicara sepatah katapun. Lalu hujan turun semakin deras, Arka merangkul istrinya itu dan membawanya susah payah hingga sampai ke mobil. Keduanya kini lumayan basah dan tampak tertawa-tawa.


"Koq kamu nggak bilang mau jemput aku?" tanya Amanda ketika mereka telah berada di dalam mobil, dan Arka mulai menghidupkan mesin kendaraan roda empat tersebut.


"Nggak apa-apa pengen aja, jemput kamu diam-diam." jawab Arka kemudian.


"Aaaa, meleleh deh hati aku. Pengen gebuk kamu pake sendal rasanya."


Arka tertawa kecil mendengar ucapan istrinya tersebut. Entah mengapa dimata Amanda, ia bersikap sangat cool dan romantis sekali hari ini. Tak seperti hari-hari biasanya yang santai dan penuh canda tawa. Arka yang kini ada disampingnya, tampak seperti tokoh utama tampan dan baik hati didalam sebuah drama Korea.


Arka mengemudikan mobilnya, mereka lalu berbincang banyak hal. Namun ditengah perjalanan menuju penthouse, tiba-tiba pemuda itu membelokkan mobil yang ia kemudikan. Ke arah sebuah mall yang sering mereka kunjungi.


Amanda menatap Arka, pemuda itu kini membawa mobil mereka ke parkiran basemen mall.


"Ka, kamu mau beli sesuatu." Amanda bertanya pada suaminya itu, Arka kini telah menemukan lahan parkir.


"Bukan aku tapi kamu." jawab Arka singkat.


"Koq aku?. Kan aku nggak ada niat mau beli sesuatu. Tadi aku nggak bilang juga mau ke mall."


"Aku yang beliin." ujar Arka lalu keluar dari dalam mobil. Amanda yang masih bingung pun ikut keluar.


"Maksudnya, kamu mau belanjain aku?"


Amanda bertanya lagi pada suaminya, usai menutup pintu mobil. Mereka kini berjalan ke arah pintu lobi parkir basemen mall.


"Iya, kan selama kita nikah. Kamu cuma belanja sekali, itupun pas kamu hamil. Sisanya kita beli barang buat anak-anak."


"Tapi kan barang aku masih banyak, Ka. Masih bagus-bagus juga."


"Ya nggak apa-apa, ayok...!"


Arka membukakan pintu lobi, lalu mereka pun masuk ke dalam. Arka menyuruh istrinya membeli apa saja yang ia mau. Baju, tas, sepatu dan lain sebaginya. Termasuk skincare dan haircare. Karena skincare dan haircare Amanda pun sudah mau habis, Ia belum sempat membeli yang baru.


"Ini nggak apa-apa, Ka. Aku beli sebanyak ini?" Lagi dan lagi Amanda bertanya pada suaminya.


"Nggak apa-apa, ambil aja." ujar Arka meyakinkan.


Amanda tersenyum lalu mengambil skincare apapun yang ia mau, yang harganya tak begitu mahal tentunya. Sebab ia juga tak ingin memberatkan suaminya itu, meskipun sang suami mengizinkan. Ia tahu jika telah mengajak belanja seperti ini, pastilah Arka memiliki uang yang cukup bahkan lebih.


Namun alangkah baiknya sebagai istri, jika kita tidak terlalu memanfaatkan situasi. Karena mencari uang itu tidaklah mudah. Masih ada hari esok lusa, yang juga membutuhkan uang.


"Aku ambil ini, ini, ini sama ini." Amanda menunjukkan skincare yang ingin ia beli pada Arka.


"Makeup nya nggak sekalian?" tanya Arka.


"Emang boleh, makeup kan mahal, Ka."


"Iya aku tau, di lokasi syuting juga semua artis pake makeup. Aku tau itu mahal, tapi ambil aja kalau kamu mau."


"Beneran, Ka?"


Amanda menatap suaminya.


Amanda sumringah. Mendadak ia mencium pipi Arka, lalu mengambil beberapa kosmetik yang kira-kira ia perlukan.


"Ka, anak-anak nggak kita beliin apa-apa nih?" tanya Amanda ketika mengantri di kasir.


"Hari ini khusus buat kamu, keperluan anak-anak masih cukup dan lengkap semua. Mereka bisa lain waktu. Pokoknya kamu dulu, ambil apapun yang kamu butuh. Abis ini mau belanja lagi juga nggak apa-apa."


Amanda kembali tersenyum.


"Ok." ujarnya kemudian.


Usai berbelanja, Arka mengajak Amanda makan bersama. Tak ada hal istimewa yang terjadi ditempat itu, hanya makan siang biasa yang diisi obrolan ringan. Sampai kemudian, Arka mengambil makanan dan hendak menyuapkannya pada Amanda. Amanda terdiam menatap Arka, namun ia pun lalu menyambut makanan itu. Ada perasaan aneh yang kini menjalar di hatinya. Seperti sebuah perasaan yang begitu gembira, layaknya remaja yang tengah kasmaran.


"Kita kayaknya nggak pernah jalan berdua, ya." ujar Arka kemudian.


"Ini berdua." tukas Amanda.


"Ya baru kali ini."


"Dulu pas hamil?"


"Itu bukan berdua, tetep aja berempat namanya. Kan mereka di dalam."


"Iya sih."


"Kita apa-apa konsentrasinya jadi ke mereka, mau ngapa-ngapain mikirin mereka. Nggak pernah kita fokus ke kita berdua."


"Waktu ke Bali?"


"Fokusnya kan ke tujuan, saat itu. Kamu nya pengen hamil, akunya juga pengen buktiin kalau aku bisa ngehamilin kamu. Dan kita saat itu belum sadar kalau kita sama-sama suka. Jadi kita nggak saling fokus ke pasangan, cuma fokus ke tujuan masing-masing."


"Jadi kamu pengen kita sering jalan berdua kayak gini?" tanya Amanda lagi. Arka pun tersenyum.


"Boleh, kan?" tanya Arka seraya menatap istrinya itu.


Amanda tertawa.


"Ya boleh-boleh aja, aku juga seneng jalan berdua kayak gini."


"Iya, sekali-sekali kita pacaran." ujar Arka lagi.


Amanda gantian menyuapi suaminya itu.


"Ini kan jum'at, gimana kalau besok sabtu kita jalan bareng lagi." Arka mencetuskan ide yang cemerlang.


"Anak-anak titipin Anita gitu?" tanya Amanda.


"Ya biarin aja, biar mereka main sama Rasya, Rania. Dirumah kamu yang satunya."


Amanda mengangguk.


"Boleh juga." ujar Amanda kemudian.


"Tapi kita jangan pake mobil."


"Gimana-gimana?" tanya Amanda pada Arka.


"Belum pernah ngerasain kan, pacaran nggak pake mobil?" tanya Arka.


"Ya kan aku emang nggak pernah pacaran, dulu sama Nino ketemu-ketemuan doang di Kota tua. Itupun tinggal jalan doang dari SMP aku."


Arka menatap Amanda sambil tersenyum agak lama.


"Kayaknya seru deh. Besok ya, kita jalan." ujar Arka kemudian.


Amanda pun tersenyum membayangkan hal tersebut.