Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Nyamuk


"Sabar ya." ujar Arka pada Amanda, ketika kepala Amanda berlabuh di bahunya.


"Nanti dirumah." lanjutnya lagi.


Amanda tersenyum lalu mencubit dada Arka, tepat pada bagian sensitif pria itu.


"Ssshhh." ujar Arka menahan rasa, antara sakit tapi juga menikmati.


"Nakal ih, kamu. Awas ya nanti pulang, aku sembur sampe terngiang-ngiang." ujar Arka kemudian.


Lagi-lagi Amanda tersenyum.


"Man."


"Hmm?"


"Kalau selama kita berumah tangga, ada hal yang belum maksimal aku lakuin. Aku minta maaf ya." ujar Arka.


"Aku juga minta maaf, Ka. Aku belum ngerasa jadi istri yang sempurna untuk kamu."


Arka memeluk istrinya itu.


"Nggak harus jadi sempurna, aku ngerasa kamu udah melakukan yang terbaik menurut versi kamu. Tapi aku yang masih selalu merasa kurang maksimal terhadap kamu."


"Nggak koq, Ka. Aku justru bahagia banget bisa ketemu dan menikah dengan orang kayak kamu. Aku berharap kita bisa selamanya, jangan ada yang ngerusak hubungan kita."


"Aku janji." ujar Arka seraya menatap mata Amanda.


"Seberapapun beratnya, aku akan berusaha menjaga apa yang sudah menjadi komitmen kita berdua."


Amanda mengangguk, ia semakin memeluk Arka.


"Ada nggak yang nggak kamu suka dari aku, Ka?"


"Ada."


"Apa itu?"


"Kalau jauh dari kamu."


"Ih kamu mah gombal, maksud aku sifat atau kebiasaan aku."


Arka berfikir.


"Mmm, ada."


"Apa?"


"Kamu tuh nggak gampang cemburuan. Jadi kadang aku bingung, kamu takut nggak kehilangan aku?"


"Kamu koq ngomongnya gitu, aku pasti takutlah kehilangan kamu. Cuma aku nggak bisa nunjukin aja. Aku juga nggak bisa mengekang dan menghalangi kamu untuk ngelakuin banyak hal. Aku maunya jadi istri, bukan jadi penjara buat kamu."


"Tapi kamu udah penjarain hati aku, gimana dong?"


"Ih, kamu mah. Kamu juga penjarain hati aku, tiap hari tuh aku selalu mikirin kamu kalau lagi di kantor."


"Oh ya?"


"Iya, kamu kalau di kantor inget aku nggak?" tanya Amanda.


"Ya pasti, dong. Masa aku inget Rio, males banget."


Kali ini mereka berdua tertawa.


"Laper lagi nggak, kamu?" tanya Arka kemudian.


"Sebenarnya iya sih, tadi lupa belanja dulu sebelum kesini."


"Di lantai ini ada restorannya loh." ujar Arka.


"Oh ya?" Amanda tak percaya.


"Iya, ada. Mau makan?"


"Mau."


"Nih."


Tiba-tiba seseorang muncul di belakang mereka, sambil meletakkan dua piring nasi goreng beserta es jeruk.


"Rio?" Arka dan Amanda terhenyak kaget.


"Ngapain sih lo, disini?" tanya Arka sewot.


"Wuis santai dong, mas Arka. Masa iya cuma lo berdua doang, nyamuknya mana?"


"Oh jadi lo mau jadi nyamuk?" tanya Amanda seraya tertawa.


"Iya, dong. Ngung, ngung, ngung. Nggak akan gue biarkan lo berdua nyaman ngobrol berdua aja. Harus ada biang pengganggunya, yaitu gue."


"Lo bukannya tadi udah gue suruh dirumah?. Ganggu aja."


"Lo lupa, ini tempat kan punya bapak gue. Jadi kalo malem, gue sering kesini."


"Kan bisa hari lain." Arka makin sewot.


"Udeh makan, bini lo laper tuh. Kalau kagak makan, gue yang makan."


"Jangan, jangan, jangan." ujar Arka dan Amanda lalu meraih piring berisi nasi goreng tersebut dan memakannya.


Rio duduk di dekat mereka seraya menghisap pod Vape.


"Lo nggak makan, Ri?" tanya Arka kemudian.


"Udah, dua kali malah."


"Lo udah lama disini?" tanya Arka lagi.


"Jahat lo, emang." ujar Arka.


"Terus kenapa nggak jadi?" tanya Amanda.


"Takut Arka ngadu ke bapak gue, terus gue diomelin sama dia."


Arka tertawa.


"Tau nggak, Man. Bapaknya Rio kalo ngomel kayak emak-emak."


"Oh ya?" tanya Amanda setengah tertawa. Ia menatap Arka lalu menatap ke arah Rio yang juga nyaris tertawa.


"Iya, bapaknya itu kalau ngomelin Rio. Udah kayak ngomelin anak durhaka."


Amanda tak kuasa menahan tawa.


"Bapak gue nih, Man. Gue salah apa, tapi yang diomelin termasuk kesalahan-kesalahan gue di masa lalu. Yang pas gue SD, SMP, SMA, itu diungkap semua sama bapak gue. Udah gitu ngocehnya seharian. Gue udah pergi nih dari rumah, tetep gue di cecar. Di wa, di telponin gue cuma buat ngomel doang."


Amanda masih belum bisa berkata apa-apa, karena masih tertawa.


"Kita nih temennya dia, kalau mau kerumah dia mesti nanya dulu. Ri, bapak lo lagi marah nggak?"


"Kenapa gitu?" tanya Amanda heran.


"Kalau nggak, kita keikutan di omelin juga."


Rio terkekeh-kekeh.


"Pernah tuh Arka dulu, dimarahin bokap gue. Dia sama Matt main dateng aja kerumah, kagak ada pemberitahuan. Pas banget gue dimarahin gara-gara apa ya, waktu itu."


"Gara-gara lo ngedeketin bu Atikah."


"Bukan, gara-gara nilai fisika gue jeblok."


"Bukan gara-gara deketin bu Atikah?"


"Bukan?"


"Bu Atikah siapa, Ka?" tanya Amanda lagi.


"Ada, guru biologi. Kita kira single, taunya bini orang. Suaminya mencak-mencak, gara-gara Rio ngungkapin cinta di sms."


Rio terkekeh begitupula dengan Amanda.


"Ada-ada aja lu, Ri."


Rio masih tertawa.


"Mana gue tau dia bini orang, waktu itu dia masih umur 23 tahun. Gue sama Arka, Matt masih SMA."


"Terus-terus, koq Arka keikutan dimarahin?" tanya Amanda lagi."


"Ya, dia dateng pas bapak gue lagi marah. Kena omel dua-duanya, sampe pada diem."


"Hahaha." Amanda kian terbahak-bahak.


Obrolan malam itu pun berlangsung seru.


Arka membawa istrinya pulang tepat pada pukul 2:00 dini hari, saat itu cuaca lumayan dingin.


"Arka?"


Cintara yang malam itu tengah mengemudikan mobilnya di sebuah jalan, tiba-tiba saja mengenali Arka yang tengah mengendarai motor.


"Siapa tuh cewek?" gumamnya kemudian.


Cintara pun mengikuti motor Arka secara perlahan. Sementara di motor, Arka terus berbincang dengan istrinya.


"Kamu dingin nggak, sayang?" tanya Arka pada Amanda.


"Nggak terlalu sih, kan aku pake jaket."


"Beneran?. Kalau dingin tambahin pake jaket aku." ujar Arka lagi.


"Lah terus nanti kamu gimana?. Kamu kan yang diterpa angin dari depan. Kalau aku mah masih kehalang tubuh kamu."


"Ya kan kamu bisa peluk aku, kalau jaket aku kamu pake. Jadi aku masih tetep anget."


"Ih, nggak usah. Jaket ini udah cukup, koq. Aku peluk kamu ya, biar makin anget."


Amanda mempererat pelukannya terhadap Arka, Arka pun kini tersenyum.


"Tempelin lagi dong, sayang."


"Untung suami ya, Ka. Kalau pacar yang minta gini, udah aku gampar kamu dari tadi." ujar Amanda. Arka terkekeh, Amanda kian memeluk suaminya itu.


"I love you, sayang."


"I love you too, suami ganjen."


"Hahaha."


Keduanya sama-sama tertawa. Sementara di mobil, Cintara terus mengikuti dengan hati yang remuk redam. Ia tidak tahu siapa wanita yang kini berada tepat dibelakang Arka tersebut. Tadi ia hanya sempat melihat wajah Arka, sebelum akhirnya mengurangi kecepatan agar bisa membuntuti keduanya.


"Siapa sih tuh, si cewek brengsek." gerutunya lagi.


"Bisa-bisanya si Arka jalan sama dia. Secakep apa sih mukanya, pengen liat gue."


Ia terus mengemudi mengikuti pria itu, sampai kemudian Arka berbelok ke sebuah penthouse.


"Arka tinggal di penthouse ini?" gumamnya tak percaya.


Cintara pun memberhentikan mobilnya tepat di depan penthouse tersebut. Namun Arka dan si wanita yang tak lain adalah Amanda itu, keburu menghilang ditelan gelapnya parkir motor.