Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Dimana Amanda


Arka mendapat telpon dari mbak Arni, bahwa ia harus kembali bertemu dengan Vera. Tentu saja untuk membicarakan kerjasama diantara mereka lebih lanjut.


Siang itu juga Arka menyambangi kantor healthy food, tempat dimana Vera bekerja. Sesampainya disana, Arka disuruh menunggu di ruang meeting. Karena presiden direktur dari perusaan itu ingin bertemu dengan Arka.


Arka menurut saja ketika ia disuruh menunggu. Sampai kemudian seorang pria berusia 60an tahun masuk dan menyapanya. Arka terkejut, pasalnya ia pernah bertabrakan dengan laki-laki itu di lift.


"Arka, ini pak Amman. Presiden direktur perusahaan ini." ujar orang yang tadi menyuruh Arka menunggu.


"Siang pak." tukas Arka seraya menjabat tangan Amman.


"Selamat siang."


Amman mempersilahkan Arka untuk duduk. Tak lama setelahnya meeting pun dimulai. Pihak production house yang didaulat untuk mengerjakan iklan tersebut, kemudian mengadakan semacam screen tes pada Arka.


Lalu tanpa membuang banyak waktu lagi, segera saja hasil screen tes itu diperiksa dan dilihat secara seksama oleh Amman dan juga para petinggi di perusahaan itu.


Arka pun mendapat kontrak sebagai brand ambassador dari produk mereka. Tentu saja Arka senangnya bukan kepalang. Betapa tidak, honor yang dijanjikan padanya lumayan besar. Dan itu bukan isapan jempol semata, pihak perusahaan tersebut berani membayar dimuka.


Mereka juga meminta pihak production house segera melakukan proses syuting, agar periklanan produk mereka bisa segera rampung dan tayang di berbagai media.


"Gimana, Ka?" tanya Amanda pada Arka, ketika Arka akhirnya menelpon.


"Dapet, Man. Aku udah tanda tangan kontrak sama mereka." jawab Arka.


"Selamat ya, Arka. I'm happy for you." ujar Amanda gembira.


"Iya, Man. Makasih ya, ini rejekinya kita sama anak-anak."


"Iya, makasih juga atas usaha dan kerja kerasnya ya Ka."


Arka tersenyum.


"Sama-sama, Man. Makasih atas doa dan dukungannya."


"Iya, kamu pantes mendapatkan itu semua. Selalu semangat ya, Ka."


"Iya tante sayang, I love you."


Amanda tersenyum mendengar itu semua.


"Ntar pulang, aku bikinin nasi kuning." ujar Amanda seraya tertawa.


"Halah, kayak bisa aja kamu." seloroh Arka


"Bisa dong, ye."


"Ok, buktiin ya!"


"Sip, nanti aku bikinin."


"Ok, ya udah. Aku masih ada urusan sama mereka habis ini." ujar Arka.


"Ya udah, aku juga mau makan lagi." tukas Amanda.


"Makan yang banyak, jagain tuh si Siang-Malam yang ada di perut kamu."


"Atlantik-Fasifik, Ka." ujar Amanda seraya tertawa.


"Oh udah ganti nama mereka?"


"Iya sekarang samudera, besok kutub."


"Ya udah aku kerja dulu ya, Man."


"Iya, dah Arka."


"Dah, Amanda."


Keduanya sama-sama menyudahi panggilan tersebut, dan melanjutkan aktivitas masing-masing.


***


Disudut sebuah kampus.


"Serius lo Nad, udah jadian sama pak Nino?" tanya Viona antusias.


Nadine mengangguk penuh semangat.


"Gue kirain kagak bakal jadi. Kan terakhir Lo bilang, pak Nino itu kasar dan nggak berperasaan." ujar Viona lagi.


"Awalnya sih iya, tapi lama-lama dia luluh juga."


"Wah, selamat ya Nad. Gue seneng akhirnya lo punya cowok."


"Gue juga nggak nyangka koq. Eh Dito sama Fahri mana?" tanya Nadine kemudian.


"Lagi sibuk sama gebetan baru mereka."


"Oh ya, bisa punya gebetan juga tuh dua kecoa timur tengah."


"Bisa, katanya anak hukum. Cakep katanya sih."


"Lo belum liat?" tanya Nadine.


Viona menggeleng.


"Gue aja nggak boleh deket-deket mereka. Katanya ntar cewek-cewek pada cemburu."


"Dih belagu banget, gue injak juga palanya ntar satu-satu." seloroh Nadine.


Viona tertawa.


"Lo kayak nggak tau Fahri sama Dito aja. Ntar ujung-ujungnya paling di friendzone, balik lagi ke kita curhatnya."


Kedua gadis itu pun cekikikan.


***


Sore hari menjelang matahari terbenam. Amanda yang sebentar lagi pulang, tampak tengah membereskan file yang berserakan dimeja.


"Bu, ada yang nyari ibu di lobi."


Pia sang sekretaris berujar pada Amanda. Wanita itu tersenyum, pastilah Arka yang ada disana.


"Iya, ntar saya temui." ujar Amanda.


Tak lama kemudian, Amanda pun mengambil tasnya dan berjalan menuju lift. Sesampainya dibawah, ketika ia baru saja hendak mengagetkan orang tersebut. Ia pun tersadar jika yang berdiri disitu bukanlah Arka.


Amanda segera menarik diri dan berjalan ke arah lain, sebelum orang tersebut sempat menyadari kehadirannya.


"Pia, kenapa kamu nggak bilang kalau dia yang datang?" tanya Amanda ditelpon.


"Loh, saya kira ibu tau. Kalau yang datang itu pak Amman, papanya ibu."


"Amanda."


Sebuah suara terdengar di kejauhan. Amanda hendak menoleh, namun teringat bagian perut depannya yang membesar. Tak mungkin ia memberitahu ayahnya tentang hal ini.


Ia pernah berkata dihadapan ayahnya, bahwa ia tak akan melanjutkan keturunan. Karena ia membenci laki-laki, sama seperti ia membenci kelakuan ayahnya. Amanda tak ingin terlihat sebagai orang yang menjilat ludah sendiri. Maka detik berikutnya,


"Byuuur."


Amanda bergegas kabur dan langsung masuk ke dalam mobil yang ada di halaman parkir.


Amman mengejar putrinya itu.


"Pak, pak. Jalan, pak!" perintah Amanda pada supir.


Mobil pun berjalan, Amman bergegas menuju ke mobilnya dan mengejar Amanda.


"Pak, ngebut pak!. Jangan sampe dia mendapatkan kita." ujar Amanda lagi


Pak Darwis sang supir pun menambah kecepatan.


***


"Ka, aku dirumah ibu."


Amanda tiba-tiba menelpon dan memberitahukan hal tersebut pada Arka. Setelah ia dan pak Darwis adu kecepatan dengan Amman selama beberapa saat. Arka sendiri tak percaya pada apa yang barusan dikemukakan oleh istrinya itu.


"Tumben kamu ke rumah ibu?" ujarnya kemudian.


"Lagi pengen aja, Ka. Ini anak-anak kamu kayaknya kangen sama kakek-neneknya, sama tantenya juga."


Amanda mengalaskan bayi-bayi yang ada dalam perutnya, padahal sesungguhnya ia hanya tengah kabur dari kejaran Amman. Agar Amman sedikit sulit mencari keberadaannya. Pasalnya Amman mengetahui semua alamat rumah Amanda.


"Ya udah deh, ini juga aku udah selesai. Nanti aku langsung kesana." ujar Arka.


Beberapa saat berselang, bu Mawar dan team lambe gosipnya sudah terkumpul di depan rumah orang tua Arka. Ada yang berpura-pura memotong tanaman, padahal tanaman itu bukan miliknya.


Ada yang nongkrong bersama para bocil di pedagang ikan hias. Ada juga yang sambil membeli cilok serta cimol yang pedagangnya kebetulan lewat.


Mereka semua kompak memperhatikan rumah orang tua Arka, dimana Amanda tengah berada didalamnya. Sesekali Amanda seliweran keluar, bu Mawar dan komplotannya bisa melihat dengan jelas wajah serta perut istri Arka yang membuncit itu.


"Si Arka pinter juga ye, tembakannye. Sampe melendung gede gitu si Amanda." ujar Dini pada bu Mawar.


"Jadi pengen di semprot sama Arka." timpal Miska yang mengundang toyoran anggota teamnya.


"Arka mana mau sama elu, jeng. Elu nggak kaya." ujar Nia.


"Ih, gini-gini kan saya juragan bakso aci." Miska membela diri.


Mereka cekikikan sementara Miska masih sewot.


"Kalau kayak gini caranya bu ibu, mending suruh anak-anak kita cari tante juga. Kan lumayan kalau dapet model Amanda."


Bu Mawar memberi saran kepada para membernya.


"Bener juga tuh bu Mawar." timpal salah seorang dari mereka.


"Kalau punya menantu model kayak si Amanda, nggak perlu kerja keras lagi."


Mereka kembali cekikikan.


Tak lama kemudian, sebuah mobil sport masuk ke pekarangan rumah itu. Bu Mawar dan gengnya memperhatikan tanpa berkedip. Apalagi ketika melihat Arka keluar dari dalam mobil tersebut.


"Wah, bener-bener si Arka."


Bu Mawar berujar dengan bibir menganga.


"Bu ibu, download aplikasi minder bu. Pasang foto anak-anak kita yang ganteng." ujar bu Mawar kemudian.


Arka masuk kedalam rumah dan langsung disambut Amanda dengan pelukan.


"Hmmm, kangen banget sama kamu." ujar Arka lalu mengecup kening istrinya. Tak lama Arka pun menghampiri sang ibu dan memberinya pelukan pula.


"Papa belum pulang, bu?" tanya Arka pada ibunya.


"Belum, mungkin agak malem." jawab sang ibu.


"Rianti mana?" tanya Arka lagi.


"Masih dirumah temennya, ngerjain tugas katanya."


"Oh."


Arka melihat ada nasi tumpeng kuning di atas meja makan.


"Ibu bikin ini?" tanya Arka seraya mengamati lebih dalam.


"Istrimu tuh, katanya kamu yang minta."


"Man, kamu bikin ini?" teriak Arka pada Amanda yang masih berada di ruang tamu. Amanda pun mendekat.


"Nggak, beli."


"Hehehe."


Istrinya berujar sambil nyengir.


"Kirain, cepet banget kamu bikin."


"Itu mustahil, Ka." ujar Amanda kemudian.


Malam itu setelah kepulangan ayah Arka dan juga Rianti, mereka semua mengadakan doa syukur bersama. Atas segala rejeki yang datang di kehidupan mereka.


Tak lama mereka mulai memotong dan membagi tumpeng tersebut. Arka pun baru menyadari jika Amanda membeli tumpeng-tumpeng kecil lainnya.


Dan itu dibagikan ibunya ke tetangga. Amanda dan Rianti turut mengantarkan. Setelah semua tetangga dibagikan, Amanda mengambil lagi dan membawanya keluar.


"Bu, ngapain disini?"


Amanda bertanya pada bu Mawar dan gengnya yang bersembunyi dibalik pagar tanaman.


"Hehehe, cosplay jadi benalu neng." ujar bu Mawar sambil nyengir.


"Iya neng, benalu tanaman." ujar Miska menimpali ucapan ketua gengnya.


"Oh gitu, ini buat ibu-ibu."


Amanda menyerahkan satu plastik besar berisi tumpeng-tumpeng mini kepada mereka."


Bu Mawar dan yang lainnya saling pandang.


"Ini bu, ambil aja!" ujar Amanda."


"Hehehe, makasih ya neng."


Bu Mawar mengambil tumpeng tersebut, lalu menyeret para membernya untuk menjauh.


"Pamit ye, neng. Hehehe."


Amanda mengangguk lalu tersenyum.


"Amanda."


Arka menghampiri istrinya yang tampak berdiri sendirian.


"Kamu tadi ngomong sama siapa?" tanya pemuda itu heran.


"Sama ibu-ibu itu."


Amanda menunjuk ke suatu arah. Namun Bu Mawar dan anggota gengnya sudah menghilang. Seketika suasana pun menjadi horor. Arka lalu membawa istrinya masuk kedalam.