
Arka mengupload foto lawas dirinya dan Amanda ke laman sosial media miliknya. Ia juga menuliskan cerita pada caption foto tersebut. Bahwasannya gadis kecil yang menggendongnya itu sekarang telah menjadi istrinya.
Dalam hitungan menit, postingan tersebut mendadak viral, dan menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet. Banyak diantara mereka tak menyangka, jika Arka dan Amanda sejatinya telah dipertemukan sejak mereka masih kecil.
Arka pun memberitahu ibu dan ayah tirinya mengenai hal itu. Kedua orang tuanya terkejut, sekaligus tak menyangka. Jika gadis yang bersama Arka didalam foto tersebut, adalah jodoh Arka dikemudian hari.
"Ya ampun Arka, ibu sama papa masih merinding ini." ujar ibunya di telpon.
"Bisa gitu ya, mas." celetuk Rianti. Tampaknya sang ibu mengaktifkan load speaker di handphonenya.
"Namanya juga jodoh, Ti. Nggak ada yang tau." ujar Arka. Mereka lalu lanjut berbincang dan tertawa-tawa.
Orang-orang terdekat Arka dan Amanda lainnya pun tak kalah heboh. Mereka juga banyak yang tak menyangka jika kisahnya akan demikian.
"Iya gue inget waktu itu, anjir." ujar Rio antusias.
"Yang muka lo merah banget, Ka. Kayak pantat monyet."
"Anjir." Arka tertawa.
"Ternyata itu tante Firman. Ya ampun, sempit ya dunia."
"Hahaha, namanya juga jodoh Ri."
Dan kehebohan itu pun kian menyebar.
***
"Man, aku jemput ya." Arka menelpon istrinya di suatu sore. Ini sudah hari ke lima pasca ia mengunggah foto masa lalunya bersama Amanda, dan publik masih saja heboh.
"Iya, aku udah kelar koq." ujar Amanda.
Arka pun meluncur ke kantor Amanda.
"Hallo beb." ujar Arka ketika Amanda telah masuk ke dalam mobil.
"Hallo juga beb." jawab Amanda.
Lalu mereka terdiam satu sama lain.
"Apa sih kita?. Iiih." ujar keduanya bergidik ngeri, lalu tertawa.
"Kayak anak alay ya, Ka."
"Kayak bocil yang suka nongkrong sambil ngelem tau nggak."
"Hahaha." Keduanya terbahak-bahak.
Mobil pun mulai merayap.
"Oh iya." ujar Amanda, seraya mengambil sesuatu dari dalam paper bag yang ia bawa.
"Kenapa, Man?" tanya Arka.
"Nih, Ka."
"Apa itu?"
"Cimol sama tahu krispi."
"Mau." ujar Arka.
Amanda lalu menyuapi suaminya itu.
"Beli dimana kamu?" tanya Arka sambil mengemudikan mobil.
"Tadi Satya sama Deni yang beli, aku nitip deh."
"Mau lagi." ujar Arka.
Amanda pun kembali menyuapi suaminya itu.
"Ini ada sempol, mau?" tanya nya kemudian.
"Mau juga."
Arka memperlambat laju kendaraannya dan kini ia menikmati makanan yang dibawa oleh istrinya itu.
"Sempol ayam bikin tentram."
"Sempol puyuh, gampang guyu."
Mereka menyanyikan lagu milik Kekeyi yang seharusnya berjudul pentol ayam tersebut, sambil berjoget-joget.
"Sempol kasar, bikin aku sabar. Sempol sapi, bikin aku happy."
"Walau banyak yang bully, ku tak peduli. Karena ku queen sempol."
Mereka terus berjoget-joget seperti kesurupan, hingga melintasi sebuah jalan. Tiba-tiba mereka melihat kerumunan dan mobil mereka pun di stop oleh beberapa orang.
"Ada apa, pak?" tanya Arka seraya membuka kaca mobil.
"Tolong pak, ada yang mau melahirkan."
"Hah?.
"Ka, Ka. Turun, Ka." ujar Amanda
Arka pun segera memarkir mobil, lalu mereka turun dan menghampiri orang yang dimaksud. Dan betapa terkejutnya mereka, ketika melihat siapa orang itu.
"Veraaaa?" teriak keduanya sambil mendekat.
Vera sudah tampak kesakitan sekali, ia bersandar pada sebatang pohon sambil memegangi perutnya yang membuncit.
"Kenapa kamu bisa ada disini sendirian sih?" tanya Arka panik.
"Ra, Rachel." ujarnya sambil mengambil nafas.
"Rachel?" Amanda dan Arka saling bersitatap.
"Kenapa Rachel?" tanya Amanda kemudian.
"Nanti aku jelasin, ini udah mau lahir. Tolong..!"
"Ok, ok. Ka, kita bawa dia ke rumah sakit."
"Ok."
Tak lama kemudian Nino melintas, ia melihat ada mobil Arka dan juga Amanda. Pria itu lalu buru-buru turun, karena menyangka telah terjadi sesuatu pada kedua saudaranya itu.
"Ka."
"Sakiiiit." teriak Vera seraya masih berusaha mengambil nafas. Amanda tau bagaimana rasanya, karena ia pernah melahirkan.
"Ok, tenang dulu. Kita bawa kamu kerumah sakit." ujar Arka.
"Amanda, cari papa kamu. Dia harus ada saat anak ini lahir, karena aku udah janji. Aku udah coba hubungi dia tapi nggak bisa."
Amanda menatap Vera, lalu menatap Arka dan Nino. Nino sejatinya tak begitu kaget, karena ia pernah diberitahu Arka jika Vera mengandung anak dari ayah Amanda. Saat itu ia belum mengetahui, jika ayah Amanda juga merupakan ayah kandungnya.
"Ya udah, Ka. Kamu sama Nino bawa Vera ke rumah sakit, aku cari papa."
"Tapi, Man."
Amanda merampas kunci mobil di tangan suaminya.
"Amanda."
Wanita itu telah naik ke mobil dan berlalu dengan kencang, sementara Arka dan Nino masih terperangah.
"Aaakh, sakit."
Seketika mereka pun sadar, jika masih ada Vera yang harus mereka urus. Arka lalu mengangkat wanita itu dan Nino menyiapkan mobil.
"Nin, lo bisa ngebut nggak?" tanya Arka.
"Nggak terlalu, ngeri gue di jalan sini."
"Ya udah lo dibelakang."
"Kenapa gue nggak di depan aja?"
"Ya Vera siapa yang nemenin."
"Kenapa mesti di temenin?" tanya Nino dengan ekspresi bloon. Ia belum pernah menghadapi wanita yang akan melahirkan.
"Nino, nanya lagi gue getok pala lo ya." ujar Arka gemas. Seakan hendak menghantam Nino dengan gas tiga kilo.
"Sakiiiit." Vera berteriak.
"Masuk, Bambang." teriak Arka kemudian. Mereka berdua pun buru-buru masuk ke mobil.
"Sakit." Vera terus mengeluh seraya memegang perutnya.
"Ka, ini gimana?" tanya Nino panik.
"Peluk Nin."
"Bukan bini gua."
"Nggak apa-apa, setidaknya lo meringankan rasa sakit yang dia alami." ujar Arka lalu menghidupkan mesin mobil. Nino menarik Vera kedalam pelukannya.
"Aaakh, nggak kuat." Vera meremas tangan Nino.
"Ka, gue yang sakit."
"Tahan dulu, ntar juga kalau lo punya bini. Bini lo beranak, lo bakalan jadi sasaran."
Arka fokus ke jalan.
"Aaakh, sakit banget."
Nino kian bertambah panik, begitu juga dengan Arka.
"Aw, Ka gue dicakar ini." ujar Nino lagi, karena Vera mendadak mencakar tangannya.
"Ntar juga kalau Nadine beranak, lo bukan lagi dicakar."
"Terus diapain?"
"Dimakan." ujar Arka. Pemuda itu terus menaikkan kecepatan.
Sementara Amanda, saking ngebutnya ia mengendarai mobil. Dalam sekejap ia telah sampai ke kantor Amman. Seisi kantor pun terkejut dengan kehadirannya. Bahkan ia menerobos masuk tanpa berbicara dulu kepada receptionist.
"Bu, mau kemana?" tanya sang receptionist.
"Diem disitu." ujar Amanda lalu sambil mengacungkan jari telunjuknya.
Ia lalu memencet tombol lift dan buru-buru naik ke atas, orang-orang di lantai atas pun mulai memperhatikannya. Pasalnya Amanda cukup terkenal di kalangan para pekerja dan pebisnis. Namun tak banyak yang mengetahui jika ia adalah anak dari Amman.
"Bu, maaf mau kemana.?"
Salah seorang sekretaris Amman mencegah Amanda.
"Mana pak Amman?" tanyanya kemudian, ia tampak begitu terburu-buru.
"Sedang rapat di dalam."
Amanda bergegas.
"Jangan masuk, bu."
"Minggir...!" ujar Amanda.
Meski dihalangi ia berusaha masuk dan terlihatlah Amman sedang memimpin sebuah rapat. Amman sendiri terkejut dengan kehadiran anaknya itu.
"Amanda?"
Tanpa basa-basi Amanda segera menarik Amman.
"Amanda, papa sedang rapat."
Seisi ruangan itu tercengang, mereka baru mengetahui jika Amanda adalah anak dari Amman.
"Amanda."
Amanda terus menarik ayahnya itu. Amman memberi kode pada jajarannya untuk menggantikan ia memimpin rapat.
"Kita mau kemana?" tanya Amman ketika mereka telah masuk ke dalam lift. Amanda masih belum bicara, ia terus menunggu lift tiba dibawah. Dan saat lift itu tiba di lobi, ia kembali menarik Amman.
"Amanda kita ini mau kemana?" tanya Amman sekali lagi.
"Papa ada rapat penting itu diatas."
"Vera." ujar Amanda kemudian. Ia kembali berjalan dan kini Amman yang mengejarnya.
"Vera, dia kenapa?" tanya Amman mulai panik.
"Mau melahirkan." ujar Amanda lalu berlari ke arah mobil.
Kini Amman pun tak banyak bertanya lagi, ia langsung ikut masuk ke dalam mobil Amanda.