
Sudah hampir satu minggu berlalu, Arka dan Amanda menghabiskan masa cuti mereka dirumah. Dalam kurun waktu tersebut, mereka selalu berinteraksi bersama kedua buah hati mereka.
Pagi ini saja, Arka menemani kedua anaknya menonton kartun. Sedang Amanda menyiapkan sarapan. Kebetulan saat bangun tadi, Azka dan Afka sudah dimandikan serta diberi ASI.
"Man, liat deh si Afka. Udah ngantuk berat tuh, tapi mau nonton." ujar Arka.
Amanda memperhatikan Afka lalu tertawa.
"Biarin aja, Ka. Ntar juga tidur."
"Apakah kalian melihat Swiper." Dora berujar di televisi.
"Hoayaaa." Azka mengangkat tangan dan menunjuk ke arah Swiper.
Arka tertawa.
"Ayo katakan, Swiper jangan mencuri." ujar Arka.
"Swiper jangan mencuri." ujarnya lagi.
"Eheeee." Azka malah tertawa.
"Ka, sarapan dulu." ujar Amanda.
"Udah jadi emangnya?" tanya Arka pada istrinya itu.
"Udah, orang roti bakar doang koq. Cepet."
"Susunya udah?" tanya Arka lagi.
"Udah nih." ujar Amanda seraya memakan roti yang ada di piringnya.
Arka beranjak lalu duduk disisi Amanda. Dihadapannya terdapat dua tangkup roti bakar, lengkap dengan segelas susu.
"Makasih ya, mama." ujar Arka membelai sejenak kepala istrinya itu. Amanda tersenyum lalu mengangguk. Mereka makan sambil sesekali melihat para bayi, yang kebetulan berada dihadapan televisi.
"Hoayaaa." Azka berteriak.
Seketika Amanda dan Arka sama-sama tertawa. Pasalnya kedua pasangan itu sama-sama melihat, jika Afka yang nyaris tertidur malah kaget dan bangun mendadak. Lantaran mendengar suara Azka.
Afka refleks mencolok mata kembarannya, Azka kaget dan memukul wajah Afka. Amanda dan Arka seketika terkejut dengan bibir yang sama-sama menganga.
"Man, gelut Man." ujar Arka lalu beranjak. Amanda pun sama bergegas mendekati anak-anaknya itu. Sementara Azka dan Afka masih terlibat baby war.
"Ka, Ka, Ka. Kukunya belum aku potong." Amanda dan Arka menjauhkan kedua anaknya yang baku hantam itu.
"Nggak boleh ya, masa kayak gitu sama saudara sendiri. Azka nggak boleh gede-gede suaranya, kalau Afka lagi tidur. Afka juga kalau marah jangan langsung nyolok mata." Arka menegur kedua anaknya. Sementara wajah kedua bayi itu masih sengit.
"Ya udah halangin guling aja nih." ujar Amanda lalu memberi penghalang di antara Azka dan juga Afka.
"Kalau berantem lagi, papa matiin TV nya. Biarin nggak usah nonton."
Kedua bayi itu pun lalu mengenyot jari dengan wajah tanpa dosa, meski ayah mereka tengah marah. Arka dan Amanda kembali ke meja makan.
"Baru tujuh bulan, Ka. Udah colok-colokan mata, gebuk-gebukan." ujar Amanda seraya menarik nafas dan menahan senyuman. Arka pun akhirnya tersenyum.
"Kaget loh aku, Man." ujarnya kemudian.
"Sama." ujar Amanda. Keduanya pun kini sama-sama tertawa dan melanjutkan makan yang tertunda.
***
Beberapa hari sebelumnya, dimana baby war belum terjadi dan mereka masih berada di rumah Ryan.
"Hueek."
Nino memuntahkan apa yang barusan ia coba makan. Ryan yang tadinya menyuapi kini meletakkan piring berisi makanan, ke atas meja di samping tempat tidur. Ia lalu menyusul Nino dan melihat kondisi anaknya, yang tengah muntah tersebut.
"Nino, are you ok?" tanya Ryan khawatir.
Nino bahkan belum bisa menjawab, lantaran mual yang ia rasakan begitu hebat. Ia masih ingin muntah rasanya, namun didalam perut sudah tidak ada isi apa-apa lagi. Sebab ia hanya makan sedikit sekali.
"Hueek."
Ia memuntahkan cairan berwarna kuning, nafasnya kini terengah-engah. Ia lalu menghidupkan flush dan menyiram kloset. Ia mengambil nafas dan coba memejamkan mata beberapa kali.
Nino mengangguk, lalu ia pun berkumur di wastafel dan mencuci muka. Usai menyeka wajahnya dengan handuk yang tergantung di holder, ia berjalan kembali ke arah tempat tidur. Dengan dibantu Ryan tentunya.
"Nino kenapa, dad?" tanya Arka, yang baru masuk ke dalam kamar bersama Ansel. Ia dan saudaranya itu habis membeli beberapa hal, yang diperintahkan oleh Ryan. Sedang Amanda kini makan, sambil mengasuh si kembar di lantai bawah.
"Dia muntah lagi." ujar Ryan lalu membantu membaringkan Nino ke atas tepat tidur.
"Lo sih, nggak mau makan." ujar Ansel seraya menumpuk dua bantal dibelakang Nino, agar saudaranya itu bisa bersandar. Sebab jika langsung berbaring, dikhawatirkan ia akan muntah lagi.
"Lo jangan ngoceh deh, Sel. Perut gue lagi nggak enak banget." ujar Nino.
"Ya itu karena lo susah makan, dari awal sakit lo udah mogok makan. Makan kalau dipaksa doang, kambuh kan maag lo. Kayak gini lo sendiri yang repot. Yang namanya sakit itu, mau lo minum obat semahal apapun. Kalau lo nggak makan, ya sama aja bohong. Tubuh tuh butuh asupan nutrisi, supaya ada tenaga."
"Kayak emak-emak lo, ah. Berisik banget."
"Emang gue emaknya semua orang, kenapa?. Mau protes?" ujar Ansel seraya mengambil piring berisi makanan, yang semula telah diletakkan oleh Ryan ke atas meja.
"Pokoknya, gue kasih jeda sama lo, beberapa menit. Abis itu lo harus makan pelan-pelan, gue suapin. Mau dua jam, tiga jam lo ngabisin ini makanan, gue tungguin." ujar Ansel.
"Dad, Ansel dad."
Nino berkata dengan nada setengah merengek. Ryan mengangkat kedua tangannya, tanda ia tak akan menolong Nino dari Ansel. Karena ini demi kebaikan dan kesehatan Nino sendiri.
"Well, Ansel. Good luck." ujar Ryan seraya menepuk bahu anak sulungnya itu.
"Ayo, Ka. Kita makan." ujar Ryan.
Arka pun lalu berbalik, mengikuti langkah Ryan.
"Mereka nggak apa-apa, dad?" tanya Arka.
"Ya, tapi lebih baik kamu makan. Karena mereka sebentar lagi pasti baku hantam." ujar Ryan seraya tertawa.
"Maksudnya, dad?"
Belum sempat Ryan menjawab, sudah terdengar keributan di kamar Nino.
"Itu lo banyak banget nyendokinnya, Ansel. Gue mual makan sebanyak itu."
"Lo nggak usah lebay deh, Nin. Biasa juga Lo makan pake sendok sayur." ujar Ansel sewot.
"Iya itu kan karena gue sehat, sekarang gue sakit. Mana bisa makan banyak, logika lo kemana. Kenapa daya nalar lo mandek?" gerutu Nino.
Mereka pun lanjut berdebat, sementara kini Arka dan Ryan tertawa.
"Kalau denger kayak gitu dari jauh, berasa mereka tuh nggak tumbuh-tumbuh. Kayak masih belasan tahun aja." ujar Ryan.
Arka makin tertawa, lalu kini mereka menuju meja makan. Kebetulan ada Amanda yang baru keluar dari kamar.
"Kamu sudah makan, Amanda?" tanya Ryan.
"Udah, dad. Baru aja, kalian mau makan?" Amanda balik bertanya.
"Iya." ujar Ryan.
Amanda pun bergegas mengambil piring, sendok dan gelas. Lalu melayani suami dan ayah mertuanya itu.
"Anak-anak mana, Man?" tanya Arka.
"Ada noh di kamar, lagi nonton Upin-Ipin."
"Oh." ujar Arka seraya tertawa.
"Mereka nggak tidur?" tanya Ryan.
"Nggak tau dad, disini mereka jarang tidur. Mau main terus."
"Karena rame mungkin." ujar Ryan.
"Iya kali ya." ujar Amanda seraya menuangkan minuman ke dalam gelas.
Mereka pun lalu makan dan lanjut berbincang-bincang, Amanda sendiri duduk disisi suaminya. Sesekali terdengar tawa, karena ada beberapa hal lucu yang tak sengaja masuk ke dalam topik obrolan.