
"Gimana nasib Rani?"
Amanda bertanya pada Amman yang kini duduk dihadapannya. Mereka berada di ruang kunjungan rutan, dan duduk saling berhadap-hadapan.
"Dia nggak akan lama menjalani hukuman, pengacara papa sudah mengurus semuanya. Dia akan segera berkumpul dengan anak-anaknya." jawab Amman.
Amanda menghela nafas, setidaknya ia merasa sedikit lega mendengar semua itu. Ia kasihan pada Rasya dan juga Rania yang masih kecil. Mereka sangat membutuhkan ibu mereka.
"Mantan suami Rani, dia sudah akan dijerat oleh hukum."
Amman menatap Amanda dan begitupun sebaliknya.
"Oh ya?" tanya Amanda kemudian.
Amman mengangguk.
"Ya, dia sudah membunuh anaknya sendiri yang bahkan belum lahir ke dunia. Kalau dia punya uang untuk bisa meloloskan diri dari jerat hukum. Maka kita juga punya uang untuk bisa mengembalikan dia ke jalur hukum."
Amanda tersenyum puas, bahkan dulu saat awal musibah itu terjadi. Ia pernah berjanji pada Rani, untuk menyeret mantan suami saudaranya itu ke penjara.
Namun karena saat itu Rani berubah jahat, Amanda pun lupa akan janjinya tersebut. Beruntung kini sang ayah mau mengurus hal itu demi keadilan.
"Kamu mau ngurus perusahaan papa?" tanya Amman pada Amanda.
"Pa, Amanda ngurus perusahaan sendiri aja rasanya mau kabur. Ditambah lagi perusahaan papa, udah cukup Vera aja yang ngurus."
"Nino?" tanya Amman lagi.
"Ya kali Nino mau, disuruh ngurus perusahaan daddy-nya aja nggak mau."
Amman tertawa.
"I miss him." ujarnya kemudian.
Amanda terdiam, sampai hari ini belum pernah sekalipun Nino berkunjung.
"Amanda akan bilang ke Nino." tukas wanita itu.
"No, nggak perlu." ujar Amman.
"I just want to say that." lanjutnya lagi.
Amanda dapat menangkap kesedihan di mata Amman, meski berusaha ia tutupi.
"Anakmu bagaimana?" tanya Amman pada Amanda. Wanita itu pun tersenyum.
"Mereka baik, dan agak lebih nakal." jawab Amanda.
Amman tertawa.
"Sudah sembilan bulan kan usia mereka?" tanya pria itu.
"Iya, dan sedang aktif-aktifnya kesana-sini."
Lagi-lagi Amman tertawa.
"Papa rindu mereka, sama dengan Amara."
Lagi-lagi Amanda menangkap kesedihan di mata ayahnya itu, namun masih dibalut dengan senyum dan tawa oleh keduanya.
Amanda kemudian pamit, ia tak lama berada disitu karena ada banyak hal yang mesti ia urus. Padahal jam kunjungan masih lama berakhir.
Mendadak Amman merasa sangat kesepian. Namun tiba-tiba petugas sipir penjara menyatakan, jika ada satu orang lagi yang ingin mengunjunginya.
Amman tak tahu siapa orang tersebut, dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika orang itu adalah Nino.
Tak ada reaksi berlebihan atas hal tersebut, Amman hanya sedikit terpaku menatap anak kesayangannya itu. Dan pada detik berikutnya mereka sudah terlihat saling berhadapan di meja, sambil membicarakan sesuatu.
***
"Eheeee."
"Eheeee."
"Sini sama om."
Jordan berujar pada Afka yang kini merayap ke bawah meja makan. Ia tengah dititipkan di rumah orang tua Arka. Sedang Azka dititipkan dirumah Ryan dan tengah merepotkan kedua paman bawelnya. Ya siapa lagi kalau bukan Nino dan juga Ansel.
Mereka sengaja dibagi dua, karena masing-masing kakek dan neneknya menginginkan mereka untuk datang. Dan untung saja mereka ada dua, jadi bisa berbagi.
Arka dan Amanda saat ini tengah menemani Rasya dan Rania membeli peralatan sekolah
Sekaligus mengajak kedua anak itu berjalan-jalan.
Dalam satu bulan terakhir, Amanda dan Arka selalu menghabiskan waktunya untuk si kembar, dan hari ini saatnya kedua anak itu yang di bahagiakan.
"Om, Rania boleh nggak ambil ini?"
Rania bertanya pada Arka, ketika ia hendak mengambil satu set krayon.
"Boleh sayang, ambil aja." ujar Arka.
Ia dan kakaknya Rasya pun antusias memilih-milih barang yang mereka inginkan. Usai membeli segala keperluan, mereka diajak makan dan main di sebuah playground.
Kedua anak itu tampak begitu gembira, Arka dan Amanda hanya bisa tersenyum menyaksikan.
"Coba orang tua kami itu tante sama om. Pasti kami bahagia." seloroh Rania, ketika mereka telah selesai bermain dan bersiap untuk pulang.
Arka dan Amanda saling menatap satu sama lain. Amanda kemudian memberikan pengertian pada Rania.
"Tapi mama kadang jahat, papa juga jahat." timpal Rasya.
Arka dan Amanda kembali saling menatap. Tak dapat dipungkiri hal ini juga dikarenakan Rani dan David memang acap kali bertengkar didepan mereka. Mereka juga kadang tak sadar telah menunjukkan sifat jahat di depan kedua anak tak berdosa tersebut.
"Mm, kalian mau es krim?"
Amanda mencoba mengalihkan fokus kedua anak itu. Sambil terus berfikir, jawaban apa yang cocok untuk menanggapi ucapan mereka tadi.
"Mau, mau tante." ujar mereka antusias.
Amanda pun lalu membelikan mereka dua buah es krim. Lalu ia semakin larut dalam mengalihkan perhatian anak-anak itu. Tak lama setelahnya, mereka pun kembali ke rumah.
Usai mengantar kedua anak itu kepada Anita, Arka dan Amanda pun menjemput Afka. Ternyata anak itu tengah tidur bersama Jordan di salah satu kamar. Afka tidur di pelukan omnya tersebut.
Arka dan Amanda membiarkan sampai mereka bangun dengan sendirinya. Di sela-sela menunggu, mereka berbincang dan makan bersama dengan ibu dan juga ayah Arka. Kebetulan Rianti tengah pulang kampung, karena libur.
Usai menjemput Afka, mereka kini beralih ke kediaman Ryan. Bermaksud menjemput Azka. Ketika sampai, Azka terlihat tengah duduk sambil tertawa-tawa. Memperhatikan uncle Nino-nya yang tampak kesakitan, karena di kerok oleh Ansel.
"Kenapa lo, Nin?" tanya Arka pada saudara nya itu.
"Hey, Ka." ujar Nino menyapa.
"Nggak tau, agak nggak enak badan gue." lanjutnya lagi.
"Biasa, Ka. Begadang mulu." celetuk Ansel.
"Sel, pelan-pelan ah. Lo ngerok kayak mau ngajak berantem, anjir.
"Eheeee." Azka tertawa.
Amanda melepaskan Afka ke lantai. Dua anak itu kini bersandar pada sofa dan menatap Nino serta Ansel.
"Kenapa itu uncle?" tanya Amanda pada kedua anaknya.
"Hoayaaa."
"Eheeee."
Keduanya malah merayap kesana-kemari.
"Hello."
Tiba-tiba Ryan muncul dari pintu depan dan langsung dihampiri oleh kedua cucunya. Ryan pun langsung menggendong dan memeluk mereka.
"Dari mana, dad?" tanya Amanda.
"Dari beli semua keperluan yang sudah habis." jawab Ryan.
"Barangnya mana?" tanya Arka.
"Masih di mobil." jawab Ryan.
Arka pun keluar dan mengeluarkan semua barang belanjaan Ryan dari bagasi. Dengan dibantu Amanda, mereka membereskan barang tersebut ke atas meja makan.
Ryan mengajak anak dan menantunya untuk memasak bersama, sambil membicarakan hal-hal yang menyangkut dengan rencana-rencana mereka kedepan.
Nino berbaring di sofa sambil berinteraksi dengan si kembar, yang selalu tak pernah jauh darinya. Sementara Ansel membereskan rumah.
"Anseeel."
Nino berteriak dari dalam kamar, disaat Ryan dan Amanda tengah menyiapkan meja untuk makan bersama.
"Apaan sih ini?"
Nino memperlihatkan bekas kerokan Ansel. Seketika Arka, Amanda, dan Ryan pun tertawa terpingkal-pingkal.
"Itu peta Indonesia, Nin. Biar lo lebih nasionalis." seloroh Ansel.
"Nasionalis, nasionalis. Pantes aja tadi sakit banget. Gue tuh mau ketemu Nadine besok."
"Ya ketemu mah, ketemu aja. Kan baju lo ketutup."
Nino diam.
"Hmmm, mau berbuat begitu kan lo."
Ansel memberikan tatapan yang menyebalkan.
"Neraka, neraka, neraka." lanjutnya lagi.
Ia yang kini tengah belajar agama, mencoba menceramahi Nino.
"Siapa yang mau begituan, orang besok ada party temennya dia. Dan disitu temanya beach party, ada kolam renangnya juga. Masa iya gue berenang pake baju di atasnya."
"Ya lagian lo minta kerokin segala. Aturan mah nggak usah. Sama aja kan, walau bentuknya nggak peta. Ada bekas kerokan-kerokan juga."
Nino kembali terdiam.
"Iya kan?" ujar Ansel lagi.
Nino pun menyadari kebodohannya, lalu pria itu terlihat gusar.
"Tau ah, bodo." ujarnya kemudian.
Arka, Amanda dan Ryan makin tertawa. Tak lama setelah itu, mereka pun terlihat sudah berada di meja makan. Mereka makan bersama sambil berinteraksi satu sama lain. Sedangkan si kembar duduk di kursi khusus bayi dan diberi makan pula oleh Amanda.