
"Aarrgghh, kemana sih itu om-om?. Kan gue barusan kredit mobil, pake duit yang dia kasih. Kalau dia ngilang, nanti gue bayar pake apa?"
Maureen menggerutu sambil mengemudikan mobil kreditannya di sebuah jalan. Ia tengah mencoba menelpon Nino, yang sudah beberapa hari ini tak bisa dihubungi.
Maureen pun tak dapat mendatangi apartemen pria itu, karena ia berpesan pada pihak keamanan untuk tidak menerima tamu dari manapun.
"Apa mungkin dia balikan sama Amanda ya?. Terus sekarang mereka lagi berdua, di ranjang dan...?"
"Aarrgghh."
Maureen memukul stir kemudi dengan kesal. Ia tak suka membayangkan jika Nino memadu cinta dengan Amanda.
"Dasar tante-tante sial, sok kecakepan, sok sukses, sok paling lebih segalanya. Awas aja sampe gue kepergok elo sama Nino, gue habisin, lo."
Sementara disebuah tempat.
"Tolooong."
"Tolooong."
Seorang gadis tampak sedang berlarian. Ia menghindari pengejaran dari sekelompok laki-laki, yang tampaknya ingin berbuat jahat padanya.
"Tolooong."
Para laki-laki itu terus mengejar sambil tersenyum menyeringai.
"Buuuk."
Si gadis terjatuh, kakinya terkilir. Ia berusaha untuk bangkit dan berlari lagi. Namun salah satu dari laki-laki yang mengejar, keburu mendapatkannya.
"Lepaskan saya!"
Gadis itu memberontak, namun tangan si laki-laki begitu kuat mengunci pergerakannya.
"Tolooong."
"Tolooong." teriaknya lagi.
Laki-laki lainnya datang dan tertawa penuh kemenangan. Mereka mulai menggerayangi gadis itu, sementara sang gadis berusaha terus melawan.
"Tolooong."
"Tolooong."
Mereka membaringkan paksa gadis itu dan merenggut miliknya secara bergiliran. Gadis itu berteriak menangis dan terus minta tolong, namun tak ada seorangpun yang datang.
Karena itu adalah kawasan jalan sepi, yang tak berpenghuni sama sekali. Sisi kanan dan kiri jalan itu hanyalah hutan.
Sementara disisi jalanan lainnya lagi. Arka dan Rio pulang dari syuting malam itu. Mereka terjebak sebuah kemacetan yang panjang, lantaran ada penggalian kabel disepanjang jalan yang mereka lewati.
"Beh, ini mah nggak bakal jalan, bro." ujar Rio sambil menongolkan kepalanya dari kaca dan melihat ke depan. Kaca mobil sengaja ia buka, karena tadi sempat merokok.
"Nggak gerak sama sekali emangnya?" tanya Arka
"Mana ada gerak, bisa ulang tahun dijalan nih kita." ujar Rio lagi.
Arka tertawa demi mendengar ucapan itu. Meskipun dengan nada sewot, namun tetap terdengar lucu.
"Eh, belok sini aja nih." ujar Rio menunjuk ke sebuah jalan.
"Emang bisa lewat situ?" tanya Arka.
"Bisa, cuma agak sepi aja." jawab Rio.
"Koq mereka nggak pada lewat situ?" tanya Arka lagi.
"Pada nggak tau jalan ini mungkin, atau takut kuntilanak. Katanya sih tuh jalan ada kuntilanaknya."
"Ye, gue mah mendingan ketemu kuntilanak. Ketimbang kejebak disini sampe besok." ujar Arka.
Ia lalu membelokkan mobilnya ke jalan yang tadi disebutkan. Sebuah jalanan yang mulus namun sangat sepi, hanya ada satu atau dua rumah per berapa kilometer. Sisanya hanya hamparan hutan dan semak belukar.
"Ini baru dibikin ya, Ri?" tanya Arka kemudian.
"Iya." jawab Rio dengan wajah dingin, seperti orang yang kerasukan. Namun,
"Plaaak."
Arka mengeplak kepala sahabatnya itu.
"Nggak usah nakutin gue, Bambang."
Rio pun kini tertawa-tawa.
"Padahal gue udah all out tuh aktingnya, apresiasi kek."
"Kagak bakalan takut, gue." ujar Arka lagi.
"Lo tau Bayu Novaldi nggak sih?" tanya Rio.
"Yang kameramen Mine Production?" Arka balik bertanya.
"Iya, wah itu anak penakut banget tuh."
"Serius?"
"Iya, kan gue pernah syuting iklan bareng Mine Production. Nah syutingnya itu di vila puncak."
"Hmm, terus?"
"Rada serem tempatnya, anak-anak pada cerita setan kan pas lagi break. Dia ngacir, anjir. Langsung masuk kamar, selimutan seluruh badan."
"Hahaha, anjir. Cerita setan doang takut?. Gimana ketemu beneran?"
"Serius, dia penakut banget."
"Gubrak."
Arka menghentikan mobilnya secara mendadak. Ketika tanpa sengaja lampu mobilnya menyoroti sesosok yang tengah terbaring, sambil membuat gerakan seolah menggapai atau minta tolong.
"Ka, Ka, Ka. Jangan keluar, Ka!. Siapa tau kuntilanak atau pancingan begal." ujar Rio cemas.
"Ntar dulu, Ri. Itu kayaknya dia luka atau ketabrak. Arka mengambil tongkat baseball yang ada di jok belakang mobil, kebetulan ada dua. Ia memberikan satu pada Rio. Mereka berjaga-jaga, takut kalau itu adalah jebakan pembegal.
Mereka bergegas keluar, dan betapa terkejutnya Arka dan Rio ketika menyadari siapa orang tersebut.
"Liana."
Arka berteriak, lalu membuang begitu saja tongkat baseball yang ada di tangannya. Ia menghambur ke arah Liana, begitu pula dengan Rio.
"Liana, kamu kenapa?" tanya Arka panik.
"Arka, mereka memperkosa aku, Ka. Mereka memperkosa aku."
Hati Arka dan Rio hancur mendengar ucapan tersebut.
"Siapa, Li. Siapa pelakunya?"
Rio naik pitam dan kini melihat kesana kemari, ia mencari kalau-kalau pelakunya masih bersembunyi disekitar tempat itu. Sementara kini Liana histeris.
"Kita ke rumah sakit ya, Li." ujar Arka.
Ia benar-benar seperti ingin marah, sedih, dan segalanya bercampur jadi satu.
"Arka." Liana makin terisak dalam tangisnya.
"Riooo, buruan!"
Arka berteriak memanggil Rio, karena Liana sudah sangat butuh pertolongan. Rio pun kembali menghampiri Arka dan Liana dengan kemarahan yang begitu besar.
"Bangsat."
"Aarrgghh." teriaknya kemudian.
Andai saja mereka datang lebih cepat, pikir Rio.
Arka dan Rio kemudian membawa Liana untuk menuju rumah sakit. Sesampainya di depan rumah sakit, tanpa sengaja Maureen melihat Arka dari dalam mobilnya. Sementara Arka sendiri tak melihat Maureen, karena sudah sangat cemas dengan keadaan Liana.
"Ngapain Arka malem-malem gini ke rumah sakit?" gumamnya.
Arka membelokkan mobil, begitupula dengan Maureen.
Sampai didepan unit gawat darurat, Arka keluar sambil membawa tubuh Liana yang sudah sangat lemah. Gadis itu menerima banyak kekerasan. Mungkin ia melawan saat tadi hendak di ruda paksa, sehingga menyebabkan pelaku menyakitinya.
"Ahaaa."
Maureen mengeluarkan handphone dan mengambil foto Arka, yang tengah menggendong Liana tersebut.
Ia tidak tahu bahwasannya kini Liana dalam keadaan babak belur dan jadi korban pemerkosaan. Dan kalaupun ia tahu, sepertinya ia tidak akan begitu peduli. Ia hanya membutuhkan foto itu untuk sebuah tujuan.
"Jangan kasih tau Amanda soal ini, Ri. Belakangan semenjak hamil, dia gampang cemas. Gue takut kalau gue kasih tau, dia jadi kepikiran dan stress."
Rio mengangguk lemah, hatinya masih begitu hancur. Andai ia bisa menolong Liana lebih cepat, pikirnya. Ia menyukai wanita itu, bahkan sejak pertama bertemu. Namun ia selalu menepis perasaannya. Sehingga belakangan ini, ia menjadi tak begitu memikirkan Liana.
"Hallo."
Amanda tiba-tiba menelpon Arka, karena Arka tadi mengatakan jika ia telah berada di jalan pulang. Namun sampai beberapa jam berlalu, ia masih belum sampai. Amanda sangat khawatir dibuatnya.
"Amanda?"
"Kamu dimana, Arka. Kenapa belum pulang?"
"Hmm, tadi macet banget Man. Ini aku sama Rio lagi makan di pecel ayam." dustanya.
Arka menyerahkan telpon tersebut pada Rio.
"Man, ini gue Rio. Bentar lagi kita pulang, ya."
"Oh ya udah, yang penting kalian baik-baik aja. Gue tadi kepikiran, Ri." ujar Amanda.
"Kita baik-baik aja koq, Man. Tenang aja ya."
Rio menyerahkan kembali telpon tersebut pada Arka.
"Mau aku bawain makanan?" tanya Arka.
"Mau." ujar Amanda dengan suara rengekan khasnya yang manja.
"Ya udah mau apa?"
"Mau lele."
"Ok, ntar aku bawain ya."
"Hati-hati ya, Ka. Pulangnya."
"Iya, sayang."
"Dah, Arka. Aku mau main mobile legends."
"Ya udah, tunggu aku ya."
"Ok."
"Bro, kalau lo mau pulang nggak apa-apa. Biar gue yang jagain Liana. Kasian Amanda kalau sendirian."
"Lo nggak apa-apa gue tinggal?"
"Nggak apa-apa, bro. Santai aja. Ntar kalau ada apa-apa, gue kabarin ke elo."
"Ya udah."
Arka lalu mengambil handphonenya dan melakukan sesuatu.
"Bro, gue transfer ke elo. Kalau misalkan Liana butuh biaya tambahan, pake aja."
"Ok, bro. Ntar gue tambahin juga." ujar Rio.
"Gue balik ya." ujar Arka.
"Iya, hati-hati lo dijalan."
"Sip, kabarin gue kalau ada apa-apa."
"Ok."
Arka beranjak.
Beberapa saat berlalu, ia sudah tiba di penthouse. Secara serta merta Amanda pun memeluknya, seperti orang yang lama tidak bertemu.
"Ka, aku cemas banget."
"Nggak boleh gitu, Man. Kamu harus bisa berfikir positif dalam setiap keadaan, jangan mikir yang nggak-nggak."
"Aku biasanya nggak gini, Ka. Semenjak hamil tau sendiri, sensitif, cemas, cemburuan. Anak kamu nih gerak-gerak mulu, dari tadi kayak gelisah."
"Sekarang masih?" tanya Arka.
"Udah nggak. Udah tenang kali, denger kamu pulang."
Arka tersenyum, lalu mengusap-usap bayinya yang masih didalam. Bayinya pun memberi respon.
"Eh, gerak lagi." Arka tampak bahagia dan tersenyum.
"Nih makanannya." ujar Arka.
"Yeay." Amanda menerima makanan itu.
"Hmmm, wangi." ujarnya lagi.
"Makan gih, aku mau mandi dulu." ujar Arka. Amanda pun mengangguk.
***
Esok harinya di sebuah jalan, ibu Arka dan Rianti tengah melintas. Ketika bu Mawar si biang gosip tengah membicarakan seseorang.
"Eh jeng, tau kan si Arka. Kabarnya nih, yang saya denger dari anaknya temen saya. Dia jadi simpanan tante-tante."
"Serius bu Mawar?" tanya salah seorang lainnya.
"Serius, bu. Anak temen saya mergokin dia lagi sama tante-tante itu. Itu si tantenya lagi hamil, katanya."
"Hah?"
Ibu Arka menutup mulutnya karena syok, Rianti langsung menarik tantenya itu untuk menjauh.
"Ti, bener nggak sih apa yang dibilang bu Mawar?. Apa ibu tanya aja ke dia?"
"Jangan, bu. Nggak usah dengerin omongan yang kayak gitu, nggak berguna juga."
"Tapi, Ti."
"Udah, bu. Ayo jalan!"
Rianti menggamit lengan ibu Arka dan membawanya menjauh. Rianti dan Ibu Arka pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka baru saja ditransfer uang oleh Arka, dan disuruh belanja segala keperluan rumah yang telah habis. Arka juga melebihkan uang untuk Rianti.
Karena orang tua Rianti jauh dikampung dan hanya mengirim uang pas-pasan setiap bulan. Terkadang gadis itu tak memiliki uang lebih, untuk membeli keperluannya.
"Bu, ini bagus nggak?"
Rianti menunjukkan bibirnya yang kini dilapisi lip matte tester, ia berniat membeli jika cocok.
"Ini terlalu menor, Ti. Yang tadi aja, cakep."
"Serius bu, yang tadi aja?"
"Iya yang tadi aja."
Mereka lanjut berbelanja. Usai membayar, mereka pun mendorong troly ke luar. Mereka tampak bahagia. Namun kemudian mata ibu Arka menangkap sebuah pemandangan.
"Ti, itu kayak mas mu deh." ujar ibu Arka seraya menunjuk ke suatu arah. Ketempat dimana Arka dan Amanda tengah berjalan namun membelakangi mereka.
"Mana bu?"
"Itu, Ti. Di samping perempuan itu."
Rianti mengikuti arah pandangan ibu Arka.
"Ah nggak bu, mirip doang kali."
"Itu mas Arka mu, Ti. Ibu hafal cara dia jalan, walau dari belakang."
Ibu Arka berjalan perlahan, ke arah Arka dan Amanda.
"Bu, jangan ngikutin orang. Siapa tau bukan." ujar Rianti.
Entah karena kehamilannya atau apa, Amanda menjadi sangat sensitif sekali. Ia merasa ada yang mengikutinya.
Amanda pun menoleh.
"Perempuan itu?. Itu perempuan hamil yang pernah ngasih dompet ibu pas jatuh, Ti."
Amanda kembali menoleh ke arah sana, ia terus melangkah sambil digandeng oleh Arka.
Sementara ibu Arka kini mempercepat langkahnya. Ia ingin memastikan apakah itu benar Arka atau bukan.