Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Flashback


Ryan kembali ke kantor, setelah menjelaskan pada orang tua Nadine jika sebelumnya mereka hanya sedang bercanda. Nino pun berjanji pada orang tua Nadine, bahwa ia akan menikahi Nadine setelah Nadine selesai kuliah.


Masalah itu selesai, orang tua Nadine mau menerima Nino. Asal berjanji untuk tidak menyakiti anaknya kelak di kemudian hari.


Ryan pun lalu kembali ke kantor dengan hati lega. Karena kini ia sudah tidak memiliki masalah apapun, ia pun bahkan tak lagi tertarik untuk menjodohkan anaknya dengan anak Amman.


Baginya kebahagiaan yang kini ia rasakan sudah lebih dari cukup, lagipula ia tak rugi jika tidak bekerja sama dengan Amman. Perusahaannya tidak tergantung pada perusahaan Amman, justru perusahaan Amman lah yang bergantung kepadanya. Karena perusahaan Amman banyak mengalami kerugian akibat produk pesaing yang ia ciptakan.


"Why you leave me?"


Suara Arka seakan masih terdengar ditelinga Ryan. Mata laki-laki tua itu masih berkaca-kaca menahan tangis, tatkala teringat akan hal tersebut. Masih terbayang di benaknya saat Nino mengatakan perihal Arka yang telah sadar, bahkan sebelum Ryan mengetahuinya.


"Dad, daddy ingat Arka. Yang waktu itu datang kesini, karyawan Sinar Surya Company." tanya Nino waktu itu.


"Ya, why?" Ryan balik bertanya pada Nino.


"Dia sama istrinya mengalami kecelakaan."


"Ya, daddy tau. Daddy sudah menemukan pelakunya."


"Hah, are you serious?." Nino tak percaya.


"Ya, I know his wife is your ex. Right?"


Nino mengangguk. Entah dari mana Ryan mengetahui hal tersebut, yang jelas memang seperti itulah adanya.


"Apa pelakunya Rani?" tanya Nino kemudian.


"Rani?" Ryan mengerutkan kening.


"Ya, kami mencurigai satu orang. Teman Amanda, namnya Rani." ujar Nino.


"No, pelakunya adalah teman Arka. Doni."


"Doni?"


"Iya, teman satu manajemen Arka. Tidak ada pelaku lain yang dicurigai untuk saat ini. Tapi mungkin Doni bisa di interogasi, apakah ada keterlibatan orang lain dibelakangnya."


"Tapi dad, kami juga mencurigai satu orang. Rani datang ke kamar tempat dimana mereka di rawat, Rani mengatakan bahwa dia ingin membunuh Amanda. Arka sempat merekam ucapan Rani."


"Arka merekam ucapan Rani?" Ryan tampak bingung, karena setahunya Arka dan Amanda berada dalam kondisi yang tidak sadarkan diri.


"Iya, sebenarnya mereka sudah sadar di hari ketiga."


"What?" Ryan terperangah tak percaya.


"Really?"


Wajah Ryan terlihat panik. Ia ingat bahwa dihari ketiga itu, ia sempat datang dan mengakui jika dirinya adalah ayah kandung Arka.


"I am so sorry, Arka. I leave you and your mother. Keadaan waktu itu tidak memungkinkan daddy untuk tetap tinggal disini, dan lagi daddy sudah memiliki istri dan juga Ansel. Beberapa tahun kemudian, daddy kembali untuk mencari kamu, tapi daddy kehilangan kalian. Daddy kembali lagi, beberapa saat sebelum mengadopsi Nino. Tapi lagi-lagi daddy gagal menemukan kalian."


Ryan menangis terisak disisi Arka, itulah kata-kata yang ia ucapkan pada saat itu. Dan kini Nino mengatakan sesuatu yang membuatnya amat sangat terkejut.


"Dad, why?" tanya Nino.


Ryan menghela nafas dan memilih tak menjawab. Namun hidup bertahun-tahun bersama Ryan, Nino paham betul siapa sesungguhnya ayah angkatnya itu. Bagaimana sikap dan sifatnya dalam menyembunyikan sesuatu.


"Dad, Nino tau ada rahasia yang daddy simpan."


"Nino, daddy tidak menyimpan rahasia apapun."


"Look at this."


Nino memperlihatkan layar handphonenya, yang menyajikan foto ayahnya itu semasa muda. Bersanding dengan foto Arka yang terbaru.


"Arka itu siapa?" tanya Nino pada Ryan.


Lagi-lagi Ryan menghela nafas dan memejamkan matanya sejenak.


"Dad."


"He is your brother."


Ryan menjawab seraya menatap ke arah Nino, Nino pun tak terlalu terkejut. Karena ia mencurigai hal tersebut, sejak ia menemukan foto Arka dan juga foto ayahnya di masa lalu.


"Apa Arka tau?"


"No." ujar Ryan berusaha mengingkari.


Meskipun kini ia takut, jika Arka sebenarnya sudah mengetahui hal tersebut. Karena ia sendiri tak mengetahui, hari ketiga di jam ke berapa, Arka dan Amanda mulai siuman. Bisa jadi pada saat ia datang tersebut, Arka dan Amanda sesungguhnya telah sadar.


"Kenapa daddy nggak kasih tau Arka, dia berhak tau soal ini."


"Dia berhak untuk itu dan daddy takut menghadapi hal tersebut. Daddy takut menghadapi kebencian dari anak-anak. You, Ansel, dan Arka."


Ryan berusaha mengambil nafas, diantara udara yang mendadak terasa menipis.


"Daddy mungkin bisa punya kekuasaan, uang dan lain-lain. Tapi membayangkan bagaimana rasanya dibenci oleh anak sendiri, itu merupakan sesuatu yang paling menakutkan."


"Itu konsekuensi, dad. Daddy pernah melakukan kesalahan, maka jangan pernah menghindarinya. Bertanggung-jawab lah atas semua itu, sekalipun daddy akan di benci oleh Arka. Daddy harus mengatakan semua ini, karena Arka berhak tau."


"Permisi, pak."


Seseorang masuk keruangan Ryan. Nino dan Ryan pun sontak menghentikan percakapan itu.


"Nino harus ngajar, dad." ujar Nino kemudian. Ryan mengangguk, Nino akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.


***


Beberapa jam sebelum itu, Ansel menyusul Intan yang tengah terburu-buru menghindarinya.


"Intan."


"Intan, tunggu...!"


Intan tak menggubris Ansel, dan malah pergi berlari.


"Intan, sampai kapan kita harus kejar-kejaran kayak gini. Ntar nggak sadar tau-tau kita lari udah sampai Korea loh."


"Mana bisa, orang ada laut." teriak Intan sambil terus berlari.


"Kali aja kamu bisa lari diatas laut."


"Ninja kali ah." Intan terus berlari sampai kemudian, Ansel menangkapnya.


"Lepasin Ansel, atau aku teriak."


"Diam atau aku perkosa." ujar Ansel kemudian.


"Silahkan kalau mau digebukin warga disini." Intan balik mengancam Ansel.


"Intan, bukan itu. Dengerin dulu." Kali ini Ansel berkata dengan nada serius, sementara Intan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Look at me...!"


Intan masih memalingkan wajahnya.


"Look at me, Intan." ujar Ansel kemudian. Intan pun akhirnya menatap wajah kekasihnya itu.


"Aku sama Lita, nggak seperti yang kamu tuduhkan."


"Kenapa waktu itu kamu nggak bales pesan aku?"


"Aku pikir karena aku baru ketemu teman lama aku, nggak sopan kalau aku main hp terus. Dan lagi...."


"Oh, lantas tidak membalas pesan dari orang yang menyayangi kamu itu, sopan?" Intan mencecar Ansel, sebelum Ansel melanjutkan kata-katanya.


"Nggak, aku tau itu salah dan aku minta maaf. Lita hari itu jujur sama aku, kalau daddy meminta dia untuk mendekati aku. Untuk memisahkan antara aku dan kamu. Karena daddy mau menjodohkan aku dengan anak teman lamanya. Makanya saat itu aku nggak balas dulu pesan kamu, karena aku mau tau ceritanya lebih lanjut. Aku dan Lita pergi mencari tempat ngobrol dan kami membicarakan daddy. Setelah itu aku menemui daddy dan mengajaknya bertengkar. Daddy tetap pada pendiriannya dan aku tetap pada pendirian aku. Sampe akhirnya beberapa hari yang lalu daddy menyerah dan mengatakan, kalau dia nggak akan memaksa anak-anaknya lagi."


Intan menatap Ansel.


"Apa benar, kata daddy. Kamu dulu punya banyak perempuan di negara kamu."


"Aku pernah berhubungan dengan beberapa perempuan, tapi kemudian kami berpisah karena satu dan lain hal. Bukan karena aku suka gonta-ganti pasangan sesuka hati, bukan karena aku brengsek. Daddy waktu itu cuma berniat menjauhkan kamu dari aku dan dia sudah menyesalinya sekarang."


Intan pun menghela nafas dan sedikit menunduk.


"Intan, aku sayang sama kamu. Please."


"Buaya." ujar Intan lalu tersenyum.


"Nggak apa-apa aku buaya, yang penting sungainya kamu."


Ansel lalu memeluk Intan dan keduanya lalu berbaikan. Pada saat yang bersamaan, Satya dan Deni pun muncul lalu melempar keduanya dengan sendal.


"Woi, pacaran mulu. Kerja Tan, kerja." ujar Satya kemudian.


Ia dan Deni baru keluar dari rumah makan Padang, mereka membeli makanan pesanan orang kantor. Ia pun masih mengenakan sendal yang biasa ia pakai di kantor saat kakinya gerah.


"Aku balik kerja dulu, ya." ujar Intan kemudian.


Ansel memeluk Intan sekali lagi, lalu membiarkan wanitanya itu kembali ke kantor.