
Beberapa jam setelah laporan mengenai Maureen masuk, para polisi segera bergerak menuju ke lokasi. Sebuah drama penyelamatan pun terjadi. Pihak kepolisian dan orang kepercayaan Fritz terlibat adu senjata.
Orang-orang kepercayaan Fritz tersebut, tak mau mengalah ataupun menyerah begitu saja. Hingga anggota kepolisian terpaksa melumpuhkan beberapa diantaranya, dengan menggunakan timah panas.
Karena mereka telah melakukan tindak perlawanan dan penyerangan, kepada anggota kepolisian yang awalnya datang dengan damai dan meminta keterangan secara baik-baik.
Maureen ditemukan didalam rumah itu, ia tengah dilindungi oleh Jordan didalam sebuah ruangan. Dalam sekejap berita penyekapan dan pemerkosaan terhadap dirinya pun, menyeruak di berbagai laman sosial media serta televisi.
Banyak dari netizen yang mengingat betapa jahatnya dulu Maureen, yang berusaha menghancurkan karier Arka dengan memfitnah pemuda itu. Namun tak sedikit pula netizen yang akhirnya bersimpati dan memberi dukungan terhadap Maureen. Sekalipun Maureen saat ini sedang tidak melihat akun sosial media miliknya. Ia dibawa kerumah sakit, untuk diberikan penanganan lebih lanjut.
Sementara kini Arka menemui Amanda di kantor polisi. Ia dan Diego baru selesai memberikan keterangan dan kesaksian, mengenai penyerangan yang dilakukan oleh Rachel.
"Sayang."
Arka bergegas menghampiri sang istri yang baru saja keluar dari ruang penyidik. Amanda menghambur dan memeluk suaminya itu.
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Arka cemas. Amanda menggelengkan kepala.
"Aku nggak apa-apa, Ka."
"Papa kamu?" tanya Arka lagi.
"Dia juga nggak kenapa-kenapa, cuma beberapa pembantu dan orang kepercayaannya aja yang agak serius lukanya. Tapi udah dirumah sakit semua."
"Bagus deh kalau gitu, maafin aku ya. Aku bener-bener nggak tau kalau ada kejadian semacam ini. Tadi rumah papa juga lagi ada masalah."
"Masalah?. Masalah apa?" tanya Amanda pada Arka.
Tak lama kemudian Diego keluar dari ruang penyidik dan menghampiri mereka, sebelum Arka sempat menjawab pertanyaan istrinya.
"Om." sapa Arka pada Diego.
"Apa kabar, Arka?" tanya Diego kemudian.
"Baik, om." jawab Arka.
"Ya sudah kalau begitu, om mau pulang dulu. Mau jemput istri dan anak om, tadi papa kamu minta ketemu." ujar Diego seraya menatap Amanda.
"Ok, hati-hati om." ujar Amanda kemudian.
"Arka, om pulang ya."
"Iya om, hati-hati." ujar Arka.
Diego pun meninggalkan tempat itu, kini Amanda dan Arka berjalan ke halaman parkir, lalu masuk ke dalam mobil.
"Udah nggak ada lagi kepentingan, kan?" tanya Arka.
"Udah nggak, Ka." jawab Amanda.
Arka lalu menghidupkan mesin mobil dan mobil itu pun mulai merayap.
"Tadi ada masalah apa dirumah ibu, Ka?"
Amanda menanyakan hal yang tadi belum sempat dijelaskan oleh Arka. Arka pun lalu bercerita, perihal ayahnya yang ternyata memiliki masa lalu bersama seorang wanita.
"Jadi Fiona itu, istri papa?" tanya Amanda kemudian.
"Iya." jawab Arka sambil terus memperhatikan jalanan.
"Mereka punya anak, namanya Jordan. Dan dia juga yang membebaskan Maureen dari penyekapan om nya."
"Maureen udah ketemu?"
Arka mengangguk.
"Yang menculik, kakak iparnya papa. Kakak kandung Fiona."
Amanda menatap Arka.
"Apa Maureen baik-baik aja?" tanya nya kemudian.
"Ya, dia hamil. Sekarang lagi ditangani kepolisian dan team medis."
Amanda menghela nafas, ia tahu ini pasti ada hubungannya dengan sang ayah.
"Papa, Ka. Banyak banget masalah yang dia timbulkan." ujar wanita itu seraya menatap jauh kedepan. Arka hanya diam, bingung harus memberikan tanggapan apa.
"Dia terlambat untuk berubah, banyak orang yang sudah menaruh dendam sama dia. Di saat usianya sekarang sudah tua, dia harus mendapat ganjaran atas semua perbuatannya. Aku nggak akan menghalangi, kalau seandainya Maureen mau melaporkan dia. Karena sudah pasti penculikan Maureen, ada sangkut pautnya sama dia. Karena terakhir, Maureen terlihat di rumah dia."
Arka menggenggam tangan istrinya, sementaranya tangan yang satu lagi masih memegang setir kemudi.
"Kita doakan yang terbaik aja, Man. Kita bantu sebisanya, tapi jangan menormalisasi kejahatan juga. Kita boleh bersimpati sama papa kamu. Tapi kita jangan ikut membenarkan tindakan dia selama ini, biar dia merenungi kesalahannya."
Amanda mengangguk.
"Kita jadi kan, kerumah ibu?"
"Amanda kembali mengangguk."
"Jemput anak-anak dulu." ujarnya kemudian.
***
Diego beserta anak dan istrinya, akhirnya bisa bertemu dengan Amman. Setelah puluhan tahun menjadi adik yang tersembunyi.
Pertemuan mereka pun diwarnai isak tangis penuh haru. Amman menerima kehadiran adiknya itu dan berdamai dengan kebohongan mendiang ayahnya selama ini.
Dalam pertemuan itu, banyak hal yang mereka bahas. Termasuk melihat-lihat album foto lama yang berisi foto-foto mendiang ayah mereka. Sebab Diego hanya bertemu ayahnya itu sekali dua seumur hidupnya. Sebelum akhirnya pria itu meninggal.
Amman meminta Diego untuk pindah ke salah satu rumah miliknya, yang berada tak jauh dari lokasi dimana ia tinggal. Diego awalnya agak berat hati, namun Amman memaksa. Amman mengatakan jika ia akan memberikan rumah tersebut pada adiknya itu. Diego pun akhirnya menyetujui, dan berencana pindah dalam waktu dekat ini.
***
"Ryan, gue mau ketemu Nino."
Amman tiba-tiba menelpon Ryan yang kebetulan tengah sibuk bekerja dari rumah.
"Man, gue nggak akan menghalangi lo mau ketemu dia kapanpun. Tapi masalahnya gue harus tanya dulu, anaknya mau nggak." jawab Ryan kemudian.
"Ryan, waktu gue nggak banyak. Beberapa orang mungkin akan menuntut gue secara hukum dalam waktu dekat. Gue mau ketemu dia, dan berbicara dengan dia. Walaupun itu cuma sekali seumur hidup gue."
Ryan terdiam, ia juga bingung harus bagaimana.
"Please. Mau dia denger, mau nggak, omongan gue nanti. Gue akan tetap bicara sama dia. Gue nggak tau berapa lama gue akan dipenjara, dan apakah gue masih akan hidup sampai gue bebas nanti."
Ryan menghela nafas, ia juga tak tega pada temannya itu. Ia kini memperhatikan Nino yang tengah mengurus hewan peliharaannya di halaman samping.
"Ryan."
"Ok, lo kesini aja. Gue bakalan ikut nanggung resiko, karena udah pasti dia akan marah sama gue."
Amman pun sumringah, air matanya merebak di pelupuk mata.
"Ok, gue kesana sekarang. Jangan biarkan dia pergi kemanapun dulu, sampai gue datang."
"Iya, gue janji."
Amman pun lalu bergegas turun dari lantai dua rumahnya dan menuju halaman parkir. Kebetulan Diego dan keluarganya sudah pulang.
"Pak, ada tamu."
Tiba-tiba pembantu Ryan mengabarkan hal tersebut kepadanya. Ini baru beberapa menit berlalu, Ryan bingung mengapa begitu cepat Amman sampai. Apakah tadi ia menelpon dari dekat sini, bukan dari rumahnya?.
Ryan pun segera ke depan, namun yang datang ternyata bukanlah Amman.
"Aston, Citra?"
Ryan terkejut dengan kehadiran kedua orang tersebut. Ia juga tidak tahu darimana mereka mendapatkan alamat kediaman Ryan.
"Ryan, dimana Nino?" tanya Citra kemudian.
Ryan tak menjawab, ia ingin mengatakan jika Nino sedang tak ada dirumah. Namun Nino yang tak mengetahui kehadiran kedua orang tersebut, keburu masuk ke dalam.
"Dad?"
Nino terdiam, sama seperti Ryan. Dilihatnya ada Citra dan Aston, yang kini berdiri menatapnya.