Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Hadapi Saja


Amanda menyudahi tangisannya dengan segera, tak ada gunanya membuang air mata untuk orang seperti Rani. Apa yang terjadi dalam hidup Rani memanglah menyedihkan, tapi itu bukan salahnya.


Jika ada seseorang yang harus bertanggung jawab atas semua itu, Amman lah orangnya. Ya, ayah bejatnya itulah yang harus bertanggung jawab atas semuanya.


"Udah, Man. Kasian anak-anak." ujar Arka seraya menggenggam tangan istrinya. Sementara tangan yang lain memegang stir kemudi.


"Sekarang kita selesaikan masalah kamu, Ka. Kita temui Liana."


Arka mengangguk, ia kini memutar arah menuju ke kost Liana.


"Nggak, saya nggak akan pernah klarifikasi apapun." ujar Liana pada Amanda dan juga Arka, ketika keduanya telah sampai di kost tersebut dan berhasil menemui gadis itu.


"Kenapa kamu begitu tega sama Arka, apa salah Arka sama kamu?" tanya Amanda seraya menatap Liana. Ia sudah sangat emosi sekali pada karyawannya itu, namun Amanda masih menahan diri. Mengingat kondisi mental Liana pasca kasus pemerkosaan yang ia alami.


"Saya akan klarifikasi kecuali dengan satu syarat."


"Tell me." ujar Amanda.


"Serahkan Arka sama saya, saya mau Arka jadi milik saya."


"Plaaak." Sebuah tamparan mendarat di wajah Liana, Arka menarik istrinya.


"Dasar perempuan nggak tau diri, selama ini saya kurang apa sama kamu. Hak istimewa kamu dapatkan bahkan lebih dari karyawan lainnya, semata karena saya percaya sama kamu. Sekarang ini balasan kamu terhadap saya?"


"Plaaak."


Amanda menampar Liana sekali lagi, dan Liana mendorong Amanda hingga nyaris terjatuh. Arka buru-buru menangkap istrinya dan menjauhkan Liana.


"Cukup, Li." ujar Arka kemudian.


"Arka, aku cinta sama kamu."


"Aku nggak."


Ucapan Arka membuat Liana seketika berurai air mata.


"Aku mencintai Amanda." ujarnya kemudian.


"Nggak, kamu nggak boleh mencintai perempuan tua ini." teriak Liana seraya ingin memukul Amanda. Amanda yang memang masih emosi itu pun, hendak memukul Liana. Arka berusaha menghalangi keduanya.


"Man, masuk ke mobil."


"Aku belum puas sama perempuan brengsek ini."


"Amanda, masuk. Kamu lagi hamil."


Amanda pun lalu menuju ke mobil dengan emosi yang masih meluap-luap. Sementara kini Arka menatap Liana.


"It's ok kalau kamu nggak mau klarifikasi. It's ok kalau karir aku mesti hancur, aku nggak peduli. Yang jelas, aku nggak cinta sama kamu. Sama sekali, nggak. Aku nggak akan menunduk, cuma karena takut karirku hancur."


"Tapi kamu lebih baik kalau hidup dengan karir yang tidak bermasalah, aku bisa bantu balikin nama kamu. Cukup dengan kamu sama aku."


"I love her." Arka menunjuk Amanda yang berada di dalam mobil, dengan mata yang tak terlepas dari Liana.


"Jangan karena kamu hancur, lalu kamu berniat menghancurkan orang lain. Itu lebih dari kekanak-kanakan, Liana. I'm sorry for something bad happened in your life. Tapi itu bukan salah aku, bukan salah Amanda juga."


"Tapi aku cinta kamu, Arka."


"But I'm not."


"Kenapa kamu bisa cinta sama dia, kenapaaaa."


teriak Liana seperti orang gila.


"Karena dia nggak jahat kayak kamu."


Arka balas berteriak di wajah Liana.


Detik berikutnya pemuda itupun kembali ke mobil. Lalu bersama dengan Amanda, ia meninggalkan tempat itu. Sementara Liana kini menangis tersedu-sedu.


"Man, udah ya."


Arka mengelus perut istrinya kemudian menggenggam tangan wanita itu, sementara tangan lainnya kini memegang setir kemudi. Amanda mengangguk.


Tak lama kemudian, Amanda teringat belum membayar beberapa tagihan. Ia pun meraih handphone dan mencoba membayar beberapa tagihan melalui internet banking.


Satu transaksi gagal, Amanda mencobanya lagi. Namun lagi-lagi gagal, bahkan hingga berulangkali. Amanda mencoba akun banknya yang lain, namun tetap tidak bisa.


"Hallo."


Amanda menelepon call center bank yang bersangkutan, dan dalam waktu sekejap ia pun terdiam. Pasalnya operator call center menjelaskan jika kini akun bank Amanda tengah di bekukan, lantaran ada pengaduan dari pihak perusahaan mengenai beberapa hal.


"Kenapa, Man?" tanya Arka yang melihat istrinya begitu resah.


"Ka." suara Amanda terisak.


"Kenapa?"


Arka menghentikan mobilnya, Amanda kemudian menjelaskan apa yang terjadi. Jika beberapa pihak di perusahaan telah menduga ada penggelapan dana di rekening Amanda. Dana yang disinyalir adalah milik beberapa investor dan juga klien. Arka lalu memeluk istrinya itu.


"Man, kalau kamu ngerasa nggak bersalah. Semua bisa dibuktikan." ujar Arka kemudian.


Tak lama setelah itu, mbak Arni menelpon Arka. Ia menjelaskan jika Arka diharuskan membayar denda penalti bagi perusahaan yang kini membatalkan kerjasamanya. Arka pun harus merelakan uang tabungannya, ia mulai mentransfer sejumlah uang pada mbak Arni.


Karena limit transfer berbatas perharinya, Arka meminta tolong pada mbak Arni. Untuk memakai uang manajemen terlebih dahulu, guna menutupi kekurangan. Ia berjanji akan mentransfernya keesokan hari melalui bank. Namun meskipun begitu, itu artinya tabungan Arka kini hanya tersisa 200 ribu lagi. Sisanya adalah untuk membayar uang manajemen.


Amanda dan Arka terdiam cukup lama di mobil, lalu wanita itupun mengajak Arka untuk pergi ke rumah satunya. Disana Amanda memberitahukan pada semua maidnya, bahwa mereka akan dinonaktifkan sementara. Sampai waktu yang tak bisa ditentukan.


Ia ingat masih menyimpan uang cash di dalam brankas yang ada di rumah itu. Amanda pun menggunakan itu untuk membayar gaji para maid sekaligus untuk ongkos mereka pulang kampung. Para maid menangis dan memeluk Amanda satu persatu.


Ada sebagian yang pulang, sebagian lain memilih bertahan meski mungkin mereka tak akan mendapatkan gaji untuk waktu yang lama.


Usai menyelesaikan perkara ditempat tersebut, Amanda pulang ke penthouse dan menemui pak Darwis. Amanda memberikan gaji pak Darwis dan bermaksud menonaktifkan sementara supirnya itu.


Namun pak Darwis mengatakan, ia mau bekerja meski tak dibayar. Asalkan Amanda mengizinkannya memakai salah satu mobil, untuk menjadi driver taxi online. Amanda pun mengizinkan hal tersebut.


Setelah semua dirasa usai, Amanda pun menangis tersedu-sedu. Dadanya begitu sesak demi menghadapi semua ini.


"Kenapa semua ini terjadi sama aku, Arka. Apa salah aku." ujar nya seraya menangis.


"Man, udah."'


"Sekarang kamu pasti mau ninggalin aku kan, karena aku udah nggak punya apa-apa lagi. Aku udah bukan siapa-siapa lagi."


"Man."


"Kamu akan ninggalin aku kan, Arka."


"Amanda, cukup."


Arka sedikit membentak Amanda lalu memeluk wanita itu.


"Nggak ada yang bakal ninggalin kamu, aku suami kamu daan masih."


Amanda sesenggukan di dada Arka.


"Aku udah nggak punya apa-apa lagi, Ka."


"Liat, dari semua yang udah hilang di hidup kamu. Kamu masih punya penthouse ini, masih punya rumah, punya mobil dan punya aku."


Amanda mempererat pelukannya.


Amanda mulai menghapus air matanya.


"Dengerin aku." Arka memegang wajah istrinya.


"Kita sedang dalam frekuensi negatif, dan kita hanya akan menarik energi negatif serta kesedihan-kesedihan lainnya. Satu-satunya cara, kita harus stop dulu kesedihan ini. Supaya nggak ada kesedihan lain yang ikut masuk. Kamu paham law of attraction kan?"


Amanda mengangguk.


"Then, stop it now."


Amanda buru-buru menghapus air matanya.


Keduanya kembali berpelukan.


***


Apa yang menimpa Arka dan Amanda, kini mengundang perhatian para awak media. Pasalnya Amanda dan Arka sama-sama merupakan orang yang cukup terkenal di bidangnya masing-masing. Amanda sendiri kerap wara-wiri tampil di berbagai media cetak maupun elektronik sebagai pebisnis dan motivator. Sehingga berita tentang masalah yang menimpanya soal perusahaan, kini seolah menjadi berita yang sangat diburu.


Simpang siur mengenai fakta sekaligus penyebab di non aktifkannya Amanda, menjadi perbincangan hangat dimana-mana. Ada yang menduga-duga, ada yang dipelintir, digoreng dan dipoles sedemikian rupa agar mengundang kehebohan publik.


"Bu, dibawah banyak awal media yang nyariin ibu." ujar pak Darwis.


"Tapi bukan nyariin Arka kan, pak?. Mereka nggak tau Arka suami saya kan?" tanya Amanda khawatir. Ia takut jika sampai ketahuan, masalah ini malah akan melebar kemana-mana.


"Kayaknya nggak, bu. Cuma nyariin ibu."


"Oh ya sudah." Amanda menutup telponnya.


"Ka, kayaknya kita jangan tinggal disini dulu deh. Kemana kek kita, ngontrak kek, ngekost kek. Dibawah lagi banyak awak media, yang nyariin aku."


"Ya udah, kamu beresin baju dan lain-lain. Seadanya aja, abis itu kamu ikut aku."


Amanda pun membereskan barang-barang dan juga bajunya, begitu pula dengan Arka. Tak lama kemudian, mereka turun ke bawah dan keluar lewat pintu alternatif. Sedang pak Darwis dan security mengalihkan perhatian awak media tersebut.


Arka membawa istrinya ke suatu tempat. Tepatnya pada sebuah rumah di sebuah kawasan kompleks perumahan, yang cukup jauh dari keramaian kota. Arka memarkir mobilnya pada sebuah rumah minimalis bercat putih.


"Rumah siapa ini, Ka?" tanya Amanda pada Arka yang kini membuka kunci pintu.


"Ini rumah yang udah lama aku beli."


Amanda menatap Arka.


"Aku nyisihin uang honor ku selama ini. Sisanya dibantu pake uang manajemen."


"Maksudnya, kamu hutang sama manajemen juga?" tanya Amanda.


"Iya, ke developernya sudah cash. Tapi berhubung separuh uang cash itu pake uang management. Jadi sertifikatnya masih ditahan sebagai jaminan. Makanya aku nggak bisa jual pas kepepet kemaren."


"Koq sertifikatnya ditahan. Bukannya kamu terikat kontrak sama mereka. Bisa aja kan mereka langsung potong uang honor kamu tanpa harus menahan sertifikat segala."


"Emang aturannya udah kayak gitu, lagipula nggak cuma aku. Artis lain yang beli rumah dibantu management, aturannya sama. Lagipula pas lunas, nggak dipersulit koq. Yang udah-udah bisa dengan gampangnya ngambil sertifikat."


Amanda mengangguk-anggukan kepala.


"Mungkin karena kontrak bisa dilanggar kali ya, jadi orang management kamu agak worry." tukas Amanda.


"Maybe, dan lagipula seandainya aku udah punya sertifikat. Aku waktu itu pasti udah jual rumah. Dan aku nggak akan ketu kamu." tukas Arka.


Amanda menghela nafas sambil tersenyum.


"Balik lagi takdir dan jodoh." ujarnya kemudian. Arka tertawa.


"Ayo masuk." ajak pria itu pada sang istri.


Amanda berjalan perlahan seraya memperhatikan rumah mungil nan aesthethic tersebut. Rumah itu memiliki dua lantai. Tetapi tak seluas rumahnya yang memiliki banyak maid.


Namun bisa diperkirakan harganya cukup fantastis. Mengingat rumah di jaman sekarang, memang harganya kian melambung. Kisaran harga 800 juta hingga 2 Milyar adalah hal yang wajar dan terbilang cukup murah.


"Nggak apa-apa kan kamu disini dulu?" tanya Arka seraya menghidupkan air conditioner.


"Ya nggak apa-apa, nggak apa-apa banget malah." ujar Amanda.


"Maaf ya, rumahnya nggak sebesar rumah kamu." ujar Arka kemudian.


"Ka, ini masih jauh lebih baik ketimbang kita harus ngontrak. Karena aku ternyata sisa uangnya cuma 200rb."


"Sama aku juga."


Keduanya diam, namun detik berikutnya mereka pun sama-sama tertawa. Makin lama tawa itu makin keras, keduanya kini berpelukan.


"Maafin aku ya, Ka."


"Maafin aku juga."


Keduanya masih diliputi senyum, sekarang bukan saatnya untuk menumpuk energi negatif.


"Rumahnya bersih banget." ujar Amanda pada suaminya.


"Orang hampir tiap hari aku kesini. Sepulang kampus sebelum jemput kamu, aku pasti bersihin rumah ini. Kecuali pas lagi syuting, aku nggak kesini sama sekali."


Amanda mendekat ke arah tangga.


"Mau naik ke atas?" tanya Arka.


Istrinya itupun mengangguk, Arka lalu menemani istrinya menuju lantai dua. Keadaan di atas tak kalah aesthethicnya dibanding lantai bawah. Rumah itu lebih mirip studio foto ketimbang tempat tinggal. Arka sangat piawai dalam hal mendesain ruang dan juga memilih furnitur. Arka membuka sebuah pintu kamar, Amanda masuk dan langsung duduk di atas tempat tidur.


"Ibu tau kamu punya rumah, Ka?"


"Nggak, nggak ada satupun yang tau."


"Kenapa nggak dikasih tau?"


"Aku nggak enak, karena belum bisa beliin ibu sama papa. Ini aja belum tau kelanjutan kreditnya ke management gimana. Nantilah rencananya, kalau aku udah bisa beliin buat mereka, baru aku kasih tau."


Amanda merebahkan diri di atas tempat tidur, jujur ia sangat lelah dengan semua ini.


"Aku beli makan dulu, ya." ujar Arka kemudian. Amanda pun mengangguk.


Tak lama setelah itu, Arka pun turun ke bawah. Cukup lama Amanda menunggu, karena tempat dimana Arka membeli makanan ternyata mengantri. Namun setelah ia mendapatkan apa yang ia mau, Arka pun segera pulang.


"Ayok makan."


Arka membawa makanan ke kamar, tak lupa ia juga membawa air minum dingin serta piring. Dalam sekejap, mereka pun duduk dilantai lalu makan.


"Apapun masalahnya, yang penting makan dulu." ujar Arka membuat Amanda tertawa.


"Aaaa'k."


Arka menyuapi istrinya dengan tangan, Amanda pun menerima suapan itu.


"Ka."


"Hmm?"


"Makasih ya, udah ada buat aku." ujar Amanda seraya menatap Arka. Laki-laki itupun tersenyum, lalu kembali menyuapi Amanda.


"Makasih juga, udah kuat sejauh ini." ujar Arka.