Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Pengakuan Dan Permohonan


Maureen tengah berjalan di suatu tempat. Ia tampaknya sudah sedikit tenang dan mulai bisa pergi keluar walau hanya sejenak. Jordan pun mengatakan akan menikahinya dalam waktu dekat ini.


Maureen merasa lega, karena Jordan bukanlah mata-mata Fritz seperti yang ia duga selama ini. Fritz pun saat ini tengah diburu oleh pihak kepolisian. Mereka bekerja sama dengan kepolisian negara, dimana Fritz kini berada. Fritz telah terbukti bersalah dan akan dimintai pertanggungjawaban dalam waktu dekat.


"Maureen."


Tiba-tiba Vera muncul di hadapan Maureen. Ia tahu siapa Vera, meski tak sempat mengenal dekat.


"Ya, ada apa?" tanya Maureen kemudian.


"Aku mau bicara sama kamu, bisa?" tanya Vera.


Maureen mengangguk, mereka lalu pergi ke sebuah minimarket plus dan mengobrol pada sebuah kursi dan meja yang tersedia.


"Kamu mau minum atau makan?" tanya Vera.


Maureen menggeleng.


"Tadi udah." jawabnya kemudian.


Maureen kini telah berubah menjadi seorang wanita yang lembut. Kehamilannya telah merubah ia, menjadi wanita yang tak lagi memikirkan ambisinya sendiri. Sama seperti Vera kala itu.


"Reen, apa kamu akan melaporkan Amman ke polisi?"


Vera melontarkan pertanyaan yang membuat Maureen terhenyak, ia memang telah membuat rencana tersebut. Selain berniat menjebloskan Fritz ke dalam penjara, ia juga ingin menyeret Amman. Agar pria itu bertanggung jawab atas apa yang sudah menimpa dirinya.


"Reen, aku tau Amman memang jahat. Perbuatannya ke semua orang sulit dimaafkan. Tapi kamu juga salah waktu itu, kamu membohongi dia demi suatu kepentingan."


Maureen menatap Vera.


"Ver, kalau kamu mendatangi aku. Cuma untuk mengingatkan soal kesalahan itu, aku udah sadar betul kalau aku salah. Aku tau apa yang aku alami, mungkin adalah karma dari perbuatan aku sendiri. Tapi kamu juga tidak bisa menormalisasi kesalahan yang dilakukan oleh Amman. Dia salah, dia menjual aku pada predator tua yang kejam. Setiap hari Fritz kasar sama aku, nyakitin aku secara fisik maupun seksual. Aku tau kamu memiliki hubungan dengan Amman, tapi sebagai perempuan harusnya kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan."


Kali ini Vera yang terdiam.


"Aku bukan membela Amman, aku bersimpati dengan apa yang terjadi sama kamu. Aku mengutuk hal tersebut. Aku juga nggak masalah, kalau Amman dihukum seberat-beratnya. Tapi aku melakukan ini untuk Amara, anak kami yang baru lahir."


Maureen menatap Vera.


"Kamu juga akan jadi seorang ibu, Reen. Apapun akan kamu lakukan demi anak kamu. Amman itu udah tua, nggak tau sampai berapa lama lagi dia bisa mendampingi Amara. Setelah itu Amara akan kehilangan momen-momen bersama ayahnya. Dia butuh sosok ayah, aku nggak mau dia bernasib sama seperti kakak-kakaknya. Yang tumbuh tanpa perhatian dari ayah."


Maureen makin terpaku.


"Aku nggak maksa, Reen. Cuma memohon aja. Mau kamu wujudkan atau tidak, keputusan ada ditangan kamu. Aku cuma seorang ibu, yang mau melakukan sesuatu untuk anakku. Bukan untuk aku."


Vera meraih tas tangan yang ia letakkan di meja. Ia memegang sejenak tangan Maureen lalu berpamitan pulang.


"Terima kasih atas waktunya, aku pulang."


Vera melangkah meninggalkan tempat itu, tinggallah kini Maureen terpaku dalam diam.


"Baaa."


Tiba-tiba Chanti dan Widya muncul di hadapan Maureen, membuat wanita itu kaget karena tak menyangka.


"Lo juga ngapain, bunting jalan sendirian kesini. Bahaya tau di jalan." ujar Chanti lalu duduk dihadapan Maureen, begitu juga dengan Widya.


Maureen hanya tertawa kecil.


"Gue bosen diem mulu di kosan. Kalau ada anak-anak enak, kadang mereka kuliah."


"Lo nggak minta pindah ke cowok lo?" tanya Chanti.


"Dia sih udah nyariin apartemen, tapi gue takut sendirian. Dia kan juga ada apartemen sendiri."


"Gue sama Widya temenin mau nggak?"


"Tapi lo berdua juga kan, penakut. Sama aja bohong."


Chanti dan Widya tertawa.


"Kita nyari makanan yuk...!" ajak Widya kemudian.


"Iya ayuk." Chanti antusias sambil menatap Maureen. Tak lama kemudian mereka bertiga pun tersenyum.


"Ayo...!" ujar Maureen tak kalah antusias.


Mereka bertiga kembali lagi seperti dulu, namun kali ini dengan pertemanan yang lebih tulus. Mereka saling memaafkan dan berjanji akan menjaga satu sama lain. Orang tua Maureen pun telah menerima permintaan maaf dari anaknya. Mereka semua kini fokus demi kesembuhan mental Maureen.


Karena biar bagaimanapun kejadian yang dialami Maureen, pasti akan memberikan dampak besar bagi kehidupannya.


***


Hari berlalu, Amman mendatangi sendiri kantor polisi dan mengakui segala kesalahannya terhadap Citra dan juga Maureen. Tak ada satu hal pun yang ia tutup-tutupi di depan penyidik.


Awalnya Vera melarang hingga ia menangis dan memohon, karena saat ini ia memikirkan kondisi anak mereka yang masih bayi. Namun Amman meyakinkan wanita itu, bahwa ia akan baik-baik saja. Vera dan Amara juga bisa menjenguk Amman sesering mungkin. Dan lagi ada Nino serta Amanda yang tidak mungkin mengabaikan Amara begitu saja.


"Aku sudah tua Vera, sudah saatnya aku kembali dan mencoba bertanggung jawab atas dosa-dosaku selama ini. Kita punya anak perempuan, yang mungkin setelah dia remaja nanti, aku sudah tidak ada. Aku tidak mau dosaku berakibat karma pada Amara. Aku yang bersalah, aku harus menyelesaikannya. Supaya nanti kalau aku mati, tidak terlalu banyak dosa yang aku bawa. Aku tidak mau mati didalam sumpah serapah orang-orang yang sakit hati, terhadap semua perbuatan ku."


Vera menangis, Amman memeluk wanita itu.


"Kita akan menikah, sebelum aku dipenjara. Aku akan berikan hak, warisan untuk kamu, Amara, ketiga kakaknya, keempat cucuku. Setelah kamu aku nikahi, kalau kamu bosan menunggu aku di penjara. Kamu bisa meminta cerai dari aku. Apapun yang sudah aku berikan, itu jadi hak kamu."


Vera kian terisak.


"Kamu masih muda dan berhak bahagia, dengan laki-laki yang usianya nggak jauh beda dari kamu. Yang harapan hidupnya masih panjang. Tapi jangan lupa, cari yang bisa menyayangi Amara dengan tulus. Bukan yang hanya mau dengan kamu saja, sebab Amara akan membutuhkan sosok ayah kedepannya."


Vera terus terisak dalam tangis, dan Amman pun tak kuasa menahan air matanya sendiri. Amman yang didampingi pengacaranya, kini tengah bernegosiasi. Meminta penangguhan penahanan terhadap dirinya. Karena ia ingin menghadiri dulu resepsi pernikahan anak serta menantunya.


Ia juga ingin mengurus surat warisan agar tak menjadi masalah di kemudian hari. Dan sepertinya, Amman mendapatkan semua itu. Ia akan ditahan jika semua urusannya sudah selesai. Ia kemudian berstatus tahanan kota dan tidak bisa pergi kemanapun, karena gerak-geriknya selalu di awasi.


Vera mengabarkan hal tersebut kepada Amanda, Amanda berjanji jika ia juga akan membantu sedikit banyak. Ia juga berjanji akan menjaga Vera maupun Amara dengan baik.


Amanda meyakinkan wanita itu bahwa mereka kini adalah keluarga, dan setiap keluarga harus saling tolong-menolong. Mendengar hal tersebut, perasaan Vera pun sedikit lega. Ia kini tak merasa sendirian lagi, jika harus ditinggalkan oleh Amman.