Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Permintaan Rio (Bonus Chapter)


"Ansel sakit semalem?"


Arka bertanya pada Ryan, usai ayah kandungnya itu menjelaskan kondisi Ansel. Pagi ini Ryan menelpon Arka untuk menanyakan kabar kedua cucunya. Lalu obrolan berlanjut jadi membicarakan soal Ansel.


"Iya, katanya habis lomba makan seblak semalam." jawab Ryan.


"Iya sih, Arka juga sakit perut tapi biasa-biasa aja." ujar Arka.


"Ansel langsung jadi lidi." ucap Ryan seraya tertawa.


Arka kini ikut-ikutan tertawa.


"Saudara laknat lo, Ka."


Ansel meneriaki Arka. Sebab Ryan menelpon dari dekat pria itu dengan mengaktifkan mode loud speaker.


"Hahaha." Arka makin tertawa.


"Terus, duit kemaren habis dong buat beli obat?" tanya Arka.


"Nggak lah, obat pake duit Nino. Ini duit hadiah nggak boleh dipake." jawab Ansel.


"Anjir, pelit banget lo. Dasar bule karbitan." ujar Arka.


"Nggak apa-apa, kadang kita emang harus menggenggam uang supaya masa depan tercerahkan." Ansel membela diri.


"Menggenggam sih menggenggam. Tapi kalau sampai pelit sama diri sendiri, itu namanya keterlaluan." ujar Ryan.


"Bener." Arka menimpali.


"Buat kesehatan pribadi juga." lanjutnya lagi.


"Pokoknya nggak mau, biar minum obat yang ada aja sama makan daun guava." ujar Ansel.


"Hah?. Daun apa?" Arka tak begitu mendengar.


"Daun guava." ujar Ryan.


"Guava, jambu biji?" tanya Arka memastikan.


"Iya." jawab Ryan.


"Astaga siapa yang ngajarin?" tanya Arka lagi.


"Nino." jawab Ryan.


"Kenapa, Ka?"


Amanda yang baru tiba dari kamar bertanya. Pasalnya ia melihat wajah Arka yang menelpon dengan terkejut, namun sumringah di waktu yang nyaris bersamaan. Arka lalu mengaktifkan mode loud speaker di handphonenya.


"Ini si Ansel, katanya sakit perut dan ke kamar mandi mulu gara-gara seblak kamu." jawab Arka.


"Oh ya?" Amanda kaget mendengar hal tersebut.


"Iya, dan sama Nino dikasih daun jambu biji." lanjutnya lagi.


"Daun jambu biji?" tanya Amanda makin kaget.


"Nino ngambilnya di rumah tetangga diam-diam. Karena udah malam dan nggak mungkin membangunkan orangnya." ujar Ansel.


"Terus cara makannya gimana?" tanya Amanda.


"Ya dimakan sama dia, kayak kambing." jawab Ryan.


Arka dan Amanda kemudian sama-sama tertawa.


"Astaga, ada-ada aja." ujar Amanda lagi.


"Pasti lucu banget tuh." Arka terus menertawai.


"Daddy aja kaget. Koq di meja makan banyak daun-daun." ucap Ryan.


Arka masih tertawa-tawa.


"Seneng lo, Ka?" tanya Ansel sewot.


"Senang gue, akhirnya lo semakin melokal." jawab pemuda itu.


Ryan dan Amanda ikut-ikutan tertawa.


"Ini lagi, ipar laknat."


Ansel berkata pada Amanda, sementara Amanda kini jadi terpingkal-pingkal.


"Ya maaf, karena pas dimasak nggak pedes-pedes amat menurut aku. Lagian kalian udah aku suruh berhenti juga kan, kamu-nya aja yang mata duitan." ujar Amanda membela diri.


"Kalau demi duit, apapun akan gue lakukan." tukas Ansel.


"Because duit is my life." lanjutnya lagi.


Mereka kembali tertawa-tawa.


"Oh ya, Nino mana?" tanya Arka.


"Kerja dia, emang Ansel bolos melulu." jawab Ryan.


"Kan kerjanya sama daddy, nggak apa-apa dong libur."


"Nino di perusahannya sendiri, nggak melulu libur." tukas Ryan.


"Kalau kamu tidak mengejar dunia, ya nggak usah kerja dan nggak usah makan sekalian." tukas Ryan.


"Karena makan bagian dari dunia." lanjut pria itu kemudian.


"Nah loh, kena skakmat." ujar Arka.


"Hehehe." Ansel nyengir bajing, melebar sampai kuping.


"Sok, sokan nggak mengejar dunia. Lo aja masih lomba makan seblak buat dapet duit." Arka kembali berujar dan lagi-lagi Ansel memperlihatkan barisan giginya yang rapi.


"Hehehe."


"Hahe, hahe, hahe." ujar Ryan.


Arka dan Amanda menahan senyum, Sementara Ansel menutupi wajahnya dengan bantal. Obrolan pun berlanjut, sampai akhirnya Arka dan Amanda pamit untuk berangkat kerja.


Ryan pun berkata jika ia juga sudah mau berangkat. Maka mereka semua pergi bekerja kecuali Ansel.


***


"Ka, lo pulang jam berapa?"


Rio bertanya ketika Arka baru saja meletakkan tas laptopnya ke atas meja kantor.


"Gue baru nyampe ya Bambang, belum kerja. Buka tas dan ngeluarin laptop aja belum, udah nanya kapan gue pulang."


"Hehehe, kan gue nanya elah. Gitu aja sewot lo, dasar budak corporate." celetuk Rio.


Arka tertawa.


"Eh hidung Ti Pat Kai, lo kalau nanya ke gue tuh lihat-lihat jam. Kan di hape lo ada jamnya. Lagian logika aja, mana ada orang kantor pulang cepet kayak anak sekolah di hari Jum'at." ujar pemuda itu kemudian dan lagi-lagi Rio nyengir.


"Hehehe, iya sorry. Gue mau ngajak lo review makanan soalnya." ujar Rio.


"Buat YouTube?" tanya Arka.


"Apalagi coba, itulah satu-satunya jalan ninja gue supaya nggak diminta bokap-nyokap kerja sama mereka."


"Mau review makanan dimana?" tanya Arka.


"Mie abang-adek." jawab Rio.


"Astaga, Ri. Baru semalem makan seblak buatan Amanda. Emang lo kagak kenapa-napa?" tanya Arka lagi.


"Kagak kenapa-kenapa gimana?" Rio balas melontarkan pertanyaan.


"Ya sakit perut atau apa gitu. Gue aja sakit perut sama Ansel."


"Hah, seblak gitu doang sakit perut?" tanya Rio heran.


"Gitu doang gimana anjay, panas banget perut gue." lagi-lagi Arka berujar.


"Gue kagak kenapa-kenapa." tukas Rio.


"Ya elo, perut lo terbuat dari batu jaman paleolitikum kali." seloroh Arka.


"Yah gimana dong kalau gitu?. Masa nggak jadi reviewnya."


"Ya nggak gimana-gimana. Gue nggak mau kalau ke abang-adek." jawab Arka.


"Jangan gitu dong, Ka. Ntar konten gue nggak rame. Kalau ada konten yang pedes-pedes pasti banyak yang nonton."


"Lo nggak mikirin gue, anjay. Egois banget lo." ujar Arka lagi.


"Kan lo bisa makan yang nggak pake cabe, wahai Cornelis de Houtman."


"Iye, iye, JP Coen." Arka menjawab dengan nada yang masih sewot.


Sementara Rio kini tertawa.


"Ya udah, ntar sore ya." ucap pemuda itu.


"Iya."


"Janji loh, Ka."


"Iya, anj..."


Arka sudah hampir mengumpat, namun kemudian Rio terkekeh-kekeh.


"Udah ah, gue mau mandi dulu. Baru bangun soalnya gue." imbuhnya lagi.


"Enak banget hidup lo, jam segini baru bangun." tukas Arka.


"Iyalah, kan gue prince."


"Prince pala lu pitak. Prince dari kerajaan mana coba?. Ciledug Empire." ujar Arka.


"Bangsat."


Rio mengumpat sambil tertawa. Tak lama mereka pun menyudahi obrolan tersebut. Rio pergi mandi sedang Arka memulai pekerjaannya.


Sore hari sesuai janji, Arka menemani Rio untuk mereview makanan. Berhubung Arka selalu menjemput Amanda saat pulang, maka Amanda pun ikut hari itu.


Rio senang, karena kedua talent tersebut dijamin akan membuat penonton YouTube nya makin to the moon dan keuangannya makin meroket hingga ke inti matahari.