
"Jadi malem ini, aku kerumah satunya sama anak-anak?" tanya Amanda pada Arka, ketika mereka sudah di arah jalan pulang.
"Iya, besok aku jemput kesana. Biar berasa vibes pacarannya." ujar Arka lagi.
"Ok." Amanda menyetujui ide suaminya.
Setibanya dirumah, Amanda pun membereskan barang-barang si kembar. Arka sempat mengajak bermain dan menggendong bayi-bayinya itu satu persatu.
"Kita pergi ya, Ka." ujar Amanda kemudian.
"Tunggu aku ya, besok." ujar Arka lalu mencium bibir istrinya itu.
"Hoaaaa."
"Hoaaaa."
Azka dan Afka seakan marah, ibu mereka dicium.
"Dih kenapa, dek. Orang ini istri papa, yeeee."
Arka meledek kedua anaknya.
"Hoaaaa."
"Hoaaaa."
Arka tertawa lalu mencium kedua bayinya itu satu persatu.
"Hati-hati di jalan, ya." ujar Arka kemudian.
"Iya, papa. Dada papa."
"Da-da, sayang."
Amanda pun mendorong stroller bayinya, lalu kemudian mereka menghilang dibalik pintu lift. Amanda membawa bayinya kerumah yang satunya lagi, karena besok ia akan pergi jalan-jalan seharian dengan Arka.
Malam itu, mereka tak berkomunikasi sama sekali. Kebetulan Azka dan Afka ada yang menjaga, Amanda menghabiskan waktunya dengan luluran serta mandi sabun aromaterapi. Maklum, besok ia akan bertemu dengan pacarnya.
Entah mengapa hati Amanda kini menjadi dag-dig-dug-der, seakan-akan memang dirinya kini tengah kasmaran. Sedangkan Arka menghabiskan waktunya untuk berolahraga di sebuah ruangan. Ia juga tak lupa mencukur kumis serta jenggot dan jambangnya yang sudah tumbuh kembali, pasca dicukur beberapa hari lalu.
Amanda memikirkan Arka, dan membayangkan apa yang akan terjadi besok. Namun ia jadi senyum-senyum sendiri. Karena selama hidupnya pun ia belum pernah sungguh-sungguh berpacaran.
Dulu saat bersama Nino, mereka hanya memiliki rasa suka didalam hati. Tanpa ada yang berani mengungkapkan satu sama lain. Mereka pun bertemu hanya disekitaran tempat yang dekat dengan sekolah mereka. Tak pernah benar-benar pergi jauh bersama, karena saat itu juga mereka masih kecil.
Ketika bertemu Arka, mereka langsung menikah dan langsung melakukan hubungan suami-istri. Tak ada pendekatan atau acara pacaran terlebih dahulu.
Jadi momen ini bisa dibilang adalah pertama kalinya ia akan menjalani masa pacaran bersama suaminya itu. Agak konyol memang, tapi ya sudah nikmati saja. Selagi bisa menikmatinya, lagipula Arka adalah suaminya. Mau apapun yang akan mereka perbuat selama masa pacaran ini, semuanya bebas. Tak akan ada yang menghalangi.
Malam itu Amanda merebahkan diri ke atas tempat tidur sambil senyum-senyum sendiri. Tak jauh berbeda dengan Arka, meski ia pernah pacaran dengan Maureen. Namun momen ini entah mengapa terasa sedikit lucu baginya. Tapi tidak apa-apa, toh mungkin ini bisa jadi sebagai cara untuk membuat keduanya menjadi lebih dekat.
Esok harinya Amanda terbangun pagi-pagi sekali. Meski janjian dengan Arka start pukul 9 nanti, namun sepertinya ia sudah tidak sabar untuk bertemu.
Amanda segera saja sarapan lalu menyusui bayi-bayinya, kebetulan si kembar memang rajanya bangun pagi. Namun setelah menyusu biasanya mereka akan tidur lagi. Si kembar sendiri telah dimandikan oleh Anita dan Lastri, mereka juga sudah buang air dan diganti popoknya.
Amanda kini memompa ASI dan menempatkannya pada kantong-kantong penyimpanan ASI, yang memang selalu ia sediakan. ASI nya sangat deras pagi ini, lalu ASI-ASI tersebut pun di simpan kedalam lemari pendingin.
Amanda pergi mandi, lalu ia mematut diri didepan kaca setelah itu. Ia berdandan sedemikian rupa agar terlihat cantik. Ia juga mengenakan pakaian casual yang simple namun tetap memperlihatkan sisi feminimnya yang anggun.
Waktu berlalu, maid memberitahu jika Arka sudah didepan rumah. Amanda mengambil tas dan berlarian kebawah. Tampak Arka sudah berdiri didekat sebuah motor, mengenakan kaos polos, celana jeans hitam, sepatu sneakers dan juga jaket. Persis anak muda pada umumnya jika tengah menjemput sang kekasih.
"Hai." ujar Arka pada Amanda sambil tersenyum. Amanda mendadak tersipu malu, entah kenapa perasaan itu muncul begitu saja.
"Ini motornya Rio?" tanya Amanda kemudian.
Arka mengangguk sambil masih tersenyum.
"Mau jalan sekarang?" tanya nya kemudian. Amanda pun mengangguk.
Arka memberikan sebuah helm padanya. Amanda memakai helm tersebut, lalu kemudian duduk di motor setelah Arka terlebih dahulu.
"Mau kemana kita?" tanya Amanda ketika motor telah berjalan meninggalkan rumah.
"Terserah." ujar Arka.
"Koq terserah?" Amanda mengerutkan keningnya, sementara Arka kini tertawa.
"Kan orang pacaran biasanya gitu."
"Emang iya?" tanya Amanda seraya melingkarkan tangannya di pinggang Arka. Arka memperhatikan hal tersebut sejenak, lalu ia pun tersenyum.
"Iya, abis itu berantem karena dua-duanya ngomong terserah."
Arka berkata seraya tertawa diikuti tawa Amanda.
"Ka."
"Hmm?"
"Kamu ganteng deh hari ini."
Lagi-lagi Arka tersenyum.
"Kamu juga cantik, selalu cantik."
Amanda tersipu malu, wanita itu kini menempelkan kepalanya di punggung Arka.
"Deketin lagi dong sayang." ujar Arka dengan nada nakal.
"Apanya?" Amanda mulai sewot.
"Ya itunya."
"Ih, apaan sih." Amanda mencubit Arka, pemuda itu pun kesakitan.
"Aw." ujarnya seraya tertawa.
"Ganjen kamu ya, bocil." Amanda kembali mencubit pinggang Arka, hingga Arka pun terkejut dan refleks menggerakkan tubuhnya.
"Boleh dong ganjen sama kamu, kan pacar aku."
"Ih nggak boleh, kan kita masih pacaran." ujar Amanda lagi.
"Ayo dong sayang, dikit aja. Biar enak."
"Iiih. Nih, nih aku tempelin nih." Amanda menyodorkan dada besarnya ke punggung Arka.
Tanpa mereka sadari pengendara motor di kanan dan kiri kini menatap mereka dengan tatapan horor. Beberapa diantaranya tampak menggeleng-gelengkan kepala.
Seketika Arka dan Amanda pun tersadar, jika dunia ini bukanlah milik mereka berdua saja. Keduanya pun lalu tertawa terbahak-bahak.
"Ka, aku malu." ujar Amanda seraya masih tertawa. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu Arka.
"Aku juga, hihihi. Kamu mah enak mukanya bisa diumpetin. Lah aku, mukanya didepan sini. Mana masih ngeliatin lagi tuh ibu-ibu."
"Umpetin ke belakang Ka, muka kamu."
"Hmphahahaha." Keduanya kembali tertawa.
"Pacar bangsat kamu, masa muka aku pindah kebelakang."
Lagi-lagi mereka terkekeh.
"Ya banyak, jalan kek kemana. Makan berdua, nonton. Ya gitu-gitu."
"Aku mau nonton." ujar Amanda kemudian.
"Ini baru jam berapa sayang, mall sama bioskop aja belum buka."
"Ya udah deh, terserah kamu mau ajak aku kemana."
"Ke hati kamu mau nggak?"
"Arka, kamu kenapa sih gombal banget." Amanda kembali memukul bahu suaminya itu, Arka tertawa sambil terus fokus ke jalan.
"Ka, ada gado-gado. Udah lama nggak makan."
Arka melihat ke arah yang ditunjuk istrinya.
"Mau?" tanyanya kemudian.
"Kamu mau nggak, tapi?" Amanda balik bertanya.
"Aku mah ayo aja, aku juga belum makan sih tadi."
"Belum makan kamu?"
"Belum." jawab Arka.
"Ya udah yuk kita makan, tadi sih aku udah makan. Tapi disedot si kembar, laper lagi deh."
"Ya udah, kita cari parkir dulu."
Arka pun mencari parkiran motor disebuah bank, yang ada dibelakang penjual gado-gado tersebut. Karena memang si penjual menjajakan dagangannya di pinggir jalan, tepat di depan sebuah bank konvensional.
"Pak, dua ya. Kamu pake apa aja?" tanya Arka pada istrinya.
"Pake semua aku."
"Pare juga pake, neng?" tanya bapak-bapak si penjual.
"Iya pake."
"Saya juga sama pak." ujar Arka kemudian.
Sambil menunggu, Arka dan Amanda pun duduk pada dua buah kursi plastik sambil berbincang. Tak lama kemudian gado-gado tersebut selesai dibuat.
"Beh, juara sih. Ga ada yang bisa ngalahin gado-gado pinggir jalan begini." ujar Amanda sambil melahap gado-gadonya.
"Iya, aku pernah makan yang di restoran. Nggak enak." ujar Arka menimpali.
"Bumbu nya kurang ya, Ka?"
"Iya, aesthethic doang kalau di foto."
"Kalau di bapak-bapak gini, liat aja tuh bumbunya. Nggak pelit, enak." Amanda memperhatikan piringnya.
"Udah gitu bisa request lagi, mau tambah bawang putih kek, dibikin lebih manis kek." lagi-lagi Arka menimpali.
"Bener, bener, bener." ujar Amanda.
"Kamu pake lip matte yang kita beli kemaren ya?" tanya Arka seraya memperhatikan bibir istrinya.
"Iya." jawab Amanda sambil sedikit tersipu malu.
"Lucu warnanya, aku suka."
Amanda tersenyum, entah mengapa jantungnya kini kembali berdegup kencang.
"Rio nggak marah, kamu pinjem motornya?" tanya Amanda kemudian.
Arka menggeleng.
"Udah aku sogok pake pizza box yang triple."
"Oh ya?"
"Iya, lagian dia tuh punya 3 motor. Satu yang matic ini, satunya yang gede, yang jok nya nungging. Satu lagi matic yang body nya lebar, yang kalo boncengan sama cewek, misal itu cewek kurang tinggi, kakinya nggak nyampe."
Amanda tersedak menahan tawa, namun Arka lalu memberinya minum.
"Kamu koq ketawa sih?" tanya Arka heran.
"Ya abis kamu ngejelasinnya kocak."
Arka tersenyum.
"Tapi koq Rio selalu pake matic ini, aku lihat."
"Kan dia beli dua motor itu buat bakal jalan sama cewek-cewek yang dia gebet. Cewek yang dia gebet kagak ada yang nyangkut, ya akhirnya terbengkalai. Motor cowok gitu kan, kalau lampu merah pegel, mendingan matic. Nah yang matic satunya makan parkir. Kalau di kampus sering di-bully tuh yang make motor matic body gede gitu, dibilang suruh bawa lahan parkir sendiri."'
Amanda kembali tersedak, kali ini ada rasa pedas yang menusuk tenggorokan dan telinganya. Arka benar-benar membuatnya tertawa.
"Haduh, ada-ada aja deh kalian berdua. Padahal Rio cakep ya, koq ambyar mulu."
"Tau, udah nasibnya kali." Arka tertawa.
Tiba-tiba Rio menelpon Arka.
"Hmm, panjang umur. Baru di omongin." ujar Arka lalu mengangkat telpon tersebut.
"Bro?"
"Lu dimana, bro?" tanya Rio.
"Lagi makan gado-gado sama Amanda."
"Lu pacaran, pacaran aja. Jangan ngomongin gua."
Arka tertawa, Amanda yang mendengar suara tersebut pun tercengang.
"Pede lu, siapa yang ngomongin lu?. Artis lu, bro?"
"Iya kan gue artis." ujar Rio seraya tertawa.
"Gue feeling, lo kayaknya ngomongin gue ke Amanda." lanjutnya lagi.
"Kagak, ngapain gue ngomongin lo. Penting banget."
"Penting lah, gue."
"Udeh ah, ganggu aja."
"Iya, iya ayank beb. Bye." Rio menutup telponnya. Arka hanya tertawa.
"Itu koq Rio tau-tau an di omongin?" tanya Amanda heran.
"Namanya juga Rio. Melihara Jin tau dia."
Lagi dan lagi Amanda terkekeh. Kali ini makanan mereka sudah habis, dan mereka pun siap melanjutkan perjalanan.