
Amanda menangis tersedu didalam perjalanan pulang, sekembalinya ia dari kediaman Nino. Hatinya begitu sakit, Nino yang ia kenal sejak lama dan mengisi hatinya selama belasan tahun itu tega berkata kasar seperti itu padanya.
Waktu telah melenyapkan Nino dari hidup Amanda. Nino yang dulu ia kenal sebagai remaja yang sangat baik, kini seolah hilang dan hanya tersisa raganya saja.
Remaja yang dulu sering menghapus air matanya itu, kini telah berubah menjadi sosok dewasa yang justru malah membuat air matanya jatuh tak tertahankan.
"Bu, kita mau kemana?" tanya sang supir kepada Amanda. Karena sejak tadi Amanda hanya menangis, ia tak memberitahukan kemana tujuan mereka kini. Ke rumah atau ke kantor.
"Kan udah gue bilang, Man. Berapa kali gue chat lo, tapi nggak lo bales." ujar Nindya ditelpon ketika Amanda mengadukan semuanya.
"Nino yang lo temuin terakhir kali, itu adalah Nino yang selama ini ada di hati lo. Bukan Nino yang sekarang."
Amanda tak berkata apa-apa, ia hanya terus menangis.
"Waktu dan keadaan adalah dua hal yang paling bisa merubah seseorang, Man. Gue tau mungkin Nino saking sakit hatinya habis ngeliat lo dan Arka bercinta secara live. Makanya dia sampe tega ngomong seperti itu." ujar Nindya.
"Harusnya, kalau emang lo masih mau memperjuangkan Nino. Lo mestinya terima, apapun keadaan dia sekarang. Jangan pernah lo samakan lagi Nino yang dulu dengan yang sekarang. Lo nggak bisa mencintai orang dengan bayang-bayang tentang dia di masa lalu." lanjutnya lagi.
"Semua orang itu berubah, Man. Kalau lo nggak bisa menerima Nino yang sekarang dan masih mengharap Nino yang dulu, lo harus mundur. Jangan pernah memaksa diri walau itu sakit. Apalagi sekarang ada Arka. Lo kan pernah memiliki Nino yang dulu. Ya udah, cintai yang itu aja. Walaupun hanya didalam memori lo. Nggak perlu lo capek-capek memaksa Nino yang ini untuk jadi seperti dulu. Karena dia udah hilang dimakan waktu, yang ada elo yang sakit."
Amanda makin terpekik dalam tangis, hatinya benar-benar hancur saat ini.
***
Sementara di depan kampus, Arka tampak tengah membahas beberapa mata kuliah bersama teman-temannya. Ada beberapa hal menyulitkan yang harus mereka diskusikan bersama.
"Jadi gini, gue rasa ini harus kita alihkan kesini dan yang ini kita pindah kesini ini."
Arka menjelaskan pada teman-temannya itu tentang apa-apa yang belum mereka mengerti. Teman-temannya fokus memperhatikan sampai kemudian,
"Ka."
Rio datang ke arah Arka sambil berlari tergopoh-gopoh.
"Kenapa, bro?" tanya Arka heran.
"Itu."
Rio menunjuk ke suatu arah, namun nafasnya kini sangat ngos-ngosan. Sehingga ia agak kesulitan untuk melanjutkan kata-kata.
"Itu apa?" tanya Arka seraya menilik ke arah yang tadi ditunjuk oleh temannya itu.
"Itu."
"Hhhh."
"Hhhh."
Rio masih berusaha mengatur nafasnya.
"Apaan sih?. Pak Lex."
Arka melihat dosennya yang nyentrik melintas.
Rio menggeleng.
"Bukan." jawabnya.
"Bu Jill?. Bu Karin?. Bu Anya?"
Arka menyebut nama-nama dosennya yang kebetulan melintas, satu persatu.
"Bukan, lo ikut gue!"
Rio menarik paksa Arka dan membawanya berlari.
"Mau kemana sih?" tanya Arka lagi.
"Udah ikut aja."
"Ya nggak usah gandeng gue juga, Bambang. Kayak film India, heran."
Waktu pun mendadak terhenti, tatkala mata Keenan Arka Adrian mendapati sebuah pemandangan. Dimana istrinya Amanda Marcelia Louise tengah berdiri tepat beberapa meter dihadapannya, sambil berurai air mata.
"Amanda?"
Arka berujar seakan tak percaya, jika kini wanita itu ada dihadapannya. Sebab tadi pagi Amanda pamit untuk ke kantor.
"Man, kamu ken..."
Belum sempat Arka melanjutkan pertanyaan, Amanda menghambur dan memeluk Arka secara serta-merta. Arka pun balas memeluk wanita yang kini sesenggukan di dadanya itu. Meski ia belum mengerti.
"Man, kamu kenapa?"
"Maafin aku, Arka." Amanda masih terisak.
"Maafin aku, aku salah sama kamu Ka."
"Ssshhh, udah-udah."
Arka menenangkan dan mengusap punggung Amanda. Mungkin hormon kehamilannya sedang meningkat, maka Amanda jadi seperti itu pikir Arka. Arka tak tahu dengan apa yang sesungguhnya telah terjadi.
"Kamu tenang ya." ujar Arka lagi.
Waktu berlalu, Amanda kini berada dihadapan Arka dengan sejuta penyesalan.
"Maafin aku, Ka." ujarnya seusai jujur perihal apa yang telah terjadi belakangan ini.
Arka diam dan menatap ke arah lain. Namun kemudian ia kembali menatap wanita itu, seraya memegang tangannya dengan erat.
Pernyataan Arka tersebut membuat Amanda terhenyak kaget. Ia menatap suaminya itu dengan jantung yang berdegup kencang.
"Aku udah tau dari awal soal Nino. Foto yang kamu sembunyikan dari aku di laci, pertemuan pertama kamu dengan dia, aku ada disana."
Amanda makin terhenyak.
"Bahkan sebelum kamu menyadari kalau Nino ada di negara ini, aku udah pernah ketemu dia. Waktu jemput kamu di kota tua. Dan pada saat kamu pergi sama dia kesana, aku juga tau. Aku menyusul kamu.karena aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu."
Air mata Amanda kembali mengalir.
"Jadi selama ini?"
"Aku tau Amanda, aku tau semuanya." jawab Arka.
Amanda menundukkan pandangan dan menangis tersedu-sedu. Arka lalu memeluk dan mengusap air mata istrinya itu dengan tissue.
"Udah, jangan nangis lagi!. Kamu nggak kasihan sama anak kita?"
Amanda pun berusaha menyudahi tangisannya. Karena bayi yang ada didalam kandungannya mulai bergejolak. Seakan tak ingin jika ibunya bersedih hati.
"Udah ya, jangan nangis lagi. Aku udah maafin koq."
Amanda ingin menangis lagi, namun Arka menahannya.
"Udah, udah, udah!" ujar Arka kemudian.
"Aku mau ke toilet, Ka."
Amanda berkata ketika selesai menghapus air matanya.
"Ya udah, aku anterin."
Arka kemudian mengantar Amanda ke toilet kampus dan ia menunggu didepan. Cukup lama Amanda berada disana. Mungkin sekalian mencuci muka, pikir Arka.
Tak lama kemudian,
"Ka."
Bianca, teman sesama artisnya datang dan secara serta merta langsung memeluk Arka. Hal itu bertepatan dengan keluarnya Amanda dari dalam toilet.
Amanda yang kaget melihat suaminya dipeluk wanita tersebut langsung terdiam. Ia mengenali Bianca yang pernah muncul di insta story Arka, perlahan hatinya pun terbakar api. Amanda lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Arka segera melepaskan pelukannya dan menyusul Amanda. Sementara Bianca terlolong bengong karena tidak mengerti apa-apa.
"Man."
"Amanda."
Amanda hanya diam dan terus berjalan, wajahnya kini penuh dengan kemarahan dan kekesalan.
"Amanda."
"Aku mau sendirian, Arka. Ternyata semua laki-laki itu sama aja. Kalau nggak nyakitin dengan perkataan, ya perbuatan. Nyebelin semuanya."
"Man, apa kabar aku yang kamu sakitin?"
"Terus kamu mau balas dendam gitu?. Emangnya kamu sakit hati kalau aku sama orang lain. Bukannya kamu sekarang lagi persiapan cari cewek baru, buat cadangan kalau pernikahan kita udah selesai."
"Man, bisa-bisanya ya pikiran kamu kayak gitu. Prasangka kamu terlalu jauh tau ngga?"
"Semua udah terbukti, Ka. Aku liat cewek itu di insta story kamu tempo hari."
"Dia itu temen aku, Amanda."
"Bohong, tadinya aku berfikir apa kita resmikan saja pernikahan kita."
"Wait, apa kamu bilang?"
Kali ini Arka berlari dan berhenti didepan Amanda. Sementara kini Amanda membuang pandangan, ia tak mau menatap Arka.
"Aku udah berubah pikiran, percuma mencoba sama kamu."
Amanda kembali berlalu.
"Amanda, aku cinta sama kamu."
Amanda menghentikan langkahnya dan waktu pun seakan melambat. Tubuhnya kini gemetar demi mendengar pernyataan itu.
"Aku cinta sama kamu Amanda dan aku serius. Amanda menoleh pada Arka dengan mata berkaca-kaca. Ia menatap Arka dengan langkah yang kian mendekat.
"Aku tau ini aneh, tapi aku cinta sama kamu. Aku mau kamu jadi istri aku yang sah dimata hukum. Aku tau aku masih muda, tapi aku..."
Amanda mencium bibir Arka secara serta merta. Arka yang terkejut itupun tak bisa berbuat apa-apa. Amanda terus menciumnya hingga Arka pun akhirnya membalas.
"Aku pikir aku juga cinta sama kamu, Arka."
Wajah Arka berubah sumringah, ia benar-benar bahagia saat ini. Ia lalu kembali mencium bibir Amanda.
"Ehm."
Sebuah suara terdengar. Amanda dan Arka baru sadar jika disekitar mereka banyak mahasiswa dan mahasiswi, yang tengah duduk melantai sambil membahas mata kuliah. Seketika keduanya jadi salah tingkah.
"Cieeee."
Mahasiswa dan mahasiswi tersebut bersorak sorai. Amanda dan Arka bergerak perlahan dengan pipi bersemu merah dan senyum yang terkembang.