Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
So Close


"Kamu tinggal di apartemen ini?"


Ryan tak percaya pada Vera, ketika ia mengantarkan wanita itu untuk pulang.


"Iya." ujar Vera kemudian.


"Makasih udah nganterin saya." ujarnya lagi. Itu semacam kode pengusiran agar Ryan segera pulang, namun Ryan malah mengikuti langkahnya hingga ke lobi.


"Saya juga tinggal disini." ujar Ryan membuat Vera tercengang.


"Se, serius?" tanya Vera tak percaya.


"Iya, saya di lantai 33."


"Oh, paling atas?"


"Iya, kamu?"


"Lantai 12."


"Ya sudah, kamu keberatan kalau ketempat saya?. Saya obati luka kamu, abis itu saya antar pulang ke unit kamu."


Vera menatap Ryan.


"Saya orang baik, disana ada dua anak saya. Satu lagi bakalan datang dalam 20 menit." ujar Ryan.


"Oh, o, ok." ujar Vera meski ragu-ragu.


Entah mengapa ia seakan menurut saja, pada apa yang dikatakan pria itu. Vera bisa menangkap adanya ketulusan di mata Ryan, ketimbang saat ia berhadapan dengan Amman. Ia mengikuti pria itu hingga ke lantai 33, tempat dimana unit Ryan berada.


"Ayo masuk." ujar Ryan seraya membuka pintu.


Vera melangkah lalu menatap sekitar, apartemen milik Ryan lebih besar ketimbang miliknya. Ia kemudian berjalan dan mengikuti langkah pria itu, hingga ke ruang makan.


"Duduk." ujar Ryan seraya menggeserkan kursi. Vera lalu duduk disana, Ryan mengambil air minum untuk wanita itu. Ia juga kini melangkah ke arah kotak P3K dan membawa beberapa obat ke dekat Vera. Tak lupa ia menyediakan air hangat dan sebuah sapu tangan.


"Siapa yang melakukan ini, Amman?" Ryan bertanya pada Vera. Wanita itu terdiam, ia tak ingin membawa masalah ini sampai keluar.


"Where is your husband?" tanya Ryan lagi, seraya menyeka bibir Vera. Dengan sapu tangan yang telah direndam air hangat.


"Nggak ada." jawab Vera singkat.


Dalam pandangan Vera, Ryan agaknya tidak tahu jika wanita itu memiliki hubungan dengan Amman dan tengah mengandung anak pria itu. Namun didalam benak Ryan, ia telah mencurigai hal tersebut sejak lama. Hanya saja dirinya kini sedang berpura-pura dan bersikap layaknya orang yang tidak tahu apa-apa.


"Your boyfriend?"


"Ada, tapi..." Air mata Vera merebak di pelupuk mata.


"Ya sudah, jangan diceritakan." ujar Ryan kemudian. Ia memposisikan diri sebagai orang, yang tak ingin terlalu mengorek keterangan. Lagipula ia tidak tertarik untuk menghancurkan Amman dengan cara yang instan. Ia ingin bermain, lebih lama dalam banyak hal.


"Ssshhh."


"Hmmh."


Vera menahan sakit, saat wajahnya di kompres oleh Ryan. Tamparan Amman tadi benar-benar menggunakan tenaga, hingga menyebabkan memar yang ia alami cukup berat.


"Daaad."


"Sssst."


Ansel menempelkan jari dibibir, ketika Nino turun dari lantai dua apartemen dan hendak mencari ayahnya. Ansel kini bersembunyi dibalik dinding yang menuju ruang makan.


"Ssssh."


"Aaah."


Suara Vera yang masih kesakitan, menimbulkan persepsi lain dibenak Ansel dan juga Nino yang kini baru mendengar hal tersebut. Tak lama kemudian Arka tiba dan membuka pintu.


"Sssst."


Ansel dan Nino sama-sama menempelkan jari telunjuk di bibir. Arka yang bingung pun mendekat.


"Why?" tanya nya nyaris tanpa suara.


"Ssshh."


"Ah."


"Aw."


"Hmmmh."


Arka terkejut.


"Daddy ngapain?" tanya nya kemudian.


Ansel membuat gerakan maju mundur. Arka kian terkejut dengan pernyataan saudaranya itu.


"Daddy bawa cewek?" bisik Arka. Nino lalu membungkam mulut saudaranya itu dengan tangan agar tak kedengaran.


"Masih sakit?"


"Iya."


"Saya pelan-pelan ya."


Nino, Ansel dan Arka kompak memejamkan mata seraya menghela nafas. Mereka kini menepuk jidat secara bersamaan.


"Sssh, sakit Ryan."


"Aaah."


Ketiga anak itu menahan nafas, pikiran mereka kini traveling kemana-mana.


"Tenang ya, semua akan baik-baik saja. Ini aku pelan-pelan."


"Hmmmh."


"Ssssh."


"Udah enakan kan sekarang?" tanya Ryan.


"Iya udah."


Nino, Ansel dan Arka makin tak karuan mendengar semua itu.


"Gue mau pipis." ujar Arka kemudian.


"Jangan maen sabun lo, gue baru beli." ujar Nino sengit, namun dengan suara sangat pelan. Arka tertawa lalu,


"Byuuur ia melaju ke kamar mandi."


"Udah?"


"Iya udah."


"Cepet amat?" tanya Ansel pada Nino.


"Namanya juga udah tua." ujar Nino kemudian.


"Kakek Sugiono lama." ujar Ansel lagi.


"Ini Sugianto." Nino gregetan.


Mereka berdua kini mengintip. Tampak Vera Berdiri dan mengarah kepada wastafel di kitchen set.


"Nah lo, dia bunting?" ujar Nino dan Ansel di waktu yang nyaris bersamaan, mereka melihat perut Vera yang membuncit.


"Cepet amat?" ujar Ansel kemudian.


"New member, bro." timpal Nino.


"Apaan sih?" tanya Arka yang baru tiba dari kamar mandi.


"Itu cewek bunting, Ka." ujar Ansel dan Nino kemudian.


"Hah, langsung bunting?. Cepet amat?"


Mereka bertiga kembali mengintip. Kepala Ansel, kepala Nino dan kepala Arka, muncul satu persatu.


"Hah?" Arka syok melihat Vera.


"Kenapa, Ka? tanya Nino heran.


"I, itu."


"Itu apa?" Ansel ikut bertanya.


"Itu pacar bapaknya Amanda."


"Hah?" Ansel dan Nino tak percaya.


"Itu, dia lagi hamil anak bapaknya Amanda."


"Hah?" lagi-lagi keduanya syok.


"Koq daddy bisa sama dia?" tanya Arka lagi.


"Ya mana kita tau." ujar Nino kemudian.


"Beneran itu pacar bapaknya Amanda?" tanya Ansel masih tak percaya.


"Bener, tapi jangan kasih tau daddy. Ntar ambyar lagi. Ntar Amanda juga malu atas kelakuan bapaknya, malu sama mertua."


"Huuuh." Ansel dan Nino menghela nafas.


"Gue kirain kita bakalan punya saudara lagi." ujar Ansel.


"Ya kalau dia nikah sama daddy, kita punya adek lagi, Bambang." ujar Nino kemudian.


"Tunggu." Arka seperti memikirkan sesuatu. Nino dan Ansel kini menatap kearahnya.


"Itu kan adeknya Amanda, berarti daddy?"


Arka menatap kedua saudaranya.


"Anak tiriku adalah adik menantuku." ujar Nino.


"Menantuku adalah saudara dari anakku bukan anakku." Ansel menimpali.


Arka dan Nino saling bersitatap, mereka heran kenapa Ansel lebih hafal judul-judul sinetron ikan terbang.


"Terus kalau di lihat dari sisi Vera, judulnya jadi "Suamiku adalah mertua dari kakak tiri anakku." ujar Arka.


Mereka bertiga kini kompak menahan tawa.


"Ngapain disitu?" Agaknya Ryan menyadari kehadiran anaknya. Mereka bertiga terkejut dan diam dalam persembunyian.


"Nino."


"Iya, dad. Hehehe." Nino nyengir bajing sambil menongolkan kepala. Vera hanya tersenyum melihat laki-laki itu.


"Ansel."


"Hehehe." Ansel ikut menongolkan kepala dan nyengir pula.


"Ya sudah sana." ujar Ryan.


"Arka nggak dimarahin?" Ansel protes.


"Arka?" gumam Vera.


"Memangnya Arka sudah datang?" tanya Ryan.


Ansel dan Nino berusaha menarik Arka yang bersiap untuk kabur.


"Nih, manusianya nih." ujar Nino.


Arka berusaha menghindar sambil menahan tawa. Namun kedua saudaranya dengan sekuat tenaga menarik tubuhnya, agar ia kelihatan dimata ayah mereka. Sampai disuatu titik, mereka pun berhasil.


"Hai, dad." ujar Arka sambil nyengir.


Seketika Vera pun terkejut, ia menatap Ryan lalu menatap Arka secara bergantian. Wajah perempuan itu terlihat begitu syok dan penuh tanda tanya.


"A, Arka?" tanya nya pada Ryan.


"Kamu kenal anak saya?" tanya Ryan.


"Ya, dia masih brand ambassador salah satu produknya Amman.


"Ya, I know that. Tapi saya pikir kamu tidak mengenal dia."


Arka masih nyengir ditempatnya, sementara Vera kini kembali duduk dengan jantung yang berdegup kencang.


"Arka itu?"


"Anak saya, dari ibu yang berbeda dengan Ansel."


Arka, Nino dan Ansel sudah buru-buru pergi sebelum di marahi lebih lanjut. Mereka kini naik kelantai dua, sementara Vera masih mendengar jawaban dari Ryan.


"Jadi?"


"Iya, he's my son."


Seketika Vera teringat, akan Amman yang ingin menjodohkan Amanda dengan anaknya Ryan. Ya, setidaknya ia telah mendengar perkataan itu tanpa sengaja beberapa kali. Ketika Amman membicarakan hal tersebut pada Rachel di kantor.


Jika Arka adalah anak dari Ryan, maka itu artinya.....


Vera pun lalu tersenyum, tak disangkanya takdir akan selucu itu.