Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Jejak


Arka dan Amanda keburu masuk ke dalam mobil. Sang ibu tak berhasil mendapatkan bukti mengenai kecurigaannya, dikarenakan terhalang banyaknya orang yang lalu lalang. Namun naluri seorang ibu memang tidak bisa dibohongi, ibu Arka masih meyakini jika yang ia lihat tadi adalah benar puteranya.


"Bu."


Rianti yang tertinggal dibelakang, kini tiba bersama troly berisi belanjaan.


"Ti, mereka sudah hilang. Kemana ya kira-kira?"


Mata ibu Arka masih menjelajah kesana kemari. Berharap pandangannya bisa menemukan secercah bukti, dari seluruh firasat dalam hatinya. Namun Arka telah mengemudikan mobilnya dan meninggalkan halaman parkir swalayan itu, sejak beberapa saat lalu.


"Mungkin emang salah orang, bu."


Rianti masih mencoba meredam ibu Arka. Namun ibu Arka sepertinya enggan menerima begitu saja, ia yakin betul sudah melihat Arka.


"Ti, mulai hari ini ibu minta. Kamu tolong ikuti dan mata-matai mas mu."


"Kalau mas Arka sampai tau, nanti mas Arka malah benci sama Rianti bu."


"Ibu akan mengakui didepan mas mu. Kalau kamu itu, ibu yang suruh. Ibu akan bertanggung jawab. Pokoknya kamu ikuti dan mata-matai mas mu, kalau dia pulang kerumah nanti."


"Iya, bu." jawab Rianti.


Sementara dijalan, Arka dan Amanda terus terlibat obrolan seru. Mereka berbincang mengenai film, lagu, politik, pekerjaan, masakan, sampai kepada ilmu parenting. Sesekali Arka terlihat mengelus perut istrinya, sambil terus fokus mengemudikan mobil.


"Ka."


"Iya."


"Belanja baju bayi, yuk."


"Kata kamu nggak boleh, pamali." ujar Arka.


"Elah, ngikutin peraturan kuno mulu. Yakin aja sama Tuhan, kalau bayi kita bakalan baik-baik aja." ujar Amanda.


"Tapi kan kita belum tau jenis kelaminnya apa. Ntar salah beli, gimana?"


"Kan bisa beli yang unisex, Arka."


"Iya sih, bisa. Jangan beli yang warna atau aksen secara spesifik."


"Nah itu dia makanya. Soalnya kalau mepet waktu lahiran, ntar kita sendiri yang repot." ujar Amanda lagi.


"Ya udah, kamu maunya kita beli dimana?" tanya Arka.


"Ntar dulu, aku liat-liat tempat yang bagus dulu di google."


Amanda pun meraih handphone dan mencari informasi mengenai toko-toko apa saja, yang menjual perlengkapan bayi terbaik. Ia inginkan yang terbaik untuk anaknya.


"Disini dulu, Ka." ujar Amanda menunjukkan sebuah toko perlengkapan bayi, yang letaknya tak jauh dari tempat dimana kini mereka berada.


"Ya udah, kita kesana ya." ujar Arka kemudian. Arka pun membelokkan mobilnya ke arah jalan yang menuju ke toko tersebut.


Sesampainya disana, suasana tak begitu ramai. Bahkan cenderung sepi, karena mungkin bukan weekend. Dan juga toko tersebut sekarang sudah melayani juga penjualan via online. Namun Amanda merasa tak puas, jika tidak mendatanginya sendiri. Belanja via online memanglah nyaman dan tenang, tetapi tak bisa memilih secara langsung. Kadang katalog yang diupload jarang sekali di update, hingga model yang muncul hanya itu-itu saja.


Arka memarkir mobil, lalu membukakan pintu untuk Amanda. Seperti biasa ia mengulurkan tangan pada istrinya itu dan membantunya untuk keluar dari dalam mobil. Lalu keduanya pun melangkah masuk kedalam toko tersebut.


Amanda dan Arka melihat-lihat perlengkapan serta baju bayi yang menggemaskan.


"Ka, yang ini lucu ya." ujar Amanda sambil memperlihatkan jumpsuit untuk newborn sampai dengan usia 3 bulan.


Arka pun tertawa.


"Kamu suka?" tanya nya kemudian.


"Iya, aku suka.". ujar Amanda.


"Tapi menurut kamu bagus nggak?"


tanyanya lagi.


"Bagus, aku suka." ujar Arka.


"Aku ambil ini ya?"


"Ya udah ambil, ambil dua atau tiga dengan warna yang beda ya. Biar kalau dia pipis, ada gantinya."


Kali ini Amanda tertawa, ia membayangkan betapa repotnya mengurus anak. Namun kini ia punya suami dan tak perlu ada yang dikhawatirkan. Jika Arka enggan membantunya mengurus bayi, maka ia akan merajuk dan menangis sejadi-jadinya di depan Arka. Ia yakin pemuda itu tidak akan tega terhadapnya.


"Hihihi." Amanda tertawa atas khayalannya sendiri.


"Kamu kenapa, Man?" tanya Arka heran.


"Mmm, nggak koq ujar Amanda.


"Nih, selimut, setelan, sepatu sama kaos kaki." ujar Arka. Ia memperlihatkan apa yang ia pilih pada Amanda.


"Segini aja dulu kali ya, Ka. Biar kita bisa balik lagi atau nyari-nyari ditempat lain." ujar Amanda.


"Terserah kamu, mau beli lagi juga nggak apa-apa. Lagian aku juga libur hari ini."


"Ya udah." ujar Amanda sumringah.


Sekembalinya dari toko tersebut, Arka dan Amanda pergi ke dokter kandungan. Untuk cek kehamilan rutin seperti biasa.


Hari itu pasien yang datang begitu ramai, hingga Amanda pun terlihat lelah diruang tunggu. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arka dengan wajah terlihat lesu.


"Kamu capek ya." tanya Arka seraya merangkul istrinya itu. Amanda pun mengangguk lemah, Arka lalu membawa Amanda ke dalam pelukannya.


"Harusnya kita buat janji dulu, ya." ujar Arka.


"Biar nggak ngantri begini." lanjutnya lagi.


"Kan minggu lalu, dokternya udah bilang. Jadwal pemeriksaan berikutnya, ya hari ini." ujar Amanda.


"Ya tapi dokternya nggak spesifik mengenai waktu. Kan kasian kamu nya capek. Apa kita ganti dokter aja?. Dirumah sakit yang lebih mahal, yang lebih private, buat kamu."


"Udalah, Ka. Ngantri juga paling dikit lagi ini."


"Aku tuh nggak tega, Man. Apa kamu mau dokter pribadi, biar dia datang kerumah?"


"Terus dia bawa alat-alat USG, komputer dan lain-lain gitu?" tanya Amanda sambil tertawa, lelahnya mendadak hilang mendengar pernyataan Arka barusan. Baginya hal tersebut begitu lucu. Sementara Arka seolah terjebak, oleh ucapannya yang sedikit bodoh.


"Ya nggak gitu, maksud aku. Biar kamu lebih gampang gitu loh." ujarnya sambil tertawa.


"Kan biasanya perempuan sekelas kamu, apa-apa di mudahkan dalam segala hal. Termasuk urusan kesehatan. Masa iya CEO ngantri begini." lanjutnya lagi.


Amanda kian tertawa.


"Nggak apa-apa, kan ada kamu. Di saat-saat kayak gini tuh, walaupun capek. Aku bisa melihat dan menilai karakter kamu sebagai suami. Apakah kamu orang yang sabar dalam menghadapi aku, atau nggak."


"Iya sih, tapi aku kasian sama kamu. Gimana dong?"


"Aku sabar, asal ada kamu." Amanda mencoba menggombal pada suaminya. Arka pun menahan tawa, namun gagal.


"Baru kali ini loh, ketemu CEO kaya-raya tapi ngantri." ujar Arka.


"Emang kamu pikir semua orang kaya itu selalu di nomor satukan?"


"Kamu kebanyakan baca novel online, yang penulisnya nggak pernah bergaul sama berbagai jenis orang kaya. Makanya karakter yang ditampilkan di dalam novel itu ya, selalu CEO arogan. Yang hidupnya serba mudah karena uang, nggak pernah ngantri kayak kita gini. Asal perintah-perintah pembantu, ke instansi manapun dapat layanan nomor satu. Bodyguard nya berhamburan disana sini, untuk mempermudah. Padahal itu halu."


"Koq halu?" tanya Arka seraya tertawa.


"Ya karena nggak semua orang kaya begitu. Nggak semua orang kaya mau menghamburkan uang, cuma supaya mereka selalu dinomor satukan. Kebanyakan dari mereka justru menyimpan atau mengalokasikan uang mereka ke hal yang lain. Orang kaya tapi diem-diem masih pake BPJS dan rela ngantri panjang juga banyak, Ka. Yang licik masih pake kartu keluarga miskin, biar bayarnya murah, ada."


"Emang ada?"


"Kamu aja nggak tau. Makanya mereka kaya, karena super irit.


Lagi-lagi Arka tertawa dan menarik kembali Amanda kedalam pelukannya. Setelah melalui penantian panjang, akhirnya tibalah giliran mereka. Saat itu bahkan Amanda baru saja terbangun, setelah tadi Ia sempat tertidur sejenak dalam pelukan suaminya itu.


Dokter pun memeriksa dan mengatakan jika kandungan Amanda sehat-sehat saja. Arka juga mengemukakan soal keinginan bercinta istrinya, yang akhir-akhir ini makin menggebu-gebu. Ia khawatir itu akan membahayakan bayi mereka.


Namun dokter mengatakan, jika sehabis bercinta tak ada flek maupun pendarahan, maka itu artinya kandungan Amanda baik-baik saja dan masih dalam tahap aman jika melakukan hubungan.


Hanya saja dokter mengingatkan Arka, untuk tidak terlalu kasar apabila sedang menggauli istrinya tersebut. Agar tidak menyakiti si ibu, maupun bayi yang sedang dikandungnya.


Banyak hal yang mereka tanyakan hari itu. Karena Arka masih sangat muda, dan Amanda sendiri memiliki pengetahuan yang tidak terlalu banyak mengenai kehamilan. Prinsip mereka, lebih baik banyak bertanya dan terlihat menyebalkan dari pada sok tau akan sesuatu.


Mereka benar-benar mendengarkan dan melaksanakan setiap nasehat yang diberikan oleh dokter.


"Gimana bumil, kita pulang sekarang?" tanya Arka ketika mereka sudah berada di mobil.


"Hmm, laper." ujar Amanda kemudian. Padahal baru dua jam yang lalu mereka makan.


"Ya udah, mau makan apa?. tanya Arka.


"Mau sushi." ujar Amanda lagi.


"Ok, tapi nggak boleh yang mentah ya. Kamu kan lagi hamil, nanti bisa terjangkit parasit dan toksoplasma."


"Iya, nanti aku mau makan sushi goreng sama yang lain. Selain yang mentah."


"Ya udah, ayok."


Arka mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Ka."


"Hmm."


"Sushi nya nanti, biar aku yang bayar ya" ujar Amanda ketika mobil telah merayap.


"Kenapa emangnya?" tanya Arka.


"Takut uang aku abis?" lanjutnya lagi.


"Bukan gitu, aku kan punya uang juga. Masa dari kemaren-kemaren, kamu mulu yang bayar. Kan aku nggak enak, Ka."


"Ya di enakin, dong." ujar Arka seraya tertawa."


"Ayolah, Ka. Aku yang bayarin, ya."


"Nggak, biar aku aja yang bayar. Kan yang makan ada anak ku juga, di dalem sana."


"Ih, kamu mah. Ya udah nggak usah makan aja."


Amanda tiba-tiba ngambek.


"Ya udah, ya udah. Nggak apa-apa kamu aja." Arka mengalah.


"Udah nggak mood makan sushi nya." Amanda makin ngambek. Arka menghela nafas lalu menatap istrinya itu.


"Ya udah, sekarang kamu mau makan apa?"


"Huhuuuu, huaaaa."


Amanda menangis seperti anak kecil, Arka pun terpaksa menghentikan mobilnya karena panik. Ia takut jika orang mengira ia tengah melakukan sebuah penculikan.


"Man, koq jadi nangis sih?" tanya nya kemudian. Nada bicaranya sedikit kesal.


"Koq kamu malah marah sih sama aku?" Amanda makin menangis sejadi-jadinya. Arka pun mengumpulkan kesabaran dan menghela nafas berkali-kali.


"Ya udah, aku minta maaf ya sayang." ujarnya dengan nada yang sangat-sangat sabar. Sementara Amanda masih enggan menghentikan tangisnya.


"Kamu mau, aku dikira menculik tante-tante cantik?. Hmmm?"


Kali ini Amanda menatap Arka, sambil mengusap air matanya dengan tangan.


"Mau suaminya dituduh melakukan tindak kekerasan?. Kita mau ngaku suami-istri juga, nggak punya surat nikah. KTP kita masih sama-sama single. Mau aku dituduh macem-macem ke kamu?"


Amanda menggeleng


"Ya udah, jangan nangis lagi."


Amanda mengangguk.


"Kita makan, ya."


Amanda menggeleng, kali ini. Ia memang telah berhenti menangis, namun agaknya hatinya masih dongkol. Ia masih saja ngambek, meski tak separah tadi.


"Kamu marah sama aku?" tanya Arka. Amanda hanya diam.


"Aku minta maaf ya, udah merusak mood kamu."


Amanda mengangguk, namun Arka tahu jika perempuan itu tidak benar-benar memaafkannya.


"Mau pukul aku?" tanya Arka lagi.


Amanda mengangguk.


"Rasanya pengen pukul kamu kuat-kuat." ujarnya kemudian.


"Ya udah, biar kamu puas dan nggak marah lagi."


Arka memejamkan matanya.


"Ayo, pukul aja sepuas hati kamu. Tapi janji abis ini nggak ngambek lagi."


Arka menunggu pukulan dari Amanda. Ia tak peduli jika sakit, yang penting hati Amanda bisa lega dan tak marah lagi kepadanya.


"Ayo, buruan...!"


"Nggak bisa, Ka." ujar Amanda. Arka membuka matanya.


"Kenapa nggak bisa?. Tinggal pukul aja."


"Abisnya kamu ganteng banget, nggak tega aku tuh."


Kali ini Arka tertawa, ia lalu memeluk dan mencium istrinya itu. Sesaat kemudian, mobil pun kembali berjalan. Kali ini perlahan, karena Arka sedang merayu sang istri agar moodnya untuk makan kembali seperti semula.


Tak butuh waktu lama, ia bisa membuat wanita itu tersenyum kembali. Sebuah mobil berpapasan dengan mereka. Salah seorang yang berada di dalam mobil tersebut pun berujar,


"Mas Arka?"