
Arka memandang Amanda yang tampak sibuk memasak, berberes rumah, serta serta membersihkan peralatan bayi mereka. Dihentikannya aktivitas dalam mengerjakan tugas kampus, lalu ia pun membantu istrinya itu.
"Hey, Ka. Makasih ya." ujar Amanda seraya meletakkan botol susu bayi kedalam air hangat.
Arka tersenyum, lalu mereka membereskan penthouse secara bersama-sama. Memang semua sudah dilengkapi mesin. Seperti mesin penyedot debu, mesin cuci dan mesin pencuci piring.
Namun meskipun terlihat lebih ringan dari pekerjaan ibu rumah tangga lainnya, tetap saja hal tersebut kadang membuat Arka menjadi tidak tega. Wanita yang dulunya sibuk dengan hidupnya sendiri itu, kini harus disibukkan dengan urusan rumah tangga.
"Man, kamu nggak apa-apa kayak gini?" tanya Arka ketika mereka sibuk mengelap dan membersihkan kitchen set, dengan cairan pembersih.
"Maksudnya?"
"Ya, gini loh. Sebelum nikah, kamu kan apa-apa dilayani pembantu. Sekarang semua kamu kerjakan sendiri, emang kamu nggak capek?"
Amanda tertawa.
"Kata siapa aku apa-apa dilayani pembantu?"
Arka menatap istrinya itu.
"Di penthouse ini dari awal aku tinggal, emang udah sendiri. Pembantu dari rumah satunya itu, hanya aku datangkan sesekali kalau emang aku lagi butuh bantuan. Semuanya aku kerjakan sendiri disini."
"Oh ya?"
"Iya, aku tuh nggak suka ada orang lain ditempat aku. Kurang luwes aja gerak aku mau ngapain-ngapain. Aku males di kepoin dan diliatin."
"Lah, kan aku orang lain?" ujar Arka kemudian.
"Iya, tapi kan kamu suami aku. Anak-anak juga anak aku, jadi nggak masalah. Yang aku nggak suka itu ketika ada orang lain, yang bener-bener orang lain. Risih aku nya."
"Oh, aku pikir kenapa koq kamu cepet banget berubah. Padahal kan nggak mungkin banget, seseorang yang nggak mau berumah tangga, biasa dilayani pembantu, terus berubah dalam waktu yang singkat. Kayak nggak masuk di logika gitu loh."
"Ka, nggak semua logika kita itu nyampe ke orang lain."
"Maksud kamu, logika aku pendek gitu."
Amanda tertawa.
"Bukan itu. Maksud aku, kadang orang itu, kita nggak tau dia gimana sebenernya. Kita cuma ngeliat dari covernya aja kan. Oh si ini begini, si itu begitu. Pasti dia begini, pasti dia begitu. Padahal kenyataannya kadang beda. Lagian nggak mau berumah tangga itu, bukan berarti nggak mau beresin rumah. Arti dari nggak mau berumah tangga itu adalah, nggak mau menikah. Yang bikin dulu aku nggak mau itu adalah drama mertua dan ipar, dan harus ngurusin suami yang aku pikir membosankan. Bukan berarti aku nggak mau nyapu, cuci piring dan lain-lain. Lagipula ngurusin kamu ternyata nggak ribet-ribet amat. Makanya ini semua masih aku yang kerjakan sendiri."
Arka tersenyum, agaknya ia mendapatkan jawaban dari seluruh pertanyaannya selama ini.
"Lagian buat anak sendiri, ngapain males sih." ujar Amanda lagi.
"Aku nggak mau loh mereka kebanyakan di urusin pembantu, terus lebih deket ke pembantu. Aku yang hamil, aku yang berojolin sakitnya minta ampun. Eh deket sama pembantu, kan sedih."
Lagi-lagi Arka tersenyum, dibelainya kepala wanita itu lalu diberinya kecupan di kening. Tak lama, robot penghisap debu mereka berhenti. Seiring dengan bunyi rice cooker yang sudah selesai memasak nasi, dan mesin cuci piring yang selesai melakukan tugasnya.
Tak lama terdengar suara tangisan bayi, Arka bergegas memeriksa bayi-bayinya. Sementara Amanda kini menyiapkan ASI untuk mereka.
***
"Nino."
Ansel tiba di apartment Nino dan langsung menghampiri laki-laki itu. Nino sendiri memang tengah menunggu Ansel.
"Daddy dimana?" tanya Ansel kemudian. Nino menggelengkan kepala.
"I don't know. Tapi dia ada disini."
"Huh."
Ansel menghela nafas.
"Pasti dia mau memaksa soal perjodohan bodoh itu." ujarnya kemudian.
"Tok, tok, tok." terdengar suara ketukan pintu.
"Kreeek."
"Hello, son."
Nino benar-benar terkejut dengan kehadiran ayahnya. Ia juga takut karena Ansel ada didalam.
"Daaad, how are you?"
Nino sengaja mengeraskan volume suaranya agar didengar oleh Ansel. Ansel yang mendengar itu pun langsung berlari dan bersembunyi di suatu tempat.
Ryan masuk dan memperhatikan sekitar.
"Where is Ansel?"'
"I don't know." ujar Nino kemudian.
"Bukannya kalian tinggal bersama?"'
"Hmm, nggak. Dia tinggal sendiri dan sampai saat ini dia nggak bilang, tinggal dimana." ujar Nino gelagapan.
"Really?"
Jarak wajah ayahnya ke wajah Nino hanya beberapa centimeter saja.
"Re, really. Nino nggak bohong. Kalau nggak percaya, cari aja."
Ansel menahan nafas didalam persembunyiannya. Sementara sang ayah kini menjelajah disekitar ruangan, ia mencari keberadaan Ansel.
Suasana kian bertambah tegang tatkala Ryan berada sangat dekat dengan Ansel. Ia sedikit lagi membuka pintu persembunyian Ansel, hingga kemudian.
"Dad, ada yang datang cari daddy."
Ryan mengurungkan niatnya, sementara Ansel kini bernafas lega. Ryan pergi ke depan, ternyata supirnya yang mengatakan jika ada telpon masuk. Ryan tadi tak sengaja meninggalkan handphone tersebut di mobil.
Ryan mengangkat telpon tersebut dan berbicara panjang lebar, setelah itu ia pun tampak terburu-buru.
"Daddy tau kamu menyembunyikan Ansel, kita akan bicarakan ini lain waktu."
Ayahnya memeluk Nino, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Nino menutup dan mengunci pintu dengan segera, seraya menarik nafas dalam-dalam.
***
"Saya sih lagi deket sama cowok bu, tapi usianya lebih muda dari saya."
Sari berujar pada Amanda ketika dirinya dan Nur berkunjung ke tempat Amanda, sesaat setelah pulang kerja pada keesokan harinya. Mereka ingin menjenguk baby twins. Sedangkan Arka sendiri belum pulang, karena disuruh mbak Arni untuk datang ke kantor manajemen. Entah untuk urusan apa.
"Ya nggak apa-apa, emangnya masalah kalau cowoknya lebih muda dari kita?. Saya aja nggak ada masalah apa-apa." ujar Amanda kemudian.
"Saya juga sih sebenernya nggak ada masalah apa-apa, bu. Tapi ibu saya ribet. Katanya kalau cowok lebih muda itu, rentan selingkuh."
"Iya, temen saya juga bilang begitu, bu." Nur menimpali.
"Dia nikah sama cowok lebih muda dan berakhir dengan selingkuh." lanjutnya lagi.
"Kata ibu, nanti kita cepet tua. Terus suami kita masih muda, masih bergairah. Sedangkan kita udah nggak bisa melayani sebaik dulu."
Amanda terdiam.
"Mmm, ini saya cuma cerita loh, bu. Cerita soal kegalauan hati saya, saya mau sama cowok itu. Tapi ibu saya nggak ngebolehin."
Sari sepertinya takut menyinggung perasaan Amanda, yang mana suaminya pun adalah seorang pria muda yang bahkan usianya jauh dibawah Amanda.
"Eh, nggak apa-apa koq. Ya kalaupun nantinya Arka selingkuh ya, saya pasti minta cerai. Ngapain saya bertahan sama orang yang udah nggak butuh saya lagi."
Ada nada berat dalam ucapannya, namun Amanda jujur dengan apa yang ia katakan mengenai hal tersebut. Ia akan memilih jalan perceraian jika terbukti suaminya selingkuh. Ia tak masalah, jika setelah itu mereka tetap berbaikan demi anak. Yang jelas, ia tidak akan mempertahankan rumah tangga yang isi dalamnya sudah hancur.