Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Pengintaian Pertama


Sesuai permintaan, Rianti pun akhirnya mengintai Arka untuk pertama kali. Gadis berusia 19 tahun tersebut mendatangi kampus, tempat dimana Arka menimba ilmu.


Ia masuk dan mulai mencari Arka. Sambil terkadang membaur sesekali dengan para mahasiswa, yang tengah duduk-duduk sambil menunggu kelas.


Matanya selalu melihat kesana-kemari, mencari dimana keberadaan Arka. Tak butuh waktu lama, gadis itu melihat sepupunya tengah berjalan menuruni tangga lobi.


"Apa?" Arka syok mendengar sebuah berita dari telpon.


"Ok, ok. Gue kesana sekarang."


Arka berlarian, sementara Rianti kini mengikuti kemana langkah sepupunya itu. Ia berlari hingga ke halaman parkir. Dan betapa terkejutnya Rianti, ketika mendapati Arka yang masuk kedalam sebuah mobil. Mobil itu adalah mobil yang juga dikendarai Arka, pada saat ia berpapasan dengan Arka tempo lalu.


Rianti pun terkejut. Ternyata orang yang ia temui dijalan saat itu, benar adalah Arka. Arka kembali menerima telpon lalu mengemudikan mobilnya. Sementara kini Rianti menyetop sebuah taxi yang kebetulan melintas di area kampus. Taxi tersebut baru saja mengantar seseorang.


"Pak, pak, kejer mobil yang itu pak." ujar Rianti.


Supir taxi pun mengikuti keinginannya, mereka mengejar mobil yang dikendarai Arka. Beruntung jalanan cukup padat, hingga taxi yang ditumpangi Rianti pun dapat dengan mudah mengejar Arka. Andai saja jalanan sepi, pastilah Arka sudah ngebut dan hilang jejaknya dari pantauan. Arka terus mengemudikan mobilnya, hingga berbelok ke sebuah rumah sakit.


"Mas Arka kerumah sakit, apa tante-tantenya melahirkan ya?"


"Duh, Tuhan." Rianti makin syok dan sedih. Bagaimana bisa Arka melakukan ini pada keluarganya, terutama pada ibunya.


Arka adalah harapan keluarga, yang digadang-gadang akan menjadi orang besar dan mengangkat harkat serta derajat orang tuanya. Ibunya tak ingin jika Arka menikah muda. Namun kini ia malah menjadi peliharaan seorang wanita tua dan akan memiliki anak, seperti yang dituduhkan oleh bu Mawar.


Jantung Rianti rasanya hendak berhenti, ia tak tahu harus bagaimana. Apa yang akan ia katakan pada ibu dan ayah Arka mengenai hal ini.


Arka keluar dari dalam mobil, begitu pula dengan Rianti. Ia buru-buru membayar taxi dan mengendap-endap mengikuti Arka. Arka masuk kerumah sakit, begitupula dengan Rianti. Untung saja, Arka tak merasa curiga sedikitpun.


Hingga ia terus berjalan ketika Rianti menguntit dari belakang.


Arka masuk ke sebuah ruangan dengan tergesa-gesa, Rianti mengintip. Ternyata orang yang ditemui Arka adalah Rio dan juga seorang perempuan yang tengah berbaring. Sambil sesekali menoleh ke belakang, Rianti mengintip dari kaca yang sedikit tertutup gorden. Ternyata Liana yang tengah terbaring disana. Rianti pun bernafas lega, ia sudah salah mengira. Ia pikir Arka menemui tante-tantenya yang tengah melahirkan. Namun ternyata bukan, barangkali yang ia lihat tempo lalu adalah Liana. Yang berada di mobil bersama Arka.


Tapi ngomong-ngomong mengapa Liana sampai ada dirumah sakit ini, pikir Rianti. Belum sempat ia mencari tahu, tiba-tiba ibu Arka menelpon.


"Ti, dimana kamu?"


"Eh iya kenapa, bu."


"Ini, ibu sama bapakmu dateng." ujar ibu Arka. Rianti terkejut, tak menyangka kedua orang tuanya akan datang dari kampung.


"Serius, bu?"


"Serius, buruan pulang."


"I, iya bu." Rianti bergegas.


Sementara didalam ruangan.


"Li, kamu nggak boleh kayak gini lagi." ujar Arka seraya menatap Liana yang menangis tertunduk.


Ia baru saja diselamatkan dokter dari usaha bunuh diri, ia menyayat pergelangan tangannya menggunakan pisau buah. Beruntung saat itu Rio datang dan melihat kejadian tersebut. Rio langsung memanggil dokter dan Liana ditangani oleh team medis.


"Buat apa lagi aku hidup, Arka. Udah nggak ada gunanya lagi. Mereka memperkosa aku beramai-ramai tanpa belas kasihan."


"Kamu harus lapor polisi, mantan pacar kamu dan teman-temannya itu harus diadili dan mendapat ganjaran." ujar Rio geram.


"Bukan dengan cara bunuh diri kayak tadi. Kamu harus balas mereka." lanjut Rio lagi. Liana pun semakin menangis.


"Bener apa yang Rio bilang, Li. Kalau kamu bunuh diri, terus mati. Mereka akan merasa menang dan senang atas kematian kamu. Kamu tau kan dosa bunuh diri itu nggak ada ampunannya. Kita tau kamu hancur, kamu pasti trauma dan membenci semua ini. Tapi satu-satunya jalan, ya kamu harus balas mereka. Jangan biarkan mereka tertawa terlalu lama, mereka harus menderita di penjara. Aku dan Rio akan bantu kamu semaksimal mungkin."


"Iya Li, aku udah tau dimana mantan pacar kamu itu sekarang. Jangan panggil aku Rio, kalau aku nggak bisa membalas sakit hati kamu."


Liana makin menangis, dan kini Arka pun memeluknya.


***


Sementara di kantor, Amanda tengah pusing menghadapi keluhan bagian produksi. Dimana banyak sekali bahan kualitas rendah yang masuk ke divisi mereka. Penjualan mengalami kerugian lantaran kualitas barang yang tiba-tiba berubah.


Amanda sendiri bingung, mengapa hal ini bisa terjadi. Karena selama ini ia selalu mendapat pasokan bahan-bahan terbaik dari sumber-sumber yang terpercaya, dan sudah lama bekerjasama dengan perusahaan mereka.


"Pia."


"Iya, bu."


Pia masuk ke ruangan Amanda.


"Tolong kamu telpon seluruh supplier kita dan tanyakan kenapa barang yang kita dapat jelek semua kualitasnya. Ini berpengaruh sama produksi kita, hasil yang didapat tidak sebaik biasanya. Pelanggan kita komplain semua, nomor kotak pengaduan penuh."


"Baik, bu."


Pia lalu keluar disusul Amanda. Amanda menemui karyawan nya yang lain, pada divisi yang berhubungan dengan semua ini. Ia memberitahukan segala hal yang terjadi dan meminta mereka segera mencari tau apa yang salah.


"Kasian bu Amanda, mana lagi hamil." ujar Satya kepada Deni. Dibelakangnya ada Intan dan beberapa karyawan lain, yang juga memperhatikan Amanda.


"Emang produknya pada dipulangkan ya?" tanya Dina yang duduk dibelakang Intan.


"Iya, pada komplain semua."


Intan menghela nafas, saat ini tak banyak yang bisa mereka lakukan. Karena mereka berada pada divisi sosial media content dan advertising. Mereka tidak tahu menahu mengenai proses produksi. Job desk mereka adalah tentang branding, periklanan dan juga penjualan melalui sosial media.


"Bu." Intan mencegat Amanda ketika wanita itu hendak masuk ke mobil dan mengurus sesuatu ditempat lain.


"Kenapa, Intan?" tanya Amanda bingung.


"Intan lalu menyerahkan 4 kotak susu hamil siap minum dan satu bungkus makanan ringan.


"Bu Amanda belum makan siang, kan?" ujar Intan.


Amanda rasanya ingin menangis, namun ia menjaga wibawa didepan karyawannya itu.


"Makasih, ya." ujar Amanda kemudian. Ia lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pelataran parkir kantornya.


***


Dirumah sakit.


"Ka, gue minta tolong jagain Liana bentar ya. Gue belum masuk kelas hari ini, gue mau ngambil yang sore. Ntar gue kesini lagi abis mandi dan lain-lain. Gue masih takut, dia akan bunuh diri lagi. Gue udah minta sama psikiater buat mendampingi dia mulai besok."


Arka tak tega mendengar permintaan sahabatnya itu, lagipula hari ini kuliahnya sudah selesai dan tidak ada jadwal syuting pula. Maka ia pun mengiyakan hal tersebut, Ia tau jika Rio sangat mencintai Liana.


"Ya udah, gue tungguin."


"Sorry banget ya, Ka. Gue janji secepatnya balik."


"Iya, udah sono buruan."


Rio pun bergegas dan meninggalkan tempat itu.


"Arka." Tiba-tiba Liana memanggil, Arka pun masuk ke dalam ruang rawat.


Sementara Amanda kini tengah sibuk disuatu tempat. Membereskan setiap perkara yang ditimbulkan oleh perusahaannya. Para karyawannya juga banyak membantu, membereskan di tempat lain. Intinya Amanda tak ingin bekerja hanya dibelakang meja. Ia ingin mengetahui secara langsung apa yang telah terjadi.


Ditengah terik matahari, ia mendengar perutnya berbunyi. Amanda ingat jika ia belum makan, bayi didalam perut sudah memberontak. Menagih nutrisi dari ibunya.


Ia pun teringat jika tadi Intan memberinya susu hamil dan juga makanan. Amanda pun kembali ke mobil dan mulai meminum susu tersebut. Ia pun lalu makan, agar bayinya merasa tenang didalam sana.


Dan benar saja, ketika ia makan bayinya seperti kegirangan. Amanda pun tersenyum penuh haru, bayinya kini semakin aktif bergerak.


"Maafin, mama ya. Mama sibuk banget sampe lupa sama kamu. Makan yang banyak ya, sayang." ujarnya kemudian.


Usai makan, Amanda melanjutkan perjalanan pada tempat berikutnya. Dimana masalah yang sama harus ia selesaikan pula. Ditempat yang kedua ini ia berdebat dengan yang bersangkutan, hingga kedua belah pihak bersitegang. Beruntung akhirnya masalah itu dapat terselesaikan dengan baik. Ketika hendak berjalan menuju mobil, tiba-tiba saja seseorang menghampiri Amanda.


"Buuuk."


Orang tersebut secara serta merta mengayunkan sebilah kayu ke arah Amanda. Refleks Amanda menangkis dan menyebabkan tangannya terpukul.


"Aakh." teriak Amanda.


"Buuuk."


Orang tersebut memukul kepala Amanda. Beruntung didekat tempat itu ada Satya dan Deni, yang sedang disuruh Intan membeli sesuatu untuk keperluan kantor.


"Woooi."


Satya berteriak, lalu ia berlarian dan menghajar orang itu. Sementara Deni menangkap tubuh Amanda yang nyaris menyentuh tanah, seketika suasana pun riuh. Supir dan warga yang melihat kejadian itu sama-sama menghakimi pelaku pemukul Amanda. Namun orang tersebut akhirnya bisa lolos dengan perlawanan. Agaknya ia seorang yang profesional dan bukan pesuruh abal-abal.


"Bu Amanda."


Deni menangkap tubuh Amanda yang sudah tak sadarkan diri. Tanpa basa-basi ia segera membawa Amanda ke mobil, untuk menuju rumah sakit terdekat. Mereka berjalan dengan penuh kepanikan.


"Bu, bangun bu." ujar mereka cemas.


Beberapa saat kemudian, Arka keluar dari ruang rawat Liana, untuk mengambil handphone-nya yang ketinggalan di mobil. entah mengapa firasatnya tak enak pada Amanda. Ia lalu melangkah, namun kemudian waktu pun terhenti.


Hati Arka hancur ketika melihat unit gawat darurat yang sibuk. Dimana Deni menggendong tubuh istrinya yang terkulai tak sadarkan diri.


Arka bergegas namun,


"Arka."


Tiba-tiba ibunya muncul dihadapannya. Membuat Arka makin syok setengah mati.


"Bu."


Hanya kata itu yang keluar dari bibir Arka. Jantungnya masih berdegup kencang, tungkainya begitu lemas sekarang.


"Kata Rianti, pacarmu Liana sakit."


Arka menatap ibunya dengan wajah yang begitu kaget. Hatinya ingin segera menyusul Amanda, ia ingin tahu keadaan istrinya itu. Namun ia pun tak bisa mengatakan hal tersebut pada ibunya, apa kata ibunya nanti.


"Ibu mau jenguk Liana, Arka."


Dari depan unit gawat darurat, Satya dan Deni menatap Arka dengan penuh kemarahan. Mereka tau jika Arka tadi telah melihat Amanda, namun mengapa ia diam saja. Bahkan terkesan tidak panik sama sekali, pada keadaan istrinya yang tengah hamil tersebut.


"Arka, antarkan ibu ke Liana."


Arka melihat ke arah unit gawat darurat, lalu kembali menatap ibunya. Sementara lidahnya masih kelu dan suaranya seakan membisu.