Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Percakapan


"Serius lo, Ka?"


Rio masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Serius, ngapain gue bohong. Orang gue ketemu dia dirumah bapaknya Amanda dan Amanda sendiri juga yang cerita. Kalau Maureen begitu."


"Parah tuh anak. Nggak ngerti lagi gue, sama jalan pikirannya dia. Pengen banget kaya kali dia, ya."


"Gue aja yang mantannya nggak ngerti." ujar Arka.


"Kalau dia kenapa-kenapa gimana?. Lo masih punya perasaan nggak sih sama Maureen?"tanya Rio lagi.


"Ya namanya mantan, Ri. Kalau dibilang udah nggak ada perasaan sama sekali ya, bulshit. Secara gue bertahun-tahun sama dia, udah pernah tidur bareng juga. Cuma gue emang udah nggak mau dan nggak akan mau lagi, kalau untuk menjalin hubungan sama dia. Gue juga udah punya istri, gue cinta dan sayang istri gue. Ada anak-anak gue juga, gue sayang banget sama mereka. Tapi kalau misalkan menyangkut nyawa, udah pasti ya gue masih akan peduli sama Maureen. Karena gue kenal orang tuanya. Kalau emang keadaannya berbahaya dan butuh bantuan, gue akan tolong."


"Menurut lo, dia ngilang kemana?"


"Ya mana gue tau, nggak ngilang kali. Caper doang palingan. Biar dicariin sama fansnya di sosmed, biar viral." ujar Arka.


Rio pun tertawa.


"Ya, namanya juga Maureen. Dari dulu emang udah begitu kan?"


"Dulu sih biasa aja, makin lama makin parah." ujar Arka.


"Untung lo udah nggak sama dia lagi, bro. Kalau masih ketempuhan lo."


"Makanya, beruntung banget gue ketemu si Firman." seloroh Arka kemudian.


"Iye, padahal kan lu udah kagak perjaka yak. Beruntung lo dapet si tante Firman. Udalah cantik, sukses, pengertian, perawan pula."


Arka tertawa.


"Tapi kan gue baik, walau gue udah ilang perjaka. Wajarlah gue dapet jodoh baik."


"Hmm, dasar Bambang. Puji teros, diri sendiri." seloroh Rio dengan nada sewot, namun setengah tertawa.


"Lah kata lo, kita mesti menghargai diri sendiri." ujar Arka membela diri.


"Lo mah bukan menghargai lagi itu."


"Apa coba namanya?"


"Mencongkakkan diri." ujar Rio.


Arka pun kian terkekeh.


"Dah lah, Soto Betawi yok." ajak Rio kemudian.


"Tau aja lo, gue laper." ujar Arka.


"Kan gue your ayank beb. Sebaik-baiknya si tante Firman, masih lebih baik gue mendampingi lo."


"Gue jijik, bangsat." ujar Arka seraya berjalan.


Rio pun tertawa-tawa.


***


Ryan tengah mengguyur tubuhnya dengan air yang keluar dari shower. Ini sudah tahap pembilasan terakhir, setelah tadi ia membersihkan diri dengan castile soap. Tiba-tiba lampu di kamar mandinya mati.


Ryan buru-buru mengambil handuk lalu menekan stop kontak bolak-balik. Namun lampu tersebut agaknya memang sudah mencapai batas maksimal. Ia keluar dari dalam kamar mandi, ternyata listrik sedang tidak padam.


Ia beralih ke dapur, bermaksud untuk membuat segelas kopi. Pria tua itu lalu mencoba menghidupkan lampu dapur. Lampu tersebut hidup sejenak dan mati pada detik ke sekian.


"Hhhh."


Ryan menghela nafas, agaknya memang sudah banyak hal yang harus diganti dari apartemen ini. Ia pun mengurungkan niatnya untuk membuat kopi, lalu pergi ke kamar dan berganti pakaian.


Selang beberapa saat kemudian, ia pun keluar dengan membawa kunci mobil. Ia bermaksud membeli bola lampu yang baru. Karena jika hanya mengadu kepada pihak apartemen, bisa-bisa diganti pada keesokan hari atau lusa. Lagipula unit ini adalah miliknya pribadi, maka ia bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi didalamnya.


Ryan pergi meninggalkan apartemen, menuju ke supermarket yang tak begitu jauh dari sana. Sekalian berbelanja keperluan yang sudah habis, pikirnya.


Ia berbelanja. Namun setelah berada di jalan pulang, pria itu baru teringat jika ia belum membeli bola lampu. Sedang jika kembali ke belakang, ia harus memutar arah yang kini tampak begitu macet.


Ryan pun mengurungkan saja niatnya, dan berfikir untuk mengadukan hal ini pada pihak apartemen. Namun kemudian ia melintas di sebuah toko bangunan yang cukup besar, berada di pinggir sebuah jalan yang ia lewati.


Ryan pun membelokkan mobilnya ketempat itu. Setelah mendapat parkiran, ia pun keluar dan menghampiri toko tersebut.


"Selamat siang." ujarnya kemudian.


"Siang."


Seorang laki-laki yang tampaknya adalah pemilik toko itu pun membalas sapaan Ryan. Seketika Ryan pun terdiam, ia menyadari siapa yang kini berada di hadapannya. Ya, laki-laki itu adalah suami Ningsih atau ayah tiri dari Arka.


"Mau cari apa, pak?" tanya Ayah Arka kemudian.


"E, saya mau beli bola lampu." ujar Ryan kemudian.


Ayah tiri Arka memanggil salah satu karyawannya.


"Iya, pak." ujar Hanif.


"Tolong ambilkan bola lampu, untuk bapak ini."


Hanif pun mendekati Ryan dan bertanya, perihal bola lampu seperti apa yang diinginkan pria itu. Saat itu toko sedang ramai, Ryan berada di ujung dan terhalang pengunjung toko lainnya.


"Pa."


Tiba-tiba Arka muncul di sudut paling kanan toko. Namun agaknya Arka tak melihat keberadaan Ryan yang berdiri di sudut paling kiri. Hanya Ryan yang menyadari kedatangan pemuda itu.


"Kamu udah pulang?" Ayah tirinya bertanya pada Arka.


"Libur koq hari ini. Arka minta filter air dong pa, sama kapasnya sekalian. Buat di kosan Rio, airnya mendadak kuning gitu. Ntar kalau nggak difilter, ntar berkarat lagi tuh anak." ujar Arka pada ayah tirinya. Sang ayah tiri pun tertawa.


Ryan memperhatikan percakapan tersebut dari sela-sela kerumunan pengunjung toko.


"Nih." Ayah tirinya memberikan apa yang Arka minta.


"Oh ya, ini buat papa makan. Ini ada martabak juga buat makan bareng karyawan papa."


"Kamu tuh repot-repot banget."


"Udah, pa. Papa makan ya abis ini, jangan lupa minum obat."


Arka membawa filter air dan kapas yang ia minta lalu segera berpamitan.


"Nih, pa. Uangnya."


"Udah bawa aja."


"Jangan gitu lah, ini kan jualan." Arka memaksa memberikan sejumlah uang pada ayah tirinya.


"Arka pulang ya, pa." ujar Arka kemudian.


"Hati-hati."


"Iya, papa jangan lupa makan sama minum obat. Kalau telat, Arka marah."


"Iya." Ayah tirinya tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepala.


Sementara perasaan Ryan kini remuk redam. Ia bahkan tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh Ansel dan Nino, termasuk Arka sendiri. Sedangkan terhadap ayah tirinya, Arka tampak begitu perhatian.


Memang makanan adalah hal yang bisa dibeli oleh semua orang, jika orang tersebut memiliki uang. Tapi siapa yang memberikannya pada kita, itu membuat makanan itu menjadi lebih berarti.


"Pak, lampunya yang mana?" tanya karyawan toko itu kemudian.


"E, yang ini saja. Dua." ujar Ryan.


Usai membayar Ryan pun kembali ke apartemen, dan memasang kedua lampu di dua tempat yang tadi mengalami kerusakan.


"Jangan lupa makan, minum obat."


Kata-kata Arka itu kini kembali melintas dibenaknya, ia teringat bagaimana tadi anak nya itu memperlakukan sang ayah tiri. Ada perasaan tak enak yang kembali mengusik di hatinya.


"Dad."


Nino dan Ansel tiba di apartemen Ryan, kebetulan tadi Ryan memang belum menutup pintu.


"Hey." sapa Ryan pada kedua anaknya itu.


Nino dan Ansel bersiap menuju ke tangga, karena ingin naik ke lantai atas dan berniat rebahan.


"Kalian, nggak ada beliin daddy makan?" tanya Ryan.


Nino dan Ansel berhenti sejenak seraya mengerutkan kening. Mereka berdua menatap Ryan, lalu menatap meja makan yang penuh dengan makanan. Ada sate ayam, nasi, sayur sop, buah-buahan dan lain sebagainya.


"Bapak lo kufur nikmat." bisik Ansel pada Nino, seketika Nino pun terkekeh.


"Tau, tau an lo sama kufur nikmat."


"Sering denger ceramah di mesjid sebelah tempat tinggal gue." ujar Ansel lalu berlalu meniti anak tangga.


"E, daddy mau makan apa emangnya?" tanya Nino seraya memperhatikan meja makan. Seketika Ryan pun tersadar, jika tadi ia membeli banyak sekali makanan.


"Mm, maksud daddy. Kalian nggak mau makan?" Ryan mengalihkan pembicaraan.


"Ntar aja ya dad, bentar lagi." ujar Nino kemudian.


Ryan mengangguk, Nino segera menyusul Ansel yang masih meniti anak tangga.


"Lagi eror kali dia." ujar Ansel pada Nino. Pria itupun hanya tertawa.


"Namanya juga kakek-kakek." lanjut Ansel lagi dan lagi-lagi Nino tertawa. Sementara Ryan hanya menghela nafas, ia kini mentertawakan dirinya sendiri. Yang tak seberuntung ayah tiri Arka.