
"Ka, sabtu depan ajak anak-anak jalan yuk."
Amanda berujar pada suaminya ketika segala aktivitas panas yang mereka kerjakan, selesai. Keduanya bercinta hingga dua kali malam itu.
"Ya udah, ayok. Mau kemana?" tanya Arka kemudian.
"Ke mall aja, udah boleh kali ya. Udah mau tiga bulan kan umur mereka."
"Bosen ya kamu, di rumah mulu?. Pulang kantor ke rumah, besoknya gitu lagi."
"Iya sih, udah mulai agak bosen. Hehehe."
"Ya udah, ntar sabtu depan ya."
"Ok."
Hari berlalu, sabtu depan pun hadir kepada mereka. Amanda mendandani bayi-bayinya dengan jumpsuit lucu berwarna biru dan hitam. Tak lupa mereka membawa peralatan bayi seperti popok, tissue basah, botol susu dan lain-lain. Awalnya terlihat remeh-temeh. Namun setelah dimasukkan ke dalam tas, isinya ternyata lumayan banyak.
"Kita kayak di usir ya, Ka." ujar Amanda pada suaminya. Arka pun tak kuasa menahan tawa.
"Kayak mau mendaki gunung." timpal Arka.
Lagi-lagi mereka tertawa, sementara para bayi sedang sibuk mengenyot jari.
"Udah siap?" tanya Arka.
"Udah." jawab Amanda.
Kedua bayi pun diletakkan ke dalam stroller, lalu mereka mendorongnya ke dalam lift.
"Asik, ada yang mau jalan-jalan." ujar Amanda pada bayi-bayinya.
"Mau kemana kamu, dek?" tanya Arka.
"Bosen ya dirumah mulu?." lanjutnya kemudian. Bayi-bayi itupun tertawa.
Arka dan Amanda mengunjungi sebuah mall yang cukup besar dan terbilang sepi. Hanya artis-artis dan kalangan sosialita, serta pejabat saja yang sering kesana. Arka pun mengenakan masker, hingga ia tak begitu dikenali.
Keduanya berjalan, melihat-lihat serta membeli beberapa barang yang mereka inginkan. Sementara bayi-bayi mulai menatap sekitar, agaknya mereka aneh dengan suasana yang baru itu.
"Huuu, nggak pernah keluar rumah ya?" ujar Arka.
"Sampe gitu banget ngeliatnya. Iya dek, ya?"
Amanda tersenyum, sejak tadi bayi mereka sangat sulit berkedip. Mungkin memang karena baru kali ini diajak keluar dan mengunjungi suatu tempat. Biasanya mereka hanya berada didalam kamar, paling mentok ke lobi penthouse untuk mendapatkan matahari. Itupun tak terlalu sering, karena didalam kamar mereka sendiri sudah cukup cahaya matahari.
Arka dan Amanda terus berkeliling, ketika lelah mereka singgah ke sebuah restoran Jepang dan menikmati kuliner disana. Sedang Afka maupun Azka harus puas dengan meminum ASI, sambil mencium aroma masakan yang tak bisa mereka makan.
"Eeeeek, broooot."
Sebuah suara panggilan alam membuat Arka dan Amanda yang tengah makan jadi terdiam. Keduanya kini saling bersitatap.
"Hmmmp, hoaaaa, broooot."
"Arkaaaa." Amanda merengek pada suaminya. Pasalnya kedua bocil yang kini berada didalam stroller, sama-sama buang air besar.
Arka hanya tertawa lalu meletakkan mangkuknya. Untung saja mereka makan di ruangan yang dibatasi sekat, antara satu pengunjung dan pengunjung lainnya. Hingga aroma terapi pup bayi mereka, tak menganggu pengunjung lain.
Arka dengan sabar mengganti popok kedua anaknya lalu meletakkan bekas popok sebelumnya kedalam plastik. Ia juga membawa hal itu ke tong sampah yang berada di dekat toilet mall, sekalian mencuci tangan. Tak lama ia pun kembali ke dekat Amanda untuk melanjutkan makan.
"Ka, maaf ya." ujar Amanda seakan merasa bersalah.
"Iya udah, makan lagi gih."
"Hokek, hokek."
Bayi-bayinya cegukan, Amanda kembali menaikkan matanya keatas.
"Bentar lagi minta susu nih pasti."
Benar sekali, tak lama kemudian bayi-bayi itu mulai resah. Bahkan Afka menangis. Amanda menyusui mereka satu persatu hingga terlelap, lalu lanjut memesan makanan.
Usai makan dan beristirahat sejenak ditempat yang sama, Arka dan Amanda lanjut berjalan-jalan dan melihat pakaian. Tentu saja pakaian bayi yang duluan menarik perhatian mereka. Begitu melihat baby shop, mereka langsung masuk dan antusias. Saking antusiasnya, mereka lupa pada Azka dan juga Afka. Hingga ketika menoleh, kedua bayi itu sudah tidak ada lagi.
"Arka, anak kita dimana?" Amanda panik, hingga mengundang perhatian beberapa pengunjung.
Tanpa bicara Arka segera keluar dari dalam baby shop tersebut. Tampak Rio berdiri disisi stroller bayinya lalu tersenyum.
"Riooo." ujar mereka seraya bernafas lega. Baru saja Amanda hendak berteriak histeris, karena telah kehilangan bayinya.
"Ingetin, lo berdua tuh teledor. Untung gue yang ngambil, kalau orang lain gimana?"
"Iya, iya sorry." ujar Amanda.
"Keasyikan milih tadi." lanjutnya kemudian. Sementara si kembar telah bangun dan tertawa-tawa.
"Dari nemenin bokap gue. Biasa bapak-bapak, suka beli jam. Padahal jam di handphone sendiri ada." ujarnya kemudian.
"Sono Man, belanja lagi. Biar gue disini sama anak-anak lo." ujar Rio.
"Ya udah."
"Ntar aku nyusul, ya." ujar Arka.
"Ok."
Amanda pun kembali kedalam baby shop.
"Bokap lo masih di counter?" tanya Arka.
"Masih, eh nggak. Tuh udah keluar tuh?"
Arka mengikuti arah pandangan Rio, ia mendapatkan dimana ayah Rio berada. Laki-laki itu tengah mengobrol dengan seseorang yang,
"Wait?"
Arka seperti pernah melihat pria bule itu, pria bule itu menoleh kearah Arka dan juga Rio.
"Deeghh."
Mata mereka saling menatap satu sama lain.
"Lo kalau tua ntar kayak bule itu, Ka." Rio berseloroh.
"Anjrit." ujar Arka seraya tertawa.
"Gue masih muda ya, masih lama." lanjutnya kemudian.
Ayah Rio mendekat, diikuti oleh laki-laki bule yang ada disebelahnya.
"Hey." ujar ayah Rio menyapa anaknya dan juga Arka.
"Apa kabar, Ka?" tanya laki-laki itu pada Arka.
"Baik, om." jawab Arka.
"And, hello baby boys." Ayah Rio melihat kedua bayi kembar Arka, kedua bayi itu tersenyum menggemaskan.
"Oh iya, ini Ryan. Teman papa."
"Ryan, this is my son, Rio. Dan temannya Arka, ini anak-anaknya Arka."
"Hai."
Ryan menjabat tangan Rio dan juga Arka. Entah mengapa jantung Ryan mendadak berdegup kencang, apalagi ketika ia melihat kedua bayi Arka.
"Hello, boys." ujarnya kemudian.
"Hoooooo, aaaaaa."
Bayi-bayi itu bersuara seraya menatap Ryan, seakan mencoba mengatakan sesuatu. Namun Ryan melihatnya hanya sebagai sebuah celotehan anak kecil.
"Istrimu mana?" tanya ayah Rio pada Arka.
"Itu didalam."
Entah ada firasat apa, Amanda pun menoleh ketika mereka semua melihat ke arah dalam baby shop. Ia pun melambaikan tangannya, Ryan memperhatikan wanita itu dan seperti mengingat sesuatu. Seperti pernah bertemu, namun entah kapan.
"Rio masih mau disini?" ayah Rio berujar pada anaknya.
"Iya pa, papa pulang duluan aja." ujarnya kemudian.
"Ok, kita pulang."
Ayah Rio berujar pada Ryan. Seketika Ryan yang masih memperhatikan Amanda itupun terhenyak.
"Ok." jawabnya kemudian.
Setelah berpamitan, kedua pria tua itu tampak menjauh. Sempat Ryan menoleh dan menatap kearah Arka serta bayi-bayinya sekali lagi. Sampai kemudian ia harus menuruni eskalator dan menghilang dibawah sana.
Rio mengekor pada Arka dan juga Amanda. Ia membiarkan saja pasangan itu bergandengan tangan, sementara ia mendorong stroller si kembar. Hari ini, ia ingin puas bermain bersama kedua bayi itu. Karena pada saat lahir ia hanya bisa melihat dari kaca saja.
"Lo nggak apa-apa bawa mereka, Ri?" tanya Amanda pada Rio.
"Nggak apa-apa yang penting gue bisa jalan sama Arka. Kalian bertiga udah merebut Arka dari gue." ujar Rio kemudian.
Amanda pun tertawa lalu bergelayut di bahu suaminya.