Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Teguran


Hari-hari pun berlanjut, Amanda kini mulai menjalani kehamilannya di bulan ketujuh. Perutnya sudah semakin membuncit, mengingat ada bayi kembar yang tumbuh didalam sana. Belum lagi air ketubannya yang cukup banyak, hingga membuat kehamilan itu persis seperti kehamilan 9 bulan.


Namun Amanda masih saja aktif bekerja dan pergi kesana sini. Wanita itu memang tangguh, tak sedikit pun kehamilan itu membuatnya menjadi pemalas. Hanya terkadang ia sedikit manja dan menyebalkan. Serta gairahnya yang kian menggila di ranjang.


Kadang Arka harus menegur dan mengingatkan dirinya, jika terlalu aktif dan antusias terhadap sesuatu yang melelahkan. Arka takut terjadi apa-apa pada Amanda dan juga bayi mereka.


Biasanya perempuan itu akan menurut dan tak pernah membantah, karena ia tak ingin ribut dengan Arka. Amanda adalah wanita yang mencintai ketenangan dan membenci pertengkaran. Meski kadang sering terjadi cekcok kecil diantara mereka, namun itu tak pernah berlangsung lama. Jika tidak Amanda yang meminta maaf, maka Arka yang akan melakukannya.


Bagi mereka, yang terpenting dalam rumah tangga itu adalah bicara. Jika dipendam, maka pasangan kita mungkin tidak akan mampu mengetahui secara pasti. Apa yang kita rasakan sesungguhnya.


"Apa-apa itu ngomong, Man. Di komunikasikan sama aku. Kamu kira suami kamu ini Roy Kimochi, bisa mencium bau-bau isi hati kamu."


Begitulah hal yang sering diucapkan Arka, ketika Amanda menyimpan sesuatu dan akhirnya mereka menjadi salah paham lalu bertengkar. Sejak itulah, mereka selalu berusaha untuk berkomunikasi dengan baik.


"Sayang, udah siap?" Arka bertanya pada Amanda yang masih memakai lotion di tangannya.


"Bentar, dikit lagi." Amanda membereskan lotionnya lalu mengambil tas. Arka meraih tas itu dan membawanya.


"Makasih ya, Ka." ujar Amanda.


"Iya, ayok." ujar Arka kemudian.


Mereka berdua pun meninggalkan tempat itu, untuk menuju halaman parkir. Sesampainya di mobil, Arka juga membantu Amanda untuk masuk, karena wanita itu cukup kesulitan dengan keadaan perutnya yang membesar.


"Haduh." ujar Amanda mengatur nafas, ketika dirinya berhasil masuk kedalam mobil.


"Maaf ya, Ka. Aku nyusahin." ujarnya sambil tertawa.


"Bengkak banget ini semua, jadi susah mau ngapain aja." lanjutnya lagi. Arka tersenyum lalu menutup pintu mobil, ia beralih ke sisi kemudi dan kemudian masuk. Tak lupa ia memasangkan seat belt pada istrinya itu.


"Kamu tadi udah abisin belum, susunya?" tanya Arka. Ia tak melihat apakah susu hamil yang tadi ia buat, sudah diminum atau belum oleh Amanda.


"Udah koq, Ka. Makanan sama minuman mana sih yang aku lewatkan?." ujarnya masih sambil tertawa. Arka pun ikut tertawa, lalu menghidupkan mesin mobil. Sesaat kemudian, mobil itupun mulai merayap.


Disepanjang perjalanan, mereka terlibat perbincangan pagi yang hangat. Sesekali Arka mengusap perut istrinya itu.


"Mereka sekarang udah makin aktif, Ka." Amanda menatap perutnya lalu tersenyum pada Arka.


"Iya semalem aku liat, pas kamu tidur. Koq perut kamu jadi agak miring sebelah. Aku pegang, terus salah satu dari mereka kayak nendang gitu. Aku kaget loh." ujar Arka seraya menatap ke jalan. Ia berkata dengan nada setengah tertawa.


"Udah mulai berasa sakit tendangannya."


"Oh, ya?"


Arka menoleh seraya menatap istrinya itu dengan iba.


"Maaf ya, sayang. Kalau bisa di pindahin mah, pindahin ke aku aja. Kasihan aku, sama kamu."


Arka kembali mengusap perut istrinya. Lalu, satu tendangan pun ia terima.


"Heh." Keduanya sama-sama berujar seraya menatap perut Amanda.


"Nggak boleh gitu, dek. Itu papa, tau." ujar Amanda kemudian. Ia seolah sedang menegur bayi-bayinya.


"Tau nih, masa kayak gitu sama papa." ujar Arka menimpali.


"Buat bikin kamu itu, papa sampe capek banget tau nggak?"


Amanda tertawa hingga hampir tersedak, mendengar pernyataan tersebut. Sementara Arka berusaha menahan senyumannya, meski tak berhasil banyak.


"Mana mama minta mulu ya, pa." Amanda menimpali candaan suaminya.


"Iya, permintaannya banyak banget. Minta dari depan lah, belakang, samping, duduk, berdiri, minta lebih dalem. Udah mentok, minta di dalemin lagi. Dikira punya papa sepanjang pipa paralon kamar mandi kali."


"Hahaha." Kali ini Amanda ngakak. Arka pun tak kuasa menahan tawanya, meski ia harus terus berkonsentrasi dalam hal mengemudi.


"Emang aku seriweh itu ya, Ka. Kalau kita lagi begituan?"


"Beh, bukan lagi. Berhubung enak aja, aku kasih dah tuh semua yang kamu mau."


Amanda dan Arka bersitatap sejenak sambil tersenyum, sebelum akhirnya Arka kembali menatap ke depan.


"Makasih ya, Ka. Udah kasih semua yang aku minta."


"Sama-sama, aku juga makasih sama kamu atas semuanya."


"Aku nggak tau, kenapa aku jadi semurahan itu kalau udah sama kamu di ranjang."


Lagi-lagi mereka berdua mengembangkan senyum di bibir masing-masing. Kali ini Amanda berkata dengan nada sedikit malu-malu, ia membuang tatapannya jauh ke jalan.


"Nggak apa-apa, aku suka koq. Aku suka sifat liar kamu, kalau lagi sama aku. Kamu bikin aku puas banget."


"Aku juga nggak nyangka bakalan kayak gini sih. Waktu kita nikah itu, aku bahkan nggak ada rasa apa-apa loh sama kamu. Cuma pas turun tangga, aku kagum aja sama ketampanan kamu. Aku belum ada rasa cinta atau apa saat itu."


Arka tersenyum sambil terus mendengarkan istrinya.


"Pas malam pertama itu, pas kita ciuman di balkon. Itu aku mulai merasa kayak ada yang aneh. Apalagi pas kamu berani banget pegang-pegang aku."


"Mulai kerasa enak ya kan?" seloroh Arka.


"Iya, pas akhirnya kita begituan. Aku kaget, rasanya seenak itu. Sampe pagi loh, masih kerasa enaknya di perut aku. Lama-kelamaan, aku jadi makin sayang sama kamu."


"Kita udah sampe loh, sayang." ujarnya kemudian.


"Hah?" Amanda baru menyadari jika mobil mereka telah berada didepan lobi kantor. Arka pun tersenyum


"Yah, coba tadi dirumah kita komunikasi kayak gini. Bisalah sebentar." ujar Amanda sedikit kecewa.


Lagi-lagi Arka tersenyum


"Sabar ya, ntar pas pulang aja. Mau berapa kali?"


"Berkali-kali pokoknya."


"Iya, ntar aku hajar."


Keduanya sama-sama tertawa. Amanda kini merapikan rambut dan juga kancing bajunya yang sempat terbuka.


"Aku pergi ya." Amanda meraih tangan Arka dan menciumnya. Sebuah hal yang sangat jarang, bahkan nyaris tak pernah terjadi. Arka pun begitu terharu menerima perlakuan itu.


"Hati-hati ya sayang."


"Iya, daaah."


"Dah."


Arka masih terus memperhatikan istrinya, hingga menghilang dibalik pintu lobi.


"Ka." Tiba-tiba Rio menelpon.


"Kenapa, Ri?" tanya Arka.


"Lo dapat pesen nggak dari mbak Arni, katanya kita disuruh ke kantor sekarang. Jeremy sama Philip pengen ketemu. Karena ada hal penting mengenai gue sama lo, yang harus segera dibicarakan.


"Tadi sih kayaknya ada notifikasi dari mbak Arni, tapi gue belum baca isinya apaan."


"Ya udah ntar cek dulu. Kalau sama, lo jemput gue di kampus. Gue nggak bawa motor soalnya."


"Ok, ok. bentar."


Arka mengecek laman pesan di WhatsApp miliknya. Ternyata benar, mbak Arni ingin ia segera datang.


"Ri, tunggu gue." ujar Arka kembali menelpon Rio.


"Ok, gue tunggu depan gerbang ya." ujar Rio.


"Sip-sip." jawab Arka kemudian.


Arka pun kian mempercepat laju kendaraanya.


Tak lama setelah itu, ia tiba di muka gerbang kampus. Tampak Rio tengah berdiri disana, Arka pun lalu menghampiri sahabatnya itu.


Setelah Rio masuk, mobil pun kembali merayap.


Mereka menyambangi kantor peace production, manajemen keartisan yang menaungi mereka selama ini. Mereka tidak tahu hal penting apa yang ingin dibicarakan oleh petinggi manajemen tersebut. Yang jelas, mereka langsung pergi saja ketempat itu.


Ketika sampai, mereka dibawa oleh mbak Arni, untuk menuju ke ruangan Jeremy sang pemilik manajemen. Ada pula Philip selaku pimpinan pelaksana disana.


"Hai, Ka." ujar Jeremy seraya menatap Arka.


"Hai." jawab Arka singkat.


Ia dan Rio dipersilahkan duduk pada ruang meeting yang terdapat didalam ruangan itu. Tak lama, Jeremy serta Philip pun mendekat ke arah mereka.


"Arka, Rio."


"Iya, pak." jawab mereka berdua diwaktu yang nyaris bersamaan.


"Ok, gue nggak mau buang-buang waktu."


Jeremy menatap Arka dan juga Rio yang kini harap-harap cemas, mereka tak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Namun melihat ekspresi wajah para petinggi tersebut, tampaknya ini bukan sebuah kabar yang baik.


"Gue, Philip, dan semua jajaran manajemen ini, tau soal pernikahan siri yang lo jalani. Ada seseorang yang ngasih tau ke kita."


Arka dan Rio terhenyak, mereka tak menyangka dengan apa yang mereka dengar. Kini, mereka menjadi begitu gugup. Sebuah kecemasan pun menyeruak.


"Gini, Ka. Gue dan yang lain nggak peduli, itu urusan pribadi lo. Tapi belakangan ini, lo sering banget teledor. Foto lo berdua sama Rio, waktu kalian lagi di acara baby shower bayi nya elo, Ka. Itu tersebar di salah satu akun gosip."


Jeremy memperlihatkan foto tersebut. Arka dan Rio saling bersitatap dengan perasaan khawatir yang begitu besar.


"Bagus fotonya yang ini, saat lo lagi nggak sama istri lo. Kita masih bisa ngeles, dan gue udah ngurus si akun lambe ini. Udah gue suruh bikin klarifikasi, kalau lo cuma dateng doang ke acara keluarga lo. Dan Rio ikut nemenin lo."


"Pokoknya lo hati-hati, Ka." kali ini Philip menimpali.


"Kalau sampe publik tau cerita yang sebenarnya, karier lo yang jadi taruhannya. Lo sekarang lagi perlahan naik ke permukaan, banyak yang mengidolakan lo. Terutama anak-anak muda. Tawaran syuting lo juga udah banyak di list kita. Jangan sampe gara-gara keteledoran lo, semua ini jadi kacau. Rejeki lo ada di dunia entertaint ini kan?. Jadi lo harus hati-hati."


Arka menghela nafas lalu mengangguk. Ia kemudian mengungkapkan permintaan maafnya, kepada para petinggi manajemen yang menaunginya tersebut.


Tak lama setelah itu, Arka dan Rio pun keluar dari dalam kantor. Tampak mereka berpapasan dengan Robert, yang baru saja hendak masuk kedalam. Robert dan mereka sempat beradu tatap, meski akhirnya sama-sama berlalu.


"Gue yakin, ini ulahnya dia." ujar Rio. Ia seakan begitu marah pada Robert, sementara Arka tampak gusar karena masih memikirkan kejadian ini.