
"Jadi, kita ini saudara?" tanya Nino pada Amanda, ketika segala emosinya telah mereda.
Amanda mengangguk, Nino kini menundukkan pandangan. Air mata pria itu kembali tumpah, membuat Amanda pun kembali tak kuasa menahan tangisnya. Ia telah ikut menangis, sepanjang air mata Nino mengalir.
"Kamu bisa tambah sakit kalau terus-terusan kayak gini, Nin. Udah, semua akan baik-baik aja." ujar Amanda seraya menyeka air matanya dengan tissue.
"Nin, udah. Lo mau nangis sampe belasan jam pun, nggak akan merubah kenyataan."
Ansel mendekat dan berujar pada Nino.
"Nggak usah lo pikirin, kasian daddy kepikiran terus ngeliat lo nggak sembuh-sembuh." lanjutnya lagi.
Nino diam. Ansel pun lalu memeluk saudaranya itu dengan erat, selama beberapa saat. Lalu kembali melepaskannya.
"Lo makan, ya." ujar Ansel kemudian. Nino menggeleng.
"Kalau lo nggak makan, gue yang makan."
Arka menahan tawa, Amanda pun demikian. Meski ia masih menyeka sisa-sisa air mata di wajahnya.
"Jangan, awas lo."
Nino masih bisa mengancam di sela-sela kesedihannya, itulah yang selalu membuat Ansel tertawa. Sedari mereka remaja, Nino memang selalu tak mau jika makanannya di habiskan oleh Ansel. Meski sedang dalam keadaan sakit, kesal, marah. Ia selalu fokus pada makanannya. Karena jika Ansel sudah mengambil, maka ia akan menguasai semuanya.
"Ya udah, aku suapin ya." ujar Amanda.
"Aku juga ya, Amanda." Ansel duduk didekat Nino. Kemudian ia ditarik oleh Arka, yang saat ini tengah minum air mineral.
"Apaan lo, makan bareng gue di luar.
"Nggak mau nggak suka, gelay." ujar Ansel dengan nada yang sukses membuat Arka memukul bahu saudaranya itu, sambil tertawa.
"Mie ayam nya enak, banyak suster cakep." ujar Arka lagi.
"Ya udah deh, gue mau. Bye." ujar Ansel kemudian.
Arka dan Ansel pun meninggalkan tempat itu, sedang Amanda kini bersiap menyuapi Nino.
***
"Nino kan udah makan, kamu juga makan ya."
Arka berbicara pada istrinya, ketika kini mereka duduk di kantin rumah sakit. Nino telah diberi obat dan kini ia terlelap. Sedang Ansel juga ikut tidur, di sofa dekat Nino. Ia ditugaskan Amanda untuk menjaga Nino, takut kalau ada lagi orang yang datang.
Sebab Nino telah menceritakan semuanya soal kedatangan Citra, Amanda dan Arka takut kalau-kalau wanita itu datang lagi. Mereka tidak tau jika saat ini Ryan telah melabrak wanita itu.
"Belum ***** makan, Ka." jawab Amanda.
"Masih kepikiran ya?" tanya Arka lagi.
Amanda mengangguk, Arka membelai pipi dan wajah istrinya itu. Ia tak peduli pada pandangan sekitar yang mulai julid terhadapnya.
"Kasihan kamu, beberapa waktu belakangan ini kita banyak banget terlibat masalah. Masalah papa kamu, daddy, Nino, dan lain sebagainya."
"Iya, Ka. Untungnya kita berdua nggak ada masalah, cuma kemaren aja tuh. Aku nggak tau, kenapa aku marah-marah nggak jelas."
"Itu karena kamu stress kerjaan dan kecapean aja." ujar Arka.
"Maybe."
Amanda menyedot minuman yang ada dihadapannya.
"Aku nggak kebayang kalau seandainya rumah tangga kita juga bermasalah. Udahlah kita diterpa dari luar, rusak pula dari dalam. Cocok dah itu." ujar Amanda lagi.
"Ya makanya kontrol emosi itu perlu, manajemen stress dan lain sebagainya." ujar Arka.
"Untung banget, kamu tuh bisa mengimbangi aku Ka. Coba kalau kamu kayak bocil pada umumnya. Yang kalau istri ngambek, kamunya ikut ngamuk, terus selingkuh. Abis dah rumah tangga kita, porak-poranda."
Arka tertawa.
"Aku itu males ribut Man, orangnya. Kecuali terpaksa banget. Capek, ngoceh, tegang, darah naik. Nggak baik buat kesehatan dan, nggak baik juga buat anak-anak. Kalau suasana hati orang tuanya runyam, mereka tuh biasanya tau."
"Oh, ya kamu nggak tau Ka. Si Azka marah-marah sama Dora."
"Kenapa?" tanya Arka seraya tertawa.
"Jadi kan mereka nonton nih, ada part si Swiper muncul. Dora nya nanya mulu, apakah kalian melihat Swiper?"
"Azka ngarahin tangannya gitu kan. Hoaaaa, hoaaaa sambil ngeliat ke Swiper. Si Dora nya nanya mulu, akhirnya ngamuk si Azka."
Arka kian tertawa.
"Hoaaaa, ngegas sampe jidatnya berkerut banget."
"Serius?" tanya Arka.
"Tanya Anita, aku aja sampe ketawa-tawa."
"Kalau Afka?"
"Afka mah anteng, nonton. Diem aja, kadang ketawa, kadang tau-tau molor."
Arka masih tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka pun lanjut berbincang, ada banyak tawa-tawa lainnya disana. Hingga beban pikiran Amanda pun berkurang sedikit banyak.
"Makan, ya." ujar Arka ketika suasana hati istrinya itu telah berangsur membaik.
"Mmm." Amanda masih berpikir.
"Nggak abis, nggak apa-apa. Yang penting kamu makan, ok."
"Ok." ujar Amanda lalu tersenyum.
"Kita itu harusnya punya tagline." ujar Arka, ketika makanan yang mereka pesan telah sampai di meja.
"Apa?" tanya Amanda.
"Apapun masalahnya yang penting makan."
"Salah, Ka. Yang bener itu, walau badai menghadang ku selalu makan."
"Oh iya, ya." ujar Arka.
"Walau badai menghadang. Ingatlah ku kan selalu setia, untuk makan."
"Berdua kita lewati jalan yang berliku tajam."
Kata-kata terakhir mereka di kantin tersebut kini bersambung menjadi lagu. Lagu yang dinyanyikan oleh Arka, di kafe tempat dimana ia biasa menjajakan suara. Dan seperti biasa Amanda selalu ada dihadapannya.
"Resah yang kau rasakan, kan jadi bagian hidupku. Selamanya
Letakkan lah segala lara di pundak ku ini."
Walau badai menghadang, ingatlah ku kan selalu setia menjagamu.
Berdua kita lewati jalan yang berliku tajam.
"Si Kangkung romantis juga ya?"
Seseorang berkata pada Amanda.
"Iya emang."
Amanda menjawab sambil tersenyum, lalu kembali memperhatikan arka. Namun kemudian ia menyadari sesuatu, dan kembali menoleh.
"Nindy?"
Amanda terperangah tak percaya.
"Lo balik?" tanya nya kemudian.
"Lo pikir, ini fatamorgana?" ujar Nindya seraya tertawa.
"Nindyyyy."
Amanda berteriak kegirangan, kedua sahabat itu pun saling berpelukan.
"Gue bawa laki gue." ujar Nindya lagi.
"Mana?" tanya Amanda.
Tak lama kemudian seorang bule tampan pun, datang menghampiri mereka.
"Hai." ujar Amanda.
"Hai."
Suami Nindya memeluk dan mereka cipika-cipiki. Tak lama kemudian Arka selesai bernyanyi dan bergabung bersama mereka. Mereka pun lalu terlibat perbincangan hangat yang menyenangkan.
Waktu telah cukup lama berlalu, pasca terakhir kali Nino mengalami kritis. Kini ia sudah diperbolehkan pulang.
Nino dijemput oleh Ryan, Ansel, dan juga Nadine. Kini ia bersiap masuk ke mobil, sementara dari kejauhan Amman memperhatikan darah dagingnya itu. Tampak Nino tertawa-tawa akibat celetukan Ansel.
Lalu ia mengeluh sakit pada lukanya, meski itu tidaklah mengapa. Namun hal tersebut tetap membuat kepala Ansel dipukul oleh Ryan. Pria tua itu marah, karena Ansel selalu punya segudang celetukan yang membuat Nino tak bisa menahan tawa. Sedang harusnya ia tak banyak bergerak, agak lukanya sembuh total.
Namun meskipun begitu, Ansel dan Nino tetap saja melakukannya. Sampai-sampai Ryan pun lelah sendiri menegur mereka.
***
Jauh di sebuah sudut, Rio terbangun dari tidurnya yang kesiangan. Ia kemudian melangkah dan melihat jadwal yang tertempel didinding.
"Hah?" Rio menutup mulutnya dengan tangan. Tak lama kemudian ia pun buru-buru menelpon Arka.
"Ka, lo dimana. Gue telat, Ka. Gimana nih?" tanya nya panik."
"Ri, sidang skripsi kita tuh besok."
"Bukannya hari ini?"
"Di undur besok, Solihin. Lo nggak liat pengumuman di WA lo?"
Rio melihat pengumuman tersebut di handphonenya, lalu menghela nafas panjang. Seakan tadi dadanya diikat dengan kencang.
"Gue udah takut banget, Ka." ujarnya kemudian.
"Makanya lu, udah deket-deket jangan begadang mulu. Push rank udah kayak bang Toyib, nggak inget waktu."
"Iye bawel."
"Untung hari ini di undur loh, coba kalau kagak."
"Hehehe." ujar Rio nyengir.
"Ngopi, Ka." lanjutnya lagi.
"Gue lagi ngopi dan sarapan sama Tante Firman. Kalau lo mau ikutan, kesini aja."
"Dimana emangnya lu berdua?"
Arka mengatakan dimana dirinya kini. Tak la setelah itu, Rio segera menyusul. Setelah mandi dan memakai parfum segalon tentunya.