Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Sebuah Keraguan


Selama beberapa hari ini, Maureen dilanda keraguan terhadap Jordan. Entah mengapa tiba-tiba saja perasaan itu datang dan menghantui pikirannya.


Sudah beberapa hari pasca kepergian Fritz, ada banyak kesempatan bagi Jordan untuk menyelamatkan wanita itu. Jordan memiliki akses untuk keluar rumah, bisa saja ia melapor pada pihak yang berwajib jika mau.


Atau ia bisa bertanya pada Maureen, perihal dimana keluarga serta teman-teman wanita itu berada. Agar mereka bisa membebaskan Maureen dari tempat terkutuk ini.


Namun sampai detik ini pun, Jordan tak melakukan tindakan apa-apa. Maureen mulai khawatir apakah Jordan hanyalah mata-mata Fritz, yang memanfaatkan kesempatan untuk bisa meniduri dirinya.


Mengingat Jordan adalah keponakan Fritz. Maureen sendiri tak tahu apa dan bagaimana hubungan antara Jordan dan Fritz selama ini. Meski acap kali Jordan menceritakan kejahatan Fritz, dan membelanya di depan pria tua itu. Namun saat ini ia tak bisa menaruh kepercayaan 100% pada Jordan.


"Maureen, pergi ke ruang baca Fritz sekarang. Aku ada disitu."


Maureen menemukan sebuah tulisan tangan Jordan, yang diselipkan melalui celah bawah pintu kamar. Ketika ia tengah mondar-mandir sambil berpikir di muka pintu tersebut.


Tak lama perempuan itu pun keluar. Namun langsung dihampiri oleh salah satu penjaga, yang kebetulan tengah patroli ke segala penjuru ruangan.


"Mau kemana?" tanya si penjaga itu pada Maureen. Maureen diam dan sedikit gelagapan.


"Mmm, saya bosan di kamar. Mau ke ruang baca." ujar Maureen kemudian.


"Saya antar." ujar penjaga tersebut.


Maureen pun hanya menurut saja. Ia melangkah ke arah ruang baca atau perpustakaan pribadi milik Fritz. Ia telah beberapa kali diajak Fritz kesana sebelumnya.


"Jangan ganggu saya, saya bisa stress kalau ada orang di dekat saya." ujar Maureen pada si penjaga.


Ia pun lalu masuk ke dalam ruang baca tersebut dan menguncinya dari dalam. Sementara si penjaga berdiri di muka pintu, takut kalau Maureen berusaha kabur.


Maureen mulai mencari Jordan diantara rak buku-buku yang berjejer. Karena ruangan tersebut amat besar.


"Jordan?"


"Ssstt."


Jordan muncul dari arah belakang dan mereka pun saling berpelukan.


"Maureen, sayang."


Jordan mencium kening Maureen, lalu mencium bayinya yang ada didalam. Maureen tersenyum tipis, ia berusaha keras untuk terlihat biasa didepan Jordan. Meski keraguan besar kini melandanya. Ia tak lagi memandang pria itu seperti hari-hari sebelumnya.


"Sini." ajak Jordan kemudian.


Pria itu lalu mengarahkan Maureen ke suatu tempat, dimana terdapat sofa dan juga meja untuk membaca.  Ternyata disana ada makanan yang cukup banyak. Maureen tertegun sejenak, sementara Jordan tersenyum kepadanya.


"Ayo, kamu pasti kangen kan makan makanan kayak gini?" ujarnya kemudian.


Maureen melihat banyak sekali makanan yang ia sukai. Ada wafer, coklat, cake dan lain sebagainya. Semenjak diketahui positif hamil, Fritz berpesan pada para pembantu. Agar Maureen hanya diperbolehkan makan makanan sehat saja, dan Maureen kurang menyukai hal tersebut. Tapi ditempat ini, hampir semua yang ia inginkan ada.


"Ayo makan...!" ujar Jordan padanya.


Maureen lalu duduk dan makan semua itu, seperti orang yang tidak pernah bertemu makanan sebelumnya. Jordan tertawa melihat Maureen.


Sejenak Maureen pun merasakan kebahagiaan, ditengah trauma yang tak terhitung lagi jumlahnya. Semenjak disekap oleh Fritz, sebelum kedatangan Jordan. Hampir tak pernah Maureen merasakan kebahagiaan. Bahkan tersenyum pun berat baginya, ia telah menyesali segala kejahatan yang pernah ia lakukan dulu.


Perbuatannya yang pernah mengkhianati Arka, pernah bekerjasama dengan Rani untuk berbuat jahat pada Amanda. Tidak mengindahkan teguran dan nasehat ibunya, hidup seenak jidat dan menyakiti sesama.


Maureen telah benar-benar merenungi kesalahannya, selama ini. Ia bahkan sangat menyesal telah berbuat bodoh, mencoba menipu Amman demi sebuah kemewahan. Hingga akhirnya Amman lah yang berbalik menipunya.


"Kamu suka?" tanya Jordan pada Maureen.


"Aku akan segera membebaskan kamu, Maureen. Jangan berfikir kalau aku nggak melakukan tindakan apa-apa."


Kali ini Maureen terdiam menatap Jordan, seakan Jordan telah mengetahui isi kepala Maureen. Mengenai keraguannya terhadap pemuda itu.


"Kamu ingat nggak, waktu pertama kali kita ketemu?" Jordan bertanya seraya menatap matanya.


Maureen mengangguk.


"Saat itu aku dari pergi mengunjungi teman-teman lama ku, karena aku udah lama banget di luar negri. Kamu liat gelang yang aku pake?"


Maureen mencoba mengingat-ingat, namun kemudian ia mengangguk.


"Semua orang yang keluar dari kediaman Fritz. Dipakaikan gelang itu, di dalam bagian depan ada semacam chip. Disitu Fritz dan orang kepercayaannya bisa mengawasi gerak-gerik kita, di titik mana aja kita berada. Kita bisa di deteksi."


Maureen menatap Jordan, ia tak mengetahui jika ada hal semacam itu. Setahunya, itu hanya ada di dalam film ataupun novel-novel online.


"Mungkin kamu heran dan nggak percaya, tapi ini nyata. Fritz itu seorang IT, fisikawan, dan hacker. Dia orang berbahaya sekaligus berpengaruh di berbagai bidang, dia bergerak dengan sangat-sangat rapi dan teliti. Ada banyak orang besar dan memiliki jabatan tertentu, yang berada di sekitar dia. Yang sering dia bantu permasalahannya. Makanya Fritz itu sulit di jerat, dia banyak yang membackup."


Jordan menatap Maureen dan begitupun sebaliknya.


"Dia dan orang kepercayaannya yang selalu ngikutin aku, kemana aku pergi. Mereka tau, kamu tinggal dimana, keluarga kamu dimana, teman-teman kamu siapa aja. Kalau aku datang, menemui salah satu dari mereka. Atau melintas saja didekat kediaman mereka, bisa jadi mereka dalam bahaya. Aku bahkan nggak bisa meminjamkan handphone aku ke kamu, untuk menghubungi keluarga kamu. Karena handphone aku pun sudah di sadap."


Maureen terdiam mendengar semua itu, mendadak selera makannya hilang begitu saja.


"Terus dirumah ini, apa kita diawasi?" tanya nya kemudian.


Jordan menggeleng.


"Untuk dirumah ini gerak-gerik aku cukup bebas, tapi diluar, aku nggak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah memakaikan gelang itu sejak aku kecil. Karena dia khawatir, aku akan pergi ketempat ayah kandungku. Aku tau alamatnya, meski sampai saat ini aku belum pernah ketemu secara langsung dengan dia. Tapi aku pernah liat fotonya dia sekilas di kamar ibuku, sebelum di bakar oleh Fritz. Aku juga menemukan alamat rumahnya dan aku simpan."


"Kenapa kamu kembali kesini?" Bukannya di luar negri, kamu bisa bebas?"


Kali ini Jordan menghela nafas.


"Fritz menginginkan aku jadi penerus perusahaannya. Kalau aku menolak, dia mengancam akan membunuh ayah kandungku. Aku tau ayahku jahat, dia sudah meninggalkan ibuku demi perempuan lain. Tapi cuma dia yang aku punya saat ini. Aku nggak mau dia mati ditangan Fritz, karena biar bagaimanapun juga dia ayahku."


Maureen kini menunduk dalam, keraguannya terhadap Jordan jauh berkurang. Sejak ia mendengar penjelasan dari pemuda itu.


Sementara di bagian lain, polisi sudah menemukan titik terang tentang hilangnya Maureen. Beberapa CCTV jalan mulai menangkap rekaman mobil yang pernah di bawa oleh Maureen ke kampus, semasa ia mengaku sebagai anaknya Amman.


Mobil tersebut terlihat bergerak beberapa kali dalam seminggu di berbagai titik. Maka polisi pun memutuskan untuk mengejar mobil tersebut, terlebih dahulu dan bertanya pada pemiliknya.


***


Di kediaman orang tua Arka.


Ningsih sudah sangat ingin bertanya pada suaminya, mengenai untuk siapa ia membeli bunga tempo hari. Namun perempuan itu masih menimbang-nimbang. Apakah lebih baik diam dan pura-pura tidak mengetahui, namun terus melakukan penyelidikan. Atau bertanya saat ini dengan resiko suaminya akan berbohong kepadanya.


Ningsih melihat ke arah depan, kepada suaminya yang tengah duduk sambil berkutat dengan handphone. Ayah tiri Arka itu tengah melihat katalog harga barang, pada sebuah lama website supplier.


"Bu, minta tolong bikinin kopi dong." ujarnya kemudian.


Ningsih pun lalu mengambil gelas dan mulai membuat kopi. Mendadak muncul sebuah tekad di hatinya, bahwa ia harus mempertanyakan perihal Fiona kepada suaminya itu.


Kopi telah siap, ibu Arka pun melangkah. Namun tiba-tiba ada tamu yang datang. Ayah Arka menyambut tamu tersebut dan terpaksa Ningsih mengurungkan niatnya.