Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Teori Ansel (Bonus Chapter)


"Pletak."


Suara dari bola bilyard yang beradu itu terus saja terdengar di sebuah ruangan. Meski dingin dari air conditioner bisa di rasakan oleh siapapun, namun ada banyak asap rokok elektrik yang mengebul dimana-mana.


Malam itu Arka, Rio, Nino, dan Ansel bermain bersama-sama dengan serius. Tampak sesekali mereka menikmati minuman yang tersedia.


"Yang menang dapat iPhone pro seri terbaru." ujar Ansel.


"Judi mulu lo." seloroh Arka pada saudaranya itu, diikuti tatapan dari Nino dan juga Ansel.


"Tau, udah mau nikah juga. Ntar kebiasaan sampai jauh." Rio menimpali.


"Judi itu kalau ada uang didepan kita semua. Ini kan siapa yang kalah, dia patungan buat beliin iPhone baru sebagai hadiah untuk yang menang." ujar Ansel.


Arka, Rio dan Nino saling bersitatap satu sama lain sambil melebarkan bibir dan mengecilkan mata.


"Sama aja, Bambang." ujar Arka kemudian.


"Ya beda dong, Ka. Ini perlombaan berhadiah namanya." Ansel masih membela diri.


Arka, Nino, dan Ansel sudah sangat ingin melempar bola ke kepala bule karbitan itu.


"Gimana?" tanya Ansel.


Ia masih saja gigih.


"Ya udah deh." jawab Arka, Rio, dan Nino di waktu yang nyaris bersamaan.


Sebab apabila di tolak, mereka khawatir Ansel akan terus-menerus berusaha. Sampai keinginannya terpenuhi. Mereka lalu bermain dengan pemenang yang akan mendapatkan iPhone seri terbaru.


***


Si kembar telah tertidur sejak tadi, sementara Arka belum pulang. Amanda menyibukkan dirinya di dapur dengan membuat kue Bugis serta klepon. Sebab dalam beberapa hari belakangan ia sangat mengidamkan kue-kue tersebut.


Tentu saja resepnya melihat dari YouTube dan sambil berkonsultasi dengan sang ibu mertua melalui video call.


"Ini segini aja bu, airnya?"


Amanda memperlihatkan air yang hendak ia gunakan untuk menguleni adonan. Air tersebut berada dalam sebuah gelas ukur dan menurut ibu Arka itu sudah sesuai takaran.


"Iya segitu aja." jawab ibu Arka.


Amanda kemudian mulai membuat adonan yang dimaksud dan ibu Arka terus memperhatikan dan membimbing menantunya itu hingga akhir.


"Yeay, selesai." ujar Amanda setelah sekian waktu terlewati. Setelah seisi dapur berantakan dan ia merasa cukup lelah.


"Semoga hasilnya memuaskan." ujar wanita itu.


Lalu ia pun lanjut berbincang dengan sang ibu mertua, sampai akhirnya ibu Arka pamit. Sebab ayah tiri Arka sudah pulang dan harus dilayani. Amanda berterima kasih kepada ibu mertuanya itu.


Tak lama apa yang ia buat matang dan ia sangat puas dengan hasilnya. Termasuk rasanya yang juga ternyata enak. Amanda kemudian mengambil rekaman kue-kue yang ia buat tersebut, lalu menguploadnya ke laman insta story Instagram.


***


Sementara di tempat bilyard, permainan berlangsung cukup sengit. Masing-masing dari mereka memiliki keahlian yang mumpuni di bidang permainan tersebut. Sehingga mereka pun sangat sulit untuk mengalahkan satu sama lain.


Arka menatap ke arah meja dan memikirkan strategi apa yang harus ia gunakan untuk menjatuhkan lawan-lawannya. Begitupula dengan Nino, Ansel, dan juga Rio.


Masing-masing dari mereka tak ada yang mau mengalah dan tak ingin kalah. Sebab cuan yang mereka akan keluarkan cukup besar untuk si pemenang, walau itu terhitung patungan.


Mereka terus bermain, sampai kemudian Nino keluar sebagai pemenang. Masing-masing dari mereka mengumpat namun sambil tertawa. Ansel sendiri sangat menyayangkan hal tersebut, sebab tadi sedikit lagi dirinya meraih kemenangan.


"Kenapa sih ah elah. Pengen beli iPhone baru tanpa keluar duit banyak, malah gue yang rugi." gerutunya kemudian.


Nino tertawa, begitupula dengan Arka dan juga Rio.


"Busuk sih niat lo." seloroh Arka kemudian.


"Makanya nggak menang." timpal Rio.


"Ya udah deh nggak jadi, dibatalin aja permainannya." ujar Ansel.


"Dih kayak anak SD lo." Kali ini Nino bersuara.


"Coba kalau dia yang memang, mana boleh dibatalin." lanjutnya kemudian.


Arka dan Rio makin tertawa-tawa.


"Yang namanya perjanjian ya perjanjian." ucap Arka.


"Harus ditepati dong." imbuh pemuda itu.


"Ya udah deh, iya. Gue bayar koq."


Ansel mengeluarkan handphone sambil menggerutu sewot. Kemudian mereka mengumpulkan dana seharga iPhone seri terbaru dan mengorder melalu handphone milik Rio.


"Nih, udah di order ya. Langsung di kirim ke alamat lu, bro." ujar Rio pada Nino.


"Thanks." ujar Nino kemudian.


Mereka pun akhirnya menyudahi kemenangan dengan hati Ansel yang masih belum menerima kekalahan.


***


"Hai sayang."


Arka pulang di tengah malam yang suntuk. Namun saat itu Amanda belum tidur dan masih menonton televisi, sambil menikmati kue yang tadi ia buat.


"Hey."


Amanda memeluk suaminya itu dan menariknya untuk duduk di sofa. Arka memerhatikan kue Bugis dan klepon yang ada di atas meja.


"Kamu beli dimana kue kayak gini, di jam segini?"


Arka bertanya dengan nada heran. Sebab kue tersebut biasanya hanya bisa di dapat di pagi hari.


"Bikin, Ka." jawab Amanda.


"Oh, kamu bikin sendiri?"


Arka mencomot salah satu dan memakannya.


"Hmm, muncrat." ujarnya sambil tertawa.


Amanda pun jadi ikut-ikutan tertawa.


"Enak nggak menurut kamu?" tanya Amanda kemudian.


"Enak." jawab Arka sambil mengangguk dan terus mengunyah.


"Tadi ngapain aja sama Nino dan yang lainnya?" Amanda kembali bertanya.


"Main bilyard." jawab Arka.


"Selama itu?" tanya Amanda lagi.


Sebab Arka sudah pergi bersama saudara-saudaranya tersebut sejak pulang kantor tadi.


"Namanya juga cowok kalau udah maen, ya


lama." ucap Arka.


"Kamu mau makan nasi?" tanya Amanda.


"Tadi udah sih. Mau mandi aja sama ganti baju dulu." ujar Arka.


"Mau kopi?"


"Mau." jawab Arka.


Maka Amanda beranjak untuk membuatkan. Arka segera bergegas untuk mandi dan berganti pakaian. Tak lama mereka berdua sudah terlihat di depan televisi. Arka ada sempat menilik ke kamar anak-anaknya sejenak, sebelum berakhir di tempat tersebut.


***


"Duh kenapa sih gue kalah."


Ansel masih saja menggerutu, meski kini ia sudah nyaris tiba di kediamannya.


"Kenapa Nino selalu lebih hebat dari gue dalam hal apapun." ujarnya lagi.


"Udalah ganteng, gantengan dia. Badan bagusan dia, rejeki dia lebih unggul." lanjutnya lagi.


Apa mungkin karena rambut Nino hitam ya?. Sedangkan rambut gue pirang gitu?"


Ansel mengungkapkan sebuah teori yang sejatinya sangat ngawur. Sebab tak ada nasib yang bisa di ukur dari warna rambut.


"Ya udah kalau gitu. Mulai besok gue akan cat rambut gue jadi hitam dan akan bergaya kayak Nino. Siapa tau gue akan beruntung sama kayak dia."


Ansel kemudian senyum-senyum sendiri dan menambah kecepatan mobilnya. Hingga tak lama setelah itu ia pun sampai di rumah.