
Amanda Marcelia terbangun di pagi buta, lantaran ada keinginan untuk pergi ke toilet. Dirumah Arka tak ada toilet di dalam kamar, melainkan di dapur.
"Amanda udah bangun?"
Ibu Arka mengagetkan Amanda yang berjalan sempoyongan, karena masih mengantuk.
"Eh, ibu. Ibu udah bangun?" Amanda balik bertanya lalu tersenyum. Ibu Arka pun balas tersenyum pada menantunya itu.
"Ibu biasa jualan pagi, jadi jam segini otomatis terbangun."
"Ibu jualan dimana?" tanya Amanda lagi.
"Di pasar, nak."
"Manda ke toilet dulu ya, bu."
"Iya, hati-hati lantainya basah."
"Iya bu." ujarnya kemudian.
Tak lama ia pun keluar dari dalam toilet.
"Ibu lagi bikin apa, bu?" tanya Amanda.
"Ini."
Ibu Arka menunjukkan beberapa jenis jajanan pasar yang tengah dan telah selesai ia buat.
"Ini jualan ibu?" tanya Amanda lagi.
"Iya, nak. Tapi hari ini dan besok, ibu nggak jualan. Mau puas-puasin sama kalian dulu, ini ibu bikin buat kita makan."
Amanda tersenyum dan memperhatikan semuanya.
"Ini kue yang isinya kelapa kan, bu?" lagi-lagi Amanda bertanya.
"Iya namanya bugis, pernah makan?"
"Pernah bu, dulu almarhumah ibunya Amanda sering beli."
Ibu Arka diam menatap Amanda.
"Ibumu udah nggak ada?" tanya ibu Arka pada menantunya itu.
Amanda mengangguk, lalu sedikit menunduk. Ada kesedihan yang tiba-tiba merebak di pelupuk matanya.
"Ibu minta maaf, ya."
Ibu Arka merasa tidak enak sudah menanyakan hal tersebut, namun Amanda kemudian tersenyum.
"Nggak apa-apa koq, bu. Ibu Amanda udah nggak menderita lagi sekarang?"
"Apa dulu, ibu kamu sakit parah?"
Amanda mengangguk.
"Hatinya, bu." Amanda menatap ibu Arka.
Sebagai sesama wanita, ibu Arka mengerti apa yang dimaksud oleh menantunya itu.
"Ayah kamu...?"
"Papa selingkuh, sama perempuan yang sekarang jadi istrinya. Mama sering dipukuli, omongan papa selalu kasar. Tapi mama memilih bertahan demi anak. Sebuah keputusan yang sangat salah. Beliau nggak ngerti, kalau anak pun nggak butuh sosok ayah yang seperti itu. Mama meninggal karena terlalu banyak makan hati, bu."
Ibu Arka menghela nafas, seraya mengingat masa lalunya yang juga kelam. Meski kasusnya berbeda, namun konteksnya tetap sama. Perempuan yang disakiti oleh laki-laki.
"Laki-laki itu, lebih banyak yang buruk ketimbang yang baik." ujar ibu Arka seraya membuang pandangan ke suatu sudut.
Amanda mengangguk, menyetujui dengan pasti pernyataan itu.
"Makanya dulu Amanda nggak tertarik untuk menikah, bu. Karena takut kejadiannya akan sama dengan apa yang mama alami. Itulah kenapa di awal pernikahan Amanda dan Arka, ada perjanjian. Sampai kemudian kami sama-sama menyadari, kalau kami saling mencintai dan menyayangi."
Amanda tersenyum, sambil membuang pandangannya ke suatu sudut.
"Mungkin ini sudah jalannya Arka. Ibu akan selalu membimbing Arka, supaya bisa jadi suami yang baik untuk kamu." ujar ibu Arka kemudian.
Amanda tersenyum, begitu juga sebaliknya. Amanda membantu ibu Arka membersihkan rumah. Meski telah dilarang, namun wanita hamil itu beralasan jika ia harus bergerak.
Maka ibu Arka pun tak bisa menghalanginya lagi, namun ia membatasi Amanda dengan kerja ringan seperti menyapu dan menyiapkan sarapan. Selebihnya, masih ibu Arka yang mengerjakan.
Lama setelah itu Arka terbangun. Ia tak melihat Amanda disisinya. Pemuda itu lalu berjalan keluar kamar. Suasana rumah sudah bersih, halaman pun demikian. Ada banyak jenis sarapan di atas meja makan. Mulai dari nasi uduk, hingga jajanan pasar yang dibuat oleh ibunya sendiri.
"Hey, Ka. Udah bangun?"
Ayah tirinya keluar dan bersiap untuk bekerja. Semenjak sembuh dari sakit, ayahnya kembali aktif di toko barang material miliknya. Arka yang memberi modal, agar pria itu kembali berkegiatan dan tak suntuk dirumah.
"Yang lain kemana, pa?" tanya Arka.
"Rianti kayaknya belum bangun, Amanda sama ibu di dapur noh."
"Oh."
Arka melangkah ke dapur, tampak Amanda tengah memakan kue bugis sekali hap. Padahal ukurannya cukup besar.
"Hap."
"Astaga Amanda." ujar Arka seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara sang ibu tersenyum.
"Hehehe, enak Ka." ujar Amanda lalu mengambil dadar gulung dan memakannya lagi sekali hap.
"Hap."
"Maafin istri Arka ya, bu. Dia emang gitu kelakuannya."
Ibu Arka makin tertawa.
"Dulu awal-awal iya, bu. Sekarang mah udah nggak."
"Baguslah, biar kamu juga makannya nggak terganggu."
"Bu, papa berangkat ya." teriak ayah tiri Arka dari depan.
Ibu Arka beranjak dan buru-buru menghampiri. Amanda pun ikut beranjak, namun tak lupa memakan lagi dadar gulungnya hingga membuat Arka tertawa.
"Arka, Amanda. Papa pergi dulu ya."
"Arka dan Amanda bergantian mencium tangan lelaki itu.
"Hati-hati, pa. Jangan lupa obatnya." ujar Arka.
"Tuh bawel, Man. Arka gini nggak kalau sama kamu?" tanya ayah Arka pada Amanda.
"Persis, pa." ujar Amanda seraya tertawa.
"Kan Arka sayang sama papa." ujar Arka membela diri.
"Iya, papa pergi dulu ya." ujar ayah tirinya lagi.
"Makan siang nanti ibu anterin pake ojol." ucap ibu Arka.
"Iya bu, dah semua?"
"Daaah."
"Ka, itu papa jalan kaki?" tanya Amanda pada Arka, setelah ayah tirinya sedikit menjauh.
"Dia jalan sampe depan, biar olahraga dikit. Terus naik ojek online." jawab Arka..
"Pake mobil kita aja, Ka. Bawa satu yang silver kesini."
Amanda mengingatkan soal salah satu mobilnya yang jarang dipakai.
"Nggak usah, Amanda." Ibu Arka kini bersuara.
"Ibu bukan nggak mau menerima kebaikan kamu, tapi udah terlalu banyak yang kamu berikan untuk keluarga ini." lanjutnya lagi.
"Nggak apa-apa, bu. Orang itu juga jarang banget dipake. Daripada mesinnya rusak gara-gara di gerogotin tikus, mending dipake. Biar papa atau ibu nggak perlu repot pake ojol dan lain-lain."
"Kita nggak punya lahan parkir, Man. Pickup buat nganter barang aja, di parkir di toko." Arka menimpali.
"Lah ini apa?" ujar Amanda menunjuk halaman lebar didepan rumahnya.
"Ini tanah orang samping, kita jalannya yang dikit ini." jawab Arka.
"Oh." Amanda baru tau.
"Lagian, rumah sederhana kayak kita ini. Kalau punya mobil bagus pasti di julidin. Tetangga sini sih baik, tapi yang depan-depan situ suka gosip." ujar Ibu Arka.
"Biarin aja sih, bu. Biarin mereka julid, diemin aja." tukas Amanda.
"Janganlah, ibu nggak enak. Jadi kayak jatuhnya Arka manfaatin pernikahan kalian."
"Tapi Amanda beneran nggak ngerasa dimanfaatin, bu."
"Iya ibu tau, nak. Tapi ibu yang ngerasa nggak enak."
"Ya udah. Kalau ibu berubah pikiran, kasih tau Amanda ya bu."
"Pasti." jawab ibunya seraya tersenyum.
"Hmmh."
Rianti keluar dari kamar.
"Astaga, anak gadis." ujar Arka kemudian.
"Ngantuk, mas. Abis ngerjain tugas semaleman." Rianti membela diri.
"Alah, palingan juga kamu nonton drakor. Ngehaluin Kim Soo Hyun, atau mantengin BTS sambil mengkhayal pacaran sama Jungkook."
"Ih, mas juga ngehalu in IU kan. Mas Arka tuh mbak Amanda, dia tuh ngehaluin IU sama Krystal FX."
Amanda tertawa.
"Mbak Amanda suka drakor?" tanya Rianti.
"Mmm..." Amanda tampak berfikir.
"Ngaku kamu, Man. Orang kamu ngehaluin Kim Bum sama Lee Dong Wook kan?"
"Idih, siapa?" Amanda berkata seraya melirik Arka.
"Nggak usah munafik kamu."
Amanda pun tertawa.
"Heh sudah, sudah. Pada sarapan dulu gih!" ujar ibunya kemudian.
"Tadi, papa nggak makan bu?" tanya Arka.
"Udah dari pagi buta papamu makan."
"Oh."
Mereka pun akhirnya menuju ke meja makan.
"Ini tadi Amanda yang bantuin ibu masak, dia juga yang beresin rumah."
Amanda menunduk, Arka tersenyum melirik istrinya. Tak lama kemudian mereka pun sarapan bersama.