
Hari itu Rio benar-benar naik pitam, pasalnya ia dihadapkan pada sebuah kenyataan yang mengandung bukti-bukti. Bahwasannya memang bedebah ini lah pelakunya.
"Woi, brengsek."
"Buuuk."
"Buuuk."
"Buuuk."
Rio memukul Doni dengan membabi buta. Doni yang kaget pun balas memukul Rio, hingga terjadilah perkelahian.
Kekuatan keduanya imbang. Sampai kemudian di suatu titik, Rio berhasil dilumpuhkan Doni. Doni mengunci pergerakan Rio dan mengambil sebuah batu.
"Buuuk."
Belum sempat Doni memukul kepala Rio, ia sudah ditendang oleh seseorang. Doni kaget, ternyata itu Robert. Doni berdiri menghadapi Robert, Rio mengambil kesempatan untuk bangun dan ikut menghajar Doni.
"Buuuk."
"Lo brengsek, emang Don. Kurang baik apa Arka selama ini sama lo, bangsat." teriak Rio sambil terus memberikan pukulan. Doni pun masih terus melawan meski kini lawannya tak cuma satu, melainkan dua.
Tak lama kemudian, Nino datang dengan membawa beberapa anggota kepolisian. Robert dan Rio berhenti memukuli Doni, Doni pun lalu ditangkap.
"Ada apa ini?"
Doni memberontak ketika kedua tangannya di borgol polisi.
"Lepaskan saya." lanjutnya kemudian.
Namun sebesar apapun usaha Doni untuk memberontak, tetap saja itu tak berpengaruh banyak. Ia lalu dipaksa masuk ke dalam mobil dan dibawa ke kantor polisi.
"Lo nggak apa-apa, bro?" tanya Robert pada Rio sesaat setelah mobil polisi itu menjauh.
"Udah dibilang jangan serang dulu sebelum gue sampe." lanjut Robert lagi.
"Gue udah gregetan, bro." ujar Rio.
Robert dan Nino tertawa.
"Nggak sabaran sih, lo." ujar Robert lagi.
"Thanks ya, Nin. Buat lo dan bokap lo yang udah nemuin bukti." Nino mengangguk lalu tersenyum
"Sama-sama." ujar Nino.
"Lo juga bro, makasih udah nambahin bukti kecurigaan gue terhadap Doni." ujar Rio pada Robert.
"Sama-sama." tukas Robert kemudian.
Rio menghela nafas. Tak disangka Robert yang dulu sering menjadi bahan pergunjingan dirinya, Doni dan juga Arka. Kini justru malah menolong mereka. Sementara Doni yang dulunya sahabat, malah menjadi orang yang menyakiti sahabatnya sendiri.
Memang terkadang kita tidak bisa mempercayai sesuatu, dari apa yang kita lihat sekilas didepan mata. Dan kita harus benar-benar mengenali siapa yang kini ada didekat kita.
Yang kita kira adalah sahabat, bisa jadi dia adalah orang yang paling menginginkan hal buruk terjadi pada kita. Dan orang yang kita kira adalah lawan kita, bisa jadi dialah orang yang paling menolong kita di kemudian hari. Intinya jangan pernah cepat melabeli seseorang dengan kata "Baik" maupun "Buruk."
Sebab yang baik tak selamanya baik dan yang buruk tak selamanya busuk. Manusia itu selalu berubah, bahkan hitungan hari pun bisa merubah seseorang. Entah itu menjadi lebih baik atau lebih buruk.
***
Doni di bawa ke kantor polisi, ia masih terus menyangkal tuduhan yang dituduhkan padanya. Berkali-kali ia bahkan masuk ke dalam pertanyaan yang begitu menjebak, namun jawaban Doni selalu sama.
"Saya tidak pernah mencelakai mereka."
Penuh keyakinan Doni berbicara, seakan dirinya memanglah tidak melakukan perbuatan tersebut. Sepertinya Doni memang fasih untuk berbohong. Tetapi bukan polisi namanya kalau bisa dibohongi begitu saja, oleh anak ingusan sepertinya Doni.
Polisi akhirnya membeberkan bukti yang membuat Doni terdiam. Yakni foto-foto mobil temannya yang ia gunakan dalam kejahatan tersebut, mobil tersebut sempat terekam CCTV jalanan. Dan walaupun sudah di sembunyikan, di ganti plat dan juga di perbaiki bagian yang rusak, tetap saja pihak kepolisian menemukannya. Dengan dibantu oleh pihak Ryan tentunya.
Doni tak dapat mengelak lagi, padahal ia baru saja menandatangani kontrak dengan beberapa klien untuk sebuah project iklan.
Hal ini membuktikan jika apa yang bukan milik kita, tak bisa kita paksa untuk memilikinya. Doni memiliki dendam pada Arka, terkait pemukulan yang waktu itu dilakukan Arka dan juga Rio. Pada saat Doni berniat memperkosa Amanda.
Doni juga merasa jika kini manajemen, lebih banyak memberikan job pada Arka ketimbang dirinya. Doni pun menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan Arka.
***
"Siapa yang ada dibalik ini semua?"
Ryan bertanya pada Doni di sebuah ruang penyidikan. Di dalam ruangan tersebut hanya ada dirinya dan anak muda itu. Mereka duduk pada dua bangku, yang saling berseberangan dan terhalang oleh meja.
"Tidak ada, karena saya tidak melakukannya. Saya dituduh melakukannya dan dipaksa mengakui bukti-bukti yang ada."
Ryan menghela nafas dan menatap pemuda itu.
"Saya akan bebaskan kamu, kalau kamu bisa memberitahu saya. Soal siapa yang ada di balik semua ini?"
"Anda pikir anda siapa, anda ini hanya orang asing yang tidak ada hubungannya dengan semua ini."
Ryan berdiri lalu meletakkan kedua tangannya di meja, wajahnya kini begitu dekat dengan Doni.
"Kamu pikir kenapa saya yang orang asing ini, bisa duduk disini dan bertanya sama kamu?"
"Itu yang ingin saya tanyakan sejak tadi." ujar Doni pada Ryan.
Sejak masuk keruangan ini dirinya memanglah tidak mengerti. Pasalnya pihak yang berwajib hanya mengatakan jika ada yang ingin bertemu dengannya. Doni sendiri hanya menuruti dan tak paham siapa orang yang ingin mengajaknya bertemu.
Awalnya ia mengira salah satu anggota keluarganya, tapi apa mungkin mereka datang secepat itu. Padahal mereka tinggal di daerah yang cukup jauh. Namun ketika pintu ruangan itu terbuka, Doni malah tidak mengenali siapa yang ingin bertemu dengannya itu.
Ketika ia bertanya pada petugas yang membawanya, tentang siapa Ryan, petugas itu hanya diam saja dan menyuruh Doni untuk tetap masuk.
"Perhatikan wajah saya baik-baik ujar Ryan.
"Saya, Ryan Moralez. CEO of The Royal Food Cell, dan saya adalah ayah kandungnya Arka."
Petir seolah menyambar, meski tak ada hujan diluar sana. Tubuh Doni gemetar demi mendengar pernyataan tersebut.
"A, ayahnya Arka?"
"Ya, dan sekarang saya ingin tahu. Siapa saja dalang dibalik kecelakaan anak saya dan juga istrinya."
"Doni diam, ia tak tahu harus berkata apa untuk membela diri.
"Baik, kalau kamu tidak mau menjawab sekarang. Saya beri kamu waktu dua hari, nanti saya akan kesini lagi. Kalau kamu tidak mau jujur, saya bisa membuat kamu di penjara lebih lama dari yang seharusnya."'
Ryan beranjak dan menghilang dibalik pintu.
"Braaak."
Pintu itu dibanting, membuat Doni yang semula terpaku menjadi terhenyak kaget. Tak lama kemudian, seorang petugas kembali masuk dan membawa Doni menuju ke sel tahanan.
Sementara itu dirumah sakit, Nino sedang berbicara pada Amanda. Sedang Rio dan Robert duduk disisi kanan dan kiri Arka. Arka sendiri tempat tidurnya berada persis di samping tempat tidur Amanda.
"Bro, nggak mau ribut?" tanya Rio seraya melirik ke arah Nino dan juga Amanda. Robert sendiri tertawa, begitupula dengan Arka.
"Gue kasih tau Nino, ya. Lo mau ngajak ribut." ujar Arka kemudian.
Mereka bertiga pun akhirnya tertawa, mendengar semua itu Amanda dan Nino pun menoleh.
"Apaan sih?" tanya Amanda pada mereka.
"Nggak." ujar mereka bertiga seraya masih tertawa.
"Pasti ngomong yang nggak-nggak, nih." ujar wanita itu lagi.
"Nggak ye, GR nih Amanda." ujar Rio.
"Orang lagi ngomongin anak-anak lo yang mau kesini." lanjutnya lagi.
"Gue tau soal anak-anak, Ri. Tapi gue yakin lo tadi nggak sedang membicarakan itu. Lo ngomongin Nino kan?"
"Ka, bini lo tau banget kalau apa-apa yang berhubungan dengan Nino. Berantemin tau, Ka."
Mereka semua kini tak kuasa menahan tawa.
"Heh, perusak rumah tangga orang lo." ujar Robert pada Rio. Lalu tawa mereka semua pun semakin pecah.