Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Sakit


Flash Back.


Sore hari menjelang malam, beberapa saat sebelum percakapan antara ibu Arka dan juga Liana di ruang makan. Tepatnya sebelum Rianti memutuskan untuk jujur dan Rio datang membujuk Liana.


Hari itu, Amanda Marcelia Louise. Perempuan berusia 31 tahun yang tengah mengandung bayi kembar tersebut, tampak menangis. Setelah melepas suaminya untuk mendapatkan penanganan di ruang instalasi gawat darurat.


Tak lama setalah itu ia terpaksa harus melihat pula. Nino sang cinta pertamanya yang masih sangat ia cintai tersebut, dilarikan juga ketempat yang sama. Nino didampingi oleh Nadine, mahasiswinya yang belakangan terlihat akrab dengan pria itu.


Nino sama tak sadarkan diri, bahkan terlihat mulutnya mengeluarkan busa. Seperti seseorang yang keracunan atau sengaja menenggak racun itu sendiri.


Dalam keadaan kalut Amanda menarik Nadine, yang bahkan tidak menyadari jika Amanda ada disana. Saking panik dan khawatirnya ia pada kondisi Nino, atau yang lebih sering ia sebut dengan "Pak Zio."


"Nad."


"Mbak Amanda?"


Keduanya bersitatap sambil berurai air mata. Nadine menangisi Nino, sedang Amanda menangisi keduanya. Nino dan juga Arka.


"Dia kenapa?" tanya Amanda pada Nadine.


"Gue nggak tau mbak. Pihak keamanan apartemen udah menemukan dia kayak gitu. Gara-gara tetangganya mulai mengeluh, ada banyak alkohol yang mengalir dari bawah pintu unitnya dia. Terus gue ditelpon, karena yang terakhir pak Zio hubungin itu, gue."


Nadine menyeka air matanya.


"Mbak Amanda?" Nadine kini bertanya.


"Laki gue." tangis Amanda terisak.


"Tiba-tiba dia pingsan dan nggak bangun-bangun." lanjutnya lagi.


Amanda menyeka air matanya, Nadine sendiri akhirnya mengerti. Setelah tadi ia bingung kenapa Amanda juga ada tempat itu dan menangis.


Mereka berdua duduk di ruang tunggu, dengan hati yang sama-sama remuk redam. Menanti-nanti penjelasan dokter, tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada kedua orang itu.


Perut Amanda terasa lapar, namun ia tak memiliki selera makan sedikitpun. Kali ini ia egois dan membiarkan kedua bayinya protes, dengan menendang-nendang dinding rahimnya.


Amanda benar-benar tak bisa makan sebelum memastikan keadaan Arka. Ia harus tau apa yang telah terjadi pada suaminya itu, dan tak menampik juga soal Nino. Ia ingin mengetahui keadaan keduanya.


Arka adalah cintanya dimasa kini, namun Nino adalah cintanya dimasa lalu. Ia mencintai keduanya meski di waktu yang berbeda.


Perlahan malam pun larut, ibu Arka memulai percakapan dengan Liana. Sedang Rianti mulai menimbang-nimbang, apakah ia harus jujur mengenai Amanda atau tidak. Sementara itu dirumah sakit, seorang perawat memanggil Amanda.


"Bu Amanda?"


"Iya sus." Amanda berdiri dari duduknya.


"Dokter memanggil ibu." ujar perawat tersebut.


"Nad, gue kesana dulu ya." ujar Amanda pada Nadine, mahasiswinya itu pun mengangguk. Amanda mengikuti langkah si perawat, menuju ruang dokter yang menangani Arka.


"Bu Amanda."


Sang dokter menyapa Amanda yang baru saja masuk ke ruangannya.


"Suami saya gimana, dok?" tanya Amanda seraya menarik kursi dan duduk dihadapan dokter tersebut. Sang dokter menghela nafas lalu menatap Amanda.


"Suami ibu, ngerokok?" tanya dokter itu.


"Mmm, iya kalau di luar dok. Tapi dirumah nggak."


"Alkohol, kopi?"


"Iya juga, dok. Dia ngopi kuat, tapi kalau alkohol jarang-jarang setahu saya."


"Begini, suami ibu mengalami kelelahan yang sangat dan juga gangguan aritmia blok jantung."


"Apa itu dok?" tanya Amanda bingung. Itu terdengar sangat menyeramkan baginya.


"Blok jantung adalah jenis dari aritmia. Dimana jantung pasien berdetak lebih lambat dan tidak teratur, itu yang menyebabkan dia pingsan."


Amanda sangat terkejut mendengar semua itu.


"Apa itu berbahaya, dok?"


"Jika terus didiamkan, namanya penyakit lama-lama akan berbahaya." ujar dokter itu kemudian.


"Penyebabnya apa ya, dok?. Kalau boleh tau."


"Ya itu tadi, salah satunya alkohol, kafein atau sering konsumsi obat-obatan tidak dengan resep dokter. Stress emosional yang berlebihan dan juga rokok."


Amanda menghela nafas, ia memang mengetahui perihal kebiasaan dan gaya hidup dari suaminya tersebut. Tapi ia tidak mengetahui, separah apa Arka bila mengkonsumsi semua itu dibelakang dirinya atau di lokasi syuting.


"Lalu cara penanganannya gimana, dok?"


"Ibu harus menerapkan pola hidup sehat dan sedikit mengontrol suami ibu dalam mengkonsumsi apa-apa yang sudah saya sebutkan tadi. Dan minta suami ibu untuk memanajemen stress yang ada dalam dirinya. Wong masih muda begitu koq, apa sih yang di stress kan?" tanya dokter itu seraya sedikit tersenyum.


Amanda melihat senyuman itu sebagai sinyal, bahwa mungkin suaminya kini sudah baik-baik saja.


"Iya, silahkan. Nanti perawat akan menemani ibu kesana."


Dokter tersebut memanggil dan meminta tolong pada perawat untuk mengantarkan Amanda ketempat dimana Arka kini terbaring.


Tiba disebuah ruangan VIP, sesuai yang diminta Amanda sebelumnya. Ia pun menemukan Arka dalam keadaan sudah sadarkan diri, namun terlihat lemah.


"Amanda."


Suara Arka terdengar lirih, ia berusaha bangun untuk memeluk istrinya itu. Amanda yang baru tiba segera menyambutnya, lalu memeluk Arka barang sesaat. Sebelum akhirnya, ia meminta suaminya itu untuk kembali berbaring.


"Udah, tidur aja dulu ya." ujar Amanda.


"Aku kenapa, Man?" tanya Arka kemudian.


"Kamu..." Amanda memperhatikan Arka.


"Kamu mengalami blok jantung, kata dokter."


"B, blok jantung?" tanya Arka tak mengerti.


Ada kecemasan yang kini menyelimuti wajahnya. Amanda mengangguk seraya masih menatap suaminya itu.


"Ritme jantung kamu itu lemah dan nggak teratur. Faktor resikonya karena terlalu sering mengkonsumsi alkohol, kafein, rokok, atau bisa jadi karena efek obat-obatan tertentu."


Arka diam, selama syuting beberapa waktu belakangan ini ia banyak sekali menghabiskan kopi. Terkadang, ada pula rekan sesama selebriti yang membawa minuman beralkohol ke lokasi syuting.


Sehingga mau tidak mau, mereka yang ada disana pun harus minum sedikit banyak. Untuk menghargai siapa yang membawa minuman.


Soal rokok, Arka memang perokok aktif sejak dulu. Hanya saja ketika mengetahui Amanda hamil, ia membatasi konsumsinya. Ia tidak merokok ketika berada didalam rumah, karena khawatir akan kesehatan Amanda dan juga bayi mereka.


Tetapi tak jarang, ia pergi ke bawah penthouse untuk merokok. Jika keinginan itu sudah benar-benar tidak bisa dibendung lagi.


"Aku banyak konsumsi kopi belakangan ini, Man." Arka mencoba jujur pada istrinya.


"Tau sendiri kan kamu.di lokasi syuting. Kadang take adegan sampai jam dua, jam tiga pagi. Tidur sebentar, paginya take lagi. Buat menghindari ngantuk, ya ngopi."


Amanda menggenggam tangan pemuda itu.


"Kalau alkohol adalah aku sesekali, sama rokok juga masih. Tapi kalau konsumsi obat-obatan, aku nggak. Paling vitamin doang."


Amanda kini membelai kepala dan rambut suaminya itu.


"Pokoknya mulai hari ini, kamu jaga kesehatan. Aku nggak nyuruh kamu langsung berhenti total, tapi mulailah dikurangi sedikit-sedikit."


Arka mengangguk.


"Aku lagi hamil, Ka. Kamu jangan menyepelekan kesehatan. Mau kamu, anak kamu nggak bisa liat bapaknya pas lahir nanti?"


Mata Amanda berkaca-kaca menahan tangis, namun berusaha keras ia tahan.


"Iya, maafin aku ya. Aku janji mulai hari ini, aku akan hidup sehat. Demi kamu sama Hilir-Mudik."


Arka menahan tertawa.


"Hilir-Mudik?"


"Iya, itu. Yang diperut kamu."


"Ih kamu mah, masa namanya hilir-mudik?" nggak sekalian Sabang-Merauke?" ujar Amanda sewot.


"Rio tuh yang ngasih nama, hilir-mudik." ujar Arka seraya tertawa.


Sementara Amanda masih tampak sewot, bibirnya ditekuk manja. Layaknya bocil FF yang minta di jitak.


Malam itu hujan turun, Amanda pamit sebentar pada Arka. Tak ada kecurigaan apapun di hati suaminya itu, karena Amanda bersikap seperti biasanya.


Namun wanita itu agak sedikit berbohong. Karena masih ada satu hal lagi yang ia khawatirkan, yakni Nino."


Ya, wanita itu ingin tahu bagaimana keadaan Nino saat ini. Maka ia pamit sebentar untuk keluar. Dengan alasan untuk makan, karena sejak tadi ia belum makan sama sekali. Ia memang tak sepenuhnya berbohong mengenai hal tersebut, namun ia juga memanfaatkan situasi untuk pergi ketempat dimana kini Nino dirawat.


Amanda bertanya pada bagian instalasi gawat darurat, perihal bagaimana keadaan Nino kini. Salah seorang perawat mengantarkannya menuju ruang tempat dimana Nino telah dipindahkan.


Amanda terdiam, ketika melihat sebuah pemandangan dari arah kaca yang membentang di tembok ruangan Nino. Ia melihat laki-laki itu dari arah luar, dimana ada Nadine yang kini tengah berbicara padanya.


Amanda mengusap air mata yang mengalir dikedua sudut matanya. Nino adalah apa yang ia tunggu selama ini, namun mereka dipisahkan oleh waktu dan takdir. Takdir pernikahannya dengan Arka dan juga kehamilannya.


Amanda mencintai Nino begitu dalam, namun kini ada cinta baru di dalam hati dan rahimnya. Cinta untuk Arka dan juga kedua anak mereka.


"Pasien mengalami overdosis obat penenang, yang diminum secara berlebihan serta alkohol."


Seorang dokter berdiri disisi Amanda dan berkata pada wanita itu. Amanda kian menangis, ia tak mungkin mendekat ke arah Nino. Ada Nadine disana, pun ia juga harus menjaga perasaan Arka. Meski saat ini Arka tengah terbaring diruang rawat dan tak melihat apa yang diperbuat istrinya.


Nino tampak menyeka air mata Nadine dengan tangannya, dan tanpa sengaja mata pria itu tertuju ke arah kaca. Ketempat dimana Amanda kini berdiri menatapnya. Hati Nino pun luluh lantak, ada air mata yang kini mengalir di kedua sudut mata laki-laki itu.


Nadine yang membelakangi kaca, mengira tangisan Nino itu adalah untuknya. Namun air mata itu mengalir untuk Amanda. Nino benar-benar stress dengan diamnya Amanda terhadap dirinya belakangan ini, akibat pertengkaran mereka waktu itu. Nino masih mencintai Amanda, dan rasa itu tak pernah berkurang hingga detik ini.