
"Iya, bu."
Arka kemudian melangkah bersama ibunya menuju ruangan tempat dimana Liana dirawat. Hatinya bertambah cemas dan memikirkan keselamatan Amanda.
Beruntung saat itu Rio datang, Arka pun langsung menitipkan ibunya pada Rio. Karena ruangan tempat dimana Liana dirawat, sudah kelihatan di depan mata.
"Arka, ibu." Rio menyapa mereka lalu mencium tangan ibu Arka.
"Ri, ibu pengen ketemu Liana. Gue..."
Ucapan Arka tercekat di tenggorokan. Namun tatapan matanya kepada Rio sudah cukup membuat pemuda itu mengerti, jika kini Arka hendak menemui Amanda. Meskipun Rio tidak tahu jika Amanda juga tengah berada dirumah sakit ini.
"Ok." ujar Rio kemudian.
"Bu, ibu sama Rio dulu. Arka ada urusan penting mendadak."
"Oh ya sudah, ayo nak Rio."
Ibu Arka melangkah bersama Rio. Sedang pemuda itu langsung berlari sekencang-kencangnya, menuju ke instalasi gawat darurat.
"Mau kemana?" Satya dan Deni menatap tajam ke arahnya, seraya menghalangi pintu masuk.
"Amanda kenapa dan gimana keadaannya sekarang?" Arka bertanya dengan nada panik.
Satya dan Deni masih diam menatap Arka.
"Please, yang kalian liat tadi itu nyokap gue. Gua nggak mungkin bereaksi terhadap Amanda didepan dia. Pernikahan gue sama Amanda, itu rahasia."
Satya dan Deni akhirnya memberi jalan, meski tanpa berbicara sepatah kata pun. Arka berlarian menuju tempat dimana Amanda tengah ditangani oleh dokter. Namun ia dihalangi oleh perawat dan disuruh menunggu, agar tidak mempengaruhi proses penanganan yang diberikan oleh dokter. Setelah beberapa saat berlalu, dokter pun menemui Arka.
"Dok, gimana keadaan istri saya?"
tanya Arka dengan nada cemas. Sementara dokter tersebut terlihat cukup tenang.
"Ibu Amanda, mengalami pukulan cukup keras di bagian kepalanya. Tapi itu sudah ditangani dan tidak terlalu berakibat buruk. Hanya tangannya saja yang terkilir, karena sepertinya ibu Amanda juga menangkis pukulan sebelum nya."
"Bayinya dok?" Arka terlihat masih begitu cemas.
"Bayinya tidak apa-apa, karena Bu Amanda sendiri tidak langsung jatuh ke tanah. Tidak ada benturan untuk area leher hingga kebawah."
Arka menghela nafas lega lalu memejamkan matanya. Ia sudah sangat takut sekali, ia takut Amanda serta bayinya mengalami hal buruk.
"Apa saya sudah boleh menjenguk istri saya, dok?" tanyanya lagi.
"Silahkan, pasien sudah sadar sekarang."
"Terima kasih, dok."
Arka bergegas menuju ketempat dimana Amanda kini terbaring. Amanda yang kaget dengan kehadiran Arka tersebut pun, langsung berusaha bangun. Arka memeluk Amanda lalu membaringkan tubuh istrinya itu kembali.
"Apa aku keguguran, Ka?" tanya Amanda panik.
Arka menyentuh perut Amanda. Terasa bayi mereka memberi gerakan.
"Dia nggak apa-apa, Man."
Amanda menghela nafas lega dan memejamkan matanya.
"Tadi ada orang yang menyerang aku, Ka. Aku nggak tau siapa."
"Aku udah tau, Satya dan Deni yang ngasih tau. Mereka yang nolong kamu dan antar kamu kesini. Aku akan cari pelakunya dan aku akan buat perhitungan sama mereka."
Amanda menunduk.
"Apa kamu ada masalah sama orang?" tanya Arka lagi.
Amanda menggeleng.
"Kalau secara personal nggak ada, cuma perusahaan memang lagi ada masalah. Tapi kerugian dari konsumen juga sudah diganti semua, dan seharusnya tidak ada dendam. Karena ini tentang produk yang bermasalah, bukan perusahaan menyakiti seseorang atau kelompok tertentu."
"Dengan orang-orang kantor kamu, nggak ada masalah?"
"Nggak ada, Ka. Selama ini aku dan karyawan bekerja semaksimal dan sebaik mungkin. Kita selalu berusaha supaya zero mistake. Aku juga kaget kenapa bisa begini, karena bulan lalu semua masih baik-baik aja."
Amanda lanjut menceritakan permasalahan yang terjadi di perusahaannya secara rinci pada Arka. Pemuda itu mendengarkan dengan seksama dan memberi masukan pada istrinya.
"Aku nggak tau banyak dan nggak terlalu paham dengan sistemnya, Man. Tapi mudah-mudahan, apa yang aku bilang tadi bisa membantu kamu sedikit banyak."
Amanda lalu mengangguk dan memeluk Arka.
"Makasih banyak ya, Ka." ujarnya kemudian.
Arka lalu mencium dan memeluk istrinya itu. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu, itu adalah Satya dan Deni. Arka mempersilahkan keduanya untuk masuk dan melihat keadaan Amanda.
"Makasih ya, Sat dan Den. Kalian udah nolongin saya, saya nggak tau jadinya kalau kalian nggak ada."
"Iya bu, sama-sama. Kita akan coba temukan pelaku secepatnya."
Tiba-tiba handphone Arka berbunyi, ternyata dari Rio. Ia buru-buru keluar dari tempat dimana Amanda kini terbaring dan menerima telpon tersebut.
"Ka, nyokap lo nanyain lo ini."
"Gue lagi di Amanda, Ri. Amanda abis di celakai orang, dia ada dirumah sakit ini juga."
"Hah, astaga. Serius, Ka?"
Rio terkejut, namun ia menoleh dan melihat ibu Arka yang tampaknya curiga dengan ekspresinya.
"Kenapa nak Rio?" tanya ibu Arka.
"Mmm, nggak apa-apa bu." Rio mencoba tersenyum, tak lama ia pun kembali kepada Arka.
"Pokoknya lo kesini dulu, deh. Gue gantian yang jaga Amanda, dikamar mana dia sekarang?"
Arka pun memberitahu dimana Amanda dirawat. Rio pamit pada ibu Arka, ia mengatakan harus segera menemui dokter. Ibu Arka pun mengiyakan.
Rio pergi ketempat dimana Amanda dirawat. Tak lama Arka pun pamit sebentar pada istrinya, dengan alasan yang sama dengan Rio.
Rio menemui Amanda yang saat itu masih bersama Satya dan juga Deni. Sementara kini Arka kembali ke kamar Liana. Setibanya disana, ibunya langsung menarik dan menyepikan Arka ke luar.
"Arka, kenapa sampai Liana jadi korban pemerkosaan. Kamu sebagai pacarnya gimana jagain dia?"
"Bu, sebenernya."
"Kamu harusnya jagain dia mulai hari ini."
Ibunya kini menangis, Arka pun jadi serba salah dibuatnya.
"Bu, ibu jangan nangis."
Ibunya lalu memeluk Arka dan kian menangis tersedu.
"Kasihan Liana. Kamu harus cari siapa pelakunya, Arka. Kamu harus melaporkan mereka ke polisi dan kamu harus menjaga Liana, jangan tinggalkan dia."
"I, iya bu." ujar Arka sambil mencoba menenangkan ibunya. Sementara dikamar, Liana mendengar semua itu sambil berurai air mata.
Arka mengantarkan ibunya pulang, setelah Liana akhirnya tertidur. Buru-buru Arka kembali menuju ke kamar Amanda.
Saat itu, Satya dan Deni sudah bergerak keluar dari kamar dan hendak kembali ke kantor. Mereka melihat Arka yang berjalan disuatu arah dan begitupun sebaliknya.
"Den." Arka memanggil Deni lalu mendekat.
Arka kemudian bertanya mengenai ciri-ciri orang yang memukul Amanda. Deni dan Satya menjelaskan secara rinci kepada Arka.
"Yang gue liat, dia punya bekas tatto yang dihapus dan menimbulkan bekas besar ditangan kiri." ujar Satya kemudian.
"Tingginya sekitar 170 cm, kulit coklat."
"Ok, thanks." ujar Arka.
"Lo tenang aja, gue sama Deni pulang dari sini bakalan ke lokasi itu lagi. Karena siapa tau ada CCTV sekitar yang merekam kejadian itu."
"Ok, sebelumnya gue berterima kasih banget. Lo berdua udah menyelamatkan Amanda. Dan maaf soal tadi, saat gue diem aja didepan UGD."
Deni menepuk bahu Arka, lalu mereka pun berlalu meninggalkan tempat itu. Arka kini kembali pada Amanda, yang tengah berbicara bersama Rio.
"Man."
"Kamu dari mana, Ka?"
"Tadi dari nemuin dokter. Karena ada keluarga pasien lain juga, yang ngomong sama dokter. Jadinya aku nunggu." dusta Arka.
"Man, gue balik dulu ya." ujar Rio.
"Cepet banget, Ri." ujarnya wanita itu kemudian.
"Lo harus istirahat, biar cepet sembuh. Nanti gue kesini lagi."
Amanda mengangguk, Rio pun berpamitan. Ia menatap Arka seolah memberikan kode. Arka pun hanya mengangguk.
"Aku pengen pulang, Ka." ujar Amanda ketika Rio telah berlalu.
"Loh, kenapa?. Kamu tuh masih sakit, Man."
"Pengen dirawat dirumah aja. Lagian juga, aku nggak ada luka serius."
"Jangan dulu, Man. Kalau terjadi apa-apa sama kamu dirumah, gimana?. Disini kan kamu bisa langsung ditangani perawat atau dokter."
"Tapi aku nggak apa-apa, Ka."
"Itu kan menurut kamu."
Amanda diam.
"Please lah, Man. Jangan buat aku merasa makin bersalah. Aku tadi udah nggak ada, waktu kamu di celakai orang. Aku nggak bisa melindungi kamu dan anak kita, malah kamu ditolong orang lain. Sekarang aku minta kamu disini dulu, biar aku tenang."
Amanda kemudian mengangguk, Arka lalu memeluk istrinya itu.