
"Ka, jadwal ujian skripsi kita sama." ujar Rio di suatu pagi yang cerah.
"Oh ya?" tanya Arka tak percaya.
Ia baru saja mengeluarkan rokok dan hendak membakarnya. Mereka saat ini tengah berbincang di kantin manajemen peace production. Lantara Philip menyuruh mereka datang pagi-pagi buta untuk casting dadakan.
"Iya, emang lo nggak dapet infonya?" tanya Rio lagi.
"Kayaknya ada, tapi nggak gue baca." ujar Arka sambil nyengir.
"Dasar, lo." ujar Rio kemudian.
Arka terkekeh, mereka pun lanjut berbincang. Tak lama setelah itu sebuah notifikasi panggilan dari Liana, muncul di handphone Rio.
"Hallo Liana." ujar Rio kemudian.
"Ka, bentar ya."
Arka mengangguk. Rio menjauh dan melanjutkan perbincangan dengan Liana di suatu sudut. Sesekali Arka melirik sahabatnya itu dan tanpa sengaja, ia melihat Rio seakan tengah menyeka air mata. Setelah telpon berakhir, Rio pun kembali mendekat ke arah Arka.
"Liana gimana, Ri?" tanya Arka. Ia kini meletakkan rokoknya di asbak lalu menikmati es kopi yang sejak tadi telah tiba di meja.
"Hhhh."
Rio menghela nafas.
"Ya gitu lah, Ka. Baik nggak baik. Namanya juga dari jadi korban pemerkosaan, terus anak yang dia lahirkan meninggal."
Arka turut menghela nafas, ia teringat pada kejadian hampir 1,5 bulan yang lalu. Kandungan Liana yang saat itu telah memasuki bulan ke delapan, tiba-tiba mengalami kontraksi hebat. Lalu disusul pendarahan yang juga tak kalah hebatnya.
Wanita itu dilarikan kerumah sakit dan melahirkan di hari yang sama, namun bayi berjenis kelamin perempuan itu tak bisa diselamatkan. Lantaran terjadi infeksi yang penyebabnya sendiri, Rio tak begitu paham.
Saat itu Rio mendampingi Liana hingga selsai, ia pulalah yang mencoba menenangkan dan memberi sandaran pada wanita itu. Di kala kesedihan lagi dan lagi menerpa hidupnya.
"Tapi hubungan lo sama dia, baik-baik aja kan?" tanya Arka lagi.
"Baik, nggak ada masalah." ujar Rio.
"Cuma kali ini, mungkin penyembuhannya akan memakan waktu cukup lama. Mengingat dia juga pernah jadi korban perkosaan, itu aja belum sepenuhnya hilang. Ditambah lagi kehilangan anak."
"Yang penting support sistem dari elo nya maksimal, bro. Dan jauhkan dia dari hal-hal yang bisa mengingatkan dia, dari kejadian buruk yang pernah dia alami."
"Rio mengangguk."
Jika sedang berbicara serius seperti ini, Rio terlihat layaknya manusia normal pada umumnya. Yang juga memiliki berbagai macam permasalahan dalam hidup.
Di luar itu semua, Rio merupakan makhluk ajaib yang tampak selalu bercanda, cengengesan dan juga jahil. Rio memang seperti itulah adanya, ia pandai menempatkan masalah pada tempatnya. Dan menyembunyikan segala beban di balik senyumnya yang terkadang menyebalkan.
***
"Bu, saya sudah menyelidiki kesana. Saya suruh Anita pura-pura jadi mahasiswi, temannya Maureen. Tapi orang dirumah itu bilang, kalau mereka nggak kenal sama Maureen."
Pak Darwis berujar pada Amanda, sesaat dirinya selesai menjalankan tugas. Guna mencari tau keberadaan Maureen.
"Serius pak, mereka bilang gitu?" tanya Amanda kemudian.
Bagaimana mungkin para pembantu di kediaman Amman dan Rachel tidak mengenal Maureen. Padahal sejatinya Maureen tinggal di rumah tersebut.
"Iya, bu. Rata-rata dari mereka bilang nggak kenal sama yang namanya Maureen."
"Apa Maureen pake nama samaran ya, pak. Kalau disana?"
"Ya udah deh, pak. Nanti saya coba bilang dulu sama Arka soal ini."
"Baik, bu. Ada lagi bu?"
"Hmm, nggak ada pak. Makasih ya, pak."
"Baik, bu."
Pak Darwis segera berlalu meninggalkan tempat itu, tak lama kemudian Amanda menelpon suaminya.
"Ka."
"Iya man, kenapa?"
"Pak Darwis bilang, dia udah menyelidiki kesana. Ditempat itu nggak ada satupun pembantu yang mengenal nama Maureen. Nggak tau beneran atau sengaja di tutup-tutupin."
"Tadi pak Darwis bilang gitu?"
"Iya, Ka. Apa nggak sebaiknya kita bilang aja ke polisi. Kata kamu kan mereka udah lapor polisi tuh atas kehilangan Maureen. Nah kita bilang aja terakhir ngeliat Maureen dimana."
"Aku sih mikirnya gitu. Tapi apa nggak repot buat kamu, polisi pasti akan bolak balik manggil kita sebagai saksi."
"Ya nggak apa-apa kalau memang di perlukan."
"Kamu nggak niat buat nanya langsung ke papa kamu soal ini?" tanya Arka kemudian.
"Ka, kalau kita nanya langsung. Dan misalkan papa aku sama Rachel memang bersalah, seandainya si Maureen itu dibunuh sama mereka atau diapakan. Dia dan Rachel akan punya waktu buat kabur. Karena mereka tau, kalau orang-orang sekarang mulai sadar dengan hilangnya Maureen dan mulai mencari keberadaan dia. Tadi aja pak Darwis nanyanya pake metode nyuruh orang pura-pura jadi temen kampusnya maureen. Bilang kalau rumah Maureen disitu. Pembantu disitu langsung bilang salah alamat, nggak kenal sama Maureen. Kalau terang-terangan nyari mah, bakalan ngadu pasti sama Rachel atau papa. Bisa lah akhirnya mereka kabur."
"Iya juga sih." ujar Arka kemudian.
"Ya udah deh, Man. Ntar kita bicarakan ini lagi, aku sekarang mau ke dalam dulu. Udah dipanggil lagi sama pak Jeremy."
"Ya udah, nanti berkabar aja ya Ka."
"Iya sayang, bye."
"Bye Arka."
Amanda menyudahi telponnya, kini wanita itu menghela nafas. Sejatinya hidup rumah tangganya bersama Arka amatlah tentram, dan damai sentosa. Namun orang disekitarnya selalu membuat runyam, ada saja masalah yang berkaitan dengan mereka. Masalah yang disebabkan oleh orang luar itu sendiri. Harusnya kini ia dan Arka tenang menjalani rumah tangga. Namun mau tidak mau kadang keadaan memaksa mereka, agar terlibat dengan segala keruwetan ini.
"Ya lo nggak usah peduli lah." ujar Nindya di telpon.
Ketika Amanda akhirnya curhat, masalah apa yang tengah ia hadapi kini. Ia memang sangat jarang telponan dengan Nindya akhir-akhir ini. Namun mereka selalu berbalas pesan di WhatsApp.
"Lo berhak bahagia dan hidup tenang, Man. Jauhkan segera orang-orang yang bikin hidup lo ribet." ujar Nindya.
"Gue sih maunya gitu, Nind. Tapi gimana coba, semua berhubungan satu sama lain. Contohnya ini, gue nggak mau terlibat dalam urusan Maureen. Tapi ibunya Maureen mendatangi mertua gue, mertua gue ngomong ke Arka. Mana Arka sama gue ngeliat lagi tuh perempuan terakhir kali dimana. Gimana mau menghindar, coba."
"Duh emang ya lingkungan itu kadang. Kita yang nggak ribet, tapi sekitar kita yang bikin ribet. Akhirnya kita juga keikutan ruwet."
"Makanya, gue tuh sebenernya udah pengen tenang banget. Cuma disekitar gue ini yang nyebelin. Kalau dulu aja, pas masih single. Gue mah bodo amat, mau orang jungkir balik, salto-salto, ilang di segitiga bermuda juga terserah. Tapi sekarang ada laki gue, gue mikirin dia juga. Belum lagi bapak gue yang drama banget mau bikin gue sama Arka cerai."
Nindya tertawa. Ia juga telah mengetahui perihal apa yang diperbuat Amman terhadap pernikahan temannya itu.
"Udah Man, bawa laki dan anak-anak lo tinggal disini aja. Di deket gue, atau pindah kek lo ke negara lain. Enak tau warganya nggak ribet, nggak ruwet, nggak kepo, nggak nanyain agama orang, zodiac orang, ukuran ****** orang."
"Hahaha."
Kedua sahabat itu pun tertawa dan lanjut berbincang.