Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Terlihat


Arka dan Amanda masih melakukan berbagai perawatan di salon. Sesekali mereka mengecek kabar si kembar yang saat ini masih di asuh oleh Rianti.


Ternyata usai menonton Dora, mereka lanjut menonton Upin dan Ipin. Si kembar makin terfokus. Hingga ketika di video kan oleh Rianti pun, mereka tak tersenyum sama sekali. Hanya menatap layar televisi dengan kening yang berkerut.


"Anak mu, Ka. Jidatnya sampe berkerut gitu." ujar Amanda seraya tertawa. Arka pun tak bisa menyembunyikan tawanya, ketika melihat hal tersebut.


Sementara di lain pihak, tepatnya di kediaman Aston. Pria itu kini membujuk istrinya Citra, dengan didampingi oleh anak-anaknya.


"Kamu harus laporkan ini ke polisi, Citra. Kamu harus mendapat keadilan." ujar Aston seraya menatap istrinya itu.


"Iya, ma. Kalau mama nggak memperjuangkan keadilan ini, mama akan selamanya hidup didalam kemarahan dan dendam terhadap masa lalu. Pelakunya harus mendapat hukuman setimpal, dia sudah menghancurkan hidup dan mental orang lain selama bertahun-tahun."


Anastasia, anak perempuan Citra dan Aston yang kini berusia 29 tahun itu berkata pada ibunya. Sementara dua anaknya yang lain memperhatikan, sambil memberi tatapan yang penuh dukungan.


"Apa masih bisa, ini bahkan sudah 33 tahun berlalu. Kita juga tidak mempunyai bukti apa-apa."


"Kita bisa usahakan itu semua, kuncinya ada pada anak itu. Anak itu juga merupakan salah satu bukti, bahwa kamu pernah mengandung benihnya Amman." ujar Aston kemudian.


"Tapi bagaimana kalau dia mengatakan jika hubungan itu atas dasari suka sama suka?. Bisa aja kan Amman memutarbalikkan fakta."


"Kamu bisa membela diri dengan mengatakan hal yang sebenarnya, sembari penyidik mengumpulkan bukti dan lain-lain. Mereka tidak akan serta merta memenangkan salah satu pihak, hanya karena pernyataan yang dia buat. Selama kamu menyangkal semua yang di katakan oleh Amman, penyidik juga akan mempertimbangkan."


"Ini nggak akan mudah, Aston."


"Iya, tapi paling tidak kita berjuang untuk keadilan. Untuk sekian tahun hidup kamu yang dirampas oleh dia. Kamu nggak bisa tenang kan, selama ini?"


Citra menunduk dalam dan mengangguk.


"Ada aku dan anak-anak yang akan membantu kamu. Aku bahkan rela dipenjara, untuk supaya kamu bisa mendapatkan keadilan. Amman harus di hukum atas perbuatannya. Atau kalaupun dia tidak dijerat hukum, paling tidak biarkan publik tau kejahatan yang pernah dia lakukan. Karena selama ini dia terlalu banyak berlindung, dibalik nama perusahaan besarnya yang terlihat dermawan. Padahal hanya strategi pencitraan, supaya meningkatkan penjualan. Aku tau cara-cara kotor seperti itu."


Aston menatap jauh kedepan, ada banyak kemarahan didalam mata pria itu. Sementara Citra masih tertunduk, dengan air mata yang mulai mengalir.


"Apa kamu nggak akan malu, kalau semua orang tau. Ini aib, Aston."


"Jangan bersikap seperti rata-rata orang di negri ini. Dimana ada setiap kasus pelecehan, pemerkosaan. Maka korban di paksa diam, dengan alasan aib, takut malu. Ngapain malu kalau kita adalah korban. Ini kejahatan Citra, dia harus mendapat balasan setimpal."


"Iya, ma. Mama mau malu dengan siapa?. Malu karena takut nggak ada lagi laki-laki yang mau?. Mama udah punya papa, udah punya kami. Mama harus menuntut keadilan."


Aaron yang sejak tadi diam, kini mulai bersuara.


***


"Dimana, Bambang?"


Nino menelpon Arka, ketika ia dan Amanda baru saja masuk ke dalam mobil dan hendak kembali ke penthouse.


"Di jalan, Solihin." jawab Arka sambil mengemudi. Ia mengaktifkan load speaker di handphone tersebut, agar suara Nino bisa didengar.


"Kesini napa, sendirian banget gue." ujar Nino lagi.


"Ansel kemana?" tanya Arka.


"Biasalah, jalan sama Intan. Nggak tau jalan apa menabur benih."


"Hahaha." Arka tertawa.


"Daddy nggak kesana?"


"Tadi pagi doang, sama sekretaris barunya yang ukuran F."


"Apanya?"


"Size nya lah."


"Koq lo tau?"


"Ya keliatan kali, sesek gitu dari depan."


"Oh kirain, udah pernah lo cocol."


"Anjir, mimi peri kali ah, di cocol." ujar Nino seraya tertawa.


"Iya, mau gue kasih tau daddy kalau lo udah pernah nyobain."


"Anjrit, kagak ya. Udah ah, kesini kek." ujarnya lagi.


Arka menatap Amanda.


"Ya udah." ujar Amanda.


"Lo lagi sama Amanda?" tanya Nino.


"Ya, sama siapa lagi."


"Kirain gue sendiri, bagus tadi gue nggak ngomongin janda di samping unit apartemen daddy." selorohnya kemudian.


Arka tertawa.


"Oh sekarang mainannya janda." Amanda mencubit lengan Arka.


"Aw, sakit Man."


"Iya tau, Man. Arka ngeliatin mulu kalau tuh janda lewat."


"Nin, lo jangan menghancurkan rumah tangga orang ya." ujar Arka seraya menahan tawa, sementara Amanda lagi-lagi mencubit lengan suaminya itu.


"Ngaku aja, lo kan yang bilang. Kalau body tuh janda mirip gitar Spanyol dan tipe lo banget."


"Ih, Arkaaa. Awas, ya." ujar Amanda masih memukul-mukuli suaminya itu.


"Man, sakit. Nin lo, gue hajar ya. Gue bilangin sama Nadine kalau lo suka main sabun sambil ngeliatin foto cewek lain."


"Hahaha." Nino terbahak.


"Sejak kapan, anjay. Gue main sabun depan lo."


"Depan daddy." Seloroh Arka.


"Anjrit, Ansel noh yang pernah kepergok daddy. Gara-gara lupa kunci pintu kamar mandi. Ternyata, itu pintunya ditiup angin dikit aja kebuka. Dia juga nggak tau kalau daddy udah pulang kerja."


Arka dan Nino terpingkal-pingkal, sementara Amanda hanya menahan senyum namun gagal.


"Terus gimana dong?" tanya Arka kemudian.


"Ya tengsin lah dia."


"Kapan sih itu?"


"Udah lama, jaman-jaman kita masih kuliah dulu. Udah ah, kesini ya."


"Iya."


"Man, mana Amanda?"


"Apaan?" ujar Amanda kemudian.


"Martabak ya, Man."


"Iya, ntar dibeliin."


"Yang manis sama yang telor."


"Iya bawel."


"Makasih ya sayang." ujarnya kemudian.


"Iya tunggu aja, jangan tidur lo. Ntar gue sama Amanda sampe, lo molor."


"Kagak, udah tidur tadi gue."


"Ya udah, gue jalan dulu nih."


"Jangan, nggak."


"Iyaaaa, Ninooo."


Arka dan Amanda kesal, Nino tertawa lalu menutup sambungan telponnya.


"Bawel banget, kayak emak-emak." ujar Amanda.


"Maklum lah udah tua." Seloroh Arka.


"Nino itu seumur aku." Amanda berujar seraya memukul lengan Arka.


"Eh iya, kamu juga tua ya. Eh.."


"Ih, Arka."


"Sorry, sorry, Man. Keceplosan."


"Sorry, sorry. Kamu pikir aku super junior, hah?"


Lagi dan lagi Arka tertawa. Sementara mobil mereka pun terus melaju.


***


Di sebuah stasiun pengisian bahan bakar, sebuah mobil mewah tampak bersandar. Sang supir melakukan pengisian, sementara tuannya ada dibelakang. Disisi tuannya itu ada seorang gadis yang tampak mentalnya sudah sangat terpukul sekali. Wajahnya yang cukup cantik itu, kini terbalut beban dan perasaan yang syarat akan tekanan.


"Kamu cuma perlu nurut, jangan sekali-kali memberontak. Ingat percintaan kita sudah banyak aku rekam dan siap aku sebarkan kalau kamu sengaja melawan."


Pria tua itu berujar, sementara perempuan yang tiada lain adalah Maureen tersebut hanya memalingkan wajah ke arah kaca. Sampai hari ini ia masih jijik dan muak pada Fritz. Berkali-kali ia mencoba lari, namun selalu gagal.


"Duh, pake acara abis lagi bensin."


Ditempat pengisian bahan bakar motor, dua orang gadis tampak mengantri dibelakang motor lainnya. Salah satu gadis itu menggerutu, karena ia sangat malas mengantri.


"Perasaan baru kemaren deh gue ngisi, udah abis aja hari ini." gerutunya lagi.


Maureen yang tengah menoleh ke arah sana pun seketika terkejut. Kedua gadis itu adalah Chanti dan juga Widya.


Jantung Maureen pun berdegup kencang, ini adalah kesempatan baginya untuk meminta tolong. Tapi bagaimana caranya, sedang ia pun tak bisa kemana-mana.


"Aku mau ke toilet." ujar Maureen kemudian.


"Bisa nanti kan?" Fritz menoleh seakan tau isi kepala Maureen.


"Tapi udah nggak tahan." ujar Maureen lagi.


"Diam disini atau aku."


Fritz mengeluarkan sebuah senjata api dari dalam saku jas nya, seketika Maureen pun terdiam dan menelan ludah. Ia terus melihat ke arah kaca dan berharap baik Chanti maupun Widya bisa sedikit mendekat ke arahnya.