
"Pak Aryo."
Amanda mencegat langkah mantan wakil kepala divisi pengadaan barang, yang telah ia pecat beberapa waktu lalu. Aryo pun terhenyak dengan kehadiran Amanda. Terlihat jelas ia memiliki sebuah ketakutan di wajahnya, namun ia berusaha menyembunyikan hal tersebut. Kini ia menatap Amanda seperti menatap lawannya sendiri.
"Bisa ya, orang yang bermasalah di suatu perusahaan besar. Malah diterima dengan tangan lebar oleh perusahaan kompetitor."
Amanda berjalan mendekat kearah Aryo seraya menyilangkan tangan di dada, sementara Aryo tersenyum tipis namun sinis.
"Kenapa?. Disini dijanjikan jabatan yang lebih tinggi?" tanya Amanda kemudian.
"Ya, tidak harus menunggu bertahun-tahun. Dan hanya menjadi wakil, bukan ketua." ujar Aryo pada Amanda.
"Siapa yang menjanjikan disini?. Ari Darmawan, atau George Hartono?"
Aryo diam memperhatikan Amanda, nafasnya mulai memburu menahan emosi. Pasalnya nada bicara wanita itu seakan hendak mengintimidasi dirinya.
"Tidak ada urusannya dengan anda, Amanda."
"Oh jelas ada, saya mengenal Ari dan George. Walaupun mereka adalah kompetitor saya. Setahu saya, Ari dan George itu selalu berseberangan. Mereka tidak pernah satu visi dalam membuat sebuah rencana ataupun keputusan. Dengan membuat seorang pengkhianat seperti anda, masuk ke perusahaan mereka. Sudah pasti salah satu diantara keduanya, akan ada yang tidak setuju. Salah satu dari mereka pasti tidak mengetahui siapa anda."
Amanda menatap mata Aryo.
"Saya akan memberitahu mereka berdua, bahwa salah satu dari mereka sudah mempekerjakan seorang penghianat. Tidak menutup kemungkinan, si penjahat ini akan kembali berkhianat di perusahan mereka."
Amanda tersenyum pada Aryo, sementara laki-laki itu kian naik darah.
"Katakan saja apa yang anda inginkan?" ujar Aryo pada Amanda kemudian.
"Ow, santai dong." Amanda berkata dengan nada yang amat menyebalkan di telinga Aryo.
"Saya cuma mau tanya, apa korelasi anda dengan Rani. Apakah anda salah satu cepu yang selain menjual bahan baku, anda juga menjual rahasia perusahaan?"
"Amanda, yang tau rahasia perusahaan itu hanya anda, Dion Haryadi, Emilio Wijaya dan Fadly Kusuma. Saya tidak tau apa-apa, saya masuk bahkan setelah usaha kalian berjalan beberapa bulan."
"So, diantara Dion, Emil dan Fadly. Siapa orangnya?"
Aryo membuang pandangan namun Amanda terus mencecarnya.
"Who is the impostor?" tanya nya lagi.
"I don't know."
"Who?"
"I don't know, Amanda." Aryo berkata dengan emosi yang ditekan.
"Ok." ujar Amanda seraya menghela nafas.
"Sekarang apa korelasi antara anda dengan Rani.?"
Aryo diam.
"Mungkin anda memang mau saya bicara dengan Ari ataupun George. Kemudian anda akan dipecat, karena anda juga pasti tidak berpengaruh banyak untuk mereka. Lagipula tujuan salah satu dari mereka adalah rahasia perusahaan kita, dan salah satu dari mereka sudah mendapatkannya. Salah satu dari mereka itu mempekerjakan anda karena janji semata, bukan karena mereka benar-benar membutuhkan anda."
Aryo masih diam, namun keringat dingin mulai mengucur ditubuhnya.
"Saya akan buat anda dipecat sekali lagi. Saya akan sebar data anda di semua perusahaan, sebagai penjahat sekaligus pengkhianat. Agar mereka tidak mau mempekerjakan anda. Anda akan kehilangan pekerjaan, istri anda yang sedang sakit itu akan kehilangan biaya pengobatan. And your little Lilly." Amanda menunjukkan foto anak Aryo, yang berusia 15 tahun. Seketika Aryo pun menjadi kian ketakutan.
"Little Lilly yang saat ini sedang dijauhi teman-temanya, akan saya permalukan ayahnya. Supaya dia makin di bully, depresi dan bunuh diri."
"Jangan sentuh anak saya." teriak Aryo.
"I don't care, like you don't care about me and my twins." Amanda menatap Aryo dengan penuh kemarahan. Jujur ia tak mungkin menyakiti Lilly yang tak bersalah, tapi kali ini ia ingin menjatuhkan mental laki-laki itu.
"Saat anda mengkhianati saya, anda juga tidak peduli pada saya dan anak yang saya kandung. Betapa rentetan dampaknya kini berimbas pada kandungan saya. Saya terlalu sibuk memikirkan masalah, sampai-sampai kadang anak saya yang masih didalam terabaikan."
"Apalagi yang kamu butuhkan." ujar Aryo.
"Ow, papa nya Lilly takut. Takut kalau Lilly mati." Amanda tertawa menyeringai.
"Just tell me." ujar Aryo.
"Apa korelasi antara Rani dan juga anda?" tanya Amanda sekali lagi. Tegas suaranya terdengar, ia berkata dengan menatap tajam ke mata Aryo.
Aryo menghela nafas.
"Rani menjanjikan saya sejumlah uang, saya nggak tau uang itu berasal dari siapa. Saat itu saya benar-benar genting, karena Dita butuh biaya perawatan dan hutang saya di rentenir sudah bertumpuk."
"Hutang karena anda suka berjudi, pak Aryo."
Aryo memejamkan matanya seraya mengangguk. Ada penyesalan didalam gerakan kepalanya tersebut.
"Iya, dan para rentenir itu mengancam akan memperkosa Lilly, kalau saya tidak segera membayar. Saya mencoba meminjam ke perusahaan, tapi perusahaan menolak meminjamkan."
"Itu karena anda sudah terlalu sering meminjam dan tidak pernah mengembalikan. Padahal perusahaan kurang apa selama ini terhadap anda."
"Iya, saya tau. Kemudian Rani tiba-tiba menawari saya untuk sedikit membuat kekacauan di perusahaan. Dia menyuruh saya menjual bahan baku itu, agar fokus perusahaan dan kamu tertuju pada masalah itu. Kemudian, mereka bisa menjalankan aksi dan rencana yang lain."
"Apa Rani mengatakan isi rencana itu."
Aryo menggeleng.
"Saya nggak tau sama sekali, Amanda. Saya hanya diberi tahu harus apa, kemudian saya lakukan. Terima uang, terima pemecatan dan dijanjikan bekerja disini."
Amanda menghela nafas, ia melihat sebuah kejujuran di mata pak Aryo.
"Apa anda masih memiliki bukti, soal percakapan anda dengan Rani?"
Aryo mengangguk.
"Ada beberapa." ujarnya kemudian.
Ia pun lalu mengambil handphone dan menunjukkan beberapa bukti percakapannya dengan Rani waktu itu. Amanda meminta semua itu, lalu Aryo pun memberikannya.
"Baik, saya rasa cukup." ujar Amanda kemudian. Tak lama setelah itu, ia pun berlalu meninggalkan Aryo.
***
"Kemana aja sih, kamu?" Arka marah pada istrinya dengan kekhawatiran serta kepanikan yang tidak dapat disembunyikan.
"Ditelpon, di reject terus. WA nggak dibaca, dari mana kamu tadi?" teriak Arka lagi.
Sebenarnya pagi itu mereka tengah mampir ke sebuah minimarket untuk membeli beberapa keperluan. Arka pamit ke toilet, sementara Amanda melihat pak Aryo. Ia pergi menyusul pak Aryo tanpa pamit. Saat tengah berbicara pada pak Aryo berkali-kali Arka menelpon, namun ia diamkan saja bahkan ia reject. Arka sendiri mengira sesuatu yang buruk telah terjadi pada istirnya itu.
"Kamu mah marah mulu, Ka. Orang aku tadi dari sana ngeliat-ngeliat."
"Ya kenapa harus di reject telponnya?"
"Ya kamu ganggu aku lagi ngomong, tadi tuh ada orang yang nanya alamat. Aku lagi ngejelasin, kamu nelpon."
Amanda berdusta pada suaminya. Sebab jika ia jujur perihal pertemuannya dengan Aryo, Arka pasti akan memarahi Amanda. Ia sudah berpesan pada istrinya itu dari kemarin-kemarin. Bahwa Amanda jangan melakukan apa-apa dulu untuk balas dendam. Setidaknya tunggu sampai bayi mereka lahir, atau serahkan pada loyalisnya yang saat itu juga tengah menyelidiki.
Arka kini diam, lalu masuk ke dalam mobil diikuti Amanda.
"Jangan marah dong, Ka. Ilang tuh gantengnya."
"Aku lagi nggak mau di puji sama kamu, ok. Aku lagi kesel banget ini."
"Aku nggak." ujar Amanda dengan wajah tanpa dosa.
"Udah bikin suami jadi khawatir, bukannya minta maaf."
Arka menghidupkan mesin mobil sambil terus menggerutu. Sementara Amanda hanya berusaha menahan senyum.